Seorang pria dengan tubuh jakung memasuki ruang kamar tempat Naya beristirahat. Naya yang sedang tertidur di atas sofa merah terkejut melihat pria itu. Tapi sesuatu berbeda dengan pria itu. Dandanannya sangat mencolok, bahkan pria itu sudah memakai syal yang terbuat dari bulu-bulu sintesis berwarna hijau terang.
“Sampai kapan mau tidur sayang? Bangun … sudah waktunya kerja.” Nada yang di keluarkan pria itu sedikit mendayu. Naya mengerti, pria itu seorang wanita pria.
Naya segera berdiri dari tempatnya, ia tidak tau harus melakukan apa. Waria itu menarik kursi di depan sebuah meja, lalu dengan jari telunjuknya menyuruh Naya segera duduk di kursi itu.
Naya segera menurut. Meskipun pria itu sudah berdandan menyerupai wanita, tapi otot-otot kecil yang menonjol diantara baju ketat pria itu cukup membuat Naya ketakutan.
“Call me Vicky, Darling.”
Naya hanya mengangguk. Ia memperhatikan wajahnya sendiri di pantulan cermin di depannya, kulit diatas tulang pipinya masih sedikit membiru akibat pukulan Brian semalam. Selain itu, wajahnya hanya terlihat pucat karena sangat kekurangan tidur. Setiap malam ia harus menunggu Brian pulang hanya untuk menjadi pelampiasan amarah suaminya.
“Saya … Naya,” ucap Naya hati-hati saat Vicky menyisir rambutnya.
“Nama yang cantik. Tapi … kau membutuhkan nama samaran, sayang. Tidak ada yang memakai nama aslinya di sini.” Vicky kini mulai mengoleskan dengan lembut semua make up yang ada di atas meja itu. Naya hanya memejamkan matanya mengikuti arahan Vicky.
“Aku akan memanggilmu, Lily. Aku suka wajahmu yang seputih dan sepolos bunga lily.” Vicky terkekeh dengan ucapannya sendiri.
Tanpa Naya sadari, ia juga ikut tersenyum. Rasanya lumayan hangat, bisa mendapat teman berbincang. Setelah semua kejadian buruk yang menimpanya hari itu.
“Selesai … kau boleh membuka matamu,” seru Vicky dengan bangga.
Naya membuka matanya, lalu terkejut dengan hasil riasan Vicky. Ia mengira akan didandani semenonjol riasan Vicky. Tapi ternyata, ia dirias dengan sangat cantik. Matanya dipoles dengan warna netral, bulu mata Naya yang panjang sudah dibuat lentik, lalu olesan bedak tipis dan perona pipi sudah menghias kulit wajah Naya. Naya juga sudah tidak melihat memar di wajahnya. Semuanya tertutupi dengan rapi. Naya terlihat cantik, tapi tidak berlebihan.
“Sekarang ganti bajumu. Aku akan menunggu diluar, oke?”
Naya hanya mengangguk lagi. Setelah Vicky menutup pintunya, air matanya ingin terjatuh. Dunianya akan berubah mulai malam ini. Naya berdiri dari duduknya dan mengambil baju yang tergantung di sana.
Naya tidak lagi mengeluh melihat baju yang hanya menutup bagian-bagian penting di tubuhnya. Naya memakai baju itu sambil terus mengingat Brian di rumahnya. Biasanya saat ini, Naya sedang memasak sambil menunggu kepulangan Brian. Naya tersenyum miris. Semoga suaminya bisa makan dengan teratur.
Tiba-tiba suara pintu terbuka dan mengagetkan Naya. Naya segera meletakkan tangannya menutupi tubuhnya yang terbuka. Wanita yang sepertinya seumuran dengan Naya terlihat ikut kaget juga.
“Astaga. Aku minta maaf. Aku pikir ruangan ini kosong,” ucap wanita muda itu.
Naya tidak menjawab, ia masih menekuk badannya mencoba menutupi tubuhnya.
Wanita itu memandang Naya, lalu menutup pintu dan menguncinya dari dalam. Wanita itu mendekati Naya dengan hati-hati.
“Tidak apa-apa. Jangan takut ya … aku juga sepertimu saat pertama masuk di sini.”
Naya, akhirnya berani menegakkan tubuhnya. Wanita itu dengan sigap membantu Naya memakai pakaian kerjanya.
Air mata Naya terjatuh ia ingin mengeluarkan semua kesedihan di hatinya.
“Jangan menangis. Vicky bisa benar-benar marah kalau hasil riasannya rusak. Dia bahkan pernah mengamuk hanya karena bulu mata palsuku terlepas.” Cerita wanita itu lalu tertawa.
Naya ikut tersenyum disela air matanya.
“Aku Naya … eh, bukan. Aku Lily,” kata Naya mengoreksi namanya sendiri.
“Aku Clara. Salam kenal ya Lily.” Clara lalu mengulurkan tangannya. Naya tersenyum kecil dan membalas uluran tangan Clara.
“Astaga, sudah hampir jam 9. Cepat keluar, sebelum Madam Riya mencari kita.” Clara mengambil spons bedak, lalu membantu Naya memperbaiki riasannya.
Naya mengikuti Clara memasuki sebuah ruangan, musik keras yang memekakkan telinga memasuki pendengaran Naya. Naya tidak terbiasa dengan suara musik sekeras itu. Naya mencoba menutup telinganya tapi dilarang oleh Clara.
