Bab 10: Parfum

Hari-hari terus berlalu. Kini sudah sekitar sebulan sejak aku menjadi mahasiswa. Sudah sebulan juga aku tinggal di rumah Om Rey. Setiap hari aku berangkat dengan diantar oleh Om Rey. Pulang kerja aku juga selalu dijemputnya. Setiap hari aku merasa semakin dekat dan tidak sungkan kepada suami dari tanteku ini.

Aku merasa nyaman. Dia benar-benar seperti pengganti ayahku.

Sedangkan Tante Manda, jarang sekali pulang. Seingatku hanya dua kali ia pulang ke rumah itu selama dua bulan ini. Itupun hanya untuk membawa bajunya dan setelah itu langsung pergi. Tapi di dua kali Tante Manda pulang itu, Om Rey seperti sudah tidak peduli. Tante Manda yang datang ke rumah seperti tak dianggap olehnya.

Kadang aku tidak mengerti dengan orang dewasa. Bagaimana bisa mereka hidup dalam pernikahan yang seperti itu.

Sore itu seperti biasa Om Rey menjemputku dari tempat kerja. Aku masuk ke kursi penumpang dan menyapanya. "Hey Om ganteng." Ujarku seraya menggunakan seat belt. Iya, aku sudah tak sungkan lagi saat menyapanya dengan sebutan 'ganteng'. Itu sudah seperti kebiasaan bagiku.

"Hey, langsung berangkat?"

"Iya, Om. Langsung ke Mall ya!" Ujarku semangat. Mobil Om Rey langsung saja bergabung dengan mobil lainnya di jalanan.

"Yang mau traktir Om karena baru gajian. Semangat bener." Godanya.

Aku terkekeh. "Iya dong, semangat. Aku udah nunggu-nunggu tahu gak, Om. Pengen traktir Om makan."

"Kenapa?"

"Aku mau berterimakasih sama Om karena selama ini udah mau direpotin sama aku. Makasih banyak ya, Om." Ujarku tulus.

"Aneh banget kamu ngomong serius gitu, Dan."

"Ih, Om diajak ngomong serius malah gitu. Beneran tahu, Bunda juga berterimakasih banget sama Om karena walaupun Tante Manda jatohnya kayak nelantarin aku, tapi Om masih aja nampung aku di rumah Om. Kalau enggak aku harus nyari tempat kost buat tinggal selama aku di Jakarta. Belum lagi biaya buat makan. Gara-gara aku tinggal sama Om aku jadi gak perlu lagi mikirin makan sama tempat tinggal. Terus gaji aku bisa dipakai nabung sama jajan deh kalau di kampus." Terangku panjang lebar.

"Om justru yang berterimakasih karena kamu tinggal di rumah. Rumah jadi gak sepi. Om ada yang masakin. Setiap hari Om gak perlu pesen catering lagi. Kamu selalu bikinin Om sarapan, bekal makan siang, makan malam, belum lagi cemilan-cemilan yang enak-enak. Jelaslah Om ngebiarin kamu tinggal di rumah, Om jadi punya chef pribadi."

Kami terkekeh. "Kita jadi simbiosis mutualisme gitu ya, Om."

"Iya bener. Makanya kamu bilangin sama Mbak Diana, anaknya di tangan yang tepat. Om pasti jagain kamu dan nampung kamu sampai kamu lulus, atau seudah kamu kerja, atau sampai kapanpun, Dan. Om seneng banget kamu bisa ada di rumah."

Sontak aku melihat ke arah Om Rey. Selama sebulan ini sering kali ia mengatakan hal-hal seperti itu. Ia sering mengungkap rasa syukurnya karena aku yang kini berada di rumahnya.

"Seseneng itu Om ada aku di rumah Om?" Tanyaku tanpa sadar.

Om Rey menatapku sekilas. "Iyalah. Udah Om bilang, Om jadi punya chef pribadi gara-gara kamu."

"Chef pribadi yang gak dibayar." Candaku.

Sontak Om Rey terbahak. "Iya juga ya. Kalau gitu kamu mau dibayar berapa?"

"Di bayar sama... nonton film boleh kayaknya Om."

"Nonton? Yakin cuma mau nonton?"

"Iya. Sekarang lagi ada film baru yang pengen banget aku tonton, Om."

"Ya udah udah makan kita nonton. Gimana?"

"Serius? Om gak sibuk emangnya? Bukannya katanya lagi ada proyek ya?"

"Ya refreshing bentar gak apa-apa, dong. Lagian ini weekend."

"Ya udah, deh. Asyik banget kita mau nonton!" Ucapku sumringah.

Om Rey hanya tertawa seraya menggelengkan kepalanya. Ia sepertinya sudah terbiasa dengan sikapku yang kadang sedikit kekanakan, tidak sesuai dengan umurku.

Tak berapa lama kami sudah sampai di sebuah restoran Jepang. Kami menikmati beberapa hidangan khas Jepang. Aku tahu harganya lumayan mahal, tapi rasanya ini layak karena aku memang sangat ingin berterimakasih pada Om Rey. Dia begitu baik padaku.

Setelah makan aku segera menuju kasir untuk membayar. Namun tiba-tiba Om Rey menyerahkan kartu miliknya.

"Om! Aku 'kan yang mau traktir!" Protesku.

"Dibayar sama saya aja, Mbak." Ujar Om Rey pada kasirnya. "Gak apa-apa, Dan. Makanan disini lumayan. Gaji kamu mending kamu tabung aja atau kamu pakai bukan makan di kampus, traktir temen-temen kamu."

Kamipun keluar dari restoran itu. "Tapi Om, aku udah niat pengen traktir Om." Ujarku kecewa.

"Kamu udah niat traktir aja Om udah seneng banget. Makasih ya, anak baik." Om Rey mengusak rambutku.

Aku masih saja cemberut. Akhirnya aku menyerah. "Ya udah. Karena Om gak mau aku traktir, sekarang aku mau beliin Om sesuatu aja." Ku tarik tangan Om Rey dan mulai berjalan mencari sesuatu yang bisa aku berikan padanya.

Sampai kami tiba di sebuah toko parfum. Toko itu lumayan berkelas, milik sebuah brand ternama. Aku mulai mencoba beberapa wangi yang kira-kira cocok dengan kepribadian Om Rey.

Tak sengaja aku melihat Om Rey sedang mengobrol dengan seorang pegawai toko. Aku menghampirinya. "Om, kalau yang ini Om suka gak wanginya?" Ku serahkan kertas tester padanya.

"Kamu suka gak sama wanginya?" Om Rey malah bertanya balik padaku.

"Suka. Wanginya segar, kalem, tapi macho juga. Cocok sama Om." Ujarku.

"Ya udah kalau gitu, Om juga suka." Om Rey menyerahkan kertas tester itu pada pegawai toko itu. "Tolong yang ini."

"Jadinya ganti parfumnya, Pak?" Tanya pegawai itu. "Padahal udah sejak 6 tahun yang lalu Pak Rey gak pernah ganti."

Apa? 6 tahun?

"Cari suasana baru aja." Ujar Om Rey sekenanya.

Pegawai itu menatapku heran beberapa saat. "Baik kalau begitu saya bungkus dulu."

"Maksud pegawai tadi apa Om? Om udah langganan di toko ini sejak 6 tahun lalu?"

"Iya dari sebelum Om pindah ke Jepang."

Mencurigakan.

"Apa dulu Tante Manda yang milihin parfum itu buat Om?" Tebakku.

Sontak Om Rey menatapku. Ia terlihat menimang-nimang. "Iya. Manda suka banget sama wangi parfum Om yang suka Om pakai. Om gak pernah ganti jadinya. Tapi sekarang, Om pengen ganti."

"Tapi nanti Tante Manda gimana? Udah deh gak usah jadi Om. Aku jadi gak enak."

Aku tidak tahu bahwa perihal parfum ini ternyata ada cerita semacam itu. Secinta itu Om Rey pada Tante Manda hingga wangi parfum yang disukai Tante Manda saja tak pernah digantinya.

Om Rey menahan tanganku saat aku akan mengkonfirmasi pada pegawainya bahwa aku tidak jadi membelinya. "Om gak akan pakai parfum kesukaan Manda lagi. Mulai sekarang Om akan pakai parfum yang kamu belikan untuk Om."

Akupun tertegun.

Rasanya kata-kata Om Rey menyiratkan makna lain. Apa maksudnya?

Terpopuler

Comments

⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾

⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾

Dia cinta sama kamu 🤭🤭🤭😆😆😆❤️❤️❤️

2023-08-27

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Bertemu Om Rey
2 Bab 2: Makan Malam
3 Bab 3: Menuju Kampus
4 Bab 4: Berbelanja
5 Bab 5: Semakin Dekat
6 Bab 6: Amanda
7 Bab 7: Memeluk Om Rey
8 Bab 8: Benar-benar Dijemput
9 Bab 9: Kejadian Semalam
10 Bab 10: Parfum
11 Bab 11: Vito dan Tantenya
12 Bab 12: Rey dan Gadis Kecil
13 Bab 13: Malam Api Unggun
14 Bab 14: Terjerat Pesona Om Rey
15 Bab 15: Menghindar
16 Bab 16: Sepanik-paniknya
17 Bab 17: Rumah Tangga Hambar
18 Bab 18: Pernyataan Cinta
19 Bab 19: Kembali ke Semula itu Mustahil
20 Bab 20: Curahan Hati
21 Bab 21: Dimabuk Cinta
22 Bab 22: Agar Satu Sama
23 Bab 23: Terlalu Malu
24 Bab 24: Firasat Ibu
25 Bab 25: Maukah Kamu jadi Pacar Om?
26 Bab 26: Dibutakan Cinta
27 Bab 27: Tahap Selanjutnya
28 Bab 28: Gosip Satu Angkatan
29 Bab 29: For The Last Time
30 Bab 30: Pelakor itu Keponakanku
31 Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma
32 Bab 32: Aku Tidak Merebutnya
33 Bab 33: Seminggu Sebelum Menikah
34 Bab 34: Vito dan Rasanya
35 Bab 35: Menemui Calon Suami
36 Bab 36: Nasihat Bunda
37 Bab 37: Rencana
38 Bab 38: Mas Rey
39 Bab 39: Pengalaman Pertama
40 Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya
41 Bab 41: Menghilang
42 Bab 42: Dijebak
43 Bab 43: Tak Habis Pikir
44 Bab 44: Istri Kecil
45 Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan
46 Bab 46: Satu Bulan Menikah
47 Bab 47: Suamiku Selingkuh
48 Bab 48: Bingung
49 Bab 49: Rasa yang Aneh
50 Bab 50: Akhirnya Bertemu Tante Manda
51 Bab 51: Aku Memang Pelakor
52 Bab 52: Yang Terbaik
53 Bab 53: Mas Rey Pergi
54 Bab 54: Sangat Rindu
55 Bab 55: Vito itu Temanku
56 Bab 56: Kemana Takdir akan Berpihak?
57 Bab 57: Kabar
58 Bab 58: Tanteku, Maduku
59 Bab 59: Cinta Segi Empat
60 Bab 60: Tak Sanggup
61 Bab 61: Solusi
62 Bab 62: Rencana Mas Rey
63 Bab 63: Terkuak
64 Bab 64: Tertangkap Basah
65 Bab 65: Ditemani Fina dan Vito
66 Bab 66: Membuat Vito Mengerti
67 Bab 67: Menyerah
68 Bab 68: Kejutan
69 Bab 69: Dua Pria Bodoh
70 Bab 70: Bukan Teman Lagi
71 Bab 71: Menjebak Amanda
72 Bab 72: Permainan Selesai
73 Bab 73: Kehidupan yang Berbeda
74 Bab 74: Manda Sudah Sembuh
75 Bab 75: Gender Reveal
76 Bab 76: Kata Terakhir
77 Bab 77: Baby Revi
78 Bab 78: Rasa Canggung
79 Bab 79: Ibu Susu Baby Revi
80 Bab 80: Melahirkan
81 Bab 81: Mama, Papa, Ayah
82 Bab 82: Om Rey Tersayang (end)
83 Ekstra 1: Promosi Novel Baru
84 Ekstra 2: Visual Novel
85 Ekstra 3: Wanita Rahasia Daddy Zach
86 Ekstra 4: Pengorbanan Nayara
87 Ekstra 5: The Bad Boy and His Nanny
88 Ekstra 6: Marry Me, Dev
89 Ekstra 7: My Big Girl
90 Ekstra 8: Single Mom
91 Ekstra 9: Miss Rania, I Love You
92 Ekstra 10: Selingkuh Itu Indah
93 Ekstra 11: Mengejar Cinta Nabila
94 Ekstra 12: Jodohkah Kita?
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1: Bertemu Om Rey
2
Bab 2: Makan Malam
3
Bab 3: Menuju Kampus
4
Bab 4: Berbelanja
5
Bab 5: Semakin Dekat
6
Bab 6: Amanda
7
Bab 7: Memeluk Om Rey
8
Bab 8: Benar-benar Dijemput
9
Bab 9: Kejadian Semalam
10
Bab 10: Parfum
11
Bab 11: Vito dan Tantenya
12
Bab 12: Rey dan Gadis Kecil
13
Bab 13: Malam Api Unggun
14
Bab 14: Terjerat Pesona Om Rey
15
Bab 15: Menghindar
16
Bab 16: Sepanik-paniknya
17
Bab 17: Rumah Tangga Hambar
18
Bab 18: Pernyataan Cinta
19
Bab 19: Kembali ke Semula itu Mustahil
20
Bab 20: Curahan Hati
21
Bab 21: Dimabuk Cinta
22
Bab 22: Agar Satu Sama
23
Bab 23: Terlalu Malu
24
Bab 24: Firasat Ibu
25
Bab 25: Maukah Kamu jadi Pacar Om?
26
Bab 26: Dibutakan Cinta
27
Bab 27: Tahap Selanjutnya
28
Bab 28: Gosip Satu Angkatan
29
Bab 29: For The Last Time
30
Bab 30: Pelakor itu Keponakanku
31
Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma
32
Bab 32: Aku Tidak Merebutnya
33
Bab 33: Seminggu Sebelum Menikah
34
Bab 34: Vito dan Rasanya
35
Bab 35: Menemui Calon Suami
36
Bab 36: Nasihat Bunda
37
Bab 37: Rencana
38
Bab 38: Mas Rey
39
Bab 39: Pengalaman Pertama
40
Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya
41
Bab 41: Menghilang
42
Bab 42: Dijebak
43
Bab 43: Tak Habis Pikir
44
Bab 44: Istri Kecil
45
Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan
46
Bab 46: Satu Bulan Menikah
47
Bab 47: Suamiku Selingkuh
48
Bab 48: Bingung
49
Bab 49: Rasa yang Aneh
50
Bab 50: Akhirnya Bertemu Tante Manda
51
Bab 51: Aku Memang Pelakor
52
Bab 52: Yang Terbaik
53
Bab 53: Mas Rey Pergi
54
Bab 54: Sangat Rindu
55
Bab 55: Vito itu Temanku
56
Bab 56: Kemana Takdir akan Berpihak?
57
Bab 57: Kabar
58
Bab 58: Tanteku, Maduku
59
Bab 59: Cinta Segi Empat
60
Bab 60: Tak Sanggup
61
Bab 61: Solusi
62
Bab 62: Rencana Mas Rey
63
Bab 63: Terkuak
64
Bab 64: Tertangkap Basah
65
Bab 65: Ditemani Fina dan Vito
66
Bab 66: Membuat Vito Mengerti
67
Bab 67: Menyerah
68
Bab 68: Kejutan
69
Bab 69: Dua Pria Bodoh
70
Bab 70: Bukan Teman Lagi
71
Bab 71: Menjebak Amanda
72
Bab 72: Permainan Selesai
73
Bab 73: Kehidupan yang Berbeda
74
Bab 74: Manda Sudah Sembuh
75
Bab 75: Gender Reveal
76
Bab 76: Kata Terakhir
77
Bab 77: Baby Revi
78
Bab 78: Rasa Canggung
79
Bab 79: Ibu Susu Baby Revi
80
Bab 80: Melahirkan
81
Bab 81: Mama, Papa, Ayah
82
Bab 82: Om Rey Tersayang (end)
83
Ekstra 1: Promosi Novel Baru
84
Ekstra 2: Visual Novel
85
Ekstra 3: Wanita Rahasia Daddy Zach
86
Ekstra 4: Pengorbanan Nayara
87
Ekstra 5: The Bad Boy and His Nanny
88
Ekstra 6: Marry Me, Dev
89
Ekstra 7: My Big Girl
90
Ekstra 8: Single Mom
91
Ekstra 9: Miss Rania, I Love You
92
Ekstra 10: Selingkuh Itu Indah
93
Ekstra 11: Mengejar Cinta Nabila
94
Ekstra 12: Jodohkah Kita?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!