Tampak Wahyono menghela nafas setelah kelakuan kasar Gavin. Pria paruh baya itu pun segera menghubungi tuan Anggoro.
"Tuan Anggoro. Aku tidak bisa menunda lagi pernikahan ini. Dua hari lagi segera adakan pernikahan." kata Wahyono.
"Ini...." Anggoro terkejut mendengar permintaan Wahyono yang mendadak.
"Anda tenang saja. Semua akan aku persiapkan. Anda tinggal datang dan menyaksikan. Semua bisnis yang anda inginkan akan segera saya atur."
Tampak Anggoro menghela nafas. "Baiklah, kau atur saja pernikahan ini. Asalkan aku bisa segera memasuki pasar dagang kertanegara." kata Anggoro membuat Wahyono juga merasa lega.
"Baik."
Siang itu keluarga besar Wahyono berduyun duyun datang ke tempat nenek Siera di perumahan elite blok c di jalan bahagia. tempat tinggal nenek siera.
Wahyono datang tidak dengan tangan kosong. Ia memberikan banyak hadiah.
Tampak Aulia menyambut kedatangan tuan Wahyono dengan senang hati.
Wahyono pun menjelaskan maksud kedatangannya bukan sekedar berkunjung. Ia mengatakan jika kedatangannya adalah untuk melamar Siera.
Sepertinya Aulia juga menerima pinangan resmi itu dengan baik. Aulia merasa senang karena Siera akhirnya akan menikah. Ini adalah impian Aulia bisa menyaksikan pernikahan cucunya.
Setelah mendapatkan respon yang baik dari keluarga tetua Anggoro. Wahyono kembali dengan wajah berbinar.
Saat di malam harinya Siera merasa gelisah karena mendengar pernikahan dalam dua hari lagi. Terakhir kali bertemu dengan Gavin, pria itu menolak mentah mentah dan secara terang terangan.
Sementara di tempat Gavin.
Gavin sangat murka karena omongan Wahyono bukan omong kosong. Wahyono benar benar akan menikahkannya dengan Siera.
Gavin pergi ke bar dan mabuk mabukan. Setelah itu ia bermalam ke hotel dengan wanita. Dan itu ia tunjukkan sebagai protes terhadap Wahyono yang tidak pernah mengerti perasaannya.
"Tangkap anak itu dan masukkan dia ke dalam kamar. Jangan sampai dia kabur sebelum upacara pernikahan di mulai." titah Wahyono dengan murka.
Semua pengawal pun pergi ke hotel dan menangkap basah Gavin yang sedang melakukan olahraga di atas ranjang.
Si wanita itu terkesiap kala pintu kamar di dobrak hingga terbuka.
Wanita yang berada di bawah kendali si pria itu pun mendorong dadanya agar berhenti. Tapi Gavin tidak perduli. Ia semakin brutal untuk menuntaskan hasratnya.
Si pengawal terdiam dan ragu sejenak. Pengawal itu berdiri mematung dan melihat aksi majikannya yang tanpa busana sedang menggauli seorang wanita.
Setelah Gavin selesai menuntaskan hasratnya, pria itu terlihat lemas. Ia pun berbalik dan berbaring disisi ranjang. Sementara Si wanita yang sudah gavin gauli pun buru buru memunguti pakaiannya dan masuk ke dalam kamar mandi karena ketakutan.
Gavin dengan santai mengenakam wardrop berwarna putih. Mengeluarkan rokok dari dalam laci dan menyalakannya.
"Apa yang kalian lakukan disini. Kalian telah mengganggu aktifitasku." sarkas Gavin. Seraya menyesap rokok yang ia jepit di antara kedua jarinya.
"Maaf tuan, jika kami lancang. Tapi ini perintah tuan Wahyono. Jika anda tidak segera pulang maka kami juga akan bertindak kasar."
"Cih, si tua itu benar benar keras kepala." gerutu Gavin.
Pengawal itu pun segera maju dan menyergap Gavin dengan brutal. Tetapi Gavin tidak akan menyerah begitu saja. Gavin maju menyerang melawan pengawal Wahyono. Tetapi karena Gavin merasa kelelahan dia sudah tidak kuat lagi melawan 7 orang pengawal sekaligus.
Akhirnya Gavin dengan paksa di bawa pergi oleh pengawal dari hotel. Tampak pria itu duduk di kursi penumpang belakang tak berdaya.
Wahyono tersenyum puas. Gavin dengan tak berdaya di papah dua orang pengawal.
"Bawa dia ke kamarnya. Jaga dia dari luar dan dalam. Jangan sampai anak itu berulah lagi." perintah Wahyono.
Pengawal itu segera membawa Gavin ke kamarnya dan melemparnya ke atas ranjang. Setelah itu pengawal mengunci jendela dan pintu balkon dijaga ketat. Tidak lupa kedua pengawal juga menjaga di luar pintu. Benar benar ketat.
Ketika pagi mulai menyapa, Gavin terbangun dari tidurnya. Pria itu merasakan sakit pada bagian wajahnya. Juga merasakan pening di kepalanya.
Srek
Pintu di buka dari luar, seorang pelayan datang membawakan sup penghilang pengar.
"Tuan, ini saya buatkan sup untuk menghilangkan pengar." kata pelayan lalu meletakkan nampan dengan mangkok berisi sup itu di atas meja.
Gavin mengacuhkan pelayan itu. Ia duduk di tepian ranjang sambil melirik pelayan yang meletakkan nampan.
Setelah meletakkan nampan, pelayan itu berlalu pergi.
Gavin melihat jam yang tergantung didinding. Ini sudah jam 7 pagi. Melihat para pengawal berjaga ketat, ia mendesis pelan. Ia memilih memasuki kamar mandi untuk menghilangkan rasa sakit di kepalanya.
Setelah merasa bugar ia melihat sup yang mulai mendingin. Gavin berjalan ke arah meja dan memakan sup itu dalam diam.
Sementara di kediaman nenek Aulia, nampak pilar pilar mulai dihias. Anggoro pun segera kembali ke kertanegara bersama istrinya.
Aulia melihat kedatangan Anggoro dan menantunya. Ia tersenyum sambil meneteskan air matanya dengan deras.
"Ibu, kenapa kau malah menangis." kata Anggoro seraya memeluk ibunya penuh kasih.
"Dasar anak nakal. Ibu merindukanmu. Kau sudah pergi sejak Siera masih dalam gendongan. Dan kau masih bertanya." Aulia memarahi Anggoro seraya memukul bahunya.
Anggoro tertawa. "Ibu, aku kan berbisnis di sana. Aku sudah menawarkan kepada ibu untuk ikut denganku. Tapi ibu menolak." kata Anggoro.
"Huh." Aulia mengusap ingusnya dengan sapu tangan di tangannya. "Disini adalah tanah kelahiran ibu. Juga kenangan bersama ayahmu. Mana bisa tinggal jauh dari kertanegara." Aulia mendesis.
"Baiklah ibu, karena keputusanmu seperti itu aku juga tidak bisa menolak. Tapi sekarang ibu tenang saja, mulai sekarang putramu akan tinggal disini menemani ibu."
Tampak mata Aulia berbinar terang. "Benarkah. Bagaimana dengan bisnismu di sana?" kata Aulia kaget.
"Masalah itu sudah aku urus. Sekarang aku akan memulai bisnisku disini." kata Anggoro percaya diri.
Aulia memandang menantunya meminta penjelasan yang akurat. "Itu benar ibu, mas Anggoro akan berbisnis di sini. Jadi ibu tidak akan kesepian lagi."
Akhirnya Aulia merasa lega. "Akhirnya doa doa ku di panjatkan. Di masa tuaku aku bisa berkumpul dengan anak dan menantuku." gumam Aulia bahagia.
Anggoro dan istrinya juga ikut tersenyum.
Setelah itu, saat di pagi berikutnya. Pernikahan telah disiapkan.
Siera mengenakan pakaian adat untuk mengikuti janji suci pernikahan. Wajahnya terlihat memerah, pipinya mulus dan bibirnya merona merah. Sangat cantik.
Semua yang hadir di sana sangat memuji kecantikan Siera.
Sementara Gavin kini di paksa untuk mengenakan setelan jas berwarna putih. Setiap gerakannya selalu dikawal oleh pengawal.
Wahyono tidak puas dengan pemberontakan yang dilakukan Gavin.
"Papah, aku tidak akan kabur. Aku sudah siap menikahi Siera seperti yang papah harapkan." kata Gavin.
"Sebelum kau mengucap janji pernikahan papah tidak akan tenang." kata Wahyono.
Gavin di paksa masuk ke dalam mobil dan di himpit oleh pengawal dikedua sisinya.
Mobil keluarga besar Wahyono beriring iringan menuju lokasi upacara pernikahan.
Dalam setengah jam, iring iringan itu telah tiba di lokasi. Tampak keluarga Anggoro sudah berjajar rapi menyambut kedatangan calon mempelai pria.
Tidak banyak tamu yang hadir, hanya kerabat dan para tetangga sekitar yang datang.
Gavin di persilahkan duduk di kursi pelaminan, tak berapa lama penghulu datang.
"Silahkan mempelai wanita untuk segera keluar." titah penghulu.
Keluarga Anggoro langsung memanggil calon mempelai wanita.
Siera bersama dua saudaranya digiring dari dalam rumah menuju pelaminan.
Seketika Gavin melihat Siera yang nampak cantik dengan balutan pakaian adat. Ia tercengang untuk sesaat.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 25 Episodes
Comments