BAB 12

Sebuah ruang kerja bergaya klasik eropa menampilkan sosok yang masih berkutat dengan banyaknya tumpukan dokumen yang menunggu untuk di tanda tangan atau dibaca olehnya.

Noah W. Elmert adalah nama yang tercantum jelas di atas plakat kaca di ujung meja itu. Matanya menelusuri setiap kata yang tertulis, tapi pikirannya malah melayang jauh.

Pikirannya terus saja berpusat pada satu wanita penghibur yang sudah berhari-hari ini selalu mengambil alih ingatannya. Naya. Wanita lemah yang sebelumnya terlihat sangat manis, bisa berubah liar hanya dalam waktu semalam.

Setelah kejadian dimana Naya mendominasi tubuhnya, Noah belum lagi berkunjung ke klub itu. Sebentar lagi perusahaannya akan melebarkan sayap ke Eropa. Noah sudah cukup diberi waktu oleh ayahnya untuk bersenang-senang.

Karena gelisah, Noah akhirnya meraih telepon genggamnya dan mencari kontak perempuan yang memiliki kuasa kepada semua wanita di sana.

“Apa yang terjadi dengan wanita yang selama ini menemaniku?” tanya Noah tanpa basa basi.

“Wah, saya tidak menyangka Tuan Muda akan menelpon hanya untuk menanyakan kabar wanita penghibur itu,” sarkas suara di sana.

“Riya. Kau harus tau tempatmu.” Noah memperingati.

“Oke, maafkan saya. Kata preman yang mengikutinya, suami wanita itu pulang dengan wanita lain. Mereka tidak tau apa yang terjadi di dalam rumah. Tapi ketika keluar, wanita itu sudah seperti mayat hidup.”

Noah sedikit paham, tapi hatinya malah semakin penasaran.

“Tuan Muda, saya hanya ingin mengingatkan, kalau wanita penghibur di sini sudah tidak mempunyai masa depan. Mereka tidak punya jalan lain selain bekerja untuk diri mereka sendiri.” Riya seperti ingin menyadarkan Noah.

“Kau tidak perlu menasehatiku. Aku tau.”

“Oh iya, dan Tuan Besar tidak akan suka kalau anda mengganggu bisnisnya.”

Noah tau siapa yang Riya maksud. Noah mengusap kasar wajahnya.

“Terima kasih informasimu. Aku ingin Naya yang menemaniku saat aku ke sana.”

“Maaf Tuan, Naya sudah mempunyai jadwal tamu. Anda tau? Setelah dia merubah sikapnya, banyak tamu yang mulai menyukainya.” Riya tertawa senang.

“Riya! Jangan ada yang menyentuh mainanku.”

Tawa Riya menghilang mendengar bentakan kasar itu. “Tuan, ini adalah bisnis, kecuali anda mau membayar dua kali lipat. Anda juga tau kan, membatalkan pesanan secara sepihak sangatlah tidak sopan.”

“Kirimkan aku tagihan untuk sebulan full.”

“Dengan senang hati, Tuan Muda. Anda adalah tamu prioritas kami.”

Noah menutup telepon itu. Ia menghempaskan semua kertas laporan yang sedari tadi hanya diam berserakan di atas mejanya. Hatinya tiba-tiba memanas saat mendengar Naya akan melayani orang lain. Apa yang sebenarnya terjadi pada dirinya?

...----------------...

“Noah! Berapa banyak uang yang kau habiskan, hah?”

Bukannya merenung, Noah malah menyeringai. “Kenapa Ayah marah? Harusnya Ayah bangga bisa melihat satu-satunya anakmu mengikuti jejakmu.”

Pria tua yang berada di kursi roda itu melemparkan hasil mutasi rekening Noah yang sangat tidak masuk akal. “Tapi, bukan untuk wanita pelacur!”

Rahang Noah mengeras, ia mengepalkan tangannya. “Ayah pikir, semua wanita kelas atas yang Ayah tiduri lebih baik dari pelacur? Mereka bahkan lebih menjijikkan.”

“NOAH! Kau—”

“AYAH!” Noah balas berteriak. “Ibu sekarang menderita karena semua yang ayah lakukan. Kenapa Ayah masih belum sadar?” Noah berdiri dari kursi besarnya lalu berjalan mendekat.

“Ayah seharusnya menjenguk Ibu. Bersujud di kakinya dan meminta maaf.” Tatapan Noah menjadi sayu.

Ayah Noah terdiam, tapi tatapan matanya tidak lepas dari Noah.

Noah mendengus marah melihat ayahnya yang tidak mengatakan apa pun. Ia memilih jalan keluar dari ruangan itu.

