Di dalam kamar itu Gavin keluar dari dalam selimut dan berlari kemanapun ia dapat menghindar dari cakaran kuku Siera.
"Katakan sekali lagi Gavin. Kau selama ini berhianat padaku untuk meniduri setiap wanita." pekik Siera penuh amarah. Dia tidak perduli lagi dengan tubuhnya yang polos. Dia ingin sekali mencabik cabik Gavin hingga menjadi pecahan beling paling kecil. Pria itu sangat mengesalkan.
Siera berlari mengejarnya hingga Gavin tidak memiliki ruang untuk berlari lagi.
"Ach Siera, berhentilah mengejarku. Tubuhku ini adalah asetku. Jika kau terus mencakar tubuhku maka tubuhku akan terlihat jelek." kata Gavin dengan tangan mengulur ke depan.
"Aku tidak perduli Gavin. Mulai sekarang dan seterusnya kau tidak boleh lagi mencari wanita wanita murahan itu." kata Siera tegas.
"Oke. Tetapi berhentilah mengejarku. Tubuhku terasa perih." kata Gavin menyerah.
"Bagus jika kau tau." Siera melipat tangannya di depan perut dan menyeringai.
Gavin merasa lega. Bahunya terasa lemas setelah kejar kejaran tadi. Bagaimanapun Siera sekarang sangat menakutkan.
Siera kembali ke atas kasur dan bersiap untuk istirahat. Gavin menoleh ke arah kasur yang mana Siera mulai memejamkan mata. Dengan perlahan pria itu mendekatkan dirinya ke sisi ranjang.
"Siera!" kata Gavin dengan suara pelan.
"Cepat tidur aku sangat lelah malam ini." kata Siera kemudian memiringkan tubuhnya ke kiri memunggungi Gavin.
Gavin menghela nafas panjang. Karena Siera dengan tubuh kotornya masih bisa terlelap. Sementara Gavin masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan dirinya agar mudah tidur nyenyak.
Gavin selesai mandi langsung naik ke atas kasur.
Pagi mulai menyapa. Gavin bangun pagi pagi sekali untuk pergi ke kantor. Tidak berani membangunkan Siera yang masih tertidur untuk melanjutkan mimpinya.
Drrtttr drrttt drtttt
Ponsel Siera bergetar di atas meja membuat sang empu yang masih menikmati mimpi indahnya harus terusik.
Siera bergumam. Tangannya meraba raba mencari ponsel.
"Halo." kata Siera dengan suara seraknya. Bahkan ia hanya menyipitkan matanya sebentar dan lanjut memejamkan mata.
"Nona. Apa anda masih tidur? Ini sudah jam 11 siang." Kata Santi.
Seketika Siera terbelalak dan langsung terduduk. Ia melihat jam yang tergantung didinding.
Apa! Jam sebelas. Siang sekali.
Siera kaget ketika melihat jam itu. "Nona! Apa anda baik baik saja." masih terdengar suara Santi yang mengoceh.
Siera seketika langsung tersadar. Ia dalam hati mengumpati Gavin.
Sementara Gavin yang saat ini sedang melakukan meeting di sebuah restoran bersin dua kali.
"Tuan! Apa anda sedang sakit?" Tanya Damian sang manager melihat tuannya bersin dua kali.
Gavin mengusap hidungnya hingga memerah. "Tidak apa apa. Tetapi aku berpikir ada yang mengumpatku hari ini." kata Gavin tak berdaya.
Damian terbelalalk kaget. Siapa yang berani mengumpat bosnya ini. Sangat berani sekali. Pikir Damian.
"Sudahlah, tidak perlu diurusi. Damian suruh pelayan menghidangkan makanan." perintah Gavin.
Damian pun beranjak dari kursinya dan memerintahkan pelayan yang berjaga di depan pintu untuk menyiapkan makan siang mereka.
"Bagaimana tuan Gavin. Kita lanjut lagi?" tanya clien yang duduk bersebrangan dengan Gavin.
"Hum. Maaf atas kesalahan yang terjadi. Sambil menunggu hidangan di siapkan kita lanjut tentang kerja sama kita." kata Gavin.
Client yang bernama mr Lee itu mengangguk dan lanjut memperbincangkan urusan kantor.
"Tidak apa apa. Santi ada apa meneleponku?" tanya Siera.
"Eh, begini nona. Siang ini kantor sudah selesai di renovasi. Dan pembangunan pabrik hampir 80 persen. Bahan yang berada di kota Shine siap di pindahkan ke kota Kertanegara. Jadi..."
"Hum. Baiklah aku mengerti. Dalam satu jam aku akan sampai di sana." kata Siera.
"Baik Nona. Aku akan menunggumu dan makan siang sekaligus bersama."
"Ya."
Telepon di matikan. Siera meletakkan ponselnya ke atas meja di sampingnya. Tubuhnya terasa lengket dan saat bergerak ia merasakan perih di bagian bawah tubuhnya.
Ssshhhh
Siera baru merasakan sakit yang begitu menyesakkan. Namun mengingat pertempuran semalam membuat pipinya merona merah. Tapi mengingat lagi bahwa Gavin selalu bermalam dengan wanita lain membuat ia kembali geram.
Dengan tubuh yang polos Siera langsung memasuki kamar mandi. Dalam setengah jam ia sudah berpakaian rapi dengan pakaian kerja.
"Nyonya! Apa anda akan makan siang sekarang?" tanya Bik Wati ketika melihat sang majikan berada di tengah ruangan berjalan tergesa gesa.
Siera menghentikan langkah dan menatap Bik wati. "Tidak perlu Bik. Aku harus pergi siang ini. Makanan itu kalian makan saja." kata Siera.
Bik Wati mengangguk.
Siera pun menuju ke garasi dan mengeluarkan mobilnya. Dia menghidupkan mesin dan perlahan melaju. Si satpam yang berjaga segera membukakan pintu dengan lebar. Setelah mobil Siera melewati gerbang satpam kembali menutup.
Siera melajukan mobilnya menuju kantor. Di sana sudah ada Santi yang menyambutnya.
"Nona Siera." sapa Santi ketika Siera turun dari mobil. Ia melempar kunci mobil kepada satpam yang berjaga agar memindahkan mobilnya ke tempat parkiran bawah tanah.
"Santi. Apakah bahan itu telah siap dikirim?" tanya Siera seraya berjalan memasuki loby.
"Iya nona. Bahan kain akan dikirim dari Shine dan kemungkinan malam ini akan tiba." lapor Santi.
"Hm Baiklah." Siera dan Santi sama sama memasuki lift. Menuju lantai 8 di mana ruangan direktur berada.
Selain itu mereka juga membahas akan penerimaan karyawan dalam jumlah besar. Karena pabrik telah siap.
Tak lama pintu lift terbuka pada lantai 8. Siera dan Santi keluar dari ruang kecil itu dan menuju ruang kantornya. Sambil membahas pekerjaan Santi telah memesankan makan siang.
Tak terasa waktu berganti malam. Saking seriusnya mereka bekerja hingga melupakan waktu.
Santi melihat jam sudah pukul 11 malam.
"Nona sudah jam 11 malam. Sudah saatnya kita pulang." kata Santi mengingatkan.
Siera menghentikan gerakan tangannya yang sedang mengetik sesuatu di dalam komputer. Kemudian ia melihat jam seperti yang di katakan Santi.
"Ach kau benar Santi. Ternyata begitu bekerja terlalu bersemangat sampai lupa waktu." kata Siera mendesis pelan.
"Nona. Kita lanjutkan saja besok." kata Santi.
"Hum."
Segera Santi mengemasi barang barangnya dan bersiap pulang. Tak berapa lama Siera juga keluar dari ruangannya.
"Ayo kita pulang bersama." ajak Siera.
"Tunggu sebentar Nona. Ada berkas yang harus ku siapkan besok." kata Santi.
"Baiklah. Aku pergi dulu." kata Siera.
Siera berjalan menuju lift.
Sebelum Santi merapikan berkas berkasnya Santi sempat memperhatikan Siera.
Namun ia terasa aneh pada jalan Siera yang tidak serapat biasanya.
Apakah pengantin baru akan berjalan seperti itu? Santi mengomentari dari dalam hati. Ia menggeleng pelan untuk mengenyahkan pikiran itu.
Santi kembali menundukkan kepalanya dan merapikan mejanya.
Sementara Siera sudah berada di dalam lift dan bersiap turun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments