Bab 5: Semakin Dekat

Air liurku sampai keluar melihat steak yang baru saja diletakkan seorang pelayan di hadapanku. Ku potong sedikit tepi steak itu dan memakannya.

"Enak banget..." Komentarku seraya terus mengunyah steak itu.

"Kalau gitu abisin ya." Om Rey mengambil piringku dan menukarnya dengan piringnya.

Awalnya aku heran kenapa Om Rey menukar piringnya, tapi saat aku melihat piring itu aku tertegun. Steak itu sudah dipotong-potong seukuran yang pas untuk dimakan dalam satu suapan.

"Om..."

"Ayo dimakan lagi." Seru Om Rey seraya menampilkan lesung pipinya yang menggemaskan.

"Makasih, Om." Aku pun kembali menikmati steak wagyu yang baru pertama aku rasakan.

Om Rey ini perhatian sekali ternyata orangnya, padahal aku baru mengenalnya secara dekat itu kemarin. Dia sampai memotong-motong steak agar aku mudah untuk memakannya. Benar-benar Om terbaik!

"Oh iya Om, Tante Manda kapan pulangnya sih? Tante Manda itu kerjanya masih di kantornya yang dulu 'kan, Om?" Tanyaku penasaran.

Entah hanya perasaanku saja atau bagaimana, ekspresi Om Rey berubah malas.

"Iya masih, kok. Tante kamu emang baru-baru ini naik jabatan, gara-gara dia berhasil ngelola resort yang ada di Jepang selama lima tahun ini. Resort mereka jadi lebih rame. Jadi dia makin sibuk sekarang. Kadang dia gak pulang karena kerjaannya itu memang mengharuskan dia pergi ke berbagai cabang resort yang ada di Indonesia."

"Pantesan..." Gumamku.

"Yah ginilah rumah tangganya Om dan Tante kamu. Kami berdua sibuk dengan pekerjaan kami masing-masing. Ditambah kami emang belum dikasih momongan. Ya tambah larut deh dalam kerjaan masing-masing."

"Udah lima tahun padahal ya, Om. Masih harus giat berusaha kali ya Om." Ujarku memberikan semangat, seraya menyelinginya dengan sedikit candaan.

"Kamu emang tahu apa sama usaha-usaha buat punya momongan? Ternyata udah gede ya ponakan Om ini." Om Rey menimpali candaanku.

"Ih gak gitu maksudnya." Aku malah jadi malu sendiri karena sudah mengatakannya. "Maksud aku tuh, Om sama Tante 'kan pasti udah lama nikahnya. Pasti udah nungguin banget punya anak."

"Om sih pengen banget punya anak, Dan. Umur Om udah 30 tahun, dan ibunya Om udah hampir kepala tujuh. Beliau udah pengen punya cucu dari Om. Tapi mau gimana lagi, Manda belum juga hamil sampai sekarang." Ujarnya sedih.

Aku jadi merasa bersalah karena menyinggungnya. "Maaf ya, Om."

"Gak apa-apa, Dan. Kenapa juga kamu harus minta maaf. Kamu sendiri gimana? Punya pacar gak?"

Aku terkekeh. "Serius, Om Rey nanyain aku punya pacar apa enggak?"

"Emang kenapa? Emang gak boleh ya Om nanya?" Tanyanya.

"Boleh sih, Om. Tapi aneh aja." Ujarku canggung.

"Jadi, punya pacar apa enggak kamu, Dan?"

Aku terdiam sesaat. Om Rey serius ingin mengetahuinya? Aku kira ia hanya sekedar basa-basi.

"Enggak, Om. Aku belum pernah pacaran."

"Masa sih? Om gak percaya."

"Serius, Om. Orang cowok-cowok di sekolah aku dulu itu sebelum deketin aku udah takut duluan. Aku terkenal galak dan jutek soalnya." Ujarku bangga, padahal jujur aku kadang merasa sedih karena di masa putih abuku, sama sekali aku tidak pernah merasakan namanya memiliki seorang pacar.

"Wah tapi yang Om rasain kamu ramah, kok."

"Iyalah sama Om aku harus ramah. Nanti bisa-bisa aku gak dibolehin tinggal di rumah, Om." Aku terkekeh.

Makan malam itu terasa menyenangkan. Aku semakin mengenal Om Rey. Dia sungguh orang yang asyik dan baik hati juga perhatian. Sekali lagi aku seperti melihat sosok ayahku ketika bersamanya, hanya saja Om Rey ini lebih tampan dari ayahku.

Setelah makanan kami habis, kami pulang. Sesampainya di rumah aku segera menata semua belanjaan di dalam kabinet dapur dan juga ke dalam kulkas. Rasanya puas sekali saat melihat kulkas itu begitu penuh dengan berbagai bahan makanan dan minuman. Aku tak pernah melihat kulkas di rumah ibuku penuh seperti ini. Jadi aku begitu semangat untuk segera memasak besok hari.

Keesokan harinya aku aku sudah mulai memasak. Saat makananku hampir jadi, Om Rey keluar dari kamarnya dengan pakaian olahraga.

"Pagi, Dan." Sapa Om Rey.

"Pagi juga, Om. Om mau kemana?"

"Om mau jogging dulu sekitaran komplek." Ujar Om Rey seraya memakai sepatunya.

"Sarapannya nanti aja berarti?"

"Iya sebentar aja, Kok. Kamu mau ikut?"

"Jogging, Om?"

"Iya." Ia mulai bangkit dari posisi duduknya.

Sepertinya menyenangkan dan udara pasti masih sangat sejuk sekarang.

"Aku boleh ikut, Om?"

"Boleh dong. Yuk, kalau kamu mau ikut, sana ganti baju dulu."

Akupun melepas apron yang kukenakan. "Okay, Om tunggu sebentar ya. Aku ganti dulu." Segera saja aku berlari melesat ke lantai dua dan beberapa saat kemudian aku sudah menggunakan pakaian olahragaku.

Kemudian aku dan Om Rey mulai berlari santai di sekitaran komplek yang memang tersedia jogging track disana. Cuaca masih sangat sejuk, matahari juga masih bersinar malu-malu. Aku berlari mengekor di belakang Om Rey.

Aku cukup tercengang karena Om Rey memiliki kondisi badan yang masih seprima itu. Aku yang sudah sering latihan fisik untuk menunjang latihan karateku pun masih kalah kuat dengannya.

Saat sudah sekitar 10 menit berlari aku menyerah. "Om...berhenti dulu... Aku gak... kuat." Nafasku tersengal. Ku tumpukan kedua tanganku pada lututku sambil menetralkan nafasku.

"Masa udah cape lagi, sih. Atlet karate kok loyo begini." Candanya.

"Aku udah lama gak latihan, Om. Sejak kelas 12 aku udah berhenti latihan soalnya aku fokus belajar buat ujian masuk perguruan tinggi."

"Ya udah, mau duduk dulu? Mau minum? Om beliin dulu deh kalau gitu. Kamu tunggu disini ya."

Kebetulan ada warung di dekat kami. Om Rey membeli sebotol air mineral untukku.

Aku meneguknya hingga setengahnya habis. "Ayo, Om kita lanjut lagi."

Kemudian kami mulai berlari lagi. Kali ini aku mulai bisa mengimbangi kemampuan Om ku. Beberapa saat aku terus berlari secara konstan di belakangnya hingga entah bagaimana tanpa sadar kakiku tersandung dan aku terjatuh.

Aku berteriak saat merasakan lututku kesakitan. "Om lutut aku luka!" Sungguh aku tidak berbohong, rasanya memang sakit sekali. bahkan darah mengalir dari lututku.

"Kamu gak apa-apa, Dan?" Om Rey terlihat begitu cemasnya.

"Sakit banget, Om. Darahnya banyak banget!" Aku terus meringis.

Dengan telaten, Om Rey membersihkan darah yang keluar dengan tisu yang memang ia bawa di dalam saku jaket  yang dikenakannya. "Tahan ya. Udah gak apa-apa. Sekarang kamu naik ke punggung Om. Kita pulang biar luka kamu bisa cepet diobatin."

"Tapi aku berat, Om. Terus rumah Om masih jauh." Aku benar-benar tidak enak jika Om Rey harus menggendongku karena jaraknya benar-benar cukup jauh.

"Kamu kurus gini, gak berat sama sekali. Om ini kuat, Dan. Ayo naik ke punggung. Atau kamu mau digendong di depan? Ayo kalau gitu."

Om Rey meraih punggung dan belakang lututku, namun tepat saat ia akan mengangkatku aku berteriak.

"Ga-gak usah, Om. Aku digendong di punggung aja." Tolakku.

Akhirnya naiklah aku ke punggung bidang dan tegap Om Rey. Dan seketika tanpa kesulitan ia membawaku di punggungnya.

Saat sudah beberapa langkah aku mulai sibuk dengan pikiranku. Om Rey tercium sangat wangi. Apa dia sudah mandi? Atau dia menggunakan parfum saat akan jogging? Yang pasti aku suka sekali wanginya. Menenangkan dan segar. Cocok sekali dengan kepribadian Om Rey.

"Om, makasih ya. Maaf aku jadi ngerepotin."

"Gak apa-apa, Dan. Kamu jangan sungkan gitu. Om 'kan... Om kamu." Entah mengapa Om Rey menjeda ucapannya itu.

"Abis Om jadi harus gendong aku kayak gini. Kaki aku beneran sakit, Om. Bukannya aku manja loh." Terangku tak ingin Om Rey salah paham.

"Kamu manja sama Om juga gak apa-apa, Dan."

Terpopuler

Comments

⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾

⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾

hihihi...modusnya kelihatan sekali
Maklum lah...om kan JABLAI wkwkwk 🤣🤣🤣

2023-08-22

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Bertemu Om Rey
2 Bab 2: Makan Malam
3 Bab 3: Menuju Kampus
4 Bab 4: Berbelanja
5 Bab 5: Semakin Dekat
6 Bab 6: Amanda
7 Bab 7: Memeluk Om Rey
8 Bab 8: Benar-benar Dijemput
9 Bab 9: Kejadian Semalam
10 Bab 10: Parfum
11 Bab 11: Vito dan Tantenya
12 Bab 12: Rey dan Gadis Kecil
13 Bab 13: Malam Api Unggun
14 Bab 14: Terjerat Pesona Om Rey
15 Bab 15: Menghindar
16 Bab 16: Sepanik-paniknya
17 Bab 17: Rumah Tangga Hambar
18 Bab 18: Pernyataan Cinta
19 Bab 19: Kembali ke Semula itu Mustahil
20 Bab 20: Curahan Hati
21 Bab 21: Dimabuk Cinta
22 Bab 22: Agar Satu Sama
23 Bab 23: Terlalu Malu
24 Bab 24: Firasat Ibu
25 Bab 25: Maukah Kamu jadi Pacar Om?
26 Bab 26: Dibutakan Cinta
27 Bab 27: Tahap Selanjutnya
28 Bab 28: Gosip Satu Angkatan
29 Bab 29: For The Last Time
30 Bab 30: Pelakor itu Keponakanku
31 Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma
32 Bab 32: Aku Tidak Merebutnya
33 Bab 33: Seminggu Sebelum Menikah
34 Bab 34: Vito dan Rasanya
35 Bab 35: Menemui Calon Suami
36 Bab 36: Nasihat Bunda
37 Bab 37: Rencana
38 Bab 38: Mas Rey
39 Bab 39: Pengalaman Pertama
40 Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya
41 Bab 41: Menghilang
42 Bab 42: Dijebak
43 Bab 43: Tak Habis Pikir
44 Bab 44: Istri Kecil
45 Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan
46 Bab 46: Satu Bulan Menikah
47 Bab 47: Suamiku Selingkuh
48 Bab 48: Bingung
49 Bab 49: Rasa yang Aneh
50 Bab 50: Akhirnya Bertemu Tante Manda
51 Bab 51: Aku Memang Pelakor
52 Bab 52: Yang Terbaik
53 Bab 53: Mas Rey Pergi
54 Bab 54: Sangat Rindu
55 Bab 55: Vito itu Temanku
56 Bab 56: Kemana Takdir akan Berpihak?
57 Bab 57: Kabar
58 Bab 58: Tanteku, Maduku
59 Bab 59: Cinta Segi Empat
60 Bab 60: Tak Sanggup
61 Bab 61: Solusi
62 Bab 62: Rencana Mas Rey
63 Bab 63: Terkuak
64 Bab 64: Tertangkap Basah
65 Bab 65: Ditemani Fina dan Vito
66 Bab 66: Membuat Vito Mengerti
67 Bab 67: Menyerah
68 Bab 68: Kejutan
69 Bab 69: Dua Pria Bodoh
70 Bab 70: Bukan Teman Lagi
71 Bab 71: Menjebak Amanda
72 Bab 72: Permainan Selesai
73 Bab 73: Kehidupan yang Berbeda
74 Bab 74: Manda Sudah Sembuh
75 Bab 75: Gender Reveal
76 Bab 76: Kata Terakhir
77 Bab 77: Baby Revi
78 Bab 78: Rasa Canggung
79 Bab 79: Ibu Susu Baby Revi
80 Bab 80: Melahirkan
81 Bab 81: Mama, Papa, Ayah
82 Bab 82: Om Rey Tersayang (end)
83 Ekstra 1: Promosi Novel Baru
84 Ekstra 2: Visual Novel
85 Ekstra 3: Wanita Rahasia Daddy Zach
86 Ekstra 4: Pengorbanan Nayara
