Bab 11 sakit

"Diamlah. Aku bisa tuli jika berteriak di samping telingaku." tegur Gavin.

"Turunkan aku." Siera tetap tidak mau diam dan tak menggubris perkataan Gavin.

Gavin tetap melangkah dan membawa Siera masuk ke dalam kamar mandi.

"Gavin turunkan aku." kata Siera masih memberontak. Tapi Gavin acuhkan.

Pria itu tetap menggendong Siera dipunggungnya tanpa mau menurunkannya.

Gavin mengisi bak mandi dengan air hangat hingga penuh. Lalu menuangkan wewangian di dalamnya.

"Turunin!" Siera masih bersikeras.

Pria itu akhirnya menurunkan Siera di atas closet duduk.

"Cepat mandi, aku juga mau mandi."

"Ha." Siera menatap pria itu dengan heran.

"Kalau begitu kau cepat keluar. Aku akan mandi. Dan kau mandi saja di kamarmu." kata Siera jengkel.

Tetapi Gavin tidak mengindahkan perkataan Siera. Pria itu justru masuk ke dalam kamar mandi yang lebih dalam. Dengan santai pria itu melepas pakaiannya.

Siera ternganga dengan sikap Gavin. Hingga pria itu melepas pakaian terakhirnya dan semua tubuhnya terekspos nyata.

"Gavin!" pekik Siera sambil merem dan menutupi wajahnya dengan kedua matanya.

Gavin tergelak dengan suara rendah. Ia justru menghampiri Siera yang malah diam tidak bergerak. Ia menutupi wajahnya yang memerah.

"Mau mandi bareng?" pertanyaan Gavin membuat bulu kuduk Siera merinding. Apalagi saat ini pria itu setengah membungkuk mendekati Siera.

"Gavin, jika kau gak mau keluar, biar aku yang keluar." kata Siera. Wanita itu gak mau membuka matanya. Dengan mata terpejam ia berjalan dengan meraba raba.

Gavin memerhatikan Siera yang sesekali kepalanya terjedug. Ia tertawa geli melihat ekspresi Siera yang begitu lucu. Hingga akhirnya Siera berhasil menemukan handle pintu.

Cklek

Egh, pintunya terkunci.

"Gavinnnnn!" Siera kembali berteriak dengan emosi yang sudah mencapai ubun ubun. "Dimana kuncinya." kata Siera.

Gavin tidak perduli, ia justru naik ke dalam bathup dan berendam di sana. Ia memerhatikan Siera yang bergerak gelisah.

"Gavin kau jangan macam macam. Meski aku istrimu tapi kau tidak menyukaiku. Kau...emm....kau dasar mesum." kata Siera.

Siera tidak pernah diam sekalipun. Wanita itu terus mengumpat. Masih dengan memejamkan mata. Karena omelannya tidak kunjung di jawab Siera menjadi penasaran.

Perlahan wanita itu membuka matanya.

"K...Kau...." terlihat Gavin bertelanjang dada dengan memejamkan mata. "Ssshhhh sial." umpat Siera. Wanita itu bergerak mendekati Gavin. Ia melambaikan tangan di depan wajah pria itu untuk memastikan apakah dia benar benar tertidur.

Sret

Tiba tiba sebuah tangan menariknya.

Byur

Siera terjebur ke dalam bak yang sama dengan Gavin.

Blubrr

Siera hampir saja tenggelam jika saja tangan Gavin tidak menariknya. Kini tubuh Siera ikutan basah.

"Gavin..." kesal Siera.

"Bisa tidak jika kau diam sebentar. Kupingku tuli kau berteriak teriak." kata Gavin.

Siera melotot ke arah Gavin.

"Itu karna kau Gavin yang membuatku kesal." balas Siera. Kini mereka saling berhadapan di dalam bak mandi itu.

Gavin bergerak maju membuat Siera reflek mundur. "Apa yang mau kau lakukan?" tanya Siera waspada.

Gavin tak menjawab, tangannya terulur meraih benda di belakang Siera.

"Tolong gosok punggungku." kata Gavin memberikan benda kepada Siera.

Siera tercengang untuk sesaat.

Gavin segera balik badan memunggungi Siera.

"Cepat Siera, aku sudah mengantuk." kata Gavin tak sabar.

Siera pun segera menggosok punggung Gavin.

"Jangan kenceng kenceng. Nanti punggungku lecet." peringat Gavin karena Siera menggosoknya terlalu kuat.

Ingin sekali Siera menggeplak kepala Gavin. Tetapi semua ini ia tahan. Ia pun memelankan gosokannya membuat Gavin keenakan.

Setelah beberapa menit pria itu beranjak. Membuat Siera tertegun dengan tangan yang mengambang di udara.

Gavin menuju ke pemandian dan membilas tubuhnya. Setelah selesai bilas, pria itu mengenakan handuk di bagian pinggang ke bawah. Dengan santai pria itu mengulurkan kunci dan membukanya.

"Cepat mandi, nanti kau sakit." kata Gavin lalu bergegas pergi.

Siera mendelik karena Gavin selalu seperti ini. Siera pun beranjak dari bathuap setelah pintu ditutup. Ia mulai melepas pakaiannya dan menuju pemandian.

Selesai mandi, Siera menonjolkan sedikit kepalanya. Ternyata pria itu sudah kembali ke alamnya sendiri. Siera merasa lega, ia buru mengunci kamarnya dan segera mengganti pakaian dengan piyama panjang. Lalu berbaring di kasur dan tidur.

