"Hey, Nis!" Sebuah suara menyapaku saat aku berjalan menuju gerbang kampus, siang menjelang sore itu.
"Vito?" Sapaku pada pemilik suara yang menyapaku, seorang laki-laki bertubuh tinggi, kurus, berwajah manis, dan bersuara ceria.
Aku baru saja mengenalnya saat orientasi hari pertama ini. Dia adalah Vito, seorang mahasiswa kedokteran.
"Mau kemana?" Tanya Vito seraya berjalan di sampingku.
"Aku mau keliling-keliling sekitar sini terus pulang. Kenapa?" Tanyaku.
"Keliling-keliling? Gue ikut boleh gak? Gue juga pengen kenal sama daerah sekitar kampus." Ajaknya.
"Boleh aja sih. Tapi aku keliling itu mau nyari kerja part-time. Bukan mau nyari tempat nongkrong."
"Kerja part time?"
"Iya. Kamu tahu 'kan aku anak beasiswa. Aku mau nyari kerja biar tiap hari aku bisa jajan, bisa makan, beli kebutuhan sehari-hari." Terangku.
"Tiap semester 'kan kita dapet uang saku juga, Nis." Vito mengingatkan. Ia tahu hal itu karena iapun sama sepertiku, ada di kampus ini karena beasiswa. "Terus katanya lo tinggal di rumah tante lo. Ngapain nyari part time juga?"
"Ya kamu enak walaupun dikasih uang saku dari beasiswa, orang tua kamu juga ngirim uang buat kamu tiap bulan. Kalau aku nggak. Ibuku gak punya biaya buat sehari-hari aku hidup di Jakarta."
"Ternyata lo lebih miskin dari gue ya?" Gumamnya.
"Yah... Mungkin aku emang paling miskin di jurusan." Sahutku sama sekali tak keberatan dikatakan miskin oleh teman baruku ini.
"Bercanda, Nis. Lo serius amat."
"Nyantei aja kali. Emang bener gitu kok kenyataannya. Dan gak masalah juga buat aku. Miskin tuh bukan aib sampai harus ditutup-tutupin."
Kami pun sampai di depan gerbang kampus kami yang megah itu. "Ya udah aku duluan ya." Ujarku.
"Bentar, Nis. Lo tunggu. Gue mau nelpon seseorang." Vito mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.
"Halo, Om? Ada di cafe gak? ... Lowongan waktu itu masih ada?" Sontak aku tertarik dengan obrolan Vito dengan seseorang di teleponnya.
Apa ia sedang mencarikanku pekerjaan? Kemudian Vito mematikan teleponnya.
"Nis, barusan gue nanyain sama Om gue. Dia punya cafe deket sini. Bittersweet Cafe, lo tahu? Kemarin-kemarin dia nawarin gue buat kerja part time disana. Tapi gue nolak. Nah gimana kalau lo ambil tawaran itu?"
"Serius, Vit? Mau! Aku mau banget!" Tanpa pikir panjang aku menyetujuinya.
"Bentar dulu. Lo mesti tahu dulu shiftnya, gajinya, dan lain-lainnya. Jangan langsung mau aja."
Aku terkekeh. Benar juga, bagaimana jika gajinya kecil dan pekerjaannya berat?
"Ya udah aku kesana sekarang. Makasih ya, Vit!" Aku segera berlari menuju sebuah jalan sebelah kampus ku, yang dimana aku tahu dimana kafe itu berada. Aku sempat melewatinya tadi pagi, dan itu tidak jauh dari kampus.
"Nis! Lo gak mau gue temenin?" Teriak Vito saat aku sudah agak jauh darinya.
Aku berbalik sekilas, "Gak usah, aku tahu kok tempatnya. Makasih banyak ya Vit!" Aku pun melambai padanya dan kembali berlari.
Aku begitu bersemangat. Hingga aku sampai di cafe itu. Bertemu dengan pemilik kafenya, Om Tanoe, dan setelah wawancara, aku pun diterima. Aku bisa bekerja mulai besok.
Aku lega sekali kini memiliki pekerjaan. Satu hal yang mengganjal ini akhirnya terselesaikan. Ini semua berkat Vito. Aku harus memberikan sesuatu untuknya nanti.
Gajinya lumayan dan aku bekerja di shift sore, sekitar pukul dua siang hingga pukul lima sore, setiap hari termasuk weekend. Memang sebentar, tapi gajinya lumayan. Sebenarnya aku bisa mengajukan bekerja hingga kafe tutup jam sepuluh malam, gajinya juga lebih besar. Tapi aku sudah berjanji pada Om Rey, bahwa setiap hari aku akan memasak untuknya dan Tante Manda.
Jadi tak bisa jika aku bekerja hingga malam. Sudahlah yang penting aku memiliki uang untukku setiap hari, walaupun tidak banyak.
Setelah itu aku kembali ke rumah. Saat sampai, mobil Om Rey sudah terparkir di carport, yang menandakan Om Rey sudah berada di rumah.
Aku menengok ke ponselku, masih pukul tiga sore.
Saat aku memasuki rumah, Om Rey baru keluar dari kamarnya.
"Udah pulang, Dan?" Wajahnya sumringah.
"Udah, Om. Om sendiri kok udah pulang?" Tatapanku tertuju pada penampilannya yang kini sudah menggunakan pakaian yang lebih casual.
"Kebetulan kerjaan Om lagi gak terlalu banyak. Jadi Om udah pulang. Ya udah kamu cepet ganti. Kita belanja bahan masakannya dari sekarang biar gak terlalu malam."
Aku pun menurut. Aku mandi dan berganti pakaian lalu setelah beberapa saat kami sudah berada di sebuah supermarket yang terdapat di sebuah mall.
Om Rey mengambil sebuah troli, "Sekarang beli apapun yang kamu butuhin buat masak selama seminggu."
"Termasuk sayuran, Om?"
"Iya. Semuanya."
"Tapi sayuran lebih murah beli di pasar loh, Om."
"Gak apa-apa disini aja. Beli apapun yang kamu butuhin ya."
Kami sampai di tempat buah-buahan dan sayuran, "Om sukanya buah apa?"
"Apapun Om suka." Sahut Om Rey.
"Kalau gitu kita beli beberapa macem ya." Aku mulai memasukkan beberapa apel ke dalam plastik. "Om Rey harus makan buah setiap hari biar sehat. Om 'kan kerja terus, kadang sampai begadang, jadi asupan gizinya harus terpenuhi. Biar Om gak gampang sakit."
Aku terus berceloteh sambil memasukkan berbagai buah-buahan ke dalam plastik. Mengenai gizi dalam bahan makanan tentu aku sudah sangat menguasainya.
"Sebenernya, Om udah suka hidup dengan pola hidup sehat kok. Olahraga dan makan juga Om jaga. Biasanya Om suka beli makanan sehat di aplikasi online."
"Catering gitu bukan, Om?"
"Iya. Setiap hari mereka antar makan siang Om ke kantor. Juga kadang makan malam juga Om pesen dari sana."
"Sayang banget, Om. Catering gitu 'kan mahal."
"Iya sih, lumayan. Kamu bisa bikinin bekal makanan buat Om setiap hari? Biar Om gak usah pesan catering lagi."
"Bisa dong, Om. Tiap hari juga aku suka bekal. Biar hemat. Ya udah Om mulai sekarang gak usah langganan catering lagi. Biar aku yang bikinin Om bekal setiap hari." Ujarku semangat.
"Serius gak repot?"
"Sama sekali enggak dong, Om. Malah aku seneng bisa bantuin Om." Ujarku tulus.
Kemudian setelah troli penuh dengan berbagai macam belanjaan, aku dan Om Rey kembali ke parkiran.
Saat akan memasuki mobil Om Rey malah mengunci mobilnya. "Dan, Om laper. Kamu laper gak?" Om Rey menghampiriku.
"Lumayan sih, Om. Ya udah kita cepat pulang ya, Om. Biar aku bisa masak buat makan malam."
Om Rey terdiam sejenak. "Kalau kita makan di restoran yang ada di mall ini aja gimana?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Ok om...👍👍🤭🤭
2023-08-20
1