"Aku yang hanya menyentuhnya saja merasa tidak sanggup menghadapinya. Apalagi ayah yang berada didalamnya?"
Setelah berhari-hari menyendiri didalam kamarnya, akhirnya Albert mengumpulkan keberaniannya untuk kembali meneliti layar monitor-layar yang berada didalam bengkelnya. Albert sudah bertekad untuk menemukan ayahnya.
Suatu hari ketika Albert sedang sibuk didalam bengkelnya, Saskia menelepon. "Halo sayang, apakah kamu ada dirumah?".
Lalu Albert menjawab. "Iya, ibu. Seperti biasa. Albert ada dirumah. Ada apa ibu?"
"Ada suatu hal yang ingin ibu sampaikan. Ini mengenai pabrik pupuk kita."
"Ada masalah apa dengan pabrik pupuk kita ibu?"
"Tidak, nak. Bukan suatu permasalahan. Ibu hanya ingin meminta persetujuan kamu, untuk mengembangkan perusahaan kita."
"Maksud ibu bagaimana?"
"Ibu berencana untuk membuka cabang pabrik pupuk kita di beberapa daerah. Apakah engkau setuju dengan rencana ibu, sayang?"
"Tentu saja ibu, maaf Albert tidak berfokus kepada perusahaan kita. Albert memiliki satu tujuan, menemukan kembali keberadaan ayah. Mengenai perkembangan perusahaan, Albert hanya percaya kepada ibu untuk mengelolanya." Albert tersenyum.
"Baiklah sayang, ngomong ngomong ibu sangat terbantu dengan handphone yang telah engkau ciptakan. Dengan handphone, perusahaan berjalan dengan lancar, tidak perlu biaya telepon interlokal, apalagi menelepon keluar negeri."
"Iya Bu, Albert juga sangat terbantu dengan handphone ini. Cukup dengan menelepon saja, bahan penelitian yang Albert butuhkan segera diantar."
"Oh iya ibu, apakah sewaktu ayah masih bersama ibu, ayah pernah membawa ibu ke ruang waktu?".
"Rasanya pernah deh. Ibu pernah dibawa ke ruang waktu kalau tidak salah melalui sebuah pintu tanpa dinding."
"Baiklah ibu, sudah dulu ya, semoga pekerjaan ibu lancar tanpa kendala." Albert menyudahi obrolan.
"Iya sayang, kamu juga harus berhati-hati. Tengoklah nenekmu sesekali. Jangan terlalu lama didalam bengkel."
"Baik ibu, salam sayang, assalamualaikum"
""Alaikum salam"
Keesokan harinya, hari Minggu. Albert tidak melanjutkan penelitiannya dihari Minggu, atas permintaan neneknya, yang mengatakan bahwa ayahnya Bion selalu beristirahat dihari Minggu.
Hari Minggu ini Albert pergi ke karnaval budaya yang sedang berlangsung di lapangan Hatta. Disana Albert menjumpai banyak pertunjukan dan banyak dibuka stand stand yang memperkenalkan bermacam macam bidang.
Disana, Albert bertemu dengan teman lamanya. Mereka pernah sekelas saat duduk di bangku SMA. Namanya Joko. "Ayo Albert, ikut aku ke stand yang aku kelola."
"Wah, hebat kau ko, sudah bisa membuka stand sendiri" Albert mengacungkan jempol, mengagumi prestasi Joko.
"Aku bisa membuka stand sendiri berkat dukungan dari om aku yang kebetulan menjadi panitia Palembang fair tahun ini." Joko menjelaskan bahwa dia sama saja dengan teman lainnya, kalau bukan karena di dukung oleh orang dalam, sangat mustahil bisa mewujudkan keinginan menunjukkan keterampilan di khalayak ramai.
Joko membuka stand yang mengundang pengunjung untuk berkompetisi dalam tantangan panjat tebing.
Di Palembang fair tahun ini, sangat luar biasa. Stand stand yang di buka sangat banyak. Ada stand yang bernuansa budaya, ada yang bernuansa tata boga, ada yang bernuansa agama, ada yang bernuansa sains, bernuansa bahasa, militer, flora, fauna, mistis, hiburan komedi, permainan ketangkasan, dan banyak lagi macamnya.
Tanpa disadari, akhirnya Albert dan Joko terpisah, saking asyiknya mencari stand yang menarik. Hingga Albert menemukan sebuah stand yang unik, sedikit pengunjung, kebetulan stand yang satu ini sedang tidak di jaga oleh pengelola stand yang bersangkutan.
"Ini stand apa ya, kok tulisannya bahasa Inggris?. Back To the Future. hahaha... Seperti pelajaran bahasa Inggris saja, kan di pelajaran bahasa Inggris ada istilah present continuous tense, past continuous tense, simple continuous tense, lah. Ini Back To Future. Apa ya artinya?. Apakah ini stand bahasa?." Albert menggaruk garuk kepala yang tidak gatal, tetapi membuat penasaran. Akhirnya Albert memasuki pintu stand itu dan tidak di temukan apa apa selain sebuah mesin yang di lengkapi layar yang lebar, di mesin itu terdapat banyak tombol tombol.
Dengan begitu penasarannya, ternyata Albert menekan beberapa tombol, dan terjadilah sebuah peristiwa yang membuat seluruh pengunjung mengerumuninya. Mesin yang di hadapan Albert seketika meledak, dan membuat tubuh Albert terpental sekitar dua puluh meter, dan Albert pingsan, dengan berlumuran darah.
Singkat cerita, kondisi Albert sekarang terbaring di rumah sakit, dalam keadaan koma.
Albert dibawa ke rumah sakit neneknya yang berada di Jepang. Disana Albert dirawat khusus oleh neneknya, segala peralatan canggih digunakan untuk kesembuhan Albert.
Namun, sudah beberapa Minggu Albert tetap saja masih dalam keadaan koma.
PINDAH DIMENSI
Ternyata semasa komanya Albert, jiwanya berada di dunia yang berbeda. Kini Albert telah bangun dari tidur panjangnya.
"Aduuh. Sakit sekali tubuhku, aku tidak menyangka kalau mesin yang kulihat tadi dapat meledak. Ini dimana ya?. Kok gelap sekali".
Datang seorang pria berambut panjang mendekati Albert. "Kau sudah bangun, nak?. Apakah engkau baik baik saja?".
Albert kebingungan dengan suasana disekitarnya, terlebih lagi ada seorang bapak yang menegurnya. "Aku dimana pak?. Mengapa disini gelap sekali?".
"Kamu sekarang berada di tengah tengah hutan, nak. Kalau boleh tau siapa nama kamu nak?"
"Nama saya Albert. Bapak siapa?"
"Nama saya Bion. Saya menemukan nak Albert di tepi sungai. Dari mana asal nak Albert?"
Albert menangis gembira setelah mengetahui nama bapak itu Bion. Mudah mudahan bapak itu adalah ayahku. Ini yang terucap dari dalam hati Albert. "Apakah nama bapak Bion?. Dari mana asal bapak?".
"Ya, nak Albert. Nama saya Bion. Saya tidak tahu asal tempat tinggal saya. Sudah bertahun-tahun saya tinggal disini, sejak insiden yang terjadi di rumah saya."
Albert berusaha mencari tahu lebih detail tentang bapak yang bernama Bion ini. "Maaf pak, tempat tinggal saya berada di Palembang. Bolehkah saya bertanya sesuatu kepada bapak?".
"Ya, boleh saja. Silahkan nak Albert mau bertanya apa saja. Mudah mudahan bapak bisa menjawabnya."
"Apakah bapak punya keluarga?"
"Ya, nak. Dulu bapak pernah punya keluarga. Tapi sejak bapak terdampar disini, bapak tidak lagi punya keluarga."
"Apakah nama istri bapak adalah Saskia?"
"Haah?. Bagaimana nak Albert bisa tau nama istri bapak?"
Albert tidak menjawab, melainkan langsung memeluk Bion. "Ayah, aku anakmu. Aku anak Bu Saskia, istrimu."
Albert memeluk Bion seraya menangis tersedu-sedu.
"Kamu anaknya Saskia, nak?. Kamu adalah anakku."
"Iya, ayah. Aku anakmu. Ayo kita pulang, ayah."
"Ayah dari dulu ingin sekali pulang, anakku. Tapi apa yang harus ayah lakukan?. Disini ayah terjebak, ditengah tengah hutan, di sekeliling hutan ini dibatasi oleh sungai yang sangat lebar. Nak Albert kenapa bisa kesini?"
"Albert juga tidak tahu, ayah. Mungkin kejadiannya sama seperti yang ayah alami."
"Apakah nak Albert juga meneliti layar monitor-layar yang berada didalam bengkel kita?".
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 48 Episodes
Comments