"Aku saja baru sampai di Aceh ini. Aku harus menyelamatkan keluargaku."
"Mari paman, naik kesini. Naik keatas atap rumah ini. Nanti aku akan menghubungi temanku untuk mengirimkan sesuatu yang dapat menyelamatkan kita."
Dengan bersusah-payah, akhirnya pria paruh baya itu berhasil berdiri diatas atap rumah bersama Jecko.
"Paman duduklah dengan tenang, saya akan segera menghubungi teman saya." Lalu Jecko mengeluarkan mikrofon dari sakunya.
"Albert, apakah engkau mendengar ku?."
"Ya, Jecko. Aku mendengar dari tadi."
"Tolong kirimkan sesuatu yang dapat menyelamatkan kami."
"Baiklah, tunggu sebentar. Aku akan mempersiapkan sebuah kano."
"Ya. Kano juga tidak apa-apa. Segeralah kirimkan."
Albert menggeret kano dari belakang rumah neneknya, dan dimasukkannya kedalam ruang kaca.
"Objek siap diluncurkan" Pemberitahuan dari komputer membuat Albert tergesa-gesa untuk mengklarifikasi pengiriman.
Tiba-tiba kano tersebut menghilang bersamaan dengan cahaya putih yang terang.
"Ya, Albert. Kano sudah sampai. Ayo paman, naiklah bersamaku."
"Nak, siapa kamu?. Apakah engkau seorang penyihir?"
"Saya bukan penyihir, paman. Ini tekhnologi namanya."
Akhirnya Jecko bersama paman itu berhasil menyelamatkan diri. Kini mereka sudah berada di kamp pengungsian.
"Albert, tadi saya telah mendapatkan informasi bahwa disini, di kota Aceh terjadi tsunami. Tahun berapakah engkau mengirim aku?"
"Tahun 2012, Jecko."
"Waduh, aku tidak menyangka, ternyata nanti akan terjadi tsunami di Aceh".
"Sudahlah, Jecko. Pekerjaan kita masih banyak, lagipula durasi yang kupilih sudah hampir berakhir."
"Baiklah, Albert. Aku siap. Sekarang kembalikan aku."
Albert mengetik pengembalian objek, lalu komputer melakukan hitungan mundur. Akhirnya Jecko kembali bersama kano dibawahnya.
"Sudah dulu ya Jecko, capek rasanya. Padahal aku cuma duduk manis disini, sedangkan engkau yang menyaksikan. Tapi rasanya aku yang capek."
"Iya, Albert. Ngomong ngomong, kasihan ya penduduk Aceh di tahun 2012. Bagaimana kalau kabar ini kita sampaikan kepada khalayak ramai, sehingga sebelum tahun 2012 kota Aceh dievakuasi."
"Tidak bisa begitu, Jecko. Itu namanya mendahului kehendak Allah. Jika kita membocorkan rahasia ini, dunia akan kacau. Semua adalah kehendak Allah."
"Iya, pak ustadz. Aku hanya kasihan saja. Kita mengetahui sesuatu, tapi tidak bisa berbuat apa-apa."
"Makanya kita dilarang mendahului kehendak Allah. Jika sesuatu belum terjadi, kita tidak boleh menduga-duga. Lain halnya dengan penelitian kita ini. Pasti ini salah satu kehendak Allah, tapi kita tidak boleh mengutamakan hawa nafsu. Kita harus menyadari bahwa semua ini adalah perbuatan Allah."
"Maaf, Albert. Sepertinya aku tidak begitu faham penjelasanmu. Apa dasar kau mengatakan demikian?".
"Mmm Jecko, untuk sementara ini abaikan saja perkataan yang barusan saya katakan. Saya hanya menghubungkan kejadian ini dengan perkataan yang pernah ibuku sampaikan."
"Sebenarnya masuk akal juga sih, kita tidak sepantasnya mengetahui peristiwa yang belum terjadi. Kita hanya sekedar makhluk Allah. Jika kita telah mengetahui apa yang belum terjadi, maka akan terjadi perbuatan yang semena-mena. Paling tidak, kita pasti meremehkan ketentuan yang telah diberikan kepada kita."
"Apakah maksudnya kamu akan mengundurkan diri dari penelitian ini, Jecko?"
"Aku masih bimbang nih, di satu sudut pandang, mungkin ini adalah pelanggaran. Di sudut pandang lainnya, aku sungguh sangat penasaran apa yang akan terjadi."
"Pelanggaran bagaimana maksudmu, Jecko. Jika pelanggaran, tentu tidak akan berhasil sebelum kita mencobanya."
Jecko merasa perbuatan Albert telah melawan hukum alam. Albert membantahnya dengan alasan jika perbuatannya tidak diperbolehkan, mengapa bisa terjadi. Bukankah jika bisa terjadi berarti diizinkan Sang Maha Pencipta?. "Albert, jujur saja saya sangat tertarik dengan penemuanmu yang satu ini. Tapi, rasanya ini semua tidak layak kita teruskan. Aku takut hal ini merupakan larangan."
"Atas dasar apa kau mengatakan semua ini, Jecko?"
"Albert, pernahkah kau mendengar ceramah ustadz yang mengatakan bahwa ada beberapa hal yang manusia tidak bisa menentukannya. Diantaranya, jodoh, ajal, dan rezeki."
"Terus, apakah engkau bisa menjelaskan hubungan antara hal itu dengan penemuanku ini, Jecko?"
"Ini sudah jelas, Albert. Seharusnya engkau sudah mengerti maksud yang kukatakan."
"Mungkin maksudmu jika kita mengetahui sesuatu yang belum terjadi, maka kita termasuk mendahului kehendak Allah. Apakah maksudmu demikian?"
"Bisa jadi begitu. Saya ambil contoh yang simpel saja. Misalnya kita sedang menjalankan ujian Nasional. Kita sudah tahu apa yang belum terjadi. Bukankah sudah pasti kita bisa menjawab seluruh pertanyaan yang ada di lembaran ujian Nasional tersebut?. Nah. Sudah jelas bukan bahwa ini adalah sebuah kecurangan?"
"Iya, yang kau katakan sangat benar. Makanya sejak awal, aku sudah berniat untuk tidak mempublikasikan penemuanku ini. Sebenarnya tujuan utamaku melakukan penelitian ini adalah hanya untuk menemukan kembali keberadaan ayahku."
"Tetap saja itu namanya engkau tidak rela atas kehendak Allah. Pokoknya aku sangat menentang jika ada manusia yang mencuri kabar tentang masa depan."
"Jecko, jika perbuatan yang kulakukan ini tidak diizinkan oleh Allah, sudah pasti aku tidak akan berhasil melakukannya, walaupun aku berusaha semaksimal mungkin."
"Penemuanmu ini, jika sudah berjalan di khalayak umum, akan terjadi suatu kemusyrikan. Coba kau fikir. Apa bedanya perbuatanmu ini dengan perbuatan-perbuatan para dukun?. Seorang dukun dapat mengetahui sesuatu yang belum terjadi karena dibantu oleh jin yang mencuri kabar dari lauh Mahfudz. Nah. Sekarang kau bayangkan. Jin saja bisanya hanya mencuri kabar. Padahal tekhnologi yang mereka miliki jauh lebih canggih dari tekhnologi yang manusia miliki."
"Kamu tenang saja, Jecko. Aku sudah membicarakan hal ini kepada ibuku. Awalnya akupun berpendapat sama seperti yang engkau fahami. Tapi ternyata aku salah. Ibuku telah menjelaskan kepadaku, bahwa sesungguhnya ada sesuatu yang belum bisa aku fahami."
"Tolong jelaskan kepadaku. Apa yang telah disampaikan oleh ibumu, sehingga kau begitu yakin bahwa perbuatanmu ini benar."
Aku tidak diizinkan oleh ibu untuk mengatakan hal ini kepada siapapun. Jika engkau begitu penasaran, kamu harus bertanya langsung kepada ibuku."
"Aku bersedia menemui ibumu. Aku harus mengetahui hal ini, kalau aku belum menemui ibumu, aku tidak akan pernah tenang."
"Tidak semudah itu, Jecko. Walaupun engkau menemui ibuku, dan ibuku menjelaskannya, engkau belum tentu bisa faham. Siapapun tidak bisa memilih untuk memperoleh hidayah, hanya Allah saja yang menentukan siapa yang berhak memperoleh hidayah."
"Tolonglah aku, Albert. Beritahu aku caranya agar aku terpilih sebagai orang yang ditentukan oleh Allah untuk memperoleh hidayah."
"Mungkin ibuku bisa membimbing kamu untuk mewujudkan keinginanmu."
"Iya, Albert. Kapankah engkau mengajakku untuk menemui ibumu"
"Kau tunggu saja, Jecko. Nanti aku akan tanya ibu dahulu. Nanti kau akan aku kabari kapan kau bisa menjumpai ibuku."
"Iya, Albert. Tolonglah. Aku menunggu kabar darimu."
Tidak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Jecko diantar Albert menginap di hotel yang telah dipesannya tadi siang.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments