Hari-hari terus berlalu. Kini sudah sekitar sebulan sejak aku menjadi mahasiswa. Sudah sebulan juga aku tinggal di rumah Om Rey. Setiap hari aku berangkat dengan diantar oleh Om Rey. Pulang kerja aku juga selalu dijemputnya. Setiap hari aku merasa semakin dekat dan tidak sungkan kepada suami dari tanteku ini.
Aku merasa nyaman. Dia benar-benar seperti pengganti ayahku.
Sedangkan Tante Manda, jarang sekali pulang. Seingatku hanya dua kali ia pulang ke rumah itu selama dua bulan ini. Itupun hanya untuk membawa bajunya dan setelah itu langsung pergi. Tapi di dua kali Tante Manda pulang itu, Om Rey seperti sudah tidak peduli. Tante Manda yang datang ke rumah seperti tak dianggap olehnya.
Kadang aku tidak mengerti dengan orang dewasa. Bagaimana bisa mereka hidup dalam pernikahan yang seperti itu.
Sore itu seperti biasa Om Rey menjemputku dari tempat kerja. Aku masuk ke kursi penumpang dan menyapanya. "Hey Om ganteng." Ujarku seraya menggunakan seat belt. Iya, aku sudah tak sungkan lagi saat menyapanya dengan sebutan 'ganteng'. Itu sudah seperti kebiasaan bagiku.
"Hey, langsung berangkat?"
"Iya, Om. Langsung ke Mall ya!" Ujarku semangat. Mobil Om Rey langsung saja bergabung dengan mobil lainnya di jalanan.
"Yang mau traktir Om karena baru gajian. Semangat bener." Godanya.
Aku terkekeh. "Iya dong, semangat. Aku udah nunggu-nunggu tahu gak, Om. Pengen traktir Om makan."
"Kenapa?"
"Aku mau berterimakasih sama Om karena selama ini udah mau direpotin sama aku. Makasih banyak ya, Om." Ujarku tulus.
"Aneh banget kamu ngomong serius gitu, Dan."
"Ih, Om diajak ngomong serius malah gitu. Beneran tahu, Bunda juga berterimakasih banget sama Om karena walaupun Tante Manda jatohnya kayak nelantarin aku, tapi Om masih aja nampung aku di rumah Om. Kalau enggak aku harus nyari tempat kost buat tinggal selama aku di Jakarta. Belum lagi biaya buat makan. Gara-gara aku tinggal sama Om aku jadi gak perlu lagi mikirin makan sama tempat tinggal. Terus gaji aku bisa dipakai nabung sama jajan deh kalau di kampus." Terangku panjang lebar.
"Om justru yang berterimakasih karena kamu tinggal di rumah. Rumah jadi gak sepi. Om ada yang masakin. Setiap hari Om gak perlu pesen catering lagi. Kamu selalu bikinin Om sarapan, bekal makan siang, makan malam, belum lagi cemilan-cemilan yang enak-enak. Jelaslah Om ngebiarin kamu tinggal di rumah, Om jadi punya chef pribadi."
Kami terkekeh. "Kita jadi simbiosis mutualisme gitu ya, Om."
"Iya bener. Makanya kamu bilangin sama Mbak Diana, anaknya di tangan yang tepat. Om pasti jagain kamu dan nampung kamu sampai kamu lulus, atau seudah kamu kerja, atau sampai kapanpun, Dan. Om seneng banget kamu bisa ada di rumah."
Sontak aku melihat ke arah Om Rey. Selama sebulan ini sering kali ia mengatakan hal-hal seperti itu. Ia sering mengungkap rasa syukurnya karena aku yang kini berada di rumahnya.
"Seseneng itu Om ada aku di rumah Om?" Tanyaku tanpa sadar.
Om Rey menatapku sekilas. "Iyalah. Udah Om bilang, Om jadi punya chef pribadi gara-gara kamu."
"Chef pribadi yang gak dibayar." Candaku.
Sontak Om Rey terbahak. "Iya juga ya. Kalau gitu kamu mau dibayar berapa?"
"Di bayar sama... nonton film boleh kayaknya Om."
"Nonton? Yakin cuma mau nonton?"
"Iya. Sekarang lagi ada film baru yang pengen banget aku tonton, Om."
"Ya udah udah makan kita nonton. Gimana?"
"Serius? Om gak sibuk emangnya? Bukannya katanya lagi ada proyek ya?"
"Ya refreshing bentar gak apa-apa, dong. Lagian ini weekend."
"Ya udah, deh. Asyik banget kita mau nonton!" Ucapku sumringah.
Om Rey hanya tertawa seraya menggelengkan kepalanya. Ia sepertinya sudah terbiasa dengan sikapku yang kadang sedikit kekanakan, tidak sesuai dengan umurku.
Tak berapa lama kami sudah sampai di sebuah restoran Jepang. Kami menikmati beberapa hidangan khas Jepang. Aku tahu harganya lumayan mahal, tapi rasanya ini layak karena aku memang sangat ingin berterimakasih pada Om Rey. Dia begitu baik padaku.
Setelah makan aku segera menuju kasir untuk membayar. Namun tiba-tiba Om Rey menyerahkan kartu miliknya.
"Om! Aku 'kan yang mau traktir!" Protesku.
"Dibayar sama saya aja, Mbak." Ujar Om Rey pada kasirnya. "Gak apa-apa, Dan. Makanan disini lumayan. Gaji kamu mending kamu tabung aja atau kamu pakai bukan makan di kampus, traktir temen-temen kamu."
Kamipun keluar dari restoran itu. "Tapi Om, aku udah niat pengen traktir Om." Ujarku kecewa.
"Kamu udah niat traktir aja Om udah seneng banget. Makasih ya, anak baik." Om Rey mengusak rambutku.
Aku masih saja cemberut. Akhirnya aku menyerah. "Ya udah. Karena Om gak mau aku traktir, sekarang aku mau beliin Om sesuatu aja." Ku tarik tangan Om Rey dan mulai berjalan mencari sesuatu yang bisa aku berikan padanya.
Sampai kami tiba di sebuah toko parfum. Toko itu lumayan berkelas, milik sebuah brand ternama. Aku mulai mencoba beberapa wangi yang kira-kira cocok dengan kepribadian Om Rey.
Tak sengaja aku melihat Om Rey sedang mengobrol dengan seorang pegawai toko. Aku menghampirinya. "Om, kalau yang ini Om suka gak wanginya?" Ku serahkan kertas tester padanya.
"Kamu suka gak sama wanginya?" Om Rey malah bertanya balik padaku.
"Suka. Wanginya segar, kalem, tapi macho juga. Cocok sama Om." Ujarku.
"Ya udah kalau gitu, Om juga suka." Om Rey menyerahkan kertas tester itu pada pegawai toko itu. "Tolong yang ini."
"Jadinya ganti parfumnya, Pak?" Tanya pegawai itu. "Padahal udah sejak 6 tahun yang lalu Pak Rey gak pernah ganti."
Apa? 6 tahun?
"Cari suasana baru aja." Ujar Om Rey sekenanya.
Pegawai itu menatapku heran beberapa saat. "Baik kalau begitu saya bungkus dulu."
"Maksud pegawai tadi apa Om? Om udah langganan di toko ini sejak 6 tahun lalu?"
"Iya dari sebelum Om pindah ke Jepang."
Mencurigakan.
"Apa dulu Tante Manda yang milihin parfum itu buat Om?" Tebakku.
Sontak Om Rey menatapku. Ia terlihat menimang-nimang. "Iya. Manda suka banget sama wangi parfum Om yang suka Om pakai. Om gak pernah ganti jadinya. Tapi sekarang, Om pengen ganti."
"Tapi nanti Tante Manda gimana? Udah deh gak usah jadi Om. Aku jadi gak enak."
Aku tidak tahu bahwa perihal parfum ini ternyata ada cerita semacam itu. Secinta itu Om Rey pada Tante Manda hingga wangi parfum yang disukai Tante Manda saja tak pernah digantinya.
Om Rey menahan tanganku saat aku akan mengkonfirmasi pada pegawainya bahwa aku tidak jadi membelinya. "Om gak akan pakai parfum kesukaan Manda lagi. Mulai sekarang Om akan pakai parfum yang kamu belikan untuk Om."
Akupun tertegun.
Rasanya kata-kata Om Rey menyiratkan makna lain. Apa maksudnya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Dia cinta sama kamu 🤭🤭🤭😆😆😆❤️❤️❤️
2023-08-27
1