“Aku merindukan suamiku,” ujar Naya sambil menatap Rose yang sudah terlelap di atas ranjang milik Clara.
Clara yang sedang membaca novel romansa menjatuhkan buku di pangkuannya dan menatap sedih ke arah Naya, “aku turut berduka, Nay.”
Naya yang bingung dengan ucapan Clara menoleh ke arahnya. “Suamiku masih hidup, Clara.”
Clara mengatup bibirnya dengan cepat, “aku benar-benar minta maaf.”
Naya tergelak melihat reaksi lucu itu. Lalu ia mengalihkan pandangannya melihat langit biru melalui jendela di kamar mereka. “Aku ingin tau, dia lagi apa sekarang. Aku ingin pulang.”
Clara mengenyitkan keningnya, “kau masih punya rumah untuk pulang?”
Sekarang Naya melihat Clara dengan tatapan bingung.
“Astaga. Aku pikir kau wanita yang di buang dan tidak punya tempat kembali.” Clara berdiri dari duduknya dan berjalan ke arah Naya yang sedang duduk di lantai, “Nay, kau bisa pulang, hanya saja kau harus melapor ke asisten Madam Riya. Kalau kau tidak melapor kau akan dianggap melarikan diri.”
“Benarkah?” tanya Naya dengan mata berbinar cerah. “Tapi, apa aku akan mendapatkan izin? Aku baru tiba kemarin.”
Clara mengangguk kuat dengan senyum lebar. “Kau bisa pulang dan kembali saat jam kerja. Aku minta maaf, tidak mengatakannya lebih awal. Padahal kau bisa pulang saat tamu-mu sudah pergi.”
Naya langsung berdiri dan mencari barangnya. Naya lupa ia tidak membawa apa pun termasuk ponselnya. “Clara aku boleh meminjam ponselmu?”
“Tidak ada yang memakai ponsel, Nay. Itu adalah aturan pertama yang harus kau ingat. Madam Riya akan menyeret siapa pun yang ketahuan. Aku ingat ada yang pernah mencoba menyelundupkan ponsel ke asrama ini. Rambutnya langsung di gunting habis, lalu dipaksa melayani lima orang bodyguard Madam Riya.”
Naya membelalakkan matanya mendengar cerita mengerikan itu.
“Tidak ada yang berani melawan aturan dari Madam Riya, Nay.”
Naya hanya mengangguk paham, “jadi, aku harus meminta izin kemana?”
“Kau ingat ruangan kita semalam? Dari arah ruang itu, berjalanlah lurus sampai ujung lorong. Di sana ada satu ruangan yang berpintu merah. Ruang itu milik asisten Madam Riya, namanya Mira.”
Clara lalu berdiri membuka laci nakas samping ranjang yang ditempati Rose lalu mengeluarkan selembar uang pecahan besar. “Ini untukmu, kau perlu uang untuk naik taksi, kan?”
“Astaga, tidak perlu, Ra. Aku akan membayar taksinya jika sudah sampai di rumah.”
Clara malah mengambil tangan Naya dan memaksanya menerimanya, “aku sedang membuatmu berutang budi padaku. Aku yakin suatu saat nanti aku membutuhkan bantuanmu.”
“Terima kasih, Ra. Aku akan kembali sebelum jam kerja.”
Clara hanya mengangguk lalu melihat Naya sudah berlari kecil dengan senyuman di bibirnya. “Aku harap suamimu masih mau menerimamu, Nay,” gumam Clara sendiri. Ia tau, hampir tidak ada keluarga yang benar-benar akan menerima pekerjaan kotor yang mereka lakukan.
----
Ketika sampai di depan pintu berwarna merah, Naya mengetuk pintunya sebanyak tiga kali. Saat suara wanita di dalam mempersilahkannya masuk, Naya langsung memutar knop pintu itu.
Ruangan itu sama temaramnya dengan ruangan yang lain. Padahal Naya yakin matahari di luar bersinar sangat terik. Saat masuk, Naya sedikit terbatuk karena asap dari rokok yang berputar-putar di dalam ruangan. Sementara wanita dan pria di belakang meja sana sedang asyik bercumbu, seperti tidak terganggu dengan kehadiran Naya.