Di ruangan yang gelap itu hanya diterangi oleh lampu warna warni yang berputar-putar diatas kepala mereka. Di sana sudah ada Madam Riya yang sedang duduk dengan balutan dress pendek berwarna hitam sambil memegang rokoknya dan seorang pria baya yang sudah hampir kehabisan semua rambutnya. Umurnya mungkin diatas 50 tahun. Pria baya itu menuang alkohol pada gelasnya sambil sesekali melirik ke arah wanita-wanita muda di depannya.
Naya berdiri berjejer dengan lima gadis lainnya. Naya tidak tau harus berbuat apa. Dia melirik Clara yang sedang tersenyum manis ke arah pria baya itu. Naya tidak suka dengan tatapan pria baya itu yang seperti menelanjangi mereka.
“Apa ada yang Tuan suka dari kelima wanita ini?” Suara Madam Riya terdengar samar-samar diantara suara musik yang keras.
Naya baru sadar, mereka sedang dijadikan daftar katalog oleh madam Riya. Dalam hati, Naya berdoa semoga ia tidak terpilih malam ini.
Tidak ada jawaban dari pria baya itu. Matanya menilik satu per satu wanita yang berjejer di depannya. Ketika sampai pada wanita yang paling terakhir, pria itu mengembuskan napasnya lemah. “Apa hanya ini barang bagusmu?”
“Wanita nomor dua baru datang.” Madam Riya melirik Naya sedetik.
Jantung Naya terpacu. Tidak, jangan aku.
Pria baya itu meminum isi gelasnya sampai habis lalu ia kembali bertanya, “apa dia masih perawan?”
Madam Riya menyesap rokoknya dalam, “sudah tidak. Tapi aku jamin, dia masih sempit.”
Kalimat itu sukses membuat netra Naya berkaca-kaca. Hatinya sakit, harga dirinya sudah hilang. Ia sekarang adalah barang yang sedang diperdagangkan.
“Ck, saya tidak mau. Bawakan saya perawan.”
Madam Riya lalu berdiri, lalu membuka pintu yang berada di belakang mereka. “Masuk!” perintahnya.
Seorang wanita muda, bukan … seorang gadis dipaksa masuk oleh dua orang pria bertubuh besar dan tinggi yang mencengkeram lengan kiri dan kanan gadis itu. Gadis itu memberontak sambil menangis pilu mencoba melepaskan genggaman pria-pria itu.
Madam Riya yang sudah kehabisan kesabaran menampar keras gadis itu. Gadis itu terkejut dan menghentikan usaha melawannya.
Hati Naya berkecamuk, ia ingin berlari kesana dan menyelamatkan gadis itu. Air matanya sudah tidak bisa ia tahan melihat adegan memilukan itu. Clara yang berdiri di sebelahnya memegang lengan Naya lalu menggeleng lemah.
Clara ingin memberitahu Naya untuk tidak melakukan apa pun. Naya paham ... sangat paham kalau ia tidak bisa melakukan apa pun. Karena itu, ia hanya mencengkram ujung dress pandeknya dan menggigit bibirnya kuat untuk menyalurkan semua perasaan marahnya.
Pria baya itu malah tertawa terbahak-bahak melihat gadis itu mengalami kekerasan. Dia bahkan bertepuk tangan lalu berdiri menghampiri Madam Riya. “Saya sangat suka barang bagus seperti ini. Saya berjanji akan menambah investasi dalam waktu dekat,” ucap pria baya itu sambil mengedipkan sebelah matanya untuk Madam Riya.
Madam Riya tersenyum senang mendengar janji pria baya itu, “saya sangat senang berbisnis dengan anda, Tuan.”
Setelah itu, Madam Riya menoleh ke arah wanita-wanita yang berjejer dan mengisyaratkan mereka semua untuk keluar. Naya masih menatap tajam ke arah pria baya itu, tapi Clara sudah menarik Naya keluar dari ruang itu.
Clara membawa Naya kembali ke ruang sebelumnya. Saat tiba di sanalah, Naya baru mengeluarkan semua tangisannya. Tubuhnya bergetar hebat, Naya berteriak kencang untuk menyalurkan rasa sakit dalam hatinya. Suaranya bisa teredam akibat musik keras di luar. Clara hanya bisa menepuk-nepuk punggung Naya menenangkannya.
“Aku tau kau belum terbiasa. Menangislah kalau itu bisa membuatmu tenang.”
“Aku sangat ingin berlari menyelamatkan gadis itu. Aku … aku tidak bisa melihat gadis itu dilecehkan oleh orang sehina dia,” ucap Naya ditengah tangisannya.
Clara berdiri untuk mengambil air botol mineral di dalam lemari. Di lemari itu sudah tersedia beberapa botol minuman mineral dan snack kecil untuk persediaan mereka selagi menunggu panggilan tamu.
Clara menyerahkan botol minuman itu kepada Naya, Naya menerimannya dan meminumnya hingga tersisa setengah.
Setelah melihat Naya sedikit membaik, Clara kini duduk di samping Naya. “Naya, semua yang terjun ke dunia ini punya alasannya masing-masing. Kita tidak bisa melakukan apa pun. Aku tidak akan menanyakan apa alasanmu, tapi aku akan menceritakan kisahku.”
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments