BAB 5

Setelah menyelesaikan makannya, Naya berjalan dengan ragu ke depan pintu kamar itu. Saking gugupnya, Naya mengetukkan jarinya ke permukaan pintu yang terbuat dari kayu jati berkualitas tinggi. Ingat, ia sedang berada di ruang VVIP. Apa pun yang berada dalam ruangan itu, semuanya sudah di rancang untuk memenuhi selera mereka yang berkantong tebal.

“Permisi, Tuan,” gumam Naya pelan. Tapi Naya tidak mendengar balasan dari dalam sana. Saat Naya memutar knop pintu itu dengan pelan, ia mendengar suara air bergemercik di dalam ruang yang lain. Noah sedang mandi di dalam sana.

Naya kembali menelan salivanya dengan takut. Ia ragu, apakah harus masuk atau menutup kembali pintu itu. Saat Naya masih dengan keraguannya, Noah sudah keluar dari kamar mandi dengan hanya berlilitkan sebuah handuk putih yang lebar dipinggangnya, sementara handuk dengan ukuran lebih kecil ia gunakan untuk mengusap rambutnya yang basah.

Naya terpaku melihat penampilan Noah sekarang. Ia sangat … indah, seperti lukisan mahal yang tidak bisa tersentuh. Tubuhnya terukir dengan sempurna, beberapa bagian dari otot perutnya seakan menjadi lintasan yang sulit untuk air yang jatuh di atas kulit tanpa cela itu. Belum lagi, air yang masih mengalir dari pelipisnya membasahi area wajah Noah dengan sangat kurang ajar. Kalau bisa, Naya ingin menggantikan air itu menjelajahi wajah Noah.

Astaga… Naya memukul kepalanya sendiri. Apa yang sedang ia bayangkan. Ia langsung menundukkan wajahnya dengan perasaan yang bersalah terhadap suaminya. Naya tertingkah seperti seorang istri yang berselingkuh.

“Apa yang kau lakukan?” tanya Noah dengan garis kerutan di keningnya.

“Ma-maaf, Tuan. Saya akan keluar,” jawab Naya dengan kikuk.

Noah mendengus mendengar jawaban Naya, ia lalu menarik tangan Naya dengan sedikit kasar. Naya yang tidak siap langsung menubruk dada bidang Noah. Sebelum Naya protes, Noah sudah menarik Naya ke dalam kamar mandi. Naya yang masih bingung, dengan sigap menangkap bathrobe yang Noah lemparkan padanya.

“Bersihkan dirimu dulu.” Hanya itu kalimat dari Noah sebelum menutup pintu kamar mandi dari luar.

Naya masih terpaku. Ia menatap dirinya di cermin setinggi satu setengah meter yang menyatu dengan dinding kamar mandi itu. Tiba-tiba air matanya lolos. Naya yang masih menatap wajahnya sendiri kini menurunkan pandangannya, menatap pantulan dress pendek yang ia kenakan. Naya meremas kuat ujung dress itu. Menyalurkan semua malu, marah, dan kesal di hatinya. Lalu, ia teringat wajah Brian.

Naya, semuanya untuk Brian. Brian yang kau cintai. Batin Naya berusaha menguatkan dirinya sendiri. Naya sekali lagi menatap wajahnya di sana. Apa pun yang terjadi malam ini, ia hanya akan menutup matanya dan membukanya besok pagi. Seperti pesan Clara.

Setelah membersihkan tubuhnya, Naya keluar dengan memakai bathrobe yang kebesaran itu. Ia melihat Noah sedang membelakanginya. Sepertinya ia sedang menuangkan alkohol ke gelas kaca lagi.

Saat berbalik, Noah sedikit terkesima melihat wajah Naya yang menghapus makeup-nya. Wajah Naya menjadi sangat cantik dan polos secara bersamaan. Mungkin karena riasan yang Naya pakai sebelumnya seperti riasan wanita penggoda lainnya. Noah menyeringai, sepertinya ia mendapatkan jackpot malam ini.

Noah yang sudah mulai mabuk, menghampiri Naya dengan tatapan yang intens. Tubuh Noah yang tinggi mengharuskan Naya mendongak saat Noah sudah berdiri tepat di depannya. Naya bisa melihat Noah yang tersenyum dengan penuh nafsu yang memburu.

Naya hanya bisa berdiri dengan diam dan membiarkan Noah melakukan apa pun. Termasuk saat Noah menyingkirkan bathrobe itu dari tubuhnya.

“Cantik,” gumam Noah saat menilik tubuh polos Naya.

Naya tentu saja sangat tidak menyukai dirinya yang dilihat oleh seorang pria asing. Naya mencoba menutup semua bagian privasinya. Tapi, terlambat saat Noah sudah menarik dirinya ke pelukannya dan mulai menciumi Naya dengan kas—, tunggu … Noah tidak menciumnya dengan kasar, ia menciumnya dengan lembut. Naya merasakan ciuman itu seperti seorang pria yang sudah lama menunggu kekasihnya. Ciuman itu terasa sangat … nyaman … Naya tidak bisa mendeskripsikannya lebih jauh. Bahkan, Brian pun tidak pernah menciumnya seperti itu.

“Balas ciumanku!” perintah Noah dengan suara rendahnya. Sedari tadi Naya memang hanya membiarkan Noah. Setelah mendapat perintah itu, Naya menutup matanya, dan larut dalam ciuman itu juga.

Bunyi ciuman yang basah terdengar memenuhi kamar besar itu. Entah apakah karena Noah yang sedang di penuhi nafsu, atau Naya yang juga mulai terlena di sana. Bahkan ia sudah tidak sadar saat tubuhnya sudah terbaring di atas tempat tidur mewah. Ketika Noah melepaskan ciumannya, matanya memenjarakan netra Naya di sana. Naya sekali lagi terhipnotis oleh netra hazel itu.

“Kalau kau takut, kau boleh menutup matamu.”

Naya hanya bisa diam dan mengangguk kecil. Benar, malam ini ia akan melewatinya. Ia pasti akan melewatinya. Sesaat kemudian, ia sudah tidak bisa menceritakan apa-apa lagi. Matanya ia tutup dengan rapat tanpa memperdulikan apa pun yang dilakukan Noah ditubuh bagian bawahnya.

...****************...

Terpopuler

Comments

El

El

lost control juga 😭

2023-08-23

0

lihat semua

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!