"Ini kamar kamu." Om Rey membukakan sebuah pintu kamar di lantai dua. Aku masuk perlahan dan menatap ke sekitar.
Kamar yang sangat indah, kesan estetik tetap terasa di kamar ini. Ada tempat tidur dengan dua nakas di kedua sisinya, lemari dengan tiga pintu, juga meja belajar. Di sudut kamar ada sebuah pintu menuju balkon, sedangkan kamar mandi ada di luar kamar ini, berseberangan dengan ruang kerja Om Rey. Ia sempat memberitahukannya tadi saat akan memasuki kamar ini.
"Kamu santai aja dulu. Nanti kalau udah jam makan malam, Om akan panggil kamu." Ujarnya dengan sebuah senyuman yang memunculkan lesung pipi.
"Makasih, Om." Ujarku dengan agak canggung.
Kemudian Om Rey keluar dan menutup pintu. Terlintas kejadian beberapa menit lalu. Ia menatapku lekat, mengatakanku cantik, dan nyaris menyentuh pipiku.
Om Rey kenapa ya?
Aku sedikit, hanya sedikit, tersipu saat tadi Om Rey mengatakan bahwa aku cantik. Walaupun ia adalah suami dari tanteku, tetap saja ia seorang laki-laki dewasa, ditambah ia juga sangat tampan. Dikatakan cantik oleh laki-laki setampan dia, tentu membuat aku sedikit berbangga hati.
Tapi, jangan salah paham. Aku tidak geer atau bagaimana, aku hanya merasa tersanjung saja dipuji olehnya. Tidak lebih. Bagaimanapun ia adalah suami dari tanteku. Aku sangat menghormatinya. Apalagi melihat latar belakang keluarganya, juga pekerjaannya, membuatku begitu segan terhadapnya.
Aku mulai membuka koperku dan memindahkan semua barang-barang yang ada di dalamnya ke lemari dan juga meja belajar. Aku menatanya dengan riang. Lega dan bersyukur sekali bisa kuliah dengan tenang. Biaya kuliahku ditanggung beasiswa, tempat tinggal juga aku dapatkan secara gratis. Hanya tinggal biaya sehari-hari yang harus aku cari. Ibuku yang hanya berjualan kue-kue basah tentu tidak akan cukup untuk menopang hidupku di ibukota ini.
Lagipula hal ini sudah aku pikirkan. Aku harus mendapatkan pekerjaan saat memutuskan untuk menerima beasiswa ini. Aku sudah berjanji pada ibuku, tak perlu mengkhawatirkan biayaku sehari-hari karena aku akan mencari nafkah untuk kehidupanku sendiri. Besok aku sudah akan melaksanakan masa orientasi. Pulang dari kampus rencananya aku akan segera mencari pekerjaan.
Setelah semua barangku selesai aku tata, aku memutuskan untuk mandi. Ku bawa handuk dan baju ganti juga alat mandi ke kamar mandi di seberang ruang kerja Om Rey. Tubuhku sudah sangat lengket, jadi aku ingin segera membersihkan diri.
Saat aku akan memasuki kamar mandi, tak sengaja aku melihat Om Rey di ruang kerjanya. Kebetulan pintunya terbuka. Ia membelakangiku sedang menelepon seseorang.
"Kamu udah keterlaluan! Aku tutup mata pada semua hal kotor yang kamu lakuin di belakang aku, tapi kali ini, aku udah gak bisa terima. Aku muak, Manda! Aku akan lakukan apa yang selama ini kamu mau!" Teriaknya, kemudian menutup teleponnya, melempar ponselnya ke sofa di ruangan itu, membuat ponsel itu terpental dan untungnya jatuh ke sofa lainnya.
Aku kira ponsel itu selamat dari korban kemarahan pemiliknya. Tak ingin menguping lebih lama akupun masuk ke dalam kamar mandi dan mulai membersihkan diri.
Saat membasuh tubuhku, satu hal terlintas di benakku. Ucapan Om Rey membuatku kepikiran, ternyata Tante Manda dan Om Rey sedang bertengkar. Jujur aku tidak nyaman jika situasi mereka seperti ini.
Tapi resiko tinggal bersama saudara ya seperti ini. Kadang aku harus mengetahui sesuatu yang tidak ingin aku ketahui.
Setelah selesai menggunakan piyamaku, aku membuka pintu kamar mandi. Tepat saat itu Om Rey juga keluar dari ruang kerjanya. Kami sempat bertemu tatap beberapa saat.
Ku palingkan wajahku dan mengangguk pelan, lalu berjalan ke arah kamarku.
"Danisa..." Panggilnya.
Sontak aku menoleh ke arahnya. "Iya, Om?" Sahutku.
Ia terdiam beberapa saat menatap ke arahku. Tatapan yang sama seperti saat ia pertama melihatku tadi.
Lalu ia seperti tersadar. "Makan malam udah siap. Kamu turun ya."
"Iya, Om. Aku simpen dulu handuk, nanti aku ke bawah." Ujarku. Ia tersenyum tipis lalu mulai berjalan menuruni tangga.
Wajah Om Rey terlihat kacau sekali. Ia pasti sedih karena baru saja bertengkar dengan Tante Manda. Jujur aku jadi malas untuk bertemu dengannya karena suasananya pasti akan sangat canggung. Tapi aku tak bisa menolak karena Om Rey sudah memintaku untuk turun.
Akhirnya aku mulai menuruni tangga. Aku melihat Om Rey sedang menyiapkan makan malam yang sepertinya ia beli melalui aplikasi online. Akupun mendekat ke arah meja makan dengan perlahan.
"Duduk, Dan." Ujar Om Rey ketika sudut matanya menangkap keberadaanku. Ia tersenyum, membuat lesung pipinya kembali muncul.
Ya Tuhan, Om Rey ini tampan sekali. Tante Manda pasti bahagia memiliki suami setampan dirinya. Setiap hari ia bisa melihat pemandangan seindah ini.
Tanpa sadar aku mengamati Om Rey yang sedang sibuk menyiapkan piring dan juga peralatan lainnya. Om Rey mungkin memiliki tinggi sekitar 180 cm. Kulitnya sawo matang. Hidungnya mancung dan matanya sangat ramah. Rambutnya hitam lurus. Tubuhnya terlihat ideal, tegap dan bidang, kentara sekali ia sering berolahraga.
"Kamu suka capcay dan ayam teriyaki?" Tanya Om Rey membuyarkan lamunanku.
'Ngapain sih kamu, Nis? Om Rey sadar gak ya aku mengamatinya barusan? Semoga enggak.' Batinku menegur.
"Aku suka apapun kok, Om. Gak ada makanan yang gak aku suka kayaknya." Ujarku diiringi dengan tawa.
"Wah, masa? Bagus deh kalau gitu. Yuk kita mulai makannya." Om Rey mulai bergabung denganku di meja makan.
"Makasih. Dimakan ya, Om." Ujarku.
Kemudian kami mulai melahap makanan itu sambil mengobrol santai. Dari obrolan itu aku jadi tahu bahwa ia sering kali makan dengan cara memesan secara online seperti ini jika sedang berada di rumah. Karena dirinya dan juga Tante Manda sama-sama sibuk, maka mereka tidak ada waktu untuk memasak.
"Kalau boleh, Om. Aku bisa kok masak. Kalau Om Rey dan Tante Manda ngizinin, aku bisa masak setiap hari buat Om dan Tante selama aku tinggal di sini. Itung-itung aku bayar kost gitu, Om." Ku tawarkan jasaku. Setidaknya ini bisa menjadi cara aku berterimakasih kepada mereka.
"Om gak pengen kamu merasa sungkan gitu. Kamu boleh masak, Om sangat berterimakasih malah. Tapi jangan bilang untuk bayar uang kost, Dan. Kesannya kamu jadi dipekerjakan sama Om kalau gitu."
"Iya deh, Om. Aku gak akan bilang gitu. Ya udah kalau gitu mulai besok pagi, aku akan masak buat Om dan Tante ya. Masakan aku enak loh, Om boleh tanya Bundaku." Ujarku percaya diri.
Interaksiku dengan Om Rey memang sedikit mencair sekarang. Setelah mengobrol beberapa saat, aku merasa ternyata ia orang yang cukup asyik.
"Okay, Om jadi gak sabar nyobain masakan kamu, Dan." Ujarnya.
Aku mengangguk sumringah.
Setelah itu aku kembali ke kamarku. Aku menyiapkan tas dan pakaian untuk besok, dan membereskan beberapa barang yang tadi belum sempat aku tata. Setelah itu aku pun bersiap untuk tidur.
Aku berjalan menuju saklar, berniat untuk mematikan lampu. Namun tiba-tiba saja seekor kecoa terbang dan hinggap di lenganku.
Seketika aku berteriak kencang sekali. "KYAAAAAAAAA~!!"
Aku terus mengibas-ngibaskan lenganku mencoba membuat si kecoa itu pergi. Aku berlari menuju pintu dan membukanya. Tepat saat itu Om Rey datang dan saking paniknya aku menabrak tubuhnya, tubuhnya oleng dan kami terjatuh dengan posisi Om Rey terlentang di lantai, dan aku berada di atasnya.
"Om ada kecoa terbang!! Aku gak suka sama kecoa!! Geli banget, Om!!" Pikiranku masih terfokus pada kecoa itu.
Namun beberapa detik kemudian aku tersadar. Aku sedang membenamkan wajahku di pundak Om Rey yang terbaring di lantai. Sebelah lututku bahkan berada di antara kakinya, sedikit menekan ke sel^ngkangannya. Dan seluruh tubuhku menempel di tubuhnya. Aku mengangkat kepalaku dan menatap Om Rey yang wajahnya dekat sekali denganku.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Ok 👍👍❤️❤️
2023-08-17
1