Amanda's Point of View
Diteguknya sebuah gelas kecil berisi cairan berwarna keemasan. Dahinya mengerut merasakan kuatnya rasa dari minuman tersebut. Sesekali tubuhnya bergerak mengikuti alunan musik. Tatapannya menatap ke sekitar mencari seseorang yang menarik perhatiannya.
'Ngebosenin. Gak ada cowok yang okay gitu malam ini?' Keluhnya.
"Wah Man, gila lo beneran bakal happy-happy lagi nih malam ini?" Vania terperangah. Perempuan dengan rambut pendek sebahu itu menghampiri Amanda. Tatapannya menyapu penampilan Amanda yang menggunakan backless crop top yang menampilkan punggung indahnya.
Amanda tak menggubris rekan sekantornya itu. Ia masih sibuk mencari teman untuk menemaninya bersenang-senang malam ini.
"Eh, lo gak bareng Gerald? Bukannya tadi lo bilang bareng dia?" Tanya Vania.
"Gak, kita cuma bareng kesininya doang. Kemarin 'kan udah. Masa sama dia lagi sih. Bosen gue." Ujar Amanda malas.
"Terus lo nyari yang gimana malam ini?" Tanya Vania penasaran. Gerald yang merupakan pria berkebangsaan Australia yang ditemui Amanda kemarin saja langsung membuatnya bosan. Padahal Gerald begitu tampan, berwajah kaukasoid dengan mata kebiruan, dan sepertinya sudah berpengalaman.
"Gue gak suka. Dia ceramahin gue gara-gara gue bilang kalau gue udah punya suami."
"Serius lo?"
"Iya beneran. Dia bule tapi kolot banget. Katanya kalau gue udah nikah harusnya gue setia, bla bla bla..." Gerutu Amanda dengan kesal, kembali meneguk minuman itu.
"Ya itu bule bener berarti. Otaknya waras." Vania setuju.
Amanda yang sejak tadi melihat ke sekeliling, kini menatap heran pada satu-satunya teman dekat di kantornya itu. "Jadi menurut lo gue gak waras gitu?"
"Emang. Lo udah punya suami sebaik, seganteng, sekaya Rey, masih lo sia-siain. Malah bohong aja kerjaannya. Tiap hari lo nyari cowok lain. Gak ngerti gue sama pola pikir lo, Man."
"Ya udah ambil sana si Rey buat lo." Ujarnya tanpa perasaan.
"Gini-gini gue gak suka ya temen makan temen. Apa yang kurang coba dari si Rey sampai lo selalu kacangin dia?" Vania masih saja penasaran. Sejak mengenal Amanda beberapa bulan lalu, saat Amanda pulang dari Jepang, Vania selalu berpikir Amanda adalah seorang perempuan yang belum menikah. Tapi ternyata ia sudah menikah, bahkan dengan seorang laki-laki sesempurna Rey.
"Lo beneran pengen tahu?" Akhirnya Amanda memfokuskan perhatiannya pada Vania.
"Iya dong! Spill!" Vania begitu bersemangat.
"Rey itu ngebosenin parah. Waktu itu gue pacaran dari waktu gue selesai kuliah. Dia romantis, perhatian, ganteng, dan kaya. Banyak yang suka sama dia, tapi ternyata dia sukanya sama gue. Dia nembak dan akhirnya kita pacaran. Awal-awal sih gue happy banget, tapi lama-lama gue bosen. Gue mulai nyuekin dia, tapi dia malah nambah lengket sama gue. Bahkan dia ngelamar gue. Beberapa kali."
"Beberapa kali? Dan lo tolak dia terus-terusan?"
Amanda mengangguk mengiyakan. "Sampai akhirnya gue kepaksa nerima juga gara-gara bokap gue maksa nerima dia."
"Lo gila, Man?! Kalau gue jadi lo gue udah gak akan mikir dua kali buat nerima Rey. Dia pasti bakal jadi suami idaman banget." Vania tak habis pikir.
"Ya tapi gue gak gitu! Gue tuh sebenernya belum pengen nikah. Lo udah kenal gue 'kan? Gue gak bisa cuma satu cowok doang. Terus gue gak suka karena dia terlalu bucin sama gue. Walaupun dia gak pernah ngekang gue, ngebiarin gue kerja, ngertiin banget gue, tapi gue gak bisa cuma sama dia doang. Gue butuh cowok lain buat nyenengin gue."
Vania menggeleng-gelengkan kepalanya. "Hati-hati lo, dia nyuekin lo baru tahu rasa lo."
"Dengan senang hati gue mau pisah sama dia kalau dia minta cerai."
"Jangan sompral, Man. Kualat baru tahu rasa lo." Vania memperingatkannya lagi.
"Gue pengen bebas, Van. Gue sukanya kayak gini. Keluar rumah sesuka hati gue, gak perlu mikirin dia. Sebenernya gue sama dia udah sama-sama cuek, udah gak ngurusin urusan masing-masing, gak tahu deh dari kapan. Gue gak inget. Tapi walaupun kita udah sama-sama cuek, kalau gue sama dia belum cerai gue rasanya kayak gak bebas aja."
"Terus kenapa gak lo yang minta cerai kalau gitu?"
"Gak tega gue. Gue pengennya dia yang minta cerai duluan. Gini-gini gue masih punya hati nurani, kasihan aja kalau dia gue yang cerai-in. Udah selama ini dia bucin sama gue, gue selingkuhin dia, terus gue cerai-in. Kasihan banget 'kan? Makanya gue pengen sampai dia bener-bener udah cape dan akhirnya minta cerai sama gue." Angkuhnya.
"Kalau Rey gak minta cerai terus gimana?"
"Dia pasti minta cerai. Lo lihat aja beberapa bulan terakhir berapa kali sih gue pulang ke rumah? Gue dateng ke rumah kecil yang dia bikin itu cuma buat ambil barang-barang gue dikit-dikit."
"Rumah kecil? Rumah yang dibikin Rey buat lo, lo bilang kecil?!" Vania tak percaya.
"Lo harus lihat rumah mertua gue, atau kakak-kakaknya. Rumah yang dia bikin itu cuma satu per tiganya. Masa satu-satunya menantu perempuan keluarga Kusuma cuma tinggal di rumah kayak gitu?!"
"Aneh juga ya." Gumam Vania.
"Juga gue udah gak pernah ngelakuin itu sama Rey sejak kita balik ke Indonesia."
"What?! Gila! Lo bener-bener gila, Man! Padahal hampir tiap minggu lo ngamar sama banyak cowok! Terus dia gak nyari pelampiasan gitu?"
"Enggak deh kayaknya. Dia kan se-lempeng itu orangnya, juga setia banget. Gak akan berani dia ngelakuin itu di belakang gue." Ujar Amanda yakin.
"Dia cowok normal kali, Man. Kalau ternyata selama ini dia punya selingkuhan juga gimana?"
Amanda terdiam beberapa saat.
"Enggak. Gue yakin Rey gak mungkin kayak gitu. Dia bucin banget sama gue."
Vania menghela nafasnya. "Gue gak ikutan, deh." Tiba-tiba matanya menangkap sosok seseorang. "Beb!" Namun sosok itu tak melihat ke arahnya karena suasana yang sangat berisik di tempat itu. "Gue nyamperin cowok gue dulu ya. Cepet pulang lo, kasihan Rey. Jangan sampai entar lo nyesel kalau dia udah gak ngelirik lo lagi." Ujar Vania seraya mendekatkan pipinya pada pipi Amanda.
"Bawel banget sih, lo? Udah sana." Dumel Amanda.
Setelah Vania pergi ia sendiri memutuskan untuk pulang. Kali ini tak ada laki-laki yang menarik perhatiannya. Ia pun meneguk segelas minumannya lagi lalu berjalan menuju pintu keluar.
Tepat saat ia akan keluar, tak sengaja ia bertabrakan dengan seorang laki-laki. "Sorry." Ujarnya.
Reflek Amanda mendongak dan melihat ke arah laki-laki itu. Seketika dalam hati ia bersorak, 'ini dia yang gue tunggu-tunggu.'
Amanda mengamati laki-laki itu sesaat. Dia tinggi dan kurus, wajahnya manis dan sepertinya ia masih sangat muda. Dalam sekali lihat Amanda tertarik pada laki-laki itu.
"It's okay." Ujar Amanda dengan senyum tipis. Mendengar Amanda sudah tidak mempermasalahkan ia yang tak sengaja menabraknya, laki-laki itu berniat menyusul temannya yang sudah lebih dulu masuk ke dalam klub.
"Eh bentar." Sontak Amanda menahan lengan laki-laki itu. "Boleh kenalan?"
Laki-laki itu terdiam beberapa saat. Ia melihat Amanda dari ujung kaki ke ujung kepala dan tersenyum penuh arti. "Boleh." Sahutnya.
Amanda tersenyum. "Namanya siapa? Aku Amanda." Ucapnya seraya mengulurkan tangan.
Laki-laki itu menyambutnya. "Aku Vito."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Anonymous
m
2023-09-29
1
elf
dapat suami bucin n setia kok bosen... wanita aneh... ntar klw dtinggalin baru nangis darah .. Manda...Manda... somplak..
2023-09-10
1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
ok lanjut Kaka Lala ❤️❤️❤️👍👍👍
2023-08-24
1