Bab 4: Berbelanja

"Hey, Nis!" Sebuah suara menyapaku saat aku berjalan menuju gerbang kampus, siang menjelang sore itu.

"Vito?" Sapaku pada pemilik suara yang menyapaku, seorang laki-laki bertubuh tinggi, kurus, berwajah manis, dan bersuara ceria.

Aku baru saja mengenalnya saat orientasi hari pertama ini. Dia adalah Vito, seorang mahasiswa kedokteran.

"Mau kemana?" Tanya Vito seraya berjalan di sampingku.

"Aku mau keliling-keliling sekitar sini terus pulang. Kenapa?" Tanyaku.

"Keliling-keliling? Gue ikut boleh gak? Gue juga pengen kenal sama daerah sekitar kampus." Ajaknya.

"Boleh aja sih. Tapi aku keliling itu mau nyari kerja part-time. Bukan mau nyari tempat nongkrong."

"Kerja part time?"

"Iya. Kamu tahu 'kan aku anak beasiswa. Aku mau nyari kerja biar tiap hari aku bisa jajan, bisa makan, beli kebutuhan sehari-hari." Terangku.

"Tiap semester 'kan kita dapet uang saku juga, Nis." Vito mengingatkan. Ia tahu hal itu karena iapun sama sepertiku, ada di kampus ini karena beasiswa. "Terus katanya lo tinggal di rumah tante lo. Ngapain nyari part time juga?"

"Ya kamu enak walaupun dikasih uang saku dari beasiswa, orang tua kamu juga ngirim uang buat kamu tiap bulan. Kalau aku nggak. Ibuku gak punya biaya buat sehari-hari aku hidup di Jakarta."

"Ternyata lo lebih miskin dari gue ya?" Gumamnya.

"Yah... Mungkin aku emang paling miskin di jurusan." Sahutku sama sekali tak keberatan dikatakan miskin oleh teman baruku ini.

"Bercanda, Nis. Lo serius amat."

"Nyantei aja kali. Emang bener gitu kok kenyataannya. Dan gak masalah juga buat aku. Miskin tuh bukan aib sampai harus ditutup-tutupin."

Kami pun sampai di depan gerbang kampus kami yang megah itu. "Ya udah aku duluan ya." Ujarku.

"Bentar, Nis. Lo tunggu. Gue mau nelpon seseorang." Vito mengeluarkan ponselnya dan menelepon seseorang.

"Halo, Om? Ada di cafe gak? ... Lowongan waktu itu masih ada?" Sontak aku tertarik dengan obrolan Vito dengan seseorang di teleponnya.

Apa ia sedang mencarikanku pekerjaan? Kemudian Vito mematikan teleponnya.

"Nis, barusan gue nanyain sama Om gue. Dia punya cafe deket sini. Bittersweet Cafe, lo tahu? Kemarin-kemarin dia nawarin gue buat kerja part time disana. Tapi gue nolak. Nah gimana kalau lo ambil tawaran itu?"

"Serius, Vit? Mau! Aku mau banget!" Tanpa pikir panjang aku menyetujuinya.

"Bentar dulu. Lo mesti tahu dulu shiftnya, gajinya, dan lain-lainnya. Jangan langsung mau aja."

Aku terkekeh. Benar juga, bagaimana jika gajinya kecil dan pekerjaannya berat?

"Ya udah aku kesana sekarang. Makasih ya, Vit!" Aku segera berlari menuju sebuah jalan sebelah kampus ku, yang dimana aku tahu dimana kafe itu berada. Aku sempat melewatinya tadi pagi, dan itu tidak jauh dari kampus.

"Nis! Lo gak mau gue temenin?" Teriak Vito saat aku sudah agak jauh darinya.

Aku berbalik sekilas, "Gak usah, aku tahu kok tempatnya. Makasih banyak ya Vit!" Aku pun melambai padanya dan kembali berlari.

Aku begitu bersemangat. Hingga aku sampai di cafe itu. Bertemu dengan pemilik kafenya, Om Tanoe, dan setelah wawancara, aku pun diterima. Aku bisa bekerja mulai besok.

Aku lega sekali kini memiliki pekerjaan. Satu hal yang mengganjal ini akhirnya terselesaikan. Ini semua berkat Vito. Aku harus memberikan sesuatu untuknya nanti.

Gajinya lumayan dan aku bekerja di shift sore, sekitar pukul dua siang hingga pukul lima sore, setiap hari termasuk weekend. Memang sebentar, tapi gajinya lumayan. Sebenarnya aku bisa mengajukan bekerja hingga kafe tutup jam sepuluh malam, gajinya juga lebih besar. Tapi aku sudah berjanji pada Om Rey, bahwa setiap hari aku akan memasak untuknya dan Tante Manda.

Jadi tak bisa jika aku bekerja hingga malam. Sudahlah yang penting aku memiliki uang untukku setiap hari, walaupun tidak banyak.

Setelah itu aku kembali ke rumah. Saat sampai, mobil Om Rey sudah terparkir di carport, yang menandakan Om Rey sudah berada di rumah.

Aku menengok ke ponselku, masih pukul tiga sore.

Saat aku memasuki rumah, Om Rey baru keluar dari kamarnya.

"Udah pulang, Dan?" Wajahnya sumringah.

"Udah, Om. Om sendiri kok udah pulang?" Tatapanku tertuju pada penampilannya yang kini sudah menggunakan pakaian yang lebih casual.

"Kebetulan kerjaan Om lagi gak terlalu banyak. Jadi Om udah pulang. Ya udah kamu cepet ganti. Kita belanja bahan masakannya dari sekarang biar gak terlalu malam."

Aku pun menurut. Aku mandi dan berganti pakaian lalu setelah beberapa saat kami sudah berada di sebuah supermarket yang terdapat di sebuah mall.

Om Rey mengambil sebuah troli, "Sekarang beli apapun yang kamu butuhin buat masak selama seminggu."

"Termasuk sayuran, Om?"

"Iya. Semuanya."

"Tapi sayuran lebih murah beli di pasar loh, Om."

"Gak apa-apa disini aja. Beli apapun yang kamu butuhin ya."

Kami sampai di tempat buah-buahan dan sayuran, "Om sukanya buah apa?"

"Apapun Om suka." Sahut Om Rey.

"Kalau gitu kita beli beberapa macem ya." Aku mulai memasukkan beberapa apel ke dalam plastik. "Om Rey harus makan buah setiap hari biar sehat. Om 'kan kerja terus, kadang sampai begadang, jadi asupan gizinya harus terpenuhi. Biar Om gak gampang sakit."

Aku terus berceloteh sambil memasukkan berbagai buah-buahan ke dalam plastik. Mengenai gizi dalam bahan makanan tentu aku sudah sangat menguasainya.

"Sebenernya, Om udah suka hidup dengan pola hidup sehat kok. Olahraga dan makan juga Om jaga. Biasanya Om suka beli makanan sehat di aplikasi online."

"Catering gitu bukan, Om?"

"Iya. Setiap hari mereka antar makan siang Om ke kantor. Juga kadang makan malam juga Om pesen dari sana."

"Sayang banget, Om. Catering gitu 'kan mahal."

"Iya sih, lumayan. Kamu bisa bikinin bekal makanan buat Om setiap hari? Biar Om gak usah pesan catering lagi."

"Bisa dong, Om. Tiap hari juga aku suka bekal. Biar hemat. Ya udah Om mulai sekarang gak usah langganan catering lagi. Biar aku yang bikinin Om bekal setiap hari." Ujarku semangat.

"Serius gak repot?"

"Sama sekali enggak dong, Om. Malah aku seneng bisa bantuin Om." Ujarku tulus.

Kemudian setelah troli penuh dengan berbagai macam belanjaan, aku dan Om Rey kembali ke parkiran.

Saat akan memasuki mobil Om Rey malah mengunci mobilnya. "Dan, Om laper. Kamu laper gak?" Om Rey menghampiriku.

"Lumayan sih, Om. Ya udah kita cepat pulang ya, Om. Biar aku bisa masak buat makan malam."

Om Rey terdiam sejenak. "Kalau kita makan di restoran yang ada di mall ini aja gimana?"

Terpopuler

Comments

⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾

⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾

Ok om...👍👍🤭🤭

2023-08-20

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Bertemu Om Rey
2 Bab 2: Makan Malam
3 Bab 3: Menuju Kampus
4 Bab 4: Berbelanja
5 Bab 5: Semakin Dekat
6 Bab 6: Amanda
7 Bab 7: Memeluk Om Rey
8 Bab 8: Benar-benar Dijemput
9 Bab 9: Kejadian Semalam
10 Bab 10: Parfum
11 Bab 11: Vito dan Tantenya
12 Bab 12: Rey dan Gadis Kecil
13 Bab 13: Malam Api Unggun
14 Bab 14: Terjerat Pesona Om Rey
15 Bab 15: Menghindar
16 Bab 16: Sepanik-paniknya
17 Bab 17: Rumah Tangga Hambar
18 Bab 18: Pernyataan Cinta
19 Bab 19: Kembali ke Semula itu Mustahil
20 Bab 20: Curahan Hati
21 Bab 21: Dimabuk Cinta
22 Bab 22: Agar Satu Sama
23 Bab 23: Terlalu Malu
24 Bab 24: Firasat Ibu
25 Bab 25: Maukah Kamu jadi Pacar Om?
26 Bab 26: Dibutakan Cinta
27 Bab 27: Tahap Selanjutnya
28 Bab 28: Gosip Satu Angkatan
29 Bab 29: For The Last Time
30 Bab 30: Pelakor itu Keponakanku
31 Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma
32 Bab 32: Aku Tidak Merebutnya
33 Bab 33: Seminggu Sebelum Menikah
34 Bab 34: Vito dan Rasanya
35 Bab 35: Menemui Calon Suami
36 Bab 36: Nasihat Bunda
37 Bab 37: Rencana
38 Bab 38: Mas Rey
39 Bab 39: Pengalaman Pertama
40 Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya
41 Bab 41: Menghilang
42 Bab 42: Dijebak
43 Bab 43: Tak Habis Pikir
44 Bab 44: Istri Kecil
45 Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan
46 Bab 46: Satu Bulan Menikah
47 Bab 47: Suamiku Selingkuh
48 Bab 48: Bingung
49 Bab 49: Rasa yang Aneh
50 Bab 50: Akhirnya Bertemu Tante Manda
51 Bab 51: Aku Memang Pelakor
52 Bab 52: Yang Terbaik
53 Bab 53: Mas Rey Pergi
54 Bab 54: Sangat Rindu
55 Bab 55: Vito itu Temanku
56 Bab 56: Kemana Takdir akan Berpihak?
57 Bab 57: Kabar
58 Bab 58: Tanteku, Maduku
59 Bab 59: Cinta Segi Empat
60 Bab 60: Tak Sanggup
61 Bab 61: Solusi
62 Bab 62: Rencana Mas Rey
63 Bab 63: Terkuak
64 Bab 64: Tertangkap Basah
65 Bab 65: Ditemani Fina dan Vito
66 Bab 66: Membuat Vito Mengerti
67 Bab 67: Menyerah
68 Bab 68: Kejutan
69 Bab 69: Dua Pria Bodoh
70 Bab 70: Bukan Teman Lagi
71 Bab 71: Menjebak Amanda
72 Bab 72: Permainan Selesai
73 Bab 73: Kehidupan yang Berbeda
74 Bab 74: Manda Sudah Sembuh
75 Bab 75: Gender Reveal
76 Bab 76: Kata Terakhir
77 Bab 77: Baby Revi
78 Bab 78: Rasa Canggung
79 Bab 79: Ibu Susu Baby Revi
80 Bab 80: Melahirkan
81 Bab 81: Mama, Papa, Ayah
82 Bab 82: Om Rey Tersayang (end)
83 Ekstra 1: Promosi Novel Baru
84 Ekstra 2: Visual Novel
85 Ekstra 3: Wanita Rahasia Daddy Zach
86 Ekstra 4: Pengorbanan Nayara
87 Ekstra 5: The Bad Boy and His Nanny
88 Ekstra 6: Marry Me, Dev
89 Ekstra 7: My Big Girl
90 Ekstra 8: Single Mom
91 Ekstra 9: Miss Rania, I Love You
92 Ekstra 10: Selingkuh Itu Indah
93 Ekstra 11: Mengejar Cinta Nabila
94 Ekstra 12: Jodohkah Kita?
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1: Bertemu Om Rey
2
Bab 2: Makan Malam
3
Bab 3: Menuju Kampus
4
Bab 4: Berbelanja
5
Bab 5: Semakin Dekat
6
Bab 6: Amanda
7
Bab 7: Memeluk Om Rey
8
Bab 8: Benar-benar Dijemput
9
Bab 9: Kejadian Semalam
10
Bab 10: Parfum
11
Bab 11: Vito dan Tantenya
12
Bab 12: Rey dan Gadis Kecil
13
Bab 13: Malam Api Unggun
14
Bab 14: Terjerat Pesona Om Rey
15
Bab 15: Menghindar
16
Bab 16: Sepanik-paniknya
17
Bab 17: Rumah Tangga Hambar
18
Bab 18: Pernyataan Cinta
19
Bab 19: Kembali ke Semula itu Mustahil
20
Bab 20: Curahan Hati
21
Bab 21: Dimabuk Cinta
22
Bab 22: Agar Satu Sama
23
Bab 23: Terlalu Malu
24
Bab 24: Firasat Ibu
25
Bab 25: Maukah Kamu jadi Pacar Om?
26
Bab 26: Dibutakan Cinta
27
Bab 27: Tahap Selanjutnya
28
Bab 28: Gosip Satu Angkatan
29
Bab 29: For The Last Time
30
Bab 30: Pelakor itu Keponakanku
31
Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma
32
Bab 32: Aku Tidak Merebutnya
33
Bab 33: Seminggu Sebelum Menikah
34
Bab 34: Vito dan Rasanya
35
Bab 35: Menemui Calon Suami
36
Bab 36: Nasihat Bunda
37
Bab 37: Rencana
38
Bab 38: Mas Rey
39
Bab 39: Pengalaman Pertama
40
Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya
41
Bab 41: Menghilang
42
Bab 42: Dijebak
43
Bab 43: Tak Habis Pikir
44
Bab 44: Istri Kecil
45
Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan
46
Bab 46: Satu Bulan Menikah
47
Bab 47: Suamiku Selingkuh
48
Bab 48: Bingung
49
Bab 49: Rasa yang Aneh
50
Bab 50: Akhirnya Bertemu Tante Manda
51
Bab 51: Aku Memang Pelakor
52
Bab 52: Yang Terbaik
53
Bab 53: Mas Rey Pergi
54
Bab 54: Sangat Rindu
55
Bab 55: Vito itu Temanku
56
Bab 56: Kemana Takdir akan Berpihak?
57
Bab 57: Kabar
58
Bab 58: Tanteku, Maduku
59
Bab 59: Cinta Segi Empat
60
Bab 60: Tak Sanggup
61
Bab 61: Solusi
62
Bab 62: Rencana Mas Rey
63
Bab 63: Terkuak
64
Bab 64: Tertangkap Basah
65
Bab 65: Ditemani Fina dan Vito
66
Bab 66: Membuat Vito Mengerti
67
Bab 67: Menyerah
68
Bab 68: Kejutan
69
Bab 69: Dua Pria Bodoh
70
Bab 70: Bukan Teman Lagi
71
Bab 71: Menjebak Amanda
72
Bab 72: Permainan Selesai
73
Bab 73: Kehidupan yang Berbeda
74
Bab 74: Manda Sudah Sembuh
75
Bab 75: Gender Reveal
76
Bab 76: Kata Terakhir
77
Bab 77: Baby Revi
78
Bab 78: Rasa Canggung
79
Bab 79: Ibu Susu Baby Revi
80
Bab 80: Melahirkan
81
Bab 81: Mama, Papa, Ayah
82
Bab 82: Om Rey Tersayang (end)
83
Ekstra 1: Promosi Novel Baru
84
Ekstra 2: Visual Novel
85
Ekstra 3: Wanita Rahasia Daddy Zach
86
Ekstra 4: Pengorbanan Nayara
87
Ekstra 5: The Bad Boy and His Nanny
88
Ekstra 6: Marry Me, Dev
89
Ekstra 7: My Big Girl
90
Ekstra 8: Single Mom
91
Ekstra 9: Miss Rania, I Love You
92
Ekstra 10: Selingkuh Itu Indah
93
Ekstra 11: Mengejar Cinta Nabila
94
Ekstra 12: Jodohkah Kita?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!