Menciptakan Alat Telekomunikasi

"Semasa SD, ayahmu Bion adalah seorang anak yang bodoh, pemalas dan sering di-bully oleh teman-temannya. Suatu hari ayahmu menemukan seseorang yang mengalami sebuah kecelakaan. Ayahmu dan nenek menyelamatkan anak itu, dan akhirnya berkat beliau ayahmu Bion berubah total. Dari seorang anak yang bodoh, menjadi seorang anak yang pintar, bahkan jenius. Anak tersebut bernama Vota. Vota selalu menunjukkan alat alat yang canggih, yang kami tidak mengerti darimana dia dapatkan. Berkat kecerdasan ayahmu, banyak penemuan-penemuan yang diciptakannya. Diantaranya, ayahmu telah mendirikan sebuah pabrik pupuk yang sekarang dikelola oleh ibumu." Tania menyudahi ceritanya.

Albert bertanya lagi. "Nenek, apakah ayahku menyimpan sesuatu barang yang merupakan salah satu pemberian temannya om Vota?"

Lalu Tania menjawab. "Nenek rasa ada. Coba Albert tanyakan kepada ibumu. Rasanya ibumu menyimpan salah satunya, karena mereka bertiga selalu bersama saat mereka kecil."

Albert meninggalkan neneknya menuju bengkel. "Baiklah nenek, nanti Albert akan langsung menanyakan kepada ibu, setelah ibu pulang dari kantor."

Beberapa saat kemudian ibunya Albert pulang. "Assalamualaikum, ibu pulang."

"Alaikum salam ibu, hari ini cepat sekali ibu pulang kerja?" Jawab Albert.

Lalu Saskia menjawab. "Iya nak, ibu harus mempersiapkan kepergian ibu ke Australia. Ada seorang pengusaha dari Australia yang ingin menjalin hubungan dengan perusahaan kita."

Lalu Albert langsung bertanya kepada Saskia. "Kalau tidak terburu buru, bolehkah Albert bertanya sesuatu kepada ibu?".

Saskia mengelus kepala Albert. "Tidak, sayang. Ibu tidak terlalu terburu buru sih, emang apa yang ingin kau tanyakan sayang?"

Albert bertanya. "Albert ingin bertanya tentang ayah. Apakah ibu menyimpan sesuatu barang penting milik ayah?".

"Ibu rasa ada satu barang yang sangat penting yang dimiliki ayah. Tapi ibu juga memiliki barang yang serupa dengan yang ada pada ayah. Ini barangnya, ibu selalu membawanya kemanapun ibu pergi." Saskia mengeluarkan sesuatu dari tasnya.

"Apa ini Bu?. Barang sekecil ini apakah sangat penting?" Albert meneliti barang yang di berikan oleh Saskia.

"Ini namanya handphone, Albert. Di Dunia ini hanya tiga orang yang memilikinya." jawab Saskia.

"Siapa saja yang memilikinya ibu?".

"Teman ayahmu memiliki tiga buah handphone. Satu dipegangnya, satu diberikannya kepada ayahmu, dan satu lagi diberikannya kepada ibu."

"Apa kegunaannya ibu?"

Lalu Saskia bercerita. "Handphone ini satu satunya alat penghubung antara ibu, ayah dan temannya ayah. Dengan handphone inilah ibu bisa menjumpai ayahmu di Jepang, dan bertemu dengan nenekmu yang tinggal di Jepang."

"Kalau begitu, ibu bisa dong menghubungi ayah sekarang."

"Ibu sudah mencobanya, sayang. Tapi selalu bersuara nomor yang anda tuju tidak dapat menerima panggilan."

Sejak Saskia berangkat ke Australia, Albert selalu mengurung diri di bengkel ayahnya. Dengan berbekal sebuah benda pemberian ibunya, Albert meneliti benda itu dan berusaha menciptakan duplikatnya. "Betapa sederhananya benda ini, tetapi dapat menyimpan fitur yang sangat banyak. Darimana sumber tenaga benda yang ibu sebut handphone ini?".

Albert tidak habis fikir, handphone pemberian ibunya masih tetap berfungsi tanpa sumber tenaga. Albert hanya bisa membuat tiruannya dengan menghubungkan kabel diantara dua handphone ciptaannya.

Beberapa hari sudah berlalu, Saskia telah kembali dari Australia. "Albert sayang, keluarlah sebentar. Berhari-hari kau berada didalam bengkel ini, apakah tidak ada hal lain yang harus kau lakukan?"

"Oh ibu sudah pulang dari Australia?. Ibu, Albert sedang meneliti handphone ibu. Albert tidak selalu didalam bengkel ini kok Bu, sesekali Albert keluar untuk mencari alat dan bahan yang Albert butuhkan. Albert juga setiap sore menemani nenek pergi ke taman kompleks. Kalau ibu tidak percaya, tanyakan saja kepada nenek." Albert meyakinkan Saskia.

"Iya sayang, ibu hanya khawatir, takutnya nanti kamu terlalu lama didalam bengkel, hingga lupa kehidupan diluar. Yang dilakukan ayahmu sudah cukup membuat ibu cemas, jangan menambah kecemasan ibu ya?" Saskia berpesan.

"Baiklah ibu, Albert mengerti maksud ibu. Albert berjanji tidak akan menyusahkan ibu."

Lalu Saskia mengajak Albert menemui Tania. "Ayo nak, kita minum teh dulu bersama nenek. Nenek sudah menunggu sedari tadi. Nenek tidak mau mengganggu kesibukanmu, kata nenek, Albert telah berjanji untuk menemukan ayah. Benarkah Albert pernah mengatakan seperti itu?"

"Benar, Bu. Albert yakin bahwa ayah tidak kemana-mana, ayah masih berada disekitar sini."

"Mudah mudahan yang kau katakan itu benar, sayang. Ibu sudah sangat lama merindukan ayahmu."

Saskia melihat barang yang sedang dipegang Albert. "Benda apa itu sayang?. Apakah engkau membuat duplikat handphone ibu?".

"Iya, ibu. Tapi Albert masih kebingungan dengan handphone ibu, tanpa sumber daya tetapi tetap menyala." Jawab Albert.

"Iya nak, handphone itu tetap menyala sejak ibu menerimanya dari om Vota teman ayahmu." Saskia juga tidak mengerti.

"Berarti sudah 25 tahun handphone ini ibu miliki?" Albert kelihatan sangat takjub.

"Ya, sayang. Kira kira selama itulah."

"Wah, hebat. Albert masih bingung cara mencontohnya, sedangkan handphone yang Albert ciptakan masih memerlukan sumber tenaga listrik." Albert sangat senang dan ingin menelitinya.

Lalu Saskia memberi semangat kepada Albert. "Bersabarlah sayang, ibu yakin suatu hari nanti kamu pasti berhasil menciptakan handphone dengan lebih sempurna."

Pagi pagi sekali Albert sudah melanjutkan penelitiannya. Akhirnya Albert berhasil menciptakan sebuah handphone yang tidak perlu menggunakan kabel lagi, karena Albert mendesainnya menggunakan sebuah batre yang bisa di charge. Handphone ciptaannya sudah dilengkapi dengan layar yang berwarna hitam dan putih.

Albert mulai menghubungi kantor Telkom untuk bekerjasama dalam penggunaan jaringan komputer yang menghubungkan handphone ciptaannya.

Albert juga sudah mendirikan sebuah pabrik untuk memproduksi handphone yang akan dipasarkan ke seluruh daerah sekitarnya.

Tahun 1995, tepatnya di usia Albert menginjak 16 tahun, handphone sudah dimiliki oleh masyarakat kalangan menengah keatas, karena harga pasaran yang telah ditetapkannya cukup tinggi.

Tidak puas hanya sebatas itu, penelitian Albert tetap diteruskan, yang kini berfokus kepada penelitian ruang waktu berkat bimbingan seorang profesor yang pernah belajar dengan ayahnya.

Namun Saskia menjadi khawatir. "Albert, setau ibu, ayahmu menghilang sejak penelitiannya soal masa depan. Kamu harus berhati-hati sayang, jangan sampai kamu juga menghilang."

"Jangan khawatir, ibu. Justru Albert meneliti ruang waktu yang sedang Albert lakukan ini bertujuan untuk menemukan kembali keberadaan ayah. Albert yakin bahwa ayah masih menunggu Albert menemuinya." Albert menenangkan Saskia.

Didalam bengkelnya, Albert meneliti sebuah layar monitor-layar yang masih menyala yang terletak di atas sebuah meja.

Tatkala Albert menyentuh layar monitor-layar itu, Albert tersentak, seperti kesetrum listrik yang sangat besar. Hati Albert sangat cemas, hingga berhari-hari Albert tidak mau memasuki bengkelnya.

Didalam kamarnya, Albert bermenung. "Ayah, apakah ayah baik baik saja disana?"

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!