BAB 3 (Bag. 2)

Setelah melihat Naya sedikit membaik, Clara kini duduk di samping Naya. “Naya, semua yang terjun ke dunia ini punya alasannya masing-masing. Kita tidak bisa melakukan apa pun. Aku tidak akan menanyakan apa alasanmu, tapi aku akan menceritakan kisahku.”

Naya kini menolehkan wajahnya untuk melihat wajah Clara. Kulit wajah Clara sangat cerah, wajahnya sangat cantik, tapi tidak dengan mata Clara. Banyak kesedihan disana. Naya bisa melihat jelas mata itu yang menyimpan banyak luka.

“Aku berasal dari kampung kecil di pinggiran desa. Suatu hari, seorang pemuda dari kota datang ke kampungku. Katanya ia sedang membuat penelitian di kampungku. Aku sebagai salah satu gadis yang menyelesaikan sekolah, diminta menemani pemuda itu mengelilingi desa. Awalnya semua berjalan dengan baik. Setelah berhari-hari menemani pemuda itu, aku menyadari, pemuda itu menyukaiku. Aku pun mulai menyukainya. Hingga pada akhirnya, dia menjanjikanku sebuah pernikahan. Sebagai gadis kampung akan dinikahi pemuda berpendidikan tinggi dari kota, aku tentu saja sangat bahagia. Orang tuaku pun sangat bahagia mendengarnya. Lalu, pemuda itu mengajakku ke kota untuk bertemu orang tuanya.”

Clara menjeda kisahnya. Ia berdiri lalu menatap wajahnya di kaca. Sebuah bulir air mengalir dari matanya. Tapi Clara cepat menghapusnya dan kembali bercerita. “Aku mengumpulkan semua tabunganku untuk bisa berangkat bersamanya ke kota. Tempat yang belum pernah aku datangi sebelumnya. Aku sangat bahagia tapi juga sangat ketakutan. Tapi pemuda itu meyakinkanku kalau dia selalu akan ada bersamaku.”

Clara sudah memoleskan kembali bedak untuk menutupi aliran air mata yang mengganggu riasannya. Lalu kembali duduk di sebelah Naya.

“Setibanya di kota, pemuda itu membawaku ke sebuah rumah mewah. Aku terpana melihat rumah itu. Aku pikir itu adalah rumahnya. Aku sangat naif, aku sudah berpikir akan membawa orang tuaku untuk tinggal disana. Merasakan kemewahan yang tidak pernah kami rasakan.” Clara kini tersenyum sedih menceritakan kisahnya sendiri.

Naya ingin menyalurkan kenyamanan untuknya, “kalau terlalu berat untukmu, kau tidak perlu melanjutkan,” kata Naya sangat lembut.

Clara menggeleng, “aku tidak tau kenapa, aku ingin berbagi cerita ini untukmu. Aku seperti melihat diriku yang dulu.”

Naya tersenyum hangat sebagai balasan dari ucapan Clara.

“Setelah memasuki rumah mewah itu, pemuda itu menarikku ke sebuah ruangan. Di sana sudah ada beberapa laki-laki bertubuh besar dan Madam Riya yang memegang berikat-ikat uang. ‘terima kasih untuk barang barumu’ itu kata madam riya sambil melempar ikatan uang itu. Pemuda itu lalu meninggalkanku sendiri yang sangat ketakutan.”

Air mata Naya kini ikut mengenang di pelupuknya mendengar kisah pilu itu.

“Pernah sekali aku berhasil lari setelah mencuri uang dari pria yang memakai jasaku. Aku kembali ke kampung halamanku setelah sebulan aku tidak mengabari mereka. Aku sudah sangat bahagia ketika berlari menuju rumahku dan bertemu mereka. Tapi kau tau apa yang terjadi?”

Naya menggeleng kecil menunggu Clara melanjutkan ceritanya.

“Aku diusir dari sana. Bahkan semua warga kampung berkumpul untuk mengusirku. Ayah dan ibuku tidak melakukan apa pun. Ayahku bahkan ikut menyeretku keluar dari kampung itu. Aku adalah wanita kotor kata mereka. Aku meronta meminta maaf kepada kedua orang tuaku. Tapi mereka malah meludahiku dan menyuruhku tidak pernah kembali. Entah bagaimana mereka mengetahui aku bekerja sebagai pelacur.”

Air mata Naya lolos dari pelupuknya. Ia menarik Clara lalu memeluknya. Clara malah tersenyum dan berkata, “aku sudah tidak apa-apa.” Mencoba menenangkan Naya yang semakin terisak.

Naya melepaskan pelukannya. “Lalu kenapa kau kembali ke sini?” tanya Naya penasaran.

“Aku tidak kembali. Anak buah Madam Riya yang menemukanku. Aku sudah dibayar mahal, jadi mereka tidak akan melepaskan begitu saja wanita-wanita yang sudah mereka beli,” jawab Clara santai.

Tiba-tiba pintu dibuka lebar, di sana ada Vicky yang berdiri diambang pintu, “Lily, kamu dipanggil Madam, Sayang.”

Clara segera memperbaiki riasan Naya, lalu menggenggam tangan Naya. “Nay, abaikan apa pun yang terjadi. Ingat, kau hanya perlu menutup matamu dan memikirkan semua hal indah. Saat kau membuka matamu besok, aku akan ada di sini. Mengerti?”

Naya hanya mengangguk lemah. Ucapan dari Clara sangat menjelaskan situasinya yang akan segera melayani tamu pertamanya.

Naya kini berjalan di belakang Vicky. Selasar remang-remang itu menghubungkan banyak pintu yang berjejer kiri dan kanan. Kini Vicky berhenti di depan pintu bertuliskan ‘VVIP 1’. Vicky mengetuk pintu itu sekali, lalu membukanya lebar. Bau alkohol menyeruak masuk ke indera penciuman Naya. Tapi Naya tidak menutup hidungnya. Ia sudah terbiasa dengan bau itu. Bau Brian selama setahun ini.

“Halo, Tuan ganteng,” sapa Vicky pada seorang pria muda di depannya.

Naya belum mengangkat wajahnya, ia masih menunduk sangat dalam.

“Kau! Angkat wajahmu!” Suara madam Riya memerintah.

Naya pun mengangkat wajahnya lalu melihat pria muda itu. Tampan. Dari wajahnya, sepertinya usia pria itu tidak jauh dari Naya dan pakaian kemeja putih yang pria itu gunakan, Naya bisa menebak pria itu baru saja pulang dari kantor.

“Bagaimana?” tanya Madam Riya kepada pria muda itu.

“Aku suka,” jawab pria itu singkat. Nadanya sangat rendah.

“Baiklah kalau begitu … selamat bersenang-senang Tuan Muda, Noah,” ujar Madam Riya lalu berdiri menghampiri Naya dan membisikkan sesuatu di telinga Naya, “Noah membayarmu 1 Miliar, 500 juta akan dipakai untuk membayar utang suamimu, jadi layani dia dengan baik.”

Madam Riya dan Vicky lalu meninggalkan ruangan itu. Meninggalkan Naya dan Noah di sana.

...****************...

Terpopuler

Comments

El

El

apakah itu uang semuaa 😍

2023-08-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!