BAB 4

Noah melipat lengan kemejanya ke atas, lalu menuangkan minuman alkohol ke dalam gelas kaca. Sementara Naya masih berdiri di tempatnya. Ia tidak tau harus melakukan apa.

“Sampai kapan kau akan berdiri di situ?” tanya Noah dengan ketus.

Naya yang kebingungan segera duduk di samping Noah. Dress yang ia kenakan sangat kekecilan, belum lagi sepatu high heels yang diberikan oleh Vicky sangat tidak nyaman di kakinya. Ia belum pernah memakai sepatu setinggi itu.

Noah tidak berkata lagi, ia meminum alkohol dari gelasnya. Naya yang melihat gelas itu sudah mulai kosong, mengambil botol lalu menuangkan isinya ke gelas yang dipegang Noah. Sama seperti arahan dari Madam Riya, untuk melayani Noah dengan baik.

“Apa kau bisa menari?” tanya Noah sambil menggoyang-goyangkan gelas alkoholnya.

“Ti-tidak, Tuan,” jawab Naya gelagapan. Ia belum berani mengangkat wajahnya untuk melihat Noah.

Noah yang menyadari itu, menarik dagu Naya agar mau melihat wajahnya. “Saat aku bicara, tatap aku, mengerti?”

Naya terperanjat. Matanya membulat, dadanya berdetak tidak normal. Wajah Noah terlalu dekat dengan wajahnya. Netra Noah yang berwarna hazel seperti menghipnotis dirinya. Kaki dan tangan Naya menurunkan suhunya. Naya yang membeku hanya bisa mengangguk kecil.

Noah kini menjauhkan tubuhnya, ia kembali menyesap alkohol dari gelasnya. Naya ingin menuangkan lagi isi botol itu, tapi Noah sudah merampas botol dari tangan Naya. “Kau ingin membuatku mabuk?”

Naya sekali lagi menggeleng kuat, kini ia mengangkat wajahnya dan menatap Noah yang sedang bersandar santai di pinggiran sofa itu.

Noah mendengus kesal, ia mengambil remote dari meja kecil di samping sofa lalu menyalakan sebuah layar besar yang berada di depan mereka. Noah kembali menekan remote itu untuk menaikkann volume dari musik yang mengalun dari layar itu. “Sekarang menarilah.”

“Tapi Tuan, saya benar-benar –,”

“Baiklah, memang seharusnya aku tidak mengeluarkan uang sebesar itu hanya untuk di hibur.”

Ucapan Noah berhasil membuat Naya bimbang. Benar, ia seharusnya bisa menghibur tamunya. Toh, ia tidak punya pilihan lain. Jika menolak Noah, ia pastikan dirinya akan habis di tangan Madam Riya.

Noah yang sudah akan menelpon Riya untuk mengganti Naya menghentikan gerakannya, saat Naya berdiri, melepas sepatu heels-nya lalu berjalan ke arah tiang vertikal yang sudah terpasang di sana. Noah tersenyum puas menunggu aksi Naya ditiang itu.

Naya menarik napasnya dalam. Ia belum pernah menari dengan tiang seperti ini sebelumnya. Tapi, ia bersyukur dulu ia sempat mengikuti kelas tari modern saat di sekolahnnya. Naya juga ingat, bagaimana ekspresi kagum Brian saat melihatnya tampil.

Naya mulai memegang tiang itu, menutup matanya, sambil membayangkan wajah Brian. Ia sedang tampil untuk menggoda suaminya. Ia akan menari untuk suaminya. Saat membayangkan itu, Naya tersenyum manis.

Noah yang sedang menunggu aksi Naya sedikit terpesona dengan wajah cantik Naya yang tersenyum. Noah tau, sorotan mata Naya bukan untuk dirinya.

Naya mulai mengitari tiang itu sambil menyesuaikan musik dengan gerakannya. Saat inti dari musik itu semakin menggebu, Naya juga mulai menari dengan gerakan seductive. Naya tidak lupa sesekali melirik ke arah Noah yang masih berdiam menonton semua gerakannya.

Saat musik itu mulai mencapai akhirnya, Naya juga mulai memperlambat gerakannya. Saat musik itu benar-benar berhenti. Naya juga ikut berhenti menari. Napas Naya memburu, rasanya menyenangkan bisa kembali menari seperti dulu.

Saat suara tepuk tangan dari Noah masuk ke pendengarannya. Naya kembali tersadar, di sana adalah tamunya, bukan suaminya. Saat itu juga, Naya langsung memperbaiki rambut dan pakaiannya yang sudah berantakan. Ia menunduk karena sangat malu.

“Kemarilah,” perintah Noah.

Naya kembali duduk di samping Noah dengan napas yang tersengal-sengal.

“Minum ini.” Noah menyodorkan alkohol kepada Naya.

Naya sekali lagi menggeleng, “saya tidak meminum alkohol, Tuan. Apakah saya bisa memesan segelas air mineral?” tanya Naya sesopan mungkin.

Noah segera menggapai telepon yang sudah tersedia di ruangan itu, lalu menelpon seseorang.

“Bawakan air mineral …,”

Bunyi dari perut Naya mengambil atensi Noah, Naya segera menutup perutnya yang protes karena belum diisi apa pun sejak pagi tadi.

“… and main course,” lanjut Noah. Sementara Naya sudah menunduk dalam menahan malu.

Setelah menutup telepon itu, Noah kembali melihat Naya dengan tatapan yang tidak pernah bisa Naya jelaskan.

“Kau harus membayar banyak malam ini.”

Naya melirik takut ke arah Noah, sekali lagi ia tidak mengerti apa maksud dari kalimat Noah itu. Saat Naya akan mengucapkan sesuatu, suara ketukan pintu terdengar.

Naya dengan sigap membuka pintu dan mendapati seorang pelayan dengan baju kerjanya masuk mengantarkan pesanan Noah tadi. Naya sedikit terkesima dengan pelayanan untuk kelas VVIP. Semuanya sangat cepat dan terorganisir dengan baik.

Setelah Noah memberikan tip kepada pelayan itu, Naya bisa melihat senyum pelayan itu yang senang mendapatkan berlembar-lembar uang dengan pecahan besar. Pelayan itu sedikit membungkuk sebelum keluar dan menutup pintu.

“Makanlah. Aku akan menunggumu di dalam sana,” ucap Noah sambil berjalan ke sebuah pintu yang sedari tadi tertutup rapat.

Saat Noah melebarkan pintu itu, Naya tersentak. Itu adalah sebuah kamar.

...****************...

Terpopuler

Comments

El

El

ngeriii 🫣

2023-08-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!