“Astaga,” ucap Naya saat dirinya terbangun karena ketiduran. Saat Naya menoleh ke samping kirinya, ia sudah tidak menemukan Noah di sana. Tubuh Naya sangat kelelahan. Karena itu, ia tidak tau kapan ia benar-benar terlelap. Naya segera beranjak dari tempat tidur itu, membersihkan tubuhnya dan kembali memakai dress pendek yang ia kenakan semalam.
Naya menyusuri selasar kosong yang sudah tidak memutarkan musik keras. Ia hanya berpapasan dengan beberapa pegawai kebersihan yang akan membersihkan semua sisa-sisa dari tamu-tamu di sana. Beberapa pelayan pria sempat melirik ke arahnya. Naya yang seorang pekerja baru, tentu saja menundukkan wajahnya. Ia sudah tidak peduli dengan semua tatapan liar para pria-pria itu.
Naya kembali ke ruang tempatnya terakhir kali berbincang dengan Clara. Saat Naya membuka pintu ruang itu, di sana ada Clara yang tertidur di atas sofa merah. Clara benar-benar menunggunya. Air mata Naya hampir jatuh. Entah kenapa rasanya mengharukan bagi Naya ketika ada seseorang yang menemaninya di saat paling buruknya.
Clara yang merasa sedang diperhatikan, membuka matanya dan melihat sosok Naya masih berdiri di ambang pintu. Clara segera bangun dan berjalan ke arah Naya dan memeluknya. Naya yang sedari tadi berusaha menahan air matanya, akhirnya tertumpah juga. Clara menepuk-nepuk punggung Naya untuk menenangkannya.
“Tidak apa-apa, kau sudah melewatinya.”
Kalimat Clara malah semakin membuat Naya semakin terisak. Semuanya sudah berubah bagi Naya. Kehidupannya dan dunianya.
Setelah Naya tenang, Clara membantu Naya mengganti pakaian ‘kerja’-nya dengan pakaian normal lainnya. Clara membawakan Naya sebuah hoodie dan celana panjang hitam untuk Naya pakai. Saat mereka masih bersiap, Vicky dengan riasannya yang sudah sangat rusak memasuki ruang itu.
“Sudah mau balik, Sayang?” tanya Vicky dengan tatapan yang tidak fokus. Sepertinya ia masih hangover.
“Iya, ini sudah siap-siap mau ke asrama,” jawab Clara.
Naya baru tau, mereka mempunyai kamar asrama.
Vicky hanya mengangguk mendengar jawaban Clara. Lalu mendekati Naya dengan senyuman yang sedih. “Lily sayang, kau tidak apa-apa, kan?”
Naya hanya mengangguk pelan sambil membalas senyuman Vicky.
“Aku yakin Noah memperlakukanmu dengan lembut, dia adalah sal—”
“Vicky.” Clara memotong kalimat Vicky lalu menggeleng kecil.
Vicky langsung mengatup bibirnya sendiri dengan rapat. “I’m sorry,” gumam Vicky ke arah Clara.
Naya yang bingung, tidak penasaran dengan apa yang mereka rahasiakan. Naya tidak ingin ikut campur dengan apa pun. Ia hanya akan fokus bekerja dan kembali ke rumahnya bersama Brian. Mereka akan hidup bahagia kembali, seperti dulu.
Clara kini sudah menarik pergelangan tangan Naya menuju pintu belakang gedung itu. Di sana Naya melihat ada jembatan khusus yang di gunakan untuk menghubungkan satu gedung ke gedung lainnya.
“Gedung itu sebagai ‘kantor’ kita,” tunjuk Clara ke arah gedung di belakang mereka, “dan gedung yang sana sebagai rumah kita.” Lalu Clara menunjuk ke arah gedung di depan mereka, “asikkan punya tempat kerja yang dekat?”
Naya hanya tergelak mendengar ocehan Clara. Naya tau, Clara sedang bercanda dan berandai-andai sebagai pekerja kantoran seperti wanita karir pada umumnya. Bukan wanita dengan pekerjaan kotor.
Clara berhenti di depan sebuah pintu bertuliskan ‘KAMAR 10’ lalu ia memutar gagang pintu itu. Naya mengamati isi kamar itu. Di dalam sana ada empat dipan. Satu dari keempat dipan itu sudah memiliki kasur pegas di atasnya, lengkap dengan dua bantal dan satu selimut yang dilipat rapi. Di sisi dipan-dipan itu, ada lemari kayu yang tidak terlalu besar yang juga berjumlah empat buah. Lalu di dekat jendela di depan sana, ada sebuah meja rias yang cukup besar untuk di gunakan keempat penghuni kamar itu. Di atas meja itu juga sudah lengkap dengan berbagai jenis produk makeup yang sangat asing bagi Naya.
“Ini kamarku, karena aku masih sendiri, jadi, aku minta Vicky menempatkanmu di kamarku juga. Bagaimana?”
“Terima kasih, Clara, aku suka,” jawab Naya dengan tersenyum singkat lalu berjalan ke arah dipan yang ia pilih.
“Baiklah, sekarang aku akan membantumu menata tempat tidurmu.”
Naya dan Clara berjalan ke arah kamar yang berada paling ujung yang menjadi tempat penyimpanan. Di sana semua tersedia. Mulai dari kelengkapan tempat tidur, hingga kebutuhan kamar mandi. Naya juga melihat sesuatu di pajang di rak paling bawah. Ada beberapa macam obat seperti sakit perut, sakit kepala, dan … obat yang Naya kenali sebagai obat penggugur kandungan. Naya yang pernah hamil sangat mengetahui jenis obat apa yang berbahaya untuk kehamilan.
“Itu untuk jaga-jaga, kalau ada yang sampai hamil. Kebanyakan klien tidak ingin menggunakan pengaman saat berhubungan,” jelas Clara santai, sambil mengambil beberapa kebutuhan untuk Naya.
“Lalu, bagaimana kalau ada yang ingin tetap mempertahankan kehamilannya?” Naya tau itu pertanyaan bodoh.
Clara tersenyum kecil, “Madam Riya yang akan turun tangan langsung. Dia akan membius wanita itu dan membawanya ke dokter aborsi.”
Naya bergidik mendengar penjelasan Clara. Bagi Naya, Madam Riya adalah wanita paling jahat yang pernah ia temui. Seperti tidak ada lagi sedikit pun rasa kasihan di hatinya.
“Kau jangan menghakimi Madam Riya. Aku tau kau sedang menyumpahinya dalam pikiranmu.”
Naya tersentak, bagaimana Clara bisa mengetahuinya? Clara hanya membalas dengan tawa kecil ketika melihat Naya menatapnya dengan terkejut.
“Bawa ini, aku akan membantumu membawa yang itu,” kata Clara lagi sambil menyerahkan sekotak penuh kebutuhan Naya.
Saat mereka kembali, mereka melihat ada satu orang pria yang berpakaian serba hitam, khas bodyguard Madam Riya, yang sedang menarik kasar seorang wanita yang setengah sadar. Pengawal itu sedang mencari nomor kamar di antara kamar-kamar yang saling berhadapan.
“Pak, ada yang bisa saya bantu?” tanya Naya sopan sambil matanya melirik ke arah wanita yang setengah sadar itu. Naya tidak bisa melihat wajah wanita itu yang tertunduk dalam.
“Dimana kamar nomor 10?” Pria itu balik bertanya dengan suaranya yang sangat nyalang.
“Silahkan, Pak, ke arah sini.” Naya masih mencoba sopan.
Dari sudut matanya, Naya bisa melihat bagaimana kasarnya pria itu menyeret wanita malang itu.
Saat sampai di sana, pria itu hanya menjatuhkannya di atas lantai lalu memperbaiki jaket hitamnya dengan jengkel dan keluar dari sana. Clara dan Naya dengan gerakan cepat membantu wanita itu untuk bangun. Naya tersentak saat ia melihat wajah wanita itu. Dia adalah gadis yang semalam di jual ke pria baya berbau tanah itu.
Clara yang menyadarinya, juga langsung membantu Naya mengangkat tubuh gadis itu dengan hati-hati, lalu membaringkannya ke ranjang milik Clara.
Naya bisa melihat sisa darah yang membekas di rok gadis itu. Air mata Naya mulai mengenang lagi. Ia tidak bisa membayangkan apa yang sudah di lalui gadis sepolos ini.
Setelah membersihkan tubuh gadis itu, Naya dan Clara membiarkannya untuk istirahat dulu. Mereka keluar untuk menuju dapur dan membuat sesuatu untuk mereka dan gadis itu makan.
“Kemana yang lain?” tanya Naya yang hampir tidak melihat kegiatan di asrama yang besar itu.
“Jam segini biasanya mereka lagi tidur semua. Sebagai pekerja malam, saat siang adalah waktu untuk memulihkan tenaga. Kebanyakan mereka lebih memilih tidur daripada makan.”
“Apa kau tau berapa orang yang menempati asrama ini?”
Clara sedikit berpikir sebelum menjawab, “mungkin lebih dari 30 orang. Aku tidak tau pasti. Ada yang sudah dibebaskan, ada yang melarikan diri, dan wanita-wanita baru yang datang.”
Naya hanya mengangguk, banyak hal yang ingin ia tanyakan, tapi nanti, saat kondisi mereka lebih baik. Naya meletakkan telur dadar yang ia goreng ke atas piring, sementara Clara memasak mie instan di sebelahnya.
Setelah selesai, mereka kembali ke kamar dan mendapati gadis itu sudah duduk dengan tertunduk sambil menekuk lututnya di sudut kamar itu. Naya segera berlari lalu meletakkan piring yang ia pegang ke atas nakas.
“Hai,” sapa Naya sehalus mungkin.
Gadis itu tersentak melihat uluran tangan Naya yang ingin menyentuhnya. Dengan mata yang memerah dan rambut yang sangat berantakan, gadis itu menyatukan kedua telapak tangannya. “Aku minta maaf … aku minta maaf … jangan pukul aku lagi.” Gadis itu memohon-mohon dengan sangat pilu.
Naya yang tidak sanggup melihatnya, menarik gadis itu kepelukannya. “Tidak ada yang akan memukulmu. Tidak ada, Sayang.” Naya hanya bisa membiarkan gadis itu menangis dengan keras di pelukannya, sementara Naya mengusap punggung gadis itu dengan sangat lembut, sebisa mungkin menyalurkan kenyamanan untuknya.
Saat gadis itu sudah tenang, Naya menyodorkan makanan, awalnya gadis itu ragu, tapi setelah melihat senyum Naya, tangannya mulai terangkat dan mengambil piring itu. Naya bisa melihat ada bekas lebam di kedua pergelangan tangan itu.
“Siapa namamu?” tanya Naya sambil menyingkirkan anak rambut yang menutupi wajah gadis di depannya.
“Namaku Mawar, tapi seorang pria dengan dandanan wanita di tempat itu, memanggilku Rose,” lirih gadis itu dengan suara yang masih serak.
Naya tersenyum, ternyata Vicky selalu memberikan nama samaran untuk semua wanita yang ia temui.
“Aku Naya, tapi seorang pria dengan riasan wanita, memanggilku Lily.” Naya mencoba bercanda.
Berhasil, gadis itu menerbitkan senyumnya walau sangat kecil. Naya senang bisa melihat sekilas senyum manis itu.
Clara yang sedari tadi hanya menyaksikan interaksi Naya dan Mawar ikut tersenyum juga. Sepertinya kini, kamarnya akan menjadi tempat mereka saling mengadu satu sama lain.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
👑
Ya Tuhan. nyesek bacanya. gk kerasa basah ni bantal
2023-09-30
2
El
sepeetinya clara dukun 🤣
2023-08-26
0