87 Ekstra 5: The Bad Boy and His Nanny
88 Ekstra 6: Marry Me, Dev
89 Ekstra 7: My Big Girl
90 Ekstra 8: Single Mom
91 Ekstra 9: Miss Rania, I Love You
92 Ekstra 10: Selingkuh Itu Indah
93 Ekstra 11: Mengejar Cinta Nabila
94 Ekstra 12: Jodohkah Kita?
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1: Bertemu Om Rey
2
Bab 2: Makan Malam
3
Bab 3: Menuju Kampus
4
Bab 4: Berbelanja
5
Bab 5: Semakin Dekat
6
Bab 6: Amanda
7
Bab 7: Memeluk Om Rey
8
Bab 8: Benar-benar Dijemput
9
Bab 9: Kejadian Semalam
10
Bab 10: Parfum
11
Bab 11: Vito dan Tantenya
12
Bab 12: Rey dan Gadis Kecil
13
Bab 13: Malam Api Unggun
14
Bab 14: Terjerat Pesona Om Rey
15
Bab 15: Menghindar
16
Bab 16: Sepanik-paniknya
17
Bab 17: Rumah Tangga Hambar
18
Bab 18: Pernyataan Cinta
19
Bab 19: Kembali ke Semula itu Mustahil
20
Bab 20: Curahan Hati
21
Bab 21: Dimabuk Cinta
22
Bab 22: Agar Satu Sama
23
Bab 23: Terlalu Malu
24
Bab 24: Firasat Ibu
25
Bab 25: Maukah Kamu jadi Pacar Om?
26
Bab 26: Dibutakan Cinta
27
Bab 27: Tahap Selanjutnya
28
Bab 28: Gosip Satu Angkatan
29
Bab 29: For The Last Time
30
Bab 30: Pelakor itu Keponakanku
31
Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma
32
Bab 32: Aku Tidak Merebutnya
33
Bab 33: Seminggu Sebelum Menikah
34
Bab 34: Vito dan Rasanya
35
Bab 35: Menemui Calon Suami
36
Bab 36: Nasihat Bunda
37
Bab 37: Rencana
38
Bab 38: Mas Rey
39
Bab 39: Pengalaman Pertama
40
Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya
41
Bab 41: Menghilang
42
Bab 42: Dijebak
43
Bab 43: Tak Habis Pikir
44
Bab 44: Istri Kecil
45
Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan
46
Bab 46: Satu Bulan Menikah
47
Bab 47: Suamiku Selingkuh
48
Bab 48: Bingung
49
Bab 49: Rasa yang Aneh
50
Bab 50: Akhirnya Bertemu Tante Manda
51
Bab 51: Aku Memang Pelakor
52
Bab 52: Yang Terbaik
53
Bab 53: Mas Rey Pergi
54
Bab 54: Sangat Rindu
55
Bab 55: Vito itu Temanku
56
Bab 56: Kemana Takdir akan Berpihak?
57
Bab 57: Kabar
58
Bab 58: Tanteku, Maduku
59
Bab 59: Cinta Segi Empat
60
Bab 60: Tak Sanggup
61
Bab 61: Solusi
62
Bab 62: Rencana Mas Rey
63
Bab 63: Terkuak
64
Bab 64: Tertangkap Basah
65
Bab 65: Ditemani Fina dan Vito
66
Bab 66: Membuat Vito Mengerti
67
Bab 67: Menyerah
68
Bab 68: Kejutan
69
Bab 69: Dua Pria Bodoh
70
Bab 70: Bukan Teman Lagi
71
Bab 71: Menjebak Amanda
72
Bab 72: Permainan Selesai
73
Bab 73: Kehidupan yang Berbeda
74
Bab 74: Manda Sudah Sembuh
75
Bab 75: Gender Reveal
76
Bab 76: Kata Terakhir
77
Bab 77: Baby Revi
78
Bab 78: Rasa Canggung
79
Bab 79: Ibu Susu Baby Revi
80
Bab 80: Melahirkan
81
Bab 81: Mama, Papa, Ayah
82
Bab 82: Om Rey Tersayang (end)
83
Ekstra 1: Promosi Novel Baru
84
Ekstra 2: Visual Novel
85
Ekstra 3: Wanita Rahasia Daddy Zach
86
Ekstra 4: Pengorbanan Nayara
87
Ekstra 5: The Bad Boy and His Nanny
88
Ekstra 6: Marry Me, Dev
89
Ekstra 7: My Big Girl
90
Ekstra 8: Single Mom
91
Ekstra 9: Miss Rania, I Love You
92
Ekstra 10: Selingkuh Itu Indah
93
Ekstra 11: Mengejar Cinta Nabila
94
Ekstra 12: Jodohkah Kita?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!