*

**

Ketika terbangun di pagi hari tiba tiba Siera merasa tubuhnya lemas. Suhu di badannya juga terasa panas. Ia melenguh karena tubuhnya terasa dingin.

Gavin sudah terbangun sejak pagi. Ia telah mengenakan jas rapi seperti biasanya. Namun ia mengernyit kala dia tidak menemukan Siera yang biasanya menunggunya.

"Taun, apakah akan sarapan sekarang?" tanya pelayan melihat kedatangan Gavin.

"Hm." sahut Gavin. Dia menarik kursi dan duduk.

Sambil menunggu makanan di hidangkan Gavin menarik koran hendak membacanya. "Buatkan saya kopi." perintah Gavin sebelum memulai membaca.

"Baik tuan." jawab pelayan.

Tak berapa lama kopi telah di sajikan. Gavin membaca korannya dalam diam.

Namun sudah beberapa saat Siera belum juga muncul. Padahal sarapan sudah dihidangkan. Gavin mengerutkan kening lalu menoleh ke arah pintu masuk ruang makan.

"Kemana anak itu. Kenapa belum bangun." Gumam Gavin dalam hati.

Ia kemudian melipat korannya dan meletakkan koran itu di samping. Pelayan dengan sigap mengambilnya dan meletakkan ke tempat semula.

Gavin mengetuk ngetuk meja. Melihat jam beberapa kali. Ini sudah hampir jam 7. Tetapi Siera masih belum menampakkan diri.

Akhirnya Gavin beranjak dari duduknya, terlihat ragu untuk melihat Siera. Kemudian ia membulatkan tekadnya. Ia berjalan menuju lantai dua.

Di depan pintu kamar Siera, nampak Gavin terdiam. Mendekatkan daun telinganya ke pintu.

Ia mengernyit karena tidak ada suara apapun. Ia pun penasaran dengan Siera. apa yang sedang di lakukan wanita itu di dalam?

"Sie..."

Ceklek belum sempat memanggilnya dengan tuntas pintu kamar Siera terbuka.

"Gavin! Apa yang kau lakukan disini?" tanya Siera. Terlihat wanita itu kaget dengan Gavin berdiri di sana.

"Aku menunggumu sarapan." kata Gavin.

"Aku tidak ingin sarapan. Kau sarapan saja sendiri." kata Siera. Lalu wanita itu keluar kamar dan mencari sesuatu.

Tampak kening Gavin mengernyit.

"Apa yang kau cari?" tanya Gavin penasaran.

"Ugh, aku kemarin merapikan kotak obat. Tapi aku lupa menaruhnya."

Gavin langsung menghampiri Siera. "Kau sakit?" tanya pria itu sementara tangannya terulur dan meletakkannya di dahi Siera.

Panas!

Tangan Gavin tersentak kala merasakan suhu badan Siera yang terlalu panas.

"Hm, sejak semalam." Siera mengangguk. Alis dan pipinya tampak memerah karena suhu badannya terasa panas.

"Tidak apa apa nanti kalau sudah minum obat akan membaik." lanjut Siera.

"Kau istirahat saja. Biar aku yang ambilkan obat." kata Gavin.

Terlihat pria itu masuk ke dalam kamarnya dan beberapa saat kemudian ia keluar dengan beberapa obat di tangannya.

"Ini ada obat penurun panas. Aku selalu menyediakan untuk diriku sendiri. Kau minumlah namun kau harus makan dulu." kata Gavin.

Pria itu membawa Siera duduk di sofa yang disediakan di lantai atas. Sebelum minum obat, Gavin memerintahkan pelayan untuk membuatkan bubur.

"Tuan, ini buburnya." kata pelayan seraya meletakkan bubur yang masih panas di atas meja.

"Hm." Gavin berdehem.

Setelah itu pelayan pergi.

Gavin mengambil mangkuk bubur lalu menyendoknya. Ia meniup perlahan agar bubur itu tidak terlalu panas.

"Makanlah." kata Gavin seraya mendekatkan sendok yang sudah ia tiup ke hadapan bibir Siera.

Siera dengan senang hati menyuap bubur itu ke dalam mulutnya.

"Enak?" tanya Gavin.

"Lumayan untuk perutku yang lapar." sahut Siera.

Suap demi suap telah berpindah ke dalam mulut Siera hingga bubur itu habis tanpa sisa. Perut Siera nampak begah karena terlalu kenyang.

"Ini obatnya. Cepat minum." kata Gavin. Ia menyodorkan pil yang sudah ia kupas kepada Siera.

Siera menerimanya lalu memasukkan pil itu ke dalam mulutnya. Gavin memberikan gelas berisi air kepada Siera. Siera meminumnya hingga setengah gelas.

"Terima kasih." kata Siera.

Gavin menata gelas dan mangkuk itu ke atas nampan.

"Tidak perlu. Aku hanya tidak ingin kau sakit lalu merepotkanku. Kalau begini aku jadi telat berangkat." ucap Gavin.

Seketika wajah Siera berubah cemberut. Selalu saja seperti ini.

"Cepat istirahat, aku mau pergi kerja." kata Gavin membuat Siera menjadi sangat kesal. Hampir saja wanita itu terpana dengan kebaikan Gavin tapi ternyata karena takut direpotkan.

Gavin pergi tidak lupa membawa nampan itu ke bawah.

"Ugh, mengesalkan." gerutu Siera. Ia menghentakkan kakinya ke lantai dengan keras.

Sementara itu Gavin tersenyum setelah dirinya berbalik badan. Ia memberikan nampan itu kepada pelayan sementara dirinya pergi sarapan karena sudah terlalu telat untuk berangkat kerja.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!