Cincin emas yang selalu dikenakan Bion, segera di sorotnya menggunakan alat pembesar apapun. Tiba-tiba cincin yang ukurannya sebesar jari, berubah ukuran menjadi sebesar ember. Lalu cincin itu dibawanya ke pabrik peleburan emas, ditukarkannya dengan uang tunai.
Uang tunai itu dipergunakannya untuk membangun sebuah pabrik yang di dirikannya di balik pintu kemana saja.
Pekerja pembangunan pabrik tersebut adalah seluruh warga yang telah terdaftar di buku yang telah diserahkan oleh kepala desa.
Setelah pembangunan pabrik selesai, Bion mulai membuka pendaftaran karyawan. Seluruh warga yang bekerja pada pembangunan pabrik, berbaris untuk mendaftar.
Setelah proses perekrutan karyawan, pabrik yang dikelola oleh Bion segera beroperasi. Pabrik ini memproduksi pupuk yang berbahan dasar air dan nitrogen.
Air disuplay langsung dari sungai yang telah dibuat salurannya sehingga kebutuhan air selalu tersedia. Sedangkan nitrogen, Bion telah menandatangani kerjasama dengan perusahaan penyedia nitrogen, yang selalu mengantar nitrogen tersebut setiap hari dengan jumlah yang tetap.
Hasil akhir pabrik ini adalah pupuk. Sebagian dipergunakannya untuk pertanian dan perkebunan warga, sebagian lagi dipasarkan ke daerah-daerah sekitar.
Sejak berdirinya pabrik pupuk ini, keadaan kampungnya dan kampung sekitarnya sangat makmur. Akhirnya Bion diberi penghargaan oleh gubernur Sumsel sebagai perintis pemberdayaan pupuk.
Vota berpamitan. "Bion, sekarang saya sudah menyelesaikan tugas terakhir, kamu telah berhasil mencatat namamu dibuku sejarah. Kini waktunya aku meninggalkanmu, pesan terakhirku adalah: teruslah berkarya dan berbuat baik untuk sesama. Ingatlah satu hal yang pernah saya sampaikan, bahwa semua yang bergerak adalah gerak Allah. Jadi, jangan mempersekutukan Allah dengan apapun. Sampai di sini saja kebersamaan kita, jaga dirimu baik-baik".
Bion berterimakasih kepada Vota. "Terimakasih Vota, tolong sampaikan kepada tuan Vota, jangan khawatir akan masa depannya. Saya akan mendidik keturunan saya dengan baik dan sesempurna mungkin".
Keseharian Bion setelah berpisah dengan Vota selalu meneliti tekhnologi ruang waktu. Akhirnya Bion berhasil membuat sebuah percobaan dengan menciptakan sebuah alat yang dapat menembus waktu yang belum terjadi dan waktu yang sudah terjadi. Tapi masih dalam level sederhana, hanya bisa menjangkau jarak satu pekan.
Sementara Saskia, masih menjalani pendidikan di universitas Tanjungpura. Walaupun setiap hari Saskia dan Bion selalu berkomunikasi melalui telepon, tetap saja mereka saling merindukan.
Di kantin universitas Tanjungpura.
"Hai Saskia. Hari ini aku ikut bersamamu ya, saat pulang kuliah" Nita menegur Saskia.
Saskia menjawab. "Boleh. Apakah engkau tidak dijemput kekasihmu?".
Nita menjawab. "Tidak. Dia tadi pagi sudah berangkat ke Amerika. Katanya ada urusan mendadak yang harus diselesaikannya. Oh iya. Bagaimana kabar Bion pacarmu?".
Saskia menjelaskan. "Dia sekarang semakin sibuk, Nita. Perusahaannya sekarang sudah go internasional".
Nita mengacungkan jempol. "Wah, hebat tuh! Cepat sekali perkembangannya ya Sas? Kamu sangat beruntung memiliki seorang kekasih yang jenius. Eh, ngomong ngomong pacarmu itu baru menyelesaikan sebuah penemuan yang bisa meramal masa depan ya? Nanti kapan-kapan bawa aku menemuinya ya? aku ingin menanyakan bagaimana masa depanku".
Saskia menjawab. "Iya, iya. Tapi aku tidak janji ya, aku saja sudah sangat lama tidak bertemu dengannya".
Nita melihat ke belakang. "Eh Saskia. Lihat tuh! Anak baru itu, katanya sih dia masuk di universitas Tanjungpura ini karena di keluarkan dari universitas Mulawarman".
Saskia heran. "Masak sih? emang kenapa dia dikeluarkan dari universitas Mulawarman?".
Nita menceritakan. "Dia sudah membunuh lawannya saat tawuran antara geng Lion dan geng Bandwidth. Elo tau kan dia tuh ketua geng Lion?".
Saskia penasaran. "Apakah kamu tau siapa namanya?".
Nita mengakuinya. "Tau. Namanya Zara. Hati hati lho Saskia, nanti kalau kau jumpa dengannya, kau harus jaga jarak. Pokoknya kau harus tetap waspada, karena Zara itu orangnya temperamental."
"Nita, jangan terlalu lebay Lo. Siapapun sama saja. Tidak ada yang luput dari kehendak Allah." Saskia mengingatkan.
"Iya sih, tapi jujur saja. Aku sih takut aja kalo dia kenapa napa terhadapku. Secara, aku kan orangnya ceplas-ceplos." Tania khawatir akan terjadi sesuatu.
"Makanya Lo jadi orang di fikir dulu kalo ngomong. Udah ah. Ayo masuk, tuh dosen sudah datang." Saskia meninggalkan Tania.
Di dalam ruang belajar, Bu Hebring memperkenalkan mahasiswi baru. "Ladies, gentleman, perkenalkan teman baru kalian. Namanya Zara. Dia dari universitas Mulawarman, dan sekarang melanjutkan mata kuliahnya di universitas kita."
Zara tersenyum sinis dan menyapa sekedarnya. "Halo, salam kenal".
Semua menyahut. "Salam kenal juga".
Zara diatur dosen untuk duduk di bangku sebelahan dengan Saskia. "Hai Zara, perkenalkan nama saya Saskia".
"Zara". Zara menjawab dengan wajah cuek.
"Selamat bergabung di fakultas kami ya, kalau boleh tau kamu tinggal dimana?." Saskia bertanya.
"Iya, terimakasih. Saya tinggal di town house seberang gedung universitas Tanjungpura ini." jawab Zara.
"Owh, sama dong. Jangan-jangan, tetangga baru yang baru pindah yang saya lihat kemarin itu keluargamu ya?" kata Saskia.
"Iya. Kami baru pindah kemarin. Mampir dong ke rumahku, aku belum bisa beradaptasi dengan lingkungan yang baru." jawab Zara.
"Baik, entar bareng aja sama kami. Nita juga hari ini ikut ke rumahku. Biar enak, gabung aja menggunakan mobil saya pulang nanti." Saskia menawarkan.
Zara bingung. "Terus, mobilku gimana dong".
Saskia mengusulkan untuk menitipkan mobil di depan kantin. "Gampang. Parkirkan saja di depan kantin. Kan beres"
"Oke deh, aku ngikut aja". Jawab Zara.
Sesampainya di rumah Saskia, Bik Suti pembantu rumah Saskia menyuguhkan minuman ringan dan sepiring kudapan. Setelahnya, mereka pergi ke rumah Zara yang tidak jauh dari rumah Saskia.
Kembali ke kisah Saskia.
"Kenapa jam segini Saskia belum nongol juga ya? Biasanya dia yang paling dulu sampai disini." Zara bergumam sendiri di aula universitas Tanjungpura bersama beberapa temannya yang sedari tadi sudah berkumpul.
"Anu, Ra. Tadi aku mampir kerumahnya, kata bik Suti, Saskia belum pulang dari les menembak." Nita menjelaskan kepada Zara.
Tidak berapa lama, akhirnya Saskia datang dengan penampilan yang menarik perhatian semua orang yang melihatnya.
Dengan mengenakan baju tengtop, celana legging, dan rambut yang di kepang, Saskia terlihat begitu menawan. Ditambah lagi dengan memakai topi pet berwarna hitam.
Sungguh, semua orang kagum melihatnya. Para pria ingin menggodanya, tetapi takut dihajarnya.
Saskia datang sambil memainkan sebuah pemukul kasti. "Ada apa nih pada kumpul disini?. Mau mencari-cari keributan lagi?".
Zara menjawab. "Hai Saskia. Akhirnya kau datang juga. Kita sedang menunggumu nih. Tanpa instruksi darimu, kami tidak berani melakukan tindakan."
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi? Mengapa membawa-bawa namaku?" tanya Saskia.
Zara menjelaskan. "Saskia, hanya kau yang bisa kami andalkan. Geng bandwidth akan segera kemari menyerang kita."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments