Tok...tok..tok...
"Dan, buka pintunya. Manda udah pergi."
Aku masih terduduk di sisi bathtub. Menghela nafas entah yang sudah keberapa kali.
Satu hal yang aku tahu sekarang, penilaianku terhadap Om Rey ternyata tidak salah. Karena ciuman-ciuman itu, aku sempat berpikir bahwa Om Rey adalah laki-laki yang tidak setia dan tidak bisa menjaga hatinya yang seharusnya hanya ia berikan untuk istrinya yaitu Tante Manda. Aku bahkan menganggap Om Rey hanya menjadikanku pelampiasannya karena Tante Manda yang sibuk bekerja.
Tapi ternyata kenyataannya tidak seperti itu. Tante Manda justru yang tidak bisa menjaga hati. Bahkan ia merendahkan, berkhianat, dan tidak bersyukur sama sekali sudah memiliki suami sesempurna Om Rey. Om Rey adalah suami yang baik, bahkan terlalu baik.
Juga satu hal yang aku tahu dengan sangat pasti sekarang, Om Rey benar-benar menaruh rasa padaku. Dengan lantang dan yakinnya ia mengatakan pada Tante Manda bahwa Om Rey mencintai perempuan lain, tidak ada lagi Tante Manda di hatinya. Dan perempuan lain itu adalah aku, keponakannya sendiri.
Sekarang aku hanya tinggal menunggu waktu hingga Tante Manda mengetahui semuanya.
"Danisa..." Panggil Om Rey lagi.
Tak ingin membuatnya khawatir ku bawa diriku dengan lunglai menuju pintu dan membukanya. Ku tatap wajah Om Rey yang sudah kembali hangat dan ramah, tak lagi menatapku tajam seperti tadi.
"Maafin Om, Dan..." Ujarnya penuh sesal.
Aku masih terdiam tak tahu harus mengatakan apa.
"Maafin juga karena kamu jadi mendengar perdebatan Om dan Manda barusan. Om udah ganti kode akses pintunya. Manda gak akan bisa masuk seenaknya lagi kayak tadi."
Ia tidak perlu menjelaskan itu. Ini rumahnya, terserah dia akan melakukan apa. Juga dibandingkan aku, Tante Manda tentu lebih berhak datang ke rumah ini. Kenapa Om Rey malah membuat seakan aku terganggu dengan kedatangan Tante Manda barusan?
"Om mau susu coklat. Bisa tolong buatkan?" Pintanya. Tanpa mendengar jawabanku ia melangkah keluar kamarnya. Ia berhenti sejenak dan menoleh padaku yang masih berdiri mematung di ambang pintu kamar mandi. "Buat dua ya. Untuk kamu satu."
Ku ambil dua buah gelas dan mulai menyeduh dua gelas susu coklat panas. Ku letakkan satu gelas di meja di hadapan Om Rey yang kini duduk di karpet ruang tengah. Sambil memegang segelas susu coklat panas itu, aku bergabung dengannya, duduk bersila di karpet itu.
Ku minum susu coklat itu perlahan, lumayan sedikit menenangkanku yang baru saja terjebak di situasi penuh emosi seperti tadi.
Om Rey masih terdiam, melamun. Ia tidak menyentuh susu coklatnya sama sekali.
"Om, diminum susunya." Lirihku setelah cukup lama.
Om Rey menoleh ke arahku, wajahnya terlihat lelah. Tak tega rasanya melihatnya seperti itu.
Ia tersenyum tipis, dan meraih susu coklat di hadapannya dan menyeruputnya. Kemudian ia kembali terdiam.
Setelah cukup lama aku berpikir untuk kembali ke kamarku. "Aku mau ke kamar ya, Om." Aku pun beranjak dari posisi dudukku, namun Om Rey menahanku.
Tangannya menggenggam tanganku dan menatapku sendu. "Tolong jangan pergi, Dan. Om mau ngomong, sebentar aja." Ia kembali ke Om Rey yang hangat. Om Rey yang ramah.
Aku kembali duduk di sampingnya dan terdiam, menunggunya mengatakan sesuatu. Tapi bukannya berbicara ia malah kembali termenung.
"Om mau ngomong apa?" Tanyaku akhirnya.
Om Rey menoleh ke arahku. "Soal tadi, kamu... mendengar semuanya?"
Ku anggukan kepalaku, dan pandanganku tertuju pada susu coklat yang masih aku pegang.
Kami kembali terdiam. Hanya denting jam dinding yang terdengar.
Sebetulnya aku juga ingin mengatakan sesuatu padanya. Aku ingin mengatakan bahwa setelah apa yang aku ketahui barusan, bahwa Om Rey dan Tante Manda akan bercerai, maka sudah tidak ada alasan lagi bagiku berada disini. Selain itu hubungan kami yang semakin mengarah ke pada hal yang tidak seharusnya, lebih memperkuat alasanku untuk segera pergi dari rumah ini.
Namun entah mengapa aku malah tidak rela jika harus pergi meninggalkannya. Setelah mengetahui bagaimana sikap tanteku itu, aku bisa membayangkan setiap kali mereka bertengkar, wajah Om Rey akan sesedih ini. Dan aku tak mampu melihatnya seperti ini terlebih sendirian menanggung semuanya.
"Om, kalau mau nangis, Om boleh nangis kok." Malah itu yang aku katakan pada Om Rey.
Senyum getir merekah di bibirnya. "Om gak mau nangis, kok." Ia menatapku hangat. "Tapi kalau boleh, Om pengen peluk kamu boleh, gak?"
Sebetulnya aku ragu tapi akhirnya kuanggukan juga kepalaku.
Kedua tangannya melingkar di tubuhku yang duduk di sebelahnya. Ku tepuk pelan punggungnya seakan mengatakan 'semangat ya, Om. Om pasti bisa melewati semua ini.'
"Om sangat bersyukur ada kamu di samping Om, Dan." Lirihnya. "Maafin Om karena Om merasakan rasa yang gak sepantasnya Om rasakan sama kamu. Om juga gak bisa cegah itu. Tiba-tiba aja rasa itu muncul sejak Om pertama lihat kamu hari itu."
Sejak pertama melihat aku, Om Rey sudah jatuh cinta padaku?
Ia melepas pelukannya dan menatapku hangat. "Waktu pertama kamu dateng ke rumah ini, sebetulnya Om baru aja berantem sama Manda. Kayak yang terjadi barusan. Saat itu pertama kalinya Om berpikir untuk melepaskan Manda. Lalu tiba-tiba kamu datang. Om sudah dikabari oleh Mbak Diana kalau dia ingin menitipkan anaknya selama menempuh pendidikan S1. Awalnya Om ingin menolak, karena yang diketahui seluruh keluarga Om ataupun keluarga Manda, hubungan kami baik-baik aja. Mereka gak tahu seperti apa kehidupan rumah tangga Om selama ini. Akhirnya Om mengiyakan karena gak enak sama Mbak Diana." Tangan hangat Om Rey meraih pipiku. "Dan kemudian kamu pun datang."
"Jadi, bunda minta izin aku tinggal di sini itu ke Om? Bukan ke Tante Manda?"
"Katanya bunda kamu udah nyoba buat ngehubungin Manda tapi gak diangkat. Chat juga hanya dibaca. Akhirnya bunda kamu chat ke Om."
Ternyata seperti itu. Sejak awal Om Rey sendiri yang mengizinkanku tinggal di sini.
"Terus sekarang gimana, Om? Aku gak mungkin tinggal di sini lagi. Kalau Om cerai sama Tante Manda, aku harus pergi dari sini." Entah mengapa aku mengatakannya seakan aku tidak rela untuk pergi.
"Om gak mau kamu pergi, Dan." Kembali ia merengkuh tubuhku. "Om udah terlanjur nyaman dengan adanya kamu di sini. Kamu baru beberapa minggu di sini, tapi semua yang Om butuhkan yang Om harap bisa Om dapatkan dari Manda, justru Om dapetin dari kamu. Pertemuan Om dengan kamu yang membuat Om yakin buat melepaskan Manda akhirnya. Om benar-benar bersyukur karena udah mengiyakan kamu untuk tinggal di sini sama Om."
Ia kembali menatapku, "Om cinta sama kamu, Dan. Om jatuh cinta sama kamu."
Deg!
Gemuruh jantungku kembali bertalu. Ada rasa bahagia yang menelusup masuk ke dalam hatiku, tapi sekali lagi aku harus berada di dalam kewarasanku. Hubungan kami tak mungkin terjalin. "Tapi Om..."
Om Rey memotong ucapanku. "Tolong kamu jawab pertanyaan Om. Apa kamu juga merasakan hal yang sama pada Om?"
Ditodong pertanyaan seperti itu secara tiba-tiba, benar-benar membuatku bimbang.
"Kenapa gak jawab, Dan?" Tanyanya penuh harap.
Aku tak tahu apa yang aku rasakan. Aku sungguh tak bisa menjawabnya. Belum lagi logika dan hatiku yang terus berdebat. Dia adalah suami tanteku, bagaimana aku bisa merasakan perasaan yang tak seharusnya itu pada suami adik dari ibuku sendiri?
"Kalau kamu gak mau jawab dengan kata-kata, kamu bisa menjawabnya dengan cara lain."
Seketika jantungku berdegup lebih riuh lagi. Aku bisa menebaknya, cara apa yang Om Rey maksudkan.
Dan benar saja, kedua tangannya kembali meraup pipiku. "Kalau kamu gak suka, kalau kamu gak punya perasaan yang sama seperti yang Om rasakan pada kamu, kamu boleh menghindar."
Om Rey kembali mendekat padaku dengan perlahan. Seharusnya aku menghindar, seharusnya aku tak membiarkannya, Om Rey bahkan sudah memberikan peringatan.
'Danis, jangan lakukan ini!' Logikaku bahkan menegur dengan kerasnya.
Tapi bukannya menurut, kedua mataku malah menutup seakan menyetujuinya. Dan tepat saat itu bibir Om Rey sudah berada di bibirku lagi.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
sarinah najwa
up yg banyak thor🙏🙏 sd tambah vote loh💪💪💪💪🤗
2023-09-04
2
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Saling melumat dan bertukar Saliva🤭🤭
Tangan Om Rey tak tinggal diam
mulai masuk kedalam baju dan ...ahh...ahh
😜😜😜😜
2023-09-04
2
Rodiah Rodiah
kok lemooot banget ceritanya
2023-09-04
1