Siera menghentakkan kakinya dan pergi ke kamarnya. Sebagai tanda meluapkan rasa kesalnya ia membanting pintu dengan keras agar Gavin tau akan kekesalanya.
Tetapi pria seperti Gavin itu adalah orang yang keras kepala. Sebesar apapun Siera kesal ia tidak akan pernah perduli. Justru pria itu berseru senang.
"Gavin benar benar melakukannya di saat aku di rumah. Dia benar benar menjijikkan." gerutuan Siera.
Siera merebahkan dirinya di atas kasur. Menatap langit langit pada plafon kamarnya. Matanya berkedip ketika rasa kantuk menghampirinya tetapi rasa jengkel yang membuatnya ia tidak bisa tidur.
Ketika di pagi hari, pelayan muda itu sudah berkemas dan pergi dari tempat tinggalnya. Rumah besar itu tidak lagi memiliki pelayan.
Siera dengan gundah menatap meja yang kosong.
Tok tok
Gavin mengetuk meja membuat Siera mendongak.
"Kenapa gak ada sarapan?" tanya Gavin berdiri tegak menghadap Siera.
"Huh, kau yang mengusir pelayan itu. Kenapa aku harus repot membuatkanmu sarapan." kata Siera.
Gavin menghela nafas kesal. "Setidaknya buatkan aku kopi, aku mau berangkat kerja."
"Huh aku kesal padamu kenapa aku harus melakukannya. Kenapa kau tidak sarapan saja di kantor." kata Siera.
Melihat Siera yang begitu kesal pria itu tidak ingin lagi berkata. Gavin membiarkan Siera sendiri dan berangkat kerja tanpa mengisi perutnya lebih dahulu.
Pria itu menelepon Damian dan memerintahkan untuk menyiapkan sarapan untuknya.
Setelah menelepon Damian, Gavin menghela nafas. Kemudian ia menelepon Siera.
Siera dengan lemas mengangkat teleponnya. "Ada apa?" tanya Siera.
"Jika kau kesal karena hal itu, bagaimana kalau nanti malam kita mencobanya." kata Gavin. Kemudian ia menutup telepon tidak ingin mendengar jawaban dari Siera.
Siera merasa bingung dan mengerutkan alisnya. "Dasar sinting." gerutuan Siera.
Tak berapa lama pelayan dengan usia setengah baya telah tiba. Sari kali ini meminta maaf karena mengirim pelayan muda dan membuat kesalahan karena menggoda tuan Gavin.
"Tidak perlu minta maaf. Semua itu memang Gavin sengaja." kata Siera.
Sari merasa lega. Setelah memberitaukan segala peraturan, Siera menunjukkan tempat tinggal mereka. Masalah gaji, cuti tahunan juga sudah dibicarakan. Dan mereka setuju akan hal itu.
Ketika pelayan mulai bekerja hari sudah agak siang. Siera memulai sarapan tepat jam 10 pagi. Seusai sarapan ia hanya duduk diam tanpa melakukan aktivitas apapun. Dan tepat saat dia bosan Santi menelepon.
Akhirnya Siera mendapatkan kesempatan, Santi sedang berada di konstruksi pembangunan. Siera pun segera bergegas menyusul Santi.
"Santi." panggil Siera. Karena rasa senangnya Siera tampak berjalan tergesa karena mengenakan heels tinggi jalannya tidak terlalu stabil.
"Nona Siera, anda beneran datang." kata Santi.
Siera menepuk bahu Santi. "Aku bosan." kata Siera begitu wanita itu berhadapan dengan Santi.
"Bagaimana perkembangannya?" tanya Siera seraya mendongak melihat pengembangan pabrik.
"Sudah mencapai 25 persen. Masih lama." kata Santi.
"Haist, ini akan membuat aku mati jika terus berdiam saja di rumah. Em. Santi bagaimana dengan kantor?" tanya Siera.
"Belum ada pekerjaan apapun. Hanya kami bertiga yang mengerjakan laporan pada pabrik di Shine. Tuan Anggoro juga tidak melakukan apapun selain menyurvey pabrik Shine." lapor Santi.
Siera manggut manggut.
Mereka hanya berjalan jalan di sekitar. Lalu makan siang di restoran yang tidak jauh dari rekontruksi pembangunan.
"Di kertanegara ternyata lebih indah dari kota Shine." takjub Santi saat melihat pemandangan luar. Kali ini mereka berada di lantai tiga pada restoran itu. Apalagi restoran itu mengarah pada pegunungan. Saat melihat keluar akan terlihat pegunungan yang begitu megah.
"Hm, dulu saat aku kecil tidak seperti ini. Dulu masih banyak hutan dan sawah. Tapi sekarang sepertinya sudah dibangun banyak pembangunan rumah." Kata Siera mengangguk.
"Oh, nona, di sana sepertinya ada air terjun. Lihat itu." Kata Santi seraya menunjuk air terjun yang begitu kecil karena jaraknya yang jauh.
