Merubah Kebiasaan

Di dalam pelajaran olahraga, sedang berlangsung permainan kasti. Vota masuk ke dalam tim Bion. Entah mengapa, Bion yang selama ini tidak mahir bermain kasti, sejak kehadiran Vota, keterampilan Bion bermain kasti semakin meningkat. Bahkan sekarang Bion menjadi kapten tim kasti.

"Sangat luar biasa!" Semua teman teman berfikir bahwa meningkatnya kemampuan Bion, tidak lain hanyalah karena kehadiran Vota.

Jam pelajaran olahraga telah berakhir. Kini saatnya jam pelajaran matematika. Guru yang mengajar matematika adalah pak Warni.

Kebetulan pak Warni juga adalah wali kelas kelas 4C. Seperti biasanya, Bion selalu memperoleh nilai nol. Bukan hanya pelajaran matematika, pelajaran lainnya juga Bion memperoleh nilai nol. Memang sungguh memalukan. Tapi kini sejak kehadiran Vota bersama Bion, Vota selalu mengingatkan Bion untuk rajin belajar.

Memang kebiasaan Bion kalau sedikit lama-lama belajar, matanya pasti mengantuk dan tertidur. Vota hanya bisa menggelengkan kepalanya dan menghela nafas.

Vota bergumam dalam hati. "Begini rupanya nenek moyang tuan Vota. Hal ini sangat mempengaruhi masa depan tuan Vota! Saya harus melakukan beberapa trik agar Bion merubah kebiasaannya. Tapi, apa ya yang harus aku lakukan?".

Bangun tidur siang, Bion pergi keluar rumah menuju taman bermain.

Di sana Bion berjumpa dengan teman temannya yang suka membully. Tapi Bion tidak punya pilihan, hanya mereka yang bisa Bion temui untuk bermain.

Tidak begitu lama mereka bermain, seperti biasanya Bion berlari pulang ke rumah sambil menangis, karena kepalanya benjol habis di pukul oleh salah satu temannya yang bernama Timotius.

Di rumah, Vota yang melihat Bion menangis, segera bertanya apa yang terjadi. Bion menceritakan kejadiannya dan meminta Vota membalas perlakuan Timotius.

Vota berfikir sejenak, lalu mengeluarkan sesuatu dari tas dukung yang selalu di bawanya. Vota mengeluarkan sesuatu benda yang mirip seperti sepasang sarung tangan.

Lalu Vota memberikan sarung tangan itu kepada Bion. "Bion, pakailah ini. Sarung tangan ini akan menjadikan orang yang memakainya sama seperti pemilik sarung tangan ini. Orlando, si pemilik sarung tangan ini tidak pernah terkalahkan dalam pertarungan. Pada zamannya, Orlando terkenal sebagai seorang yang sangat ditakuti karena keterampilannya bertarung".

Bion sangat senang menerima sarung tangan dari Vota. Sarung tangan itu di pakainya dan Bion segera berlari mencari Timotius. Di taman bermain, dilihatnya Timotius sedang merebut mainan milik seorang anak kecil. Anak kecil itu menangis karena di pukul oleh Timotius.

Segera saja Bion mendekati mereka dan berteriak kepada Timotius. "Hei Timotius! Jangan beraninya hanya dengan anak kecil. Ayo lawan aku jika kau merasa kuat."

Timotius malahan tertawa. "Hahaha. Bion Bion. Kau baru saja saya pukul, sekarang kau minta di pukul lagi? ketagihan ya."

"Jangan bacot Timotius! Sekarang hadapi aku." Bion merasa terprovokasi.

Timotius dan Bion bertarung dengan sengit, hal ini berlangsung hingga sore hari, akhirnya mereka berdua kelelahan.

Sambil saling bersandar, mereka berdua menyudahi perkelahian.

Karena merasa sudah tidak sanggup lagi, akhirnya Timotius menghentikan pertarungan. "Hari ini kau benar benar luar biasa. Kemampuanmu diluar dugaanku. Bagaimana kalau besok kita lanjutkan pertarungan ini?. Besok pasti aku akan membuatmu menangis lagi."

Bion tidak terima dengan perkataan Timotius. "Timotius, ketahuilah. Mulai saat ini tidak ada yang mampu mengalahkan ku. Bagaimana mungkin kau bisa membuatku menangis? tunggulah besok. Bukan aku yang menangis, melainkan kau yang akan menangis dan berlutut memohon pengampunan ku."

Pagi hari, di hari Senin. Kali ini robot Vota membangunkan Bion terlalu pagi. "Bion, bangun. Aku akan menunjukkan sesuatu kepadamu sebelum kita berangkat ke sekolah."

Vota merencanakan sesuatu untuk merubah kebiasaan Bion. Dalam hati Vota mengatakan bahwa jika Bion membiasakan bangun pagi, besar kemungkinannya membuat Bion lebih segar, lebih semangat, dan yang paling penting adalah besar kemungkinannya Bion menjadi anak yang cerdas.

Sambil mengusap matanya, Bion menjawab. "Ada apa Vota, apa yang akan kau tunjukkan kepadaku. Bisakah kita tunda dulu beberapa jam lagi, ini masih sangat pagi. Aku masih mengantuk."

Vota tetap memaksa. "Tidak bisa Bion, kita harus segera melihatnya sekarang, sebelum ada orang lain yang melihatnya".

Bion penasaran dengan yang di katakan oleh Vota. "Apa yang akan kau tunjukkan?".

Vota kembali memancing rasa penasaran Bion. "Aku akan menunjukkan kepadamu bunga bunga yang sedang bernyanyi".

"Ah. Mustahil Vota, Mana mungkin bunga bisa menyanyi. Apakah kau bisa bicara dengan tumbuhan?" sambil tertawa, Bion malah tidak percaya.

Melihat Bion tidak tertarik, Vota mencoba siasat baru. "Ya. Tepat sekali. Tetapi hanya bisa jika tidak ada orang yang melihat. Makanya segeralah bangun, kita berangkat sekarang sebelum ada orang yang melintas".

Sambil bermalas-malasan, akhirnya Bion mengikuti kehendak Vota. "Baiklah Vota, Tapi awas ya, Jika kamu berbohong, Aku akan menghajarmu".

Vota meminta Bion membuktikannya. "Lihat saja nanti, kalau tidak kau buktikan, bagaimana bisa kau akan percaya?".

Vota sedikit bingung, bagaimana menjalankan siasatnya yang pertama kali dilakukannya ini.

Tujuan Vota sebenarnya hanyalah agar Bion membiasakan bangun pagi.

Vota dan Bion berjalan keluar rumah menuju taman bermain kompleks BSD.

Sepanjang perjalanan, Vota terus memikirkan ide untuk meyakinkan Bion.

Akhirnya Vota memiliki sebuah ide. Mereka berdua sudah sampai ke taman bermain. Lampu taman di belakang bangku panjang taman, masih menyala. Ini menunjukkan bahwa hari masih gelap, disekitar hanya terdengar alunan suara pembacaan ayat suci Alquran, sayup-sayup terdengar dari kejauhan, karena jam sudah menunjukkan pukul setengah lima pagi.

Vota mengajak Bion melihat sekuntum bunga mawar. "Bion. Ayo menunduk kemari. Ayo lihat bunga mawar ini".

Vota mengajak Bion menunduk kearah pagar taman yang ada serumpun tumbuhan bunga mawar.

Vota menunjukkan bukti dari ucapannya. "Lihatlah sekarang. Bukankah bunga mawar ini masih kuncup? Mari kita tunggu bunga mawar ini bergerak".

Bion tidak yakin dengan perkataan Vota. "Vota, di sini tidak ada angin. Bagaimana mungkin tumbuhan bisa bergerak".

Vota berkata berdasarkan logika. "Bion, tumbuhan juga makhluk hidup. Tentu bergerak dong".

Bion membantah teori yang di ajukan Vota. "Kalau hanya sekedar bergerak, benda matipun bisa bergerak, tapi gerakannya karena digerakkan."

Vota meminta kepada Bion untuk membuktikannya. "Ini beda Bion, tumbuhan bisa bergerak sendiri tanpa digerakkan. Ayo lihat, sebentar lagi bunga mawar yang kuncup ini segera bergerak menjadi bunga mawar yang mekar."

Memang benar, Bion dan Vota benar benar melihat dengan nyata, pergerakan bunga mawar yang kuncup berubah menjadi bunga mawar yang mekar.

Akhirnya Bion percaya. "Wah, benar Vota. Bunga mawar ini bergerak. Sekarang saya percaya bahwa tumbuhan bisa bergerak sendiri. Eh Vota. Tadi kau mengatakan kalau tumbuhan bisa bernyanyi. Coba tunjukkanlah kepadaku mana buktinya."

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!