BAB 15

Mobil ban berdecit karena harus berhenti dengan kasar. Noah melangkah cepat ke di ruangan yang hanya boleh di masuki oleh seorang Noah. Benar saja, Naya sudah ada di sana dengan pakaian kerjanya dan senyum khasnya yang sangat manis.

“Selamat malam, Tu—”

Naya menghentikan kalimatnya saat Noah dengan tiba-tiba mencium bibirnya. Noah juga tergesa-gesa membuka jasnya. Tubuhnya panas, seperti kepalanya yang berdenyut sakit.

Naya paham sesuatu pasti telah terjadi. Karena itu, ia membalas ciuman Noah yang sangat mendominasi.

Naya sedikit kewalahan karena tubuh pendeknya, ia harus mendongak untuk bisa menyeimbangi tubuh tinggi Noah. Tubuh Naya menjadi tidak seimbang, mungkin ia akan jatuh kalau Noah tidak mendekapnya dengan sangat erat.

Suara ciuman itu semakin terdengar panas. Tapi Naya membutuhkan pasokan udara. Ia mendorong tubuh Noah yang tidak membiarkannya menarik oksigen.

“Tu…an…,” ucapnya terputus-putus.

Noah tidak berhenti. Akhirnya Naya memutuskan menggigit kecil bibir Noah hingga akhirnya Noah melepas ciuman itu. Naya mundur selangkah sambil mengatur napasnya.

“Apa aku terlalu kasar?” Noah menarik Naya kembali dan mengukungnya diantara kedua lengan besarnya.

“Tidak, Tuan. Maaf, saya yang tidak bisa mengimbangi.”

Noah memperhatikan wajah Naya dengan lekat. Wajah cantik dan mungil itu mungkin akan ia rindukan. Noah tidak tau berapa lama ia akan pergi. Seandainya bisa, ia ingin sekali menculik Naya. Tapi, itu sama saja membuat Naya dalam bahaya.

“Tu-tuan, ada apa?” Naya bertanya malu-malu melihat Noah menatapnya tanpa berkedip.

Noah tersenyum, akhirnya Naya sudah kembali menjadi malu-malu seperti dulu. Wajahnya telah kembali bersemu merah.

“Kau sudah kembali?”

Naya bingung dengan ucapan itu. “Saya tidak pernah kemana-mana, Tu—”

“Noah. Panggil aku Noah.”

Naya melirikkan matanya ingin melihat hal lain selain manik hazel indah itu.

“Noah,” gumamnya.

“Apa? Aku tidak mendengar apa pun.” Noah memiringkan wajahnya untuk mendekatkan telinganya ke bibir Naya.

“Noah,” ucap Naya dengan nyaring lalu meniup daun telinga Noah.

Noah terkejut lalu menjauhkan kepalanya sambil menggosok-gosok telinganya. Sementara Naya tertawa kecil.

Ini adalah pertawa kalinya, ia melihat Naya tertawa. Semakin cantik. Semakin indah. Noah terpaku. Jantungnya tiba-tiba berdetak kencang, sampai seperti ia bisa mendengarnya sendiri. Noah mengerutkan dahinya sambil memegang dadanya. Perasaan yang tidak pernah ia punya kepada siapa pun. Jantung yang tidak pernah berdetak untuk siapa pun. Kini berdetak kencang hanya karena melihat tawa kecil dari seorang wanita di depannya. Noah kini paham, kenapa Naya selalu mengisi semua pikirannya setiap hari, dan kenapa wajah dan namanya selalu membuatnya tidak fokus dalam bekerja. Noah sadar, ia telah jatuh cinta dengan wanita itu. Wanita yang terpaksa bekerja di sebuah rumah pelacuran.

Noah tidak bisa menyembunyikan tatapan bahagia sekaligus sedihnya. Ia mendekap dan memeluk Naya. “Aku mohon, tunggu aku. Aku akan datang dan membebaskanmu. Bertahanlah, Naya.”

Naya terdiam mendengar kalimat itu. Kalimat yang terlalu indah sekaligus mustahil untuk dirinya. Hati Naya mungkin sudah mati rasa, tapi ia tau Noah tulus, dan ia menghargai kebaikan itu.

“Aku akan meminta Riya memberikanmu ponsel. Aku mohon, angkat jika aku menelponmu.”

Naya hanya tersenyum dan mengangguk. Ia tidak mengharapkan apa pun.

“Anda tidak akan ke sini lagi?” Naya penasaran, Noah seperti sedang berpamitan.

“Hanya beberapa minggu. Saat aku datang, aku pastikan bisa membebaskanmu.”

Naya hanya ingin membuat Noah senang, karena itu ia mengangguk lagi. Hingga suara telepon berdering dari ponsel Noah. Rio, nama di layar itu.

“Kenapa?” Suara Noah berubah tegas.

“Saya sudah di depan, Tuan. Koper anda juga sudah ada di mobil.”

Noah mematikan sambungan itu. Lalu kembali melihat Naya dan memeluknya lagi. Naya hanya membiarkan saja.

“Tunggu aku di sini.”

Noah berjalan keluar, beberapa menit kemudian, ia sudah kembali dengan sebuah ponsel lain di tangannya.

“Pakai ini. Aku sudah meminta Riya mengizinkanmu memakainya. Hanya ada satu kontak, dan itu nomorku. Jika kau mau bicara denganku, kapan saja, telepon aku. Aku akan mengangkatnya.”

Naya menerimanya. Lalu bunyi ponsel Noah berdering lagi tapi diabaikannya.

Naya memeriksa ponsel itu. Sama seperti ponsel yang biasa Mira berikan untuknya, hanya saja semua tombolnya berfungsi.

Kaki Noah sangat berat. Sebenarnya bukan kakinya, namun hatinya yang tidak ingin pergi. Tapi, ibunya, ia harus melihat kondisi ibunya di sana.

Tangan Noah terangkat lalu mengusap surai hitam Naya lembut. Reaksi Naya diluar dugaannya, tangannya dihempaskan.

“Maaf, tapi mohon jangan membelai rambutku.” Naya memasang wajah minta maaf tapi tidak dengan matanya. Ia seperti marah.

Noah tidak paham, bukankah seharusnya wanita selembut Naya sangat menyukai belaian kasih sayang?

“Kenapa?”

“Tidak apa-apa, saya hanya tidak menyukainya. Sekali lagi, saya minta maaf membuat anda terkejut.” Naya menunduk dalam, menunjukkan penyesalannya.

Noah menggeleng tidak suka. Ia tidak suka Naya yang berbohong. Bunyi ponselnya kembali berdering. Noah kini berbalik, sebelum ia merubah pikirannya lagi.

Setelah bunyi pintu di tutup. Naya jatuh terduduk di sofa. Ia menggenggam erat ponsel itu dengan wajah yang mengeras. Sebenarnya ia ingin melemparkan ponsel itu hingga rusak. Setiap ucapan Noah seperti memberikannya harapan, dan Naya sangat membencinya.

Apalagi saat Noah mengusap rambutnya. Pertahanannya hampir runtuh. Ia tidak bisa membiarkan siapa pun masuk kembali dan mengobrak-abrik dirinya. Naya masih bisa bertahan sekarang karena Clara dan Rose. Jika ia dihancurkan lagi, mungkin Naya akan kehilangan akal sehatnya dan menggunakan silet kecil yang masih ia simpan sampai sekarang.

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!