Pikirannya kacau, ia menyetir mobilnya dan menembus gelapnya malam entah kemana saja. Semakin kepalanya berisik, semakin dalam pula ia menginjak pedal gasnya. Hingga tiba-tiba ia sudah berhenti di halaman gedung berlantai 3.

“Sial. Kenapa malah kesini,” gerutunya sendiri.

Noah belum juga turun, ia masih membenamkan wajahnya di atas kemudi mobil. Namun, saat ia kembali menoleh ke arah pintu masuk klub itu, wajahnya menangkap wajah yang tidak asing. Seorang wanita berpakaian minim dengan bibir yang diwarnai merah pekat sedang menikmati rangkulan dan ciuman dari seorang pria mabuk.

Noah tidak akan terkejut kalau seandainya itu bukanlah wanita yang sudah mengambil alih pikirannya. Noah masih terdiam melihat interaksi itu, ia masih sedang menimang apakah akan ke sana memukul pria itu atau menarik wanita itu dan menculiknya.

Ketika sebuah mobil hitam berhenti di depan mereka, si pria mabuk itu akhirnya melepaskan ciumannya, wanitanya malah tersenyum dan tertawa sensual sampai pria itu akhirnya masuk ke mobilnya dan menghilang dari pandangannya.

Tiba-tiba jantung Noah berhenti berdetak saat melihat senyum merekah wanitanya berubah dalam sekejap. Wajah wanitanya berubah menjadi sangat datar, tatapannya berubah menjadi sangat kosong sesaat setelah tamunya pergi. Seperti halnya bersandiwara di panggung megah. Semuanya kembali seperti adanya saat tirai pertunjukkan telah diturunkan.

Noah membuka pintunya lalu berlari ke arah pintu masuk, dan menarik pergelangan tangan wanitanya, memaksanya berbalik. Wanitanya terkejut saat melihat pelanggan tetapnya berdiri di depannya.

“Tuan, Noah,” senyum wanita itu kembali.

Noah kini menyadari kalau senyum itu sangat palsu. Entah apa yang Noah pikirkan, ia malah memeluk wanitanya dengan erat. Sementara wanita itu tidak menolak, ia malah membisikkan sesuatu.

“Apa anda merindukanku?”

Noah tidak menjawab, ia masih memeluk wanitanya yang selalu sangat kecil di dekapannya.

“Tuan, saya harus melayani tamu lain. Kecuali anda sudah memesan terlebih dahulu.”

“Diamlah, Naya.” Noah merendahkan suaranya.

Naya benar-benar diam di sana. Ia tidak bicara atau bergerak. Hanya bahunya yang naik turun menandakan ia masih bernapas.

Setelah puas memeluknya, Noah melepaskannya. Naya kembali menarik sudut bibirnya lalu menatap Noah.

“Apakah saya sudah bisa kembali, Tuan?”

Noah akan menolak, tapi tiba-tiba suara derap sepatu heels mendekati mereka, bersamaan dengan suara hembusan asap rokok yang menyebar dari napas wanita tinggi di sana.

“Selamat malam, Tuan Muda Noah. Anda tidak mengabari akan datang malam ini.”

“Apa kau lupa perjanjiannya?” Noah hampir berteriak marah.

Riya paham setelah melihat Noah memegang pergelangan tangan Naya. “Saya hanya berjanji tidak membuatnya tidur dengan tamu lain. Bukan tidak membuatnya bekerja.”

Naya berusaha melepaskan genggaman Noah. “Maaf, Tuan, saya punya tamu yang lain.” Naya lalu berjalan melewati Noah dan Riya.

“Saya tidak bohong tentang Naya memiliki banyak pelanggan sekarang.”

“Berapa hargamu untuk melepas Naya?”

Riya menghentikan hisapan rokoknya. Lalu menilik Noah menunggunya tertawa atau mengatakan sedang bercanda. Tapi, Noah tidak bergeming. Ia menatap lurus ke arahnya. Riya berjalan lebih dekat sebelum menjatuhkan rokoknya.

“Sepertinya sedikit sulit untuk itu.”

Noah mengerutkan keningnya. “Apa yang sulit? Kau selalu memiliki harga untuk semua mainanmu. Sebutkan!” perintah Noah dengan tegas.

Riya tersenyum kecil tanpa melepas matanya dari sosok Noah yang berdiri dengan angkuh. “Mike yang membawa Naya ke sini.”

Noah tersentak. “Mike?”

“Saya sudah bilang, Tuan. Itu sedikit sulit.” Riya lalu berbalik dan meninggalkan Noah yang mematung.

...****************...

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!