Suara gedoran yang sangat kasar dan berkali-kali dari pintu utama rumah mengusik Naya yang masih memejamkan mata. Tapi tiba-tiba suara gedoran itu berubah menjadi suara pekikan kesakitan dari suara yang sangat Naya kenali, Brian.
Naya terbangun dengan terkejut, ia tergesa-gesa berlari menuju asal suara. Di sana, ia melihat Brian sudah terbaring tidak berdaya setelah di pukul oleh beberapa orang yang memakai pakaian serba hitam dan masker yang menutupi wajah mereka.
“BRIAN?” pekik Naya saat melihat kondisi suaminya. “APA YANG KALIAN LAKUKAN?” Naya sudah berteriak marah tidak terima.
“Suruh suamimu untuk segera melunasi utangnya. Kalau tidak, kalian harus keluar dari rumah ini, malam ini juga,” bentak salah satu preman yang memegang tongkat baseball.
Brian dengan sangat kesakitan mencoba berlutut di depan para preman itu. “Bang, jangan ambil rumah ini, Bang. Rumah ini satu-satunya peninggalan orang tua saya.” Brian memohon-mohon di kaki preman itu.
Air mata Naya sudah kembali mengalir, tidak tega melihat suaminya memohon seperti itu. Apakah ada yang bisa ia lakukan untuk membantu suaminya? Naya hanyalah anak yatim piatu yang tidak mempunyai harta sepeser pun.
“Kau tidak punya apa-apa lagi, brengsek!” Preman yang memegang kertas, melemparkan berlembar-lembar kertas itu ke wajah Brian dengan sangat kasar.
Salah satu lembar kertas itu mendarat tepat di samping Naya. Naya memungutnya dan membaca rincian utang di sana. Pembiayaan rumah sakit Ibu Brian saat koma selama setahun, pembiayaan ganti rugi perusahaan Brian yang sudah pailit dan … sebuah utang dari rumah perjudian. Mata Naya membelalak, ia seperti berhenti bernapas melihat jumlah keseluruhan utang itu. “Dua ratus lima puluh … miliar,” gumam Naya tidak percaya membaca nominal itu. Bagaimana mereka bisa membayarnya?
“Tuan, saya mohon. Jangan ambil rumah ini. Ini salah satu peninggalan mertua saya untuk kami.” Naya kini ikut memohon di bawah kaki preman itu.
Tiba-tiba, salah satu preman itu menerima panggilan telepon. Preman itu hanya menjawab ‘Baik Bos’ ketika menerima instruksi dari panggilan itu.
“Dengar! Kalau kalian tidak bisa menyerahkan rumah ini. Bagaimana jika istrimu yang ikut dengan kami?”
Ucapan preman itu cukup membuat Naya membelalakkan matanya, ia memalingkan wajahnya melihat suaminya, berharap Brian melindunginya. Tapi Brian tidak mengatakan apa pun. Brian hanya menunduk sambil meringis memegang perutnya yang terkena pukulan tongkat baseball tadi.
“Sayang?” lirih Naya mencari jawaban dari manik mata Brian.
“Maafkan aku, Nay. Maukan kamu membantuku?” Brian kini membalas tatapan Naya, matanya memerah, wajahnya penuh harap.
Setelah kalimat itu terucap, air mata Naya jatuh. Bibirnya kelu. Perasaannya dan hatinya tercabik-cabit menjadi serpihan yang tidak akan pernah terbentuk lagi. Tapi diantara sakit hati itu, Naya tersenyum lirik dan berucap, “Aku akan membantumu, Sayang.”
Preman-preman yang mendengar percakapan suami istri itu tersenyum senang, apalagi saat melihat Naya tidak memberontak ketika salah satu preman itu menarik kasar tangan Naya dan membawanya pergi. Naya masih menyempatkan berbalik melihat Brian yang masih tertunduk. Brian meneteskan air mata juga. Tapi, samar-samar Naya seperti melihat Brian tersenyum.
...----------------...
Naya diapit oleh preman yang memegang tongkat dan preman yang melempar kertas tadi, lalu di depan mereka sang supir yang tadi menarik kasar Naya. Naya masih memikirkan apa yang diliatnya terakhir kali tadi. Tidak, penglihatannya pasti salah. Naya menggeleng lemah mengusir semua pikiran buruk dari otaknya.
Mobil itu melaju keluar dari area perumahaan rumah Naya. Saat itu suara telepon kembali berdering, sang supir di depan Naya mengangkat telepon itu. Tapi lagi-lagi ucapan yang keluar dari mulut preman itu hanya, ‘Baik Bos’ lalu preman itu mematikan teleponnya dan mengangguk kepada kedua temannya yang duduk dikedua sisi Naya. Seperti mengisyaratkan sesuatu.
Seperti sudah saling mengerti, preman di sisi kanan Naya mengeluarkan sebuah tali dan preman di sisi kiri Naya mengeluarkan sebuah kain panjang yang terjuntai. Naya tidak ingin disentuh karena itu ia memberontak. Salah satu preman itu menampar Naya dengan keras karena Naya tidak bisa tenang. Naya yang terkejut hanya bisa memegang pipinya. Tapi tangannya ditepis kasar, lalu preman yang memegang tali itu memelintir tangan Naya dan menyatukan kedua tangan Naya di belakang punggungnya lalu mengikat tangan Naya. Sementara preman yang memegang kain panjang itu, menutup mata Naya lalu mengikat dengan keras di belakang kepala Naya.
Naya kini pasrah tidak bisa melakukan apa pun. Mulutnya bergetar menahan suara tangisan, sementara kain penutup matanya sudah basah karena air matanya.
Setelah beberapa menit, mobil yang mereka tumpangi berhenti. Sang supir mematikan mesin mobil lalu membuka pintu mobil terlebih dahulu. Sementara kedua preman di sisi Naya belum bergerak.
Naya sedikit gelisah, perasaannya campur aduk. Matanya yang tertutup semakin membuat firasatnya memburuk. Apa yang akan terjadi dengannya? Apa organ tubuhnya akan di jual? Apa dia akan di kirim keluar negeri untuk menjadi budak? Apa yang setara dari dirinya dengan harga 250 Miliar? Bahkan jika mereka memotong tubuh Naya menjadi 50 bagian, Naya yakin masih tidak akan cukup menutupi utang itu. Semua pikiran buruk melayang-layang dibenak Naya.
Tiba-tiba pintu di sebelah kanan Naya terbuka, preman yang duduk di sebelah kanan keluar terlebih dahulu, lalu menarik Naya dengan kasar. Naya mengaduh saat ia tidak sengaja terjatuh saat turun dari mobil. Tiba-tiba suara tamparan terdengar diindra pendengarannya.
“BODOH! KAU INGIN BUAT BARANG BARU LECET?” Suara itu berasal dari seorang wanita yang lebih dewasa dari Naya. Sepertinya, umurnya di pertengahan 40an.
“Maaf, Madam.” Suara preman itu terdengar membalas ucapan wanita itu.
Lagi-lagi Naya merasakan lengannya di tarik, tapi kali ini lebih halus dari sebelumnya. Dari balik tutup mata itu, Naya bisa melihat dengan samar pergantian pencahayaan dari matahari terik di luar berganti menjadi cahaya temaram.
Seorang menyentuh penutup mata Naya, mencoba melonggarkan ikatan itu, begitupun dengan tali yang mengikat tangan Naya. Setelah penutup mata itu terlepas, Naya mengedip-ngedipkan matanya, membiasakan cahaya masuk ke netranya. Di sana Naya melihat seorang wanita sedang duduk di atas sofa berwarna merah dengan rokok di tangannya, sepertinya ia adalah ‘Madam’ yang tadi. Lalu Naya kenoleh ke arah kirinya, preman yang tadi menuntun Naya masuk. Preman itu kemudian keluar setelah menerima anggukan dari wanita di depan Naya.
Mata wanita itu menilik tubuh Naya dari atas sampai bawah, kemudian mengangkat jarinya dan membuat gerakan memutar. Naya yang entah kenapa menurut memutarkan tubuhnya. Aura wanita itu sangat cukup untuk mengintimidasi Naya.
“Buka pakaianmu!” perintah wanita itu.
Naya terpaku. “Tidak,” jawab Naya singkat. Tentu saja ia tidak mau.
“Baiklah.” Wanita itu menghembuskan asap rokok dari mulutnya dengan kuat.
Wanita itu berdiri lalu menghampiri Naya dengan sebuah senyuman kecil di wajahnya. Naya sedikit mundur ke belakang saat ia merasa wanita itu terlalu dekat dengannya. Wanita itu kemudian melemparkan batang rokok itu ke bawah kakinya dan menginjak batang rokok itu sampai tidak terbentuk. Naya yang sedang menunduk melihat akhir dari batang rokok itu, tiba-tiba tersentak saat wajahnya tertampar keras. Belum Naya menyentuh pipinya yang perih, rambutnya sudah di tarik kasar ke belakang. Naya meringis merasakan semua rambutnya seperti ingin menyeruak keluar dari kulit kepalanya.
“Kau pikir siapa dirimu, hah?” suara wanita itu sangat rendah tapi sangat tegas.
Naya masih memegang pergelangan tangan wanita itu dengan derai air mata. Ia ingin wanita itu melepas cengkeraman pada rambutnya.
“Sekarang buka bajumu, atau preman yang diluar yang akan membantumu melepas pakaian ini.”
Naya hanya bisa mengangguk pasrah. Air matanya tidak berhenti mengalir. Akhirnya wanita itu melepaskan rambut Naya. Naya bisa melihat helaian rambutnya yang berjatuhan karena kerasnya tarikan pada rambutnya.
Wanita itu kemudian kembali duduk manis di sofa merahnya, sambil kembali menyalakan sebatang rokok.
Naya dengan ragu, mulai melepas satu persatu kancing bajunya. Naya menutup matanya, ia sendiri tidak ingin melihat apa yang terjadi pada dirinya. Setelah berhasil meloloskan atasannya, Naya kemudian menggenggam erat pinggiran pada celananya. Naya masih belum membuka mata, ia menarik napasnya dalam lalu menurunkan celana itu. Kini Naya hanya memakai pakaian dalam yang menutupi bagian pribadinya.
Tidak ada suara dari wanita itu. Hanya suara tarikan dan hembusan saat wanita itu menyesap rokoknya.
“Bagus. Sudah pernah melahirkan?” tanya wanita itu dengan nada santai.
Naya menggeleng lemah. Naya tersenyum getir, ia berharap, sangat berharap pernah merasakan melahirkan seorang anak. Keguguran yang ia alami hanya mengharuskannya menjalani prosedur pengangkatan rahim dengan sebuah tindakan operasi.
“Punya bekas luka?” tanya wanita itu lagi.
Naya menggeleng lagi, bekas luka setelah operasi itu sudah lama ia hilangkan. Apa pun Naya lakukan untuk menghilangkan bekas itu. Bekas yang selalu membuat Naya menangis setiap kali melihat dirinya di cermin. Bekas yang menunjukkan dirinya tidak lagi sempurna.
Wanita itu kemudian berdiri lagi, tapi bukan menghampiri Naya. Wanita itu memegang knop pintu lalu memutarnya. Sebelum wanita itu keluar, wanita itu berucap, “selamat datang di dunia malam, Sayang.”
Tubuh Naya menegang, akhirnya pertanyaan yang sedari tadi berputar-putar diotaknya terjawab. Dirinya dijual … di rumah pelacuran.
Naya memakai kembali pakaiannya dengan tangan yang gemetar, suara tangisannya ia redam. Sudah bukan waktunya untuk menangis. Naya ingin meraih pintu itu dan segera berlari kemana pun. Bahkan jika harus meninggalkan dunia ini, ia akan senang hati lakukan. Tapi … bagaimana dengan suaminya? Tidak … Naya harus bertahan. Demi suaminya, demi Brian.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
Novie Achadini
miris
2023-09-22
0
El
ingin ku mengumpat 🤨
2023-08-23
0