Naya menundukkan pandangannya, ia menolak melihat adegan yang sedang mereka lakukan.
“Ada apa?” tanya Mira dengan santai, sementara pria itu sedang menciumi lehernya.
"Saya bisa pulang?”
Mira menghentikan ciuman pria itu dan menyuruhnya keluar. Naya menoleh sekilas ke arah pria itu yg sedang mengaitkan tali pinggang dan menaikkan resleting celana jeans-nya. Saat pria itu berpapasan dengan Naya, tangan kurang ajar pria itu menyentuh pinggul Naya dengan sengaja.
Naya tersentak tapi ia tidak berani melakukan sesuatu. Pria itu malah tertawa puas dengan ekspresi yang menjijikkan.
Mira mengeluarkan satu batang rokok, membakar ujungnya, lalu mengisap ujung lainnya. "Kau harus kembali sebelum pukul 6 sore. Dua preman akan mengikutimu dari belakang. Jangan pernah berpikiran bisa melarikan diri. Kami memiliki jaringan di seluruh kota ini. Mengerti?"
"Saya mengerti, saya hanya ingin pulang menemui suami saya."
“Ambil ponsel ini, kau tidak bisa menelpon atau mengirim pesan ke siapa pun. Ponsel itu hanya bisa menerima panggilan dariku. Angkat ponsel ini saat berdering. Aku akan membunuhmu kalau kau mengabaikan panggilanku.” Mira lalu melemparkan ponsel jadul itu ke arah Naya.
Naya dengan sigap menangkap ponsel itu. Naya meniliknya, benar, ponsel itu hanya memiliki satu tombol yang berfungsi, yaitu tombol untuk mengangkat panggilan telepon yang masuk.
“Kembalikan saat kau sudah kembali.”
Naya mengangguk paham, lalu ia berbalik dan keluar dari sana.
Saat tiba di depan pintu keluar gedung bertingkat tiga itu, langkah Naya terhenti. Ia teringat sesuatu. Kenapa saat dirinya datang, tangan dan matanya di ikat? Jika mereka mengizinkan wanita-wanita bisa pulang ke rumah mereka kembali.
Naya kini berbalik lagi menatap ke arah dalam dari gedung itu. Satu pertanyaan lagi berhasil mengusik Naya, lalu kenapa para wanita yang bekerja memilih tinggal di asrama? Naya segera menggeleng. Itu adalah hak wanita-wanita itu, ia tidak berniat menyalahkan pilihan para wanita yang berada di asrama.
Naya melangkahkan kakinya menuju gerbang di depan sana, terlihat beberapa preman berjaga. Dua preman lainnya sudah bersiap dalam sebuah mobil hitam dengan kaca yang sengaja mereka turunkan.
Ketika Naya menghentikan sebuah taksi, kedua preman itu juga langsung mengikuti Naya dari belakang.
...----------------...
Naya langsung berlari ke arah pintu rumahnya dengan tersenyum lebar. Ia masih mempunyai lima jam sebelum harus kembali ke gedung mengerikan itu. Setelah mengambil kunci cadangan yang selalu tersedia di bawah sebuah pot putih, Naya lalu masuk ke rumah yang menjadi saksi hidupnya bersama Brian. Naya menyempatkan melirik ke arah mobil hitam yang terparkir di depan halaman rumahnya.
Naya tidak menemukan Brian di dalam sana. Naya tidak terkejut, karena sejak perusahaan Brian bangkrut, Brian seperti kehilangan tujuan hidup. Semuanya semakin kacau saat Brian mengenal dunia judi.
Naya merindukan masa-masa bahagianya dengan suaminya itu. Apalagi saat mengetahui Naya hamil, Brian memperlakukannya seperti seorang Ratu. Bahkan Brian rela memasak setiap hari untuk Naya, meskipun Brian sendiri lelah karena mengurus perusahaan besarnya dulu.
Naya segera menghentikan lamunan itu. Benar, ia sudah mempunyai kerjaan sekarang. Meskipun pekerjaan yang kotor, tapi selama ia bisa membantu keuangan Brian, ia tidak akan peduli sekotor apa pekerjaan yang ia lakukan. Dengan secuil kepercayaan diri itu, Naya membersihkan dirinya, lalu memakai pakaian seksi untuk Brian dan memasak untuknya.
Setelah hampir dua jam, Naya masih menunggu Brian yang belum juga pulang. Makanan yang sudah terpajang cantik di atas meja makan juga sudah mulai dingin. Naya yang mulai mengantuk, membaringkan dirinya di atas sofa yang berada di ruang tamunya.
Setelah berhasil mengistirahatkan tubuhnya, Naya mulai terjaga dari tidurnya. Ia melirik ke arah jam yang terpajang di atas sana. Mata Naya membelalak ketika melihat jam sudah menunjukkan pukul 5 sore. Brian bahkan belum pulang.
Naya sebenarnya ingin memberikan kejutan untuk suaminya, karena itu ia tidak menghubungi Brian. Naya akhirnya menyerah. Naya segera mencari ponselnya untuk menghubungi suaminya itu.
Belum juga Naya menekan dial pada telepon genggamnya, suara pintu dari ruang tamunya terdengar dibuka. Naya segera berlari ke sana. Ia sangat senang melihat Brian akhirnya pulang.
“Surprise!” teriak Naya dengan senyum cerah di wajahnya.
Brian yang sedang berteleponan dengan seseorang tampak terkejut melihat Naya yang sudah merentangkan tangannya dengan lebar. Brian segera menyembunyikan sesuatu yang ia pegang sedari tadi dan mematikan panggilan itu dengan cepat.
Naya yang sudah terlanjur melihat apa yang Brian pegang, mendekat ke arah suaminya dengan mata yang berbinar. “Kamu belikan aku bunga?”
Brian masih berdiri seperti patung. Ia tidak tau harus bereaksi seperti apa.
Naya sudah mendekat dan mengambil bunga dari tangan Brian lalu mencium bunga itu. “Aku tau kamu merasa bersalah sudah melupakan hari pernikahan kita.”
“Kenapa kamu pulang?” gumam Brian dengan suaranya yang datar.
Naya yang sedang tersenyum sendiri, mendongak tidak mengerti dengan pertanyaan Brian.
Brian yang melihat ekspresi bingung Naya, segera menggeleng kuat, “maaf, maksudku kapan kamu pulang?”
“Oh, sudah hampir empat jam yang lalu, sebentar lagi aku harus kembali.” Naya memasang muka sedih, berharap suaminya mau memeluknya.
“Kamu bisa pulang setiap hari?”
Naya mengangguk lalu kembali tersenyum, meskipun hatinya sedikit kecewa Brian tidak memeluknya, apalagi berkomentar tentang pakaian seksi yang ia pakai. “Aku bisa pulang setiap pagi. Oh iya, transferan sudah masuk? Semalam aku mendengar, mereka akan mengirimu uang.”
Brian tidak menjawab, ia hanya melewati Naya dan berjalan ke arah dapur. Naya sekali lagi hanya mengikuti Brian dari belakang.
Brian melihat semua hidangan yang sudah Naya siapkan untuknya. “Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Kamu fokus kerja saja.”
Naya menghentikan langkahnya di belakang Brian. Naya tidak tau harus mengartikan apa kalimat Brian itu. Kenapa hati Naya berdenyut mendengarnya.
Manik Naya mulai basah, ia genggam bunga dari Brian itu dengan erat. Lalu ia melirik ke arah jam yang sudah hampir menunjukkan pukul 6 sore. Tanpa mengatakan apa-apa lagi, Naya berlalu ke kamarnya, mengganti kembali pakaiannya dan berjalan melewati Brian yang sudah duduk sambil mengganti siaran layar di depannya.
“Aku berangkat. Kamu makan, ya,” ucap Naya dengan sedih. Ia tidak lagi tersenyum.
“Iya.” Brian bahkan menjawab tanpa menoleh ke arah Naya.
Sementara Naya sudah menutup pintu rumahnya dengan air mata yang berhasil jatuh.
...****************...
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 51 Episodes
Comments
El
suami kampret emang
2023-08-26
0
El
wwkwkwkwk dikira suda koid 🤣
2023-08-26
0