Bibirnya menjauh sehingga aku bisa melihat wajah tampannya terpantul cahaya api unggun. Kedua maniknya menatapku hangat.
"Om..." Sontak punggung tanganku ku letakkan di bibirku yang masih bisa merasakan hangat dan lembutnya bibir Om Rey.
Tangan Om Rey menarik tanganku dan seketika bibirnya kembali menciumku. Entah mengapa aku seperti terhipnotis. Hingga bibir Om Rey yang bermain di bibirku kusambut begitu saja.
Aku menyukainya. Aku menikmatinya. Ada rasa manis dari marshmallow yang baru saja kami makan, membuat ciuman itu semakin terasa 'manis'.
Katakan saja aku sudah gila. Tapi aku sangat menyukai saat Om Rey menciumku, hingga ciuman itu berlangsung cukup lama. Dalam dan intens. Bahkan aku membiarkan benda lembut di dalam mulutnya masuk ke dalam mulutku dan bermain disana.
Namun akal sehatku menegurku, menyelamatkanku dari jeratan yang tak seharusnya ini. 'Danisa, dia adalah suami dari Tante Manda! Tantemu sendiri!'
Mendapat peringatan keras itu, aku mendorong tubuh Om Rey, menyisakan deru nafas. Pundak Om Rey naik turun, kedua matanya seperti masih menginginkan lebih.
Tak bisa. Aku harus menyadarkannya. Hingga aku mengayunkan tanganku ke pipinya lumayan keras.
PLAK!
Seketika wajahnya tertoleh ke arah kanan.
Setelah itu kutinggalkan Om Rey dan berlari ke lantai dua, dan mengunci diriku di kamarku. Tak henti-hentinya aku melabrak diriku sendiri.
"Kamu udah gila, Danis! Kamu udah gila!" Labrakku. "Dia suami tante Manda!"
Sambil terus menjambak rambutku sendiri saking kesalnya, aku terus mencoba menghilangkan kilasan apa yang baru saja terjadi dari dalam kepalaku. Tapi bukannya hilang, semuanya malah terlintas dengan begitu jelasnya
Ku sentuh bibirku dan rasanya lembab sekali. Hati kecilku bahkan berbisik, aku menginginkannya lagi.
"Gila! Dasar mes^m!" Teriakku sambil menggeleng-gelengkan kepalaku.
Apa yang terjadi sebenarnya? Mengapa tiba-tiba saja Om Rey yang aku anggap seperti ayahku melakukan itu? Terlebih lagi, mengapa aku menyambutnya?!
Ku rasakan jantungku tak berhenti berdebar.
Malam terus larut. Hingga akhirnya subuh pun menjelang tanpa mataku terpejam sedikitpun. Bagaimana tidak, ini adalah kali kedua Om Rey menciumku.
Mengenai ciuman pertama waktu itu, aku tak menanyakannya dan juga tak mau membahasnya karena Om Rey juga seperti tak mengingatnya. Ia bersikap biasa saja, tak ada yang aneh. Hingga aku pun tak ingin memikirkannya lagi apalagi menanyakan maksudnya melakukan itu. Aku tak ingin membuat hubungan kami menjadi canggung.
Ku anggap saja saat itu Om Rey sedang mengingat dan merindukan Tante Manda hingga tanpa sadar ia menciumku di tengah tidurnya. Ia menganggapku sebagai Tante Manda saat itu hingga ia menciumku.
Tapi untuk kali ini, aku tak bisa seperti itu. Sudah jelas dan dengan sangat sadar aku mendengarnya mengatakan bahwa ia jatuh cinta padaku. Ia jatuh cinta pada keponakan istrinya sendiri!
Bagaimana aku bisa tidur setelah mengetahui kenyataan yang bak petir di siang hari bolong itu?
Ku lirik jam masih menunjukkan pukul 3.30 pagi. Namun ku bawa tubuhku ke arah dapur dan segera menyiapkan sarapan dan bekal makan siang untuk Om Rey. 30 menit kemudian semua selesai. Ku bawa diriku ke kamar mandi dan membersihkan diri. Pukul 5.00 ojek online yang aku pesan sudah berada di depan. Dengan segera aku menuruni tangga dan keluar dari rumah.
Saat selesai memakai helm, sebuah suara memanggilku.
"Dan, mau kemana?"
Aku menoleh dan melihat Om Rey dengan rambut yang berantakan dan masih menggunakan pakaian tidur berdiri di ambang pintu rumah. Segera aku menaiki ojek online. "Pak, ayo cepetan berangkat."
Om Rey berlari secepat yang ia bisa ke arahku. Namun kalah cepat, ojek online yang ku naiki segera meluncur pergi dari sana.
Aku pun bernafas lega.
Beberapa saat kemudian ojek online itu berhenti di depan sebuah tempat kost. Aku turun dan mengabarkan kepada sahabatku Fina bahwa aku sudah berada di bawah. Fina membukakan gerbang untukku dan mempersilahkanku masuk.
"Lo apa banget sih jam segini udah nongkrong di kost-an gue." Gerutu Fina. Ia menyimpan sekotak susu di depanku yang duduk lesehan di karpet kamar kostnya.
"Kamu kalau mau tidur lagi gak apa-apa kok. Aku ikut diem disini sampai nanti kita masuk kuliah."
"Jam segini gue emang suka udah bangun kali. Lo nyantei aja, Nis. Jadi ada apa? Ada masalah sama Om lo itu?"
Aku berdeham tanpa sadar, menghalau rasa gugup yang tiba-tiba menjalar.
"Bener 'kan apa kata gue."
"Bener apanya?" Aku pura-pura tidak mengerti.
"Belaga bego. Ada sesuatu 'kan sama Om lo itu? Kalau gak dia nembak lo, dia nyium lo."
Mataku terbelalak. Hampir saja aku memuntahkan susu yang sedang ku minum.
"Danis, Danis." Fina menggelengkan kepalanya. "Lo udah terjerat pesona om lo sendiri."
"Apaan sih kamu, Fin." Elakku.
"Ya aneh juga sih kalau lo sampai gak suka sama Om lo itu. Secara Om lo tajir, ganteng, macho banget lagi." Fina menggambarkan Om Rey dengan gaya yang berlebihan membuatku mengerutkan dahi. "Terus perhatian, tiap hari anter jemput lo. Sampai si Vito aja yang bucin gak punya celah buat deketin lo."
Baiklah aku sudah tertangkap basah. Teman baruku ini memang sangat peka dan pandai membaca situasi.
"Selama ini aku itu gak ada rasa kayak gitu sama Om Rey, Fin. Aku malah nganggep dia kayak almarhum ayah aku. Walaupun sempet ngerasa aneh sama sikapnya, aku gak mau overthinking. Tapi kemarin..."
Fina menatapku penuh arti dengan senyum curiga di bibirnya.
"Kemarin malem Om Rey beneran ngomong kalau dia...suka sama aku." Cicitku.
Langsung saja Fina tertawa puas mendengar penuturanku. Fina memang seperti itu. Dia orang yang cenderung spontan, cuek, dan ceplas-ceplos. Hingga pribadinya yang sedikit tomboy itu menjadi cocok denganku.
"Terus perasaan lo gimana?" Tanyanya setelah puas menertawakanku. Ia tertawa sampai air mata keluar dari matanya.
"Aku gak tahu. Apa aku pindah gitu ya dari rumah Om Rey. Kayaknya aku udah gak bisa tinggal lagi bareng dia kalau gini caranya."
"Bebas sih itu terserah lo. Gue gak mau ngasih saran."
Aku kembali meminum susu kotak itu sambil terus berpikir.
"Masalah Si Vito belum selesai, sekarang lo udah berurusan sama Om lo. Susah jadi orang cantik emang." Celetuk Fina.
"Apaan sih, Fin. Masalah sama Vito gimana emangnya? Aku 'kan gak ada hubungannya sama dia."
"Gak ada hubungan lo bilang? Hey bangun, Vito itu sekarang bertransformasi biar lo bisa ngelirik dia."
"Bertransformasi? Jadi apa? Avenger?" Tanyaku sekenanya. Aku sedang pusing memikirkan Om Rey, Fina malah menyinggung Vito.
"Lo itu beneran bego kali ya, Nis? Apa mata lo itu bolor? Lo gak lihat si Vito sekarang jadi fashionable? Baju-baju dia branded semua. Kalau dia ngelamar jadi model udah langsung keterima kali. Kalau dia jalan-jalan di Mall pakai style kayak dia sekarang, terus ada produser lewat, udah bakal ditawarin main sinetron kali dia. Belum lagi dia 'kan baru ganti motor. Motornya ninja, udah gak pake matic butut lagi dia."
Jujur aku baru mendengar soal itu. Aku memang tidak terlalu memperhatikannya.
"Terus hubungannya sama aku apa?" Tanyaku kesal.
"Dia berubah supaya lo merhatiin dia! Lo masih gak ngerti juga. Gemes banget gue." Ujar Fina tak sabar.
"Emang kamu denger sendiri dia bilang gitu?"
Fina berpikir sejenak. "Enggak sih. Cuma perkiraan gue aja." Fina malah cengengesan.
"Tuh 'kan! Kamu itu suka aneh-aneh aja. Siapa tahu dia emang pengen berubah. Dia 'kan anak kedokteran jadi mungkin pengen keliatan 'woah' gitu. Ya udahlah biarin. Hidup dia ini. Ngapain juga kita ngurusin." Dumelku.
"Masalahnya bukan itu, Danisa Citra Seruni."
"Terus apa masalahnya?"
"Dia itu anak beasiswa. Gue satu SMA sama dia, gue pernah sekelas sama dia. Dia itu warga kelas bawah. Tiba-tiba dia bisa berubah kayak gitu darimana uangnya? Cantik itu mahal. Ganteng juga sama mahalnya."
Benar juga. Darimana Vito mendapatkan uang untuk membeli motornya yang mahal? Setahuku Vito sama sepertiku sudah tak memiliki ayah, dia hanya memiliki ibu yang bekerja di sebuah tempat laundry, tapi mengapa ia bisa berubah dalam waktu sesingkat itu?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Vito ngepet jadi babi....mangkanya cepet kaya🤭🤭😁😁
2023-08-31
1