Saskia bertanya. "Vota, saya masih kurang faham penjelasanmu. Apakah karena hatiku masih tertutup?"
"Iya Saskia. Memang tidak mudah memahami hal ini. Memang salah satu penyebabnya adalah karena mata hati masih tertutup. Untuk membuka mata hati tidak semudah dengan hanya mendengarkan. Salah satu tahapan proses membuka mata hati adalah harus membersihkan diri dari dua jenis kotoran yang sudah menempel di diri kita. Kotoran Zahir dan kotoran batin. Kotoran Zahir dapat kita bersihkan dengan melaksanakan perintah agama yang telah disyariatkan. Secara umum kita biasa menyebutnya rukun Islam. Sedangkan untuk membersihkan kotoran batin, salah satunya adalah dengan menghilangkan sifat hewan yang ada pada diri kita. Yang saya maksud sifat hewan adalah sifat kita yang menyerupai hewan, seperti istilah halal-haram-hantam. Dan juga sifat kita yang menyerupai hewan adalah lima-M: Maling, Mabuk minuman, Main wanita, Membunuh, Menyakiti. Juga kita harus menghilangkan sifat binatang buas pada diri kita. Yang saya maksud adalah sifat amarah, berkelahi, membenci, dan membunuh. Setelah kita mampu menghilangkan sifat hewan dan sifat binatang buas pada diri kita, barulah kita bisa melanjutkan proses selanjutnya, yaitu menghilangkan rasa cinta kepada kenikmatan dunia. Saya contohkan seperti ini: Jika kita berlomba-lomba dalam mendapatkan kenikmatan dunia, seperti harta yang banyak, kendaraan yang mewah, banyak orang-orang yang menghormati dan mencintai, apakah dapat berjalan dengan lancar tanpa menyakiti satu sama lain? Anggaplah kita mampu melakukannya tanpa ada yang dirugikan. Apakah kita berhak dipuji? sedangkan segala bentuk pujian hanya Allah yang berhak dipuji."
Beberapa jam mereka bertiga membicarakan sesuatu yang sangat rahasia. Entah Bion dan Saskia faham atau tidak atas penjelasan Vota, Vota tidak mempermasalahkannya. Tugasnya hanya sebatas menyampaikan pesan ini saja.
Bion dan Saskia tidak berbicara sepatah katapun. Tidak ada komentar yang mampu diungkapkannya. Vota yang melihat mereka berdua tampak seperti orang linglung, Vota tersenyum dan berusaha mengembalikan keceriaan mereka. "Baiklah Bion, Saskia, mari kita pulang. Sudah cukup bersenang-senangnya." Lalu Vota kembali mengeluarkan pintu dari tas dukungnya. Mereka bertiga keluar pintu itu langsung berada didalam kamar Bion dan Vota.
Melihat Bion dan Saskia diam saja, Vota menjernihkan suasana. "Sudahlah Bion, Saskia, jangan terlalu difikirkan kata-kata saya. Kalian jangan terburu buru ingin membuka mata hati. Saya berjanji, suatu saat saya akan membimbing kalian untuk melanjutkan pembicaraan ini."
Didalam rumah Bion, waktu menunjukkan pukul lima sore. Ini berarti mereka berpergian hanya tiga puluh menit. Sedangkan dibalik pintu, mereka sudah menghabiskan waktu paling tidak selama empat jam. Memang berbeda waktu yang dialami setiap alam.
Saskia berpamitan kepada Bion dan Vota. "Bion, Vota, saya pamit pulang ya?, terimakasih atas undangannya. Saya menunggu untuk diundang lagi pada sesi selanjutnya."
Vota menawarkan untuk mengantar Saskia. "Iya Saskia, saya pasti akan menghubungimu lagi. Izinkan saya mengantarmu sampai depan pagar rumahmu."
Tentu saja Saskia senang. "Wah. Saya sangat berterimakasih Vota."
Lalu Vota mengeluarkan kembali pintu itu, dan Saskia masuk kedalam pintu, keluarnya langsung didepan pagar rumah Saskia.
Hari Kelulusan Sekolah.
Tidak terasa, sudah lima tahun Vota menjaga Bion. Kini mereka sudah selesai menjalankan pendidikan SMA. Bion tidak bisa bertemu dengan Saskia lagi, karena Saskia harus melanjutkan pendidikan ke perguruan tinggi di Kalimantan. Saskia harus mengikuti kehendak orang tua, karena ayahnya Saskia pindah tugas ke kota Kalimantan.
Hari terakhir perjumpaan Bion dan Saskia di sekolah, Saskia berpesan sesuatu kepada Bion agar Bion selalu meneleponnya. Sepulang acara perpisahan sekolah, selesai Bion mengerjakan sholat Zuhur, Bion segera pergi menuju ke rumah Saskia. Sesampainya di depan rumah Saskia, Bion sudah tidak bisa bertemu Saskia lagi, karena mereka sekeluarga sudah berangkat.
"Paman. Apakah keluarga pak Anton sudah berangkat?". Bion bertanya kepada tetangga sebelah rumah Saskia.
Lalu Paman Andrew menjawab. "Iya den, Pak Anton sekeluarga sudah berangkat sejak pukul dua belas siang tadi."
"Apakah semua baik baik saja paman?." Albert merasa ada sesuatu yang salah.
Lalu Paman Andrew memberi tahu sesuatu yang mungkin Albert ingin ketahui. "Alhamdulillah den, hanya saja, tadi Saskia anak pak Anton hampir ketinggalan mobil, karena mamanya sulit membujuk Saskia yang tak henti-hentinya menangis didalam kamarnya."
Bion tidak ingin paman Andrew mengetahui maksud kedatangan Bion. "Baiklah paman, terimakasih informasinya. Saya pamit pulang ya paman".
Setelah mengamati rumah Saskia, Bion pulang kerumahnya. Dirumah, Vota telah mempersiapkan sebuah kejutan untuk menghibur hati Bion yang sedang bersedih. "Bion, kemari. Saya telah berhasil menciptakan sebuah benda yang mampu memperbesar atau memperkecil sebuah objek."
Vota mencoba alat itu untuk memperbesar sebuah donat.
"Klik" Tombol pada alat itu ditekannya, lalu keluar sinar seperti senter yang telah diarahkan Vota kepada sebuah donat. Lalu donat itu membesar hingga ukurannya sebesar piring makan.
"Wah hebat Vota, kau telah menciptakan sebuah alat yang sangat bermanfaat. Dengan alat ini, kita bisa membantu para tetangga yang kurang mampu, bahkan kita bisa mensejahterakan kampung ini." Albert langsung berfikir kedepannya.
"Nah. Kan sudah saya duga. Kamu pasti memikirkan sesama. Sifatmu ini akan membawamu menjadi orang yang sukses dunia akhirat. Sekarang saya menyerahkan alat ini kepadamu, saya yakin kamu mampu mewujudkan niat baikmu." Vota kagum kepada Albert.
Didalam hati, Vota berfikir. "Sungguh mudah membimbing Bion. Sekali mengeluarkan sebuah alat, tidak hanya mengobati kesedihan Bion, akan tetapi juga menyelesaikan tugasku yang belum selesai. Sekian lama aku berfikir bagaimana cara agar Bion dapat dikenali dan dikenang oleh orang banyak. Mudah mudahan Bion bisa berbuat sesuatu yang dapat dicatat sejarah."
Keesokan harinya, Bion keluar rumah dengan membawa sebuah alat yang telah diberikan oleh Vota. Bion menuju ke sebuah rumah yang merupakan rumah kepala desa. Sepanjang perjalanan, Bion masih bermuka masam. Bion masih mengenang kebersamaannya dengan Saskia.
"Bagaimana kabar Saskia sekarang ya?. Apakah dia juga sedang memikirkan ku? Aha!!.. Sebaiknya sekarang aku menelepon Saskia." lalu Bion mengeluarkan handphonenya.
Di sebuah aula universitas Tanjungpura, Saskia begitu senang melihat handphone yang selalu dibawanya, berdering. Tatkala handphone itu dilihatnya, ternyata ada nama Bion disana. Betapa senangnya Saskia, lalu diangkatnya telepon dari Bion.
Dari handphone Saskia terdengar suara Bion. "Halo Saskia, apa kabarmu?".
Saskia menjawabnya dengan antusias. "Halo Bion. Akhirnya engkau meneleponku juga. Setiap hari aku memandang handphone ini, berharap agar engkau segera meneleponku. Oh iya. Maaf Bion, kabarku biasa saja disini. Aku merasa selalu kesepian sejak meninggalkan dirimu. Mengapa kau baru meneleponku?. Apakah engkau sudah melupakanku?."
"Maaf Saskia, setiap hari aku selalu memikirkan mu. Mana mungkin aku melupakan orang yang sangat kucintai. Beberapa hari ini aku sedang bersama Vota, menjalankan misi yang diberikan Vota untuk membuat sebuah manuver dilingkungan ku. Kamu sendiri mengapa tidak meneleponku?." Bion balik bertanya.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments
Rodhy Alfany Putra
senter pembesar
2023-11-06
0
Pajar
Penasaran banget sama kelanjutan cerita, semoga cepat diupdate lagi 🤞
2023-10-30
1