Rencana Bion

"Mana bisa aku menelepon mu, kamu belum mengajariku cara menggunakan handphone ini." Walaupun belum bisa menggunakannya, Saskia selalu merawatnya.

"Waduh, mengapa tidak terpikirkan olehku saat kita masih bersama ya?. Baiklah, nanti aku akan mengajarimu cara menggunakan handphone. Saskia, bisakah kamu membantuku menentukan barang apa yang cocok untuk diberikan kepada warga yang kurang mampu?." Bion menyesalinya.

Lalu Saskia mengemukakan idenya. "Menurutku, tidak ada barang yang tepat untuk membantu warga yang kurang mampu. Barang yang berupa materi hanya bisa membantu sesaat saja. Menurutku, alangkah baiknya kau membuka lapangan pekerjaan buat mereka."

Bion senang mendengarnya. "Oh. Ide yang sangat luar biasa. Kamu sangat cerdas, Saskia. Baiklah, nanti aku akan membicarakan hal ini bersama Vota."

Setelah beberapa jam Bion berbicara dengan Saskia, Bion melanjutkan perjalanannya menuju ke rumah kepala desa. Lalu Bion menemui pak kepala desa. "Maaf pak Alex, saya kemari bertujuan untuk mengetahui berapa banyak jumlah penduduk miskin yang tinggal di daerah ini. Bolehkah saya meminta datanya pak?."

"Tentu saja boleh nak, tapi sebelumnya bapak mau bertanya. Untuk apa nak Bion membutuhkan data itu?." Pak Alex berkata.

"Saya berencana untuk memberikan sebuah bantuan kepada setiap warga yang kurang mampu. Untuk itu saya perlu mengetahui berapa banyak kebutuhan yang harus saya persiapkan." kata Bion.

"Oh begitu ya. Baiklah, nanti bapak akan memerintahkan aparat desa untuk mengantarkan data tersebut kerumah nak Bion." kata pak Alex.

Bion pamit kepada pak Alex. "Terimakasih pak Alex, saya pamit pulang dulu."

"Ya. Hati hati dijalan ya nak Bion." pak Alex memandang Bion dengan kagum.

Sementara menunggu data yang akan diantar aparat desa, Bion memikirkan dalam bentuk apakah bantuan yang akan diberikan.

Kemudian Bion mulai berfikir. "Tadi Saskia mengatakan bahwa membuka lapangan pekerjaan adalah cara yang paling tepat untuk membantu warga yang kesulitan. Saya masih bingung nih, pekerjaan apa yang cocok untuk warga disini ya? Ah!!  Sebaiknya aku menemui Vota. Aku yakin, Vota pasti bisa menjawab pertanyaanku."

"Hai Bion, kamu sudah lama pulang?". Vota tiba-tiba membuka pintu yang berdiri di tengah tengah kamar.

"Eh Vota. Aku baru saja sampai. Kebetulan sekali, baru aku memikirkan mu, eh tiba-tiba kau nongol. Emang kau dari mana? Kenapa tadi aku tidak melihatmu?." Bion kaget melihat Vota yang sudah ada di rumah.

Lalu Vota menjelaskan. "Aku habis menemui tuan Vota. Ada panggilan darurat, aku diperintahkan untuk segera menghadap."

Setelah berbincang mengenai pemanggilan Vota menghadap tuan Vota, Bion mulai membahas rencananya. "Bion, apakah engkau sudah melakukan sesuatu yang bermanfaat selama aku meninggalkanmu?."

"Apanya yang sudah ku perbuat?, kamu baru meninggalkan aku seharian." Bion baru beberapa jam meninggalkan rumah, tetapi tidak seperti yang Vota rasakan.

"Walah, kukira aku sudah meninggalkan dirimu beberapa bulan. Padahal aku sudah banyak melakukan sesuatu di tahun 2.123 bersama tuan Vota." Waktu yang di rasakan Vota berbeda dengan yang di rasakan oleh Bion.

Akhirnya Bion mengerti. "Oh begitu ya. Pantesan tadi saat kau keluar dari pintu kemana saja, kau kelihatan seperti orang yang baru menjumpai orang yang sudah lama dirindukan."

"Begini Vota, tadi aku kerumah kepala desa untuk meminta data warga yang kurang mampu. Nanti aparat desa akan mengantarkan data tersebut kesini. Permasalahannya, aku belum memutuskan harus memberikan bantuan dalam bentuk apa. Sedangkan menurut pendapat Saskia, alangkah baiknya jika aku memberikan bantuan berupa lapangan pekerjaan bagi warga tersebut. Bagaimana pendapatmu Vota?." Bion menceritakan rencananya.

Vota mengira Saskia telah kembali. "Apakah kamu bertemu dengan Saskia? Apakah Saskia telah kembali ke sini?".

"Tidak Vota, aku tidak bertemu dengannya. Tadi aku hanya berbicara dengannya melalui telepon" Bion menjelaskan.

Mendengar nama Saskia, Vota begitu antusias. "Oh begitu ya. Bagaimana keadaan Saskia?. Apakah baik baik saja?".

"Aha. Vota, kelihatannya kau begitu antusias tatkala mendengar nama Saskia. Apakah ada sesuatu yang tidak aku ketahui?" Bion tersenyum.

Vota menjelaskan alasannya. "Tentu saja Bion, betapa tidak. Saskia itu nantinya menjadi istrimu. Aku telah melakukan perjalanan ruang waktu, kau dengan Saskia akan memiliki seorang anak yang terkenal sebagai orang pertama yang menciptakan alat penembus ruang waktu".

Bion tidak menyangka dengan cerita Vota. "walah mustahil, Vota. Saskia sudah ku anggap sebagai adikku sendiri. Rasa sayangku melebihi rasa cintaku terhadapnya. Aku akan sangat bahagia jika nanti dia akan bersama pendampingnya yang lebih baik dariku".

Vota meyakinkan Bion. "Jangan menentang takdir, Bion. Saskia adalah takdirmu. Lagipula, Saskia akan sangat beruntung memiliki seorang pendamping yang sempurna seperti dirimu. Jika engkau menjauh darinya, dia tidak sanggup untuk menerima kenyataan. Ingatlah, ketika mereka akan berangkat pindah ke Kalimantan. Saskia terus menerus menangis, tidak ada yang bisa membujuknya".

Bion mengira Vota mengawasinya. "Bagaimana engkau tau hal ini Vota?. Apakah engkau mengikutiku waktu aku kerumahnya?".

Vota menjawab. "Tidak juga sih, aku hanya menyampaikan apa yang tertulis di buku takdirmu".

Bion penasaran. "Buku takdir?. Apakah yang engkau maksud lauh Mahfudz?".

Vota tidak menyalahkan. "Ya, bisa dibilang begitu. Tapi, buku takdir yang ku maksud ini murni tercipta dari tekhnologi sains yang ditulis di tahun 2.119 Masehi".

Bion melanjutkan pertanyaannya. "Ya sudahlah, nanti saja kita membahas hal ini. Sekarang aku sedang fokus terhadap misi yang sedang aku jalani. Kembali ke pertanyaan yang ku sampaikan tadi. Bagaimana pendapatmu Vota?".

Vota setuju. "Ya benar sekali Bion, memang lebih baik kita memberi kail daripada kita memberi ikan"

Bion menyetujui pendapat Saskia. "Memang benar yang dikatakan Saskia, memberikan lapangan pekerjaan kepada para warga yang tidak mampu akan sangat membantu daripada hanya membantu dengan membagikan sebuah materi. Lapangan pekerjaan apa yang cocok untuk mereka Vota?".

Vota memberikan sebuah ide. "Bion, warga disini kebanyakan sudah terbiasa bertani dan berkebun. Menurut saya, kamu harus menciptakan sesuatu yang berbeda, yang membuat hasil pertanian lebih berkualitas".

Bion langsung berdiri. "Ya! Sekarang aku memiliki sebuah ide. Aku akan menciptakan sebuah jenis pupuk yang dapat meningkatkan kualitas tanaman".

Vota sangat senang. "Oke, aku akan membantumu mewujudkan idemu ini".

Keesokan paginya, Bion meminta kepada Vota untuk memberikan sebuah pintu kemana saja. Vota tidak mempertanyakan untuk apa Bion memintanya. Vota sudah sangat yakin bahwa Bion pasti memiliki sebuah ide yang cemerlang.

Sebuah pintu kemana saja diletakkan Bion di pekarangan belakang rumah. Lalu Bion membangun sebuah dinding yang menjadikan pintu kemana saja sebagai pusatnya.

Ketika membuka pintu tersebut, Bion menemukan sebuah lahan yang sangat luas, di lahan tersebut hanya ditumbuhi rumput alang-alang. Bion membawa alat yang pernah diberikan Vota kepadanya.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!