Bab 4 ucapan janji suci pernikahan

Siera di persilahkan duduk di sebelah Gavin.

"Ayo kita mulai pernikahannya." ucap si penghulu.

Suara penghulu menyentak Gavin hingga pria itu tersadar akan tatapan kepada Siera.

Terlihat Siera menunduk karena malu.

Penghulu memulai dengan serentetan doa doa. Kemudian menjabat tangan gavin dan memulai mengucapkan perjanjian suci pernikahan.

"Sah." ucap serentak para saksi yang hadir di sana.

Semua hadirin merasa terharu juga senang. Siera juga nampak terharu sehingga wanita itu nampak berkaca kaca.

"Silahkan mempai pria memakaikan cincin kepada mempelai wanita." perintah penghulu.

Seorang lelaki menghampiri Gavin dan memberikan sekotak perhiasan cincin di dalamnya. Gavin mengambil satu cincin itu dan memasukkannya ke dalam jemari Siera. Begitu juga Siera mengambil cincin yang satunya dan memasukkannya ke dalam jemari Gavin.

"Kalian telah sah menjadi suami dan istri." ucap si penghulu.

Setelah itu masih ada serentetan penandatanganan sertifikat pernikahan. Mereka sibuk menandatangani surat pernikahan.

Beberapa menit kemudian mereka telah selesai, penghulu segera undur diri dan dilanjutkan dengan acara resepsi. Semua tampak memuji keserasian mereka berdua.

Yang perempuan sangat cantik yang lelaki tampak gagah dengan jas putihnya.

"Kau puas sekarang?" kata Gavin dengan suara rendahnya.

"Kenapa aku harus puas?" tanya balik Siera yang tak mengerti maksud kata kata Gavin.

"Karena kau berhasil menikah denganku." kata Gavin menegaskan.

"Ckckck. Kau salah Gavin. Setelah hari di mana kau menolakku, aku sudah tak berminat lagi menikah denganmu." balas Siera telak. Gavin pun merasa kesal karena telah diperdaya oleh wanita. Jika menolak, kenapa masih mau menikahinya?

"Tetapi akhirnya kau tetap saja menjadi istriku Siera." kata Gavin.

"Itu karena ayahmu yang memaksa." kata Siera tetap tidak mau kalah.

Gavin lalu menoleh ke arah pria paruh baya yang kini tengah tersenyum bahagia. Terlihat pria paruh baya itu tidak memiliki beban apapun setelah menikahkan Gavin dengan Siera. Tampak mata Gavin memerah karena kesal.

"Apa kau menyesal telah menikah denganku Gavin?" tanya Siera tersenyum. Lalu wanita itu menoleh seraya sedikit mendongak. Terlintas di matanya jika Siera adalah wanita yang licik.

"Untuk apa menyesal. Karena kau sudah menjadi istriku jangan harap kau bisa lepas dari genggamanku."

"Oke, malam ini kau bisa memulainya." kata Siera dengan santai.

Ia sudah tau sikap Gavin yang selalu semena mena dengan wanita. Kali ini Siera juga sudah bertekad akan meladeni sikap Gavin.

Setelah berdiri beberapa jam kini para tamu sudah mulai berkurang. Hanya beberapa kerabat yang masih tinggal.

Siera memutuskan untuk pergi ke kamarnya lebih dulu.

Brak

Tepat Siera masuk kamar, pintu di banting oleh Gavin yang ternyata ikut menyusulnya. Tidak lupa Gavin mengunci pintu itu lalu memasukkan kunci ke dalam sakunya agar Siera tidak kabur.

Siera terkejut kala Gavin mengunci pintu kamarnya. "Apa kau kaget?" tanya Gavin menyeringai.

Wajah Siera yang kaget pun mulai tenang. Ia menatap Gavin dengan santai.

"Kenapa harus takut. Apa kau sudah tidak sabar untuk mengulitiku." kata Siera. gadis itu berkata dengan tenang tapi di dalam hatinya merasa gelisah. Ini adalah malam pertamanya. Juga pertama kalinya.

"Ckckckck...kau pintar sekali menebak. Pantas saja pabrik di Shine yang kau ambil meningkat lebih cepat." kata Gavin seraya tersenyum menyeringai.

Siera hanya tersenyum. "Tentu saja, sebagai pewaris pabrik tekstil aku harus mengandalkan intuisiku." sahut Siera bangga.

"Tetapi sayangnya, aku tidak tertarik dengan tubuhmu." kata Gavin.

Siera hampir saja mendelik karena penolakan Gavin. Tetapi wanita itu lebih bersikap tenang. Dia menatap Gavin dengan senyuman mencemooh.

"Oke, karena kau menolakku, aku juga tidak bisa melakukan apa apa."

"Hahaha..." Gavin malah tertawa. Siera mengernyit heran.

Pria itu lalu duduk di atas ranjang menyelonjorkan kakinya seraya menatap Siera.

"Kenapa kau tertawa?" tanya Siera.

Gavin menghentikan tawanya. "Wanita sepertimu ternyata menarik juga." kata Gavin.

"Apa maksudmu?" tanya Siera dengan dahi mengernyit.

"Kau terlalu percaya diri." kata Gavin mencibir.

Siera merasa kesal. Ternyata Gavin mempermainkannya.

Siera melangkahkan kakinya menuju meja rias. Ia menghapus riasannya sebelum memasuki kamar mandi.

"Ternyata kasurmu empuk juga." kata Gavin menimpuk nimpuk bantal di belakang lehernya. Ia mencari posisi yang nyaman untuk menidurkan tubuhnya.

Siera tidak menjawab. Ia hanya meliriknya melalui pantulan kaca.

Tampak Gavin sudah tertidur pulas di ranjang king size milik Siera.

Siera mengacuhkan pria itu dan memilih untuk menyegarkan tubuhnya di dalam kamar mandi.

Beberapa saat kemudian Siera keluar dengan sudah mengganti pakaiannya sekaligus di dalam kamar mandi. Rambutnya juga terlihat basah. Ia duduk di depan meja rias lalu mengeluarkan hair dryer. Ia mengeringkan rambutnya dan sesekali melihat pria itu yang begitu lelap di atas kasur.

"Ckckck, lelap sekali Gavin tidur." cibir Siera.

Setelah rambutnya kering, ia menyimpan kembali hair dryer itu. Ia beralih duduk di sofa karena ia tidak bisa kemana mana.

Tepat saat mendudukkan bokongnya disofa perutnya terasa keroncongan. Siera meringis karena seharian ini ia terlalu sibuk dalam pernikahan sehingga ia lupa untuk mengisi perutnya sendiri.

Ia menatap nanar pintu yang terkunci itu. Lalu menoleh ke arah pria yang masih terlelap dalam tidurnya.

"Haist." Siera bernafas dalam dalam. "Tidak ada pria yang seperti dia." kata Siera. Di dalam ucapannya ia mencibir.

Terdengar suara keroncongan keluar dari perutnya. Ia menunduk seraya mengusap perutnya dari balik kaosnya.

"Apa boleh buat, aku sudah sangat lapar." gumam Siera seraya menepuk nepuk perutnya dengan pelan.

Ia pun berjalan ke tempat Gavin tertidur. Ia harus menemukan kunci kamarnya agar ia bisa keluar dan makan dengan puas.

Perlahan Siera memikirkan cara agar bisa mengambil kunci tanpa membangunkan Gavin. Ia berdiri tegak sambil membayangkan. Setelah menemukan cara, ia mengambil sebuah headseat. Ia merogoh headseat di dalam laci dan menjejalkan headseat itu di kuping Gavin.

Lalu dengan tangan kecilnya ia mulai merogoh saku celana Gavin di bagian kanan. Beberapa kali tangan Siera meraba raba. Tapi tidak menemukan kunci itu di sana.

"Apa di sebelah kiri." Siera menebak jika kunci itu di sembunyikan di saku bagian kiri.

Wanita itu pun beralih ke samping. Pelan pelan wanita itu naik ke atas ranjang. Setelah ia sudah mendekat, ia mulai mengulurkan tangan dan memasukkan tangan kecilnya ke saku bagian kiri.

Tangan wanita itu meraba raba. Hampir saja ia mendapatkan kunci tetapi Gavin sudah membuka matanya lebih dulu.

Karena tangan Siera yang terus bergerak membuat Gavin merasa geli. Ia pun melihat Siera begitu dekat dengannya bahkan tangannya terus bergerak liar.

Dengan cepat Gavin menangkap tangan Siera. "Apa yang kamu lakukan!" ujar Gavin dengan suara rendah.

Siera terkesiap. Ia melotot karena terkejut. Ia memoleh ke arah Gavin dan menyengir.

Terlihat tatapan Gavin menyorot tajam. "Aku...A..aku...." Siera tergagap karena bingung ingin menjelaskan.

Gavin menangkap dagu Siera dan menekannya hingga wanita itu merasakan sakit.

"Katakan dengan jelas." sembur Gavin marah.

Siera tampak meneteskan air mata karena kesakitan. "Oh aku tau, apa mungkin karena kau tidak mau aku sentuh jadi kau ingin menyerangku lebih dulu. Baiklah." Gavin menyeringai.

Pria itu langsung meraup bibir Siera dengan kasar. Bahkan ia menekan belakang kepalanya agar wanita itu tetap diam.

Siera meneteskan air matanya lebih deras. Gavin begitu brutal melakukan ciuman itu kepadanya. Bahkan tidak memberi celah sedikitpun kepada wanita itu. Siera menangis dalam diam dan merasa putus asa.

Ini adalah ciuman pertamanya. Tetapi Gavin merenggutnya dengan paksa dan kasar. Dia tidak ingin seperti ini meski dia telah sah menjadi istrinya. Dia akan memberikannya secara suka rela asal suka sama suka.

Sementara Gavin masih terus menikmati cumbuan itu. Bibir ranum milik Siera terasa manis ketika pertama kali disesap oleh Gavin. Ada rasa yang berbeda dari bibir ranum itu. Tidak seperti bibir wanita yang setiap malam menyenangkan hasratnya.

Gavin terus menyesap bibir Siera dan memaksa masuk ke dalam rongga mulut Siera. Tetapi sayangnya Siera tidak menanggapi hal itu. Siera tampak diam dan tidak merespon cumbuan yang didaratkan oleh Gavin.

Gavin akhirnya melepas pagutannya dan menatap Siera yang menangis hebat. Wajah Gavin pun tampak muram. Dia mengatur nafasnya yang naik turun karena birahinya yang ikut naik ingin dipuaskan.

Plak

Siera segera melepas tamparan di pipi Gavin setelah melepas pagutannya. Pipi Gavin terasa panas. Ia menatap nyalang wanita dihadapannya dengan tangan menjambak kasar rambut Siera.

"Gavin! Lepaskan." seru Siera dengan berlinang air mata. Ia merasakan sakit yang begitu dalam pada bagian rambut belakangnya.

"Ckckck. Setelah kau merayuku lalu kau menamparku. Begitukah caramu memperlakukan suamimu. Siera, dasar kau wanita ******." desis Gavin memancarkan emosi yang semakin dalam. Lalu melepas jambakan nya dengan kasar.

Siera terguguk menangis. Ia terduduk dengan kaki terlipat. Ia membenamkan kepalanya di antara kedua lututnya dan menangis terisak di sana.

Sementara Gavin berlalu menuju kamar mandi. Mengacuhkan Siera yang menangis kesakitan.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!