"Oh, ya." Siera tidak pernah menyadari jika ada air terjun. Dulu di sana ada banyak pepohonan dan air terjun itu tidak terlalu terlihat.
"Bagus sekali. Aku ingin sekali ke sana lain kali." gumaman Santi.
"Tunggu pabrik selesai di bangun, kita akan pergi ke sana." kata Siera.
Tampak mata Santi berbinar.
Seusai makan siang mereka pun kembali.
Saat pulang. Siera sampai di rumah malam hari.
"Gavin, kamu sudah pulang?" tanya Siera begitu melihat Gavin yang duduk di ruangan tengah. Ia sedang melipat kakinya sambil membaca koran.
Melihat Siera datang, Gavin melipat korannya.
"Bagaimana pabrik?" tanya Gavin.
"Baru 25 persen pengerjaan masih lama." kata Siera lalu ia bersandar pada sofa di samping Gavin. Nampak wanita itu terlihat lelah.
Gavin melirik jam ditangannya. "Apa kau sudah makan?" tanya Gavin.
"Aku sudah makan sama Santi." balas Siera.
Tampak Gavin merasa kecewa.
"Temani aku makan, aku lapar." kata Gavin.
"Eh." Siera terkejut. Ini sudah jam 10 malam. Pria itu belum makan, apakah pelayan tidak menyiapkan makanan. "Aku panggilkan Wati biar menyiapkan makanan" Kata Siera hendak bergegas memanggil wati.
Tetapi tangan Gavin menahannya sehingga Siera reflek menoleh dan menatap lengannya yang dicekal Gavin. Ia mengernyit heran.
"Bukankah kau lapar?" tanya Siera.
"Aku tidak lapar makan. Tapi lapar...." Gavin sengaja menghentikan kata katanya lalu menatap dada Siera yang *********** terlihat menonjol di sela kancing.
Siera melotot kala tatapan Gavin terarah pada dadanya. Ia melipat tangannya di dada menutupi bagian dada yang hampir terbuka.
"Jangan macam macam Gavin." kata Siera.
Gavin menyeringai. "Kau istriku. Tidak bolehkan aku melihatmu." kata Gavin.
Plak
Siera menggeplak paha Gavin lalu bergegas berlari menuju kamarnya.
Terdengar tawa Gavin meledak karena Gavin hanya mengerjainya saja.
Degup jantung Siera berdetak keras, kini ia bersandar pada pintu dan tidak lupa menguncinya dari dalam.
"Sial!" gerutu Siera.
Tok tok
Terdengar ketukan di pintu. Membuat Siera menegang dengan waspada.
"Siera! Karena kau gak mau melayaniku. Aku akan pergi ke hotel. Aku akan bermalam dengan wanitaku." teriak Gavin dari balik pintu.
Apa!
Mata Siera terbeliak lebar.
Huh!
Siera membuka pintu. Terlihat Gavin sudah berpakaian rapi dan mengenakan parfum. Dia berdiri acuh tak acuh dan hendak pergi.
"Mau kemana kamu?" tanya Siera penuh amarah.
"Ke hotel, aku sudah ditunggu sama Sunny." kata Gavin. Ia melangkahkan kakinya hendak menuruni tangga.
Siera mengejarnya dan menarik leher Gavin sehingga pria itu terhuyung ke belakang.
"Hei, apa yang kau lakukan?" kata Gavin sambil melirik ke belakang.
"Berani keluar selangkah saja, akan aku bunuh kamu." kata Siera. Bahkan tangan dan kakinya sudah berada di tubuh Gavin melekat dengan erat seperti pohon yang merambat.
"Coba saja. Kau tidak mau aku sentuh dan kau menghalangi kesenenganku." kata Gavin mencoba melepaskan jeratan tangan Siera. Sejak menikah dengan Siera pria itu hampir melupakan kesenengannya yang bermalam dengan wanita. Ia seakan hampa jika tidak bermain dengan wanita.
"Oh ya. Baiklah karena kau memaksa. Aku akan menuruti kamu." kata Siera.
Gavin tersenyum menyeringai. Akhirnya umpannya terjerat juga.
"Oke." kata Gavin.
Tanpa menurunkan Siera yang masih berada di gendongan belakang. Gavin melangkahkan kakinya ke dalam kamar Siera. Pria itu langsung mengeratkan tangannya pada tungkai wanita itu agar tidak terjatuh.
Salah dengan apa yang diucapkannya Siera membeliak. Ia seketika sadar dengan ucapannya.
"Aaa...Gavin! Apa yang mau kau lakukan?" teriak wanita itu meronta.
Tetapi Gavin tetap kokoh dengan langkahnya. Saat memasuki kamar Siera, tidak lupa pria itu menguncinya. Sementara kuncinya ia cabut dan ia masukkan ke dalam saku celananya.
"Gavinnnnnnn!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments