Air liurku sampai keluar melihat steak yang baru saja diletakkan seorang pelayan di hadapanku. Ku potong sedikit tepi steak itu dan memakannya.
"Enak banget..." Komentarku seraya terus mengunyah steak itu.
"Kalau gitu abisin ya." Om Rey mengambil piringku dan menukarnya dengan piringnya.
Awalnya aku heran kenapa Om Rey menukar piringnya, tapi saat aku melihat piring itu aku tertegun. Steak itu sudah dipotong-potong seukuran yang pas untuk dimakan dalam satu suapan.
"Om..."
"Ayo dimakan lagi." Seru Om Rey seraya menampilkan lesung pipinya yang menggemaskan.
"Makasih, Om." Aku pun kembali menikmati steak wagyu yang baru pertama aku rasakan.
Om Rey ini perhatian sekali ternyata orangnya, padahal aku baru mengenalnya secara dekat itu kemarin. Dia sampai memotong-motong steak agar aku mudah untuk memakannya. Benar-benar Om terbaik!
"Oh iya Om, Tante Manda kapan pulangnya sih? Tante Manda itu kerjanya masih di kantornya yang dulu 'kan, Om?" Tanyaku penasaran.
Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, ekspresi Om Rey berubah malas.
"Iya masih, kok. Tante kamu emang baru-baru ini naik jabatan, gara-gara dia berhasil ngelola resort yang ada di Jepang selama lima tahun ini. Resort mereka jadi lebih rame. Jadi dia makin sibuk sekarang. Kadang dia gak pulang karena kerjaannya itu memang mengharuskan dia pergi ke berbagai cabang resort yang ada di Indonesia."
"Pantesan..." Gumamku.
"Yah ginilah rumah tangganya Om dan Tante kamu. Kami berdua sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Ditambah kami emang belum dikasih momongan. Ya tambah larut deh dalam kerjaan masing-masing."
"Udah lima tahun padahal ya, Om. Masih harus giat berusaha kali ya Om." Ujarku memberikan semangat, seraya menyelinginya dengan sedikit candaan.
"Kamu emang tahu apa sama usaha-usaha buat punya momongan? Ternyata udah gede ya ponakan Om ini." Om Rey menimpali candaanku.
"Ih gak gitu maksudnya." Aku malah jadi malu sendiri karena sudah mengatakannya. "Maksud aku tuh, Om sama Tante 'kan pasti udah lama nikahnya. Pasti udah nungguin banget punya anak."
"Om sih pengen banget punya anak, Dan. Umur Om udah 30 tahun, dan ibunya Om udah hampir kepala tujuh. Beliau udah pengen punya cucu dari Om. Tapi mau gimana lagi, Manda belum juga hamil sampai sekarang." Ujarnya sedih.
Aku jadi merasa bersalah karena menyinggungnya. "Maaf ya, Om."
"Gak apa-apa, Dan. Kenapa juga kamu harus minta maaf. Kamu sendiri gimana? Punya pacar gak?"
Aku terkekeh. "Serius, Om Rey nanyain aku punya pacar apa enggak?"
"Emang kenapa? Emang gak boleh ya Om nanya?" Tanyanya.
"Boleh sih, Om. Tapi aneh aja." Ujarku canggung.
"Jadi, punya pacar apa enggak kamu, Dan?"
Aku terdiam sesaat. Om Rey serius ingin mengetahuinya? Aku kira ia hanya sekedar basa-basi.
"Enggak, Om. Aku belum pernah pacaran."
"Masa sih? Om gak percaya."
"Serius, Om. Orang cowok-cowok di sekolah aku dulu itu sebelum deketin aku udah takut duluan. Aku terkenal galak dan jutek soalnya." Ujarku bangga, padahal jujur aku kadang merasa sedih karena di masa putih abuku, sama sekali aku tidak pernah merasakan namanya memiliki seorang pacar.
"Wah tapi yang Om rasain kamu ramah, kok."
"Iyalah sama Om aku harus ramah. Nanti bisa-bisa aku gak dibolehin tinggal di rumah, Om." Aku terkekeh.
Makan malam itu terasa menyenangkan. Aku semakin mengenal Om Rey. Dia sungguh orang yang asyik dan baik hati juga perhatian. Sekali lagi aku seperti melihat sosok ayahku ketika bersamanya, hanya saja Om Rey ini lebih tampan dari ayahku.
Setelah makanan kami habis, kami pulang. Sesampainya di rumah aku segera menata semua belanjaan di dalam kabinet dapur dan juga ke dalam kulkas. Rasanya puas sekali saat melihat kulkas itu begitu penuh dengan berbagai bahan makanan dan minuman. Aku tak pernah melihat kulkas di rumah ibuku penuh seperti ini. Jadi aku begitu semangat untuk segera memasak besok hari.
Keesokan harinya aku aku sudah mulai memasak. Saat makananku hampir jadi, Om Rey keluar dari kamarnya dengan pakaian olahraga.
"Pagi, Dan." Sapa Om Rey.
"Pagi juga, Om. Om mau kemana?"
"Om mau jogging dulu sekitaran komplek." Ujar Om Rey seraya memakai sepatunya.
"Sarapannya nanti aja berarti?"
"Iya sebentar aja, Kok. Kamu mau ikut?"
"Jogging, Om?"
"Iya." Ia mulai bangkit dari posisi duduknya.
Sepertinya menyenangkan dan udara pasti masih sangat sejuk sekarang.
"Aku boleh ikut, Om?"
"Boleh dong. Yuk, kalau kamu mau ikut, sana ganti baju dulu."
Akupun melepas apron yang kukenakan. "Okay, Om tunggu sebentar ya. Aku ganti dulu." Segera saja aku berlari melesat ke lantai dua dan beberapa saat kemudian aku sudah menggunakan pakaian olahragaku.
Kemudian aku dan Om Rey mulai berlari santai di sekitaran komplek yang memang tersedia jogging track disana. Cuaca masih sangat sejuk, matahari juga masih bersinar malu-malu. Aku berlari mengekor di belakang Om Rey.
Aku cukup tercengang karena Om Rey memiliki kondisi badan yang masih seprima itu. Aku yang sudah sering latihan fisik untuk menunjang latihan karateku pun masih kalah kuat dengannya.
Saat sudah sekitar 10 menit berlari aku menyerah. "Om...berhenti dulu... Aku gak... kuat." Nafasku tersengal. Ku tumpukan kedua tanganku pada lututku sambil menetralkan nafasku.
"Masa udah cape lagi, sih. Atlet karate kok loyo begini." Candanya.
"Aku udah lama gak latihan, Om. Sejak kelas 12 aku udah berhenti latihan soalnya aku fokus belajar buat ujian masuk perguruan tinggi."
"Ya udah, mau duduk dulu? Mau minum? Om beliin dulu deh kalau gitu. Kamu tunggu disini ya."
Kebetulan ada warung di dekat kami. Om Rey membeli sebotol air mineral untukku.
Aku meneguknya hingga setengahnya habis. "Ayo, Om kita lanjut lagi."
Kemudian kami mulai berlari lagi. Kali ini aku mulai bisa mengimbangi kemampuan Om ku. Beberapa saat aku terus berlari secara konstan di belakangnya hingga entah bagaimana tanpa sadar kakiku tersandung dan aku terjatuh.
Aku berteriak saat merasakan lututku kesakitan. "Om lutut aku luka!" Sungguh aku tidak berbohong, rasanya memang sakit sekali. bahkan darah mengalir dari lututku.
"Kamu gak apa-apa, Dan?" Om Rey terlihat begitu cemasnya.
"Sakit banget, Om. Darahnya banyak banget!" Aku terus meringis.
Dengan telaten, Om Rey membersihkan darah yang keluar dengan tisu yang memang ia bawa di dalam saku jaket yang dikenakannya. "Tahan ya. Udah gak apa-apa. Sekarang kamu naik ke punggung Om. Kita pulang biar luka kamu bisa cepet diobatin."
"Tapi aku berat, Om. Terus rumah Om masih jauh." Aku benar-benar tidak enak jika Om Rey harus menggendongku karena jaraknya benar-benar cukup jauh.
"Kamu kurus gini, gak berat sama sekali. Om ini kuat, Dan. Ayo naik ke punggung. Atau kamu mau digendong di depan? Ayo kalau gitu."
Om Rey meraih punggung dan belakang lututku, namun tepat saat ia akan mengangkatku aku berteriak.
"Ga-gak usah, Om. Aku digendong di punggung aja." Tolakku.
Akhirnya naiklah aku ke punggung bidang dan tegap Om Rey. Dan seketika tanpa kesulitan ia membawaku di punggungnya.
Saat sudah beberapa langkah aku mulai sibuk dengan pikiranku. Om Rey tercium sangat wangi. Apa dia sudah mandi? Atau dia menggunakan parfum saat akan jogging? Yang pasti aku suka sekali wanginya. Menenangkan dan segar. Cocok sekali dengan kepribadian Om Rey.
"Om, makasih ya. Maaf aku jadi ngerepotin."
"Gak apa-apa, Dan. Kamu jangan sungkan gitu. Om 'kan... Om kamu." Entah mengapa Om Rey menjeda ucapannya itu.
"Abis Om jadi harus gendong aku kayak gini. Kaki aku beneran sakit, Om. Bukannya aku manja loh." Terangku tak ingin Om Rey salah paham.
"Kamu manja sama Om juga gak apa-apa, Dan."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
hihihi...modusnya kelihatan sekali
Maklum lah...om kan JABLAI wkwkwk 🤣🤣🤣
2023-08-22
1