Metode Jarimatika

Vota belum bisa membuktikannya, kebetulan sudah banyak orang yang berlalu lalang. "Ah. Sayang sekali Bion, sekarang sudah terlalu banyak orang yang sudah keluar rumah. Saya belum bisa membuktikan bahwa tumbuhan bisa bernyanyi. Ya sudahlah, lain kali akan saya buktikan. Sekarang lebih baik kita bersiap siap untuk pergi ke masjid untuk sholat subuh."

Setelah selesai sholat subuh, Vota mengajak Bion mengerjakan tugas sekolah yang biasa disebut PR.

Mereka berdua mengerjakan PR dengan gembira, karena Vota memiliki kemampuan membimbing dengan cara yang unik, Bion sangat senang dengan tehnik ini. Selain Vota adalah seorang anak yang sangat pintar, Vota juga berhasil membuat Bion senang belajar.

Dalam hati Vota berkata. "Mudah mudahan dengan cara seperti ini saya bisa membuat Bion menjadi anak yang cerdas."

Akhirnya mereka selesai mengerjakan PR.

Tidak terasa, hari sudah menunjukkan pukul enam pagi. Bion dan Vota segera mandi dan bersiap-siap untuk pergi ke sekolah.

"Bion, Vota. Ayo segera sarapan. Hari ini ibu membuat sarapan kesukaan kalian. Nasi goreng spesial." Terdengar suara Tania memanggil dari dapur.

Mereka berdua sarapan ditemani ibu mereka. Selesai makan sarapan, Bion dan Vota pamit kepada ibunya untuk pergi ke sekolah.

Sesampainya di sekolah, mereka bertemu dengan wali kelas. Pak Warni.

"Selamat pagi pak Warni." Bion menyalami pak Warni.

Sambil keheranan, pak Warni menyambut salam dari Bion. "Selamat pagi Bion, Vota. Eh. Tumben Bion datang tidak terlambat?. Biasanya Bion selalu terlambat datang sekolah."

Bion hanya cengengesan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

Lalu pak Warni menanyakan soal PR. "Bion, apakah kau sudah mengerjakan PR yang kemarin bapak berikan?"

Dengan semangat, Bion menjawab. "Sudah pak. Saya sudah mengerjakannya".

"Baguslah kalau begitu, Biasanya kau tidak pernah mengerjakan PR. Biasanya ada saja alasan yang kau buat." Sambil mengusap kepala Bion, pak Warni memasuki gerbang sekolah.

Bion menjelaskan alasan perubahan dirinya. "Maaf pak guru, selama ini saya salah. Mulai saat ini, saya pasti akan mengerjakan PR yang bapak berikan. Ternyata sangat menyenangkan mengerjakan PR".

Vota sangat senang melihat perubahan pada diri Bion.

Jam pelajaran pertama sudah dimulai. Pak Warni mengisi materi pelajaran pertama.

"Anak anak, kumpulkan PR kalian sekarang. Yang tidak membuat PR, bapak tidak perlu mengatakan lagi. Segera berdiri di depan, angkat satu kaki."

Semua siswa di kelas itu melihat menuju Bion. Tetapi Bion tetap duduk di bangkunya.

Semua siswa keheranan. Biasanya Bion selalu berdiri di depan. Tapi sekarang Bion tidak berdiri di depan.

Ketua kelas berteriak kepada Bion. "Bion! Kenapa kau masih duduk di sana?Cepat berdiri ke depan!"

Bion diam saja. Lalu Pak Warni berkata kepada ketua kelas. "Marwan, jangan mudah menganggap seseorang tidak akan berubah. Mungkin kali ini kau salah. Bisa jadi hari ini Bion mengerjakan PR. Bukankah begitu Bion?".

Setelah mengumpulkan buku PR nya, Bion kembali duduk. "Benar pak. Saya sudah mengerjakan PR. Buku PR Ku sudah dikumpulkan kedepan".

Pak Warni memberikan sebuah pelajaran kepada murid-muridnya. "Nah anak anak, hari ini ada satu pelajaran yang perlu kalian camkan. Tidak selamanya yang malas itu malas, tidak selamanya yang bodoh itu bodoh. Setumpul tumpul pisau, pasti akan tajam, jika selalu diasah. Baiklah, sekarang bapak akan menuliskan sebuah soal di papan tulis. Siapa yang bisa menyelesaikannya, silahkan maju ke depan".

Beberapa saat, tidak ada yang maju ke depan.

Kemudian Vota maju kedepan.

Vota langsung mengisi jawaban dari pertanyaan yang telah di tulis oleh pak warni.

Pak Warni keheranan dengan apa yang telah di lakukan oleh Vota. "Vota, bagaimana bisa kau menulis jawaban ini dengan benar, sedangkan kau tidak menulis jalannya?"

Lalu Vota menjelaskan. "Maaf pak guru, saya mengerjakannya dengan tehnik jarimatika".

Pak Warni bertambah heran. "Apa itu jarimatika? Bapak tidak pernah mendengar metode ini. Hitungan dengan menggunakan jari itu hanya untuk hitungan yang mudah. Sedangkan bapak memberikan soal yang sangat sulit. Bagaimana caramu mengerjakan soal yang sulit ini menggunakan jari?".

Vota tidak bisa menjelaskan begitu saja. "Maaf pak, kalau saya menjelaskannya, akan membutuhkan waktu berjam-jam. Saya hanya mengunakannya untuk mengerjakan soal matematika dengan sangat cepat".

Sambil bertepuk tangan, pak Warni memuji Vota. "Wah. Luar biasa! Kau sungguh sangat cerdas."

Vota selalu mendapat pujian dari guru guru yang mengajar di kelas ini. Bukan hanya pak warni, guru-guru yang lainnya juga sangat mengagumi kecerdasan Vota.

Sepulang sekolah, Bion dan Vota segera mengerjakan sholat Zuhur. Lalu mereka pergi bermain di taman kota setelah selesai makan siang. Dalam perjalanan menuju taman kota, mereka berjumpa dengan Saskia, gadis kecil teman sekelas Bion dan Vota.

Saskia kelihatan terburu-buru sambil membawa sebuah buku.

Bion heran melihat Saskia melaluinya tanpa berkata apa-apa. "Saskia! Mau kemana? Kenapa kau terburu-buru?".

Sambil berlalu, Saskia menjawabnya. "Aku baru pulang dari rumah pak warni. Aku lupa halaman berapa PR kita".

Bion menawarkan untuk belajar bersamanya. "Kenapa tidak ke rumahku saja?. Kita bisa mengerjakan PR bersama".

Tapi Saskia ada tujuan tersendiri. "Aku tidak begitu yakin kalau kau faham maksud pak Warni. Begitu juga teman-teman yang lain, aku tidak yakin. Daripada aku bolak-balik, mendingan langsung saja aku kerumah pak Warni".

Lalu Vota memberikan sebuah solusi. "Kenapa kau tidak telepon saja, kan praktis".

Saskia menganggap Vota hanya meledeknya. "Ah kamu Vota, emang kau kira aku keluarga Sultan ya. Yang memiliki telepon hanya orang yang kaya. Telepon termasuk salah satu barang mewah".

Vota mengeluarkan beberapa handphone dari sakunya. "Nggak segitunya Saskia, kalau hanya telepon, siapapun bisa memiliki. Pemulung saja bisa memiliki telepon. Ini aku membawa beberapa telepon".

Saskia menganggap Vota hanya main-main. "Ah kamu Vota, ada ada saja. Memangnya telepon tidak memerlukan kabel? Bagaimana mungkin kau membawa telepon. Kabelnya mau kau bawa kemana mana ya?".

Lalu Vota menjelaskan. "Ini namanya telepon genggam. Saya biasa menyebutnya handphone".

Saskia percaya dengan yang di katakan oleh Vota. "Wah canggih nih. Bolehkah aku meminjamnya?"

Vota memberikan sebuah handphone kepada Saskia. "Boleh. Ini aku berikan satu untukmu, satu untuk Bion, dan aku memegang satu. Nanti, setelah kau sampai di rumah, saya akan menelepon engkau. Ya... sekitar pukul empat sore. Kira-kira... jam gitulah".

Setelah menyimpan handphone pemberian Vota, Saskia langsung pulang. "Ok, saya tunggu ya?, aku benar-benar penasaran. Apakah handphone ini benar benar berfungsi?".

Vota merasa Saskia meragukannya. "Apakah kau meragukan aku Saskia?".

Saskia tidak menyangka kalau Vota tersinggung. "Tidaklah. Aku tidak pernah meragukan dirimu. Selama aku mengenalmu, aku tau kau orang yang sangat jujur dan bisa di percaya".

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!