Bab 15: Menghindar

Jam menunjukkan pukul 6.00 sore. Itu artinya sudah satu jam sejak shiftku berakhir. Namun aku masih berada disini, di dapur kafe. Aku menawarkan diri untuk bekerja over shift pada Om Tanoe. Akhirnya ia membiarkanku mencuci piring dan gelas yang kotor, kebetulan karyawan yang seharusnya bekerja di shift selanjutnya izin datang terlambat karena suatu alasan.

Tanganku sibuk mencuci piring-piring itu, sementara pikiranku terus berkelana, memikirkan kemana lagi aku setelah ini. Aku harus pulang sekitar pukul 10 malam paling cepat. Pokoknya jangan sampai aku bertemu dengan Om Rey.

"Sekarang kamu boleh pulang, Nis." Om Tanoe menghampiriku.

"Masih banyak, Om. Biar aku beresin ya sampai semuanya bersih." Cegahku.

"Gak usah, itu udah kerjaan karyawan yang lain."

"Aku gak dibayar gak apa-apa, Om. Serius!"

"Gak bisa dong. Om gak profesional kalau gitu."

Tak ingin keras kepala, akhirnya aku pergi dari kafe dengan berat hati. Aku tidak tahu akan kemana. Karena perutku mulai keroncongan, aku pun berjalan ke arah tenda nasi goreng pinggir jalan tak jauh dari kafe tempatku bekerja. Ku pesan seporsi nasi goreng dan duduk di salah satu kursi di tenda itu.

Ku keluarkan ponselku dan tertegun. Ku pandangi layar ponsel yang berwarna hitam itu dengan bimbang, pasalnya sejak pergi ke kampus tadi pagi, aku belum menyalakan ponselku lagi.

Wangi nasi goreng yang sedang dimasak tercium menggugah selera, membuatku teringat sesuatu. "Om Rey udah makan belum ya?" Gumamku tanpa sadar. Harusnya aku sudah menyiapkan makan malam sejak satu jam yang lalu. Setelah itu biasanya kami akan menyantap makan malam bersama-sama.

Aku menghela nafas. Rasanya momen itu akan hilang sekarang. Tidak hanya makan malam, tapi semua hal yang biasanya kami lakukan bersama, kini tak akan bisa kami lakukan lagi.

Pernyataan Om Rey tadi malam yang mengubah semuanya. Tidak mungkin aku masih bersikap biasa setelah apa yang terjadi. Bagaimanapun juga perasaan Om Rey tak boleh semakin besar terhadapku. Dia harus sadar apa yang dirasakannya itu salah. Sangat salah. Dan aku harus segera menghentikan semuanya.

"Hey, ngapain lo disini sendirian?" Sebuah suara membuyarkan lamunanku.

"Vito?" Laki-laki itu duduk di sebelahku setelah memesan satu porsi nasi goreng.

Aku teringat dengan ucapan Fina hingga tanpa sadar ku perhatikan penampilannya. Memang sih, Vito terlihat berbeda. Dari ujung rambut hingga ujung kaki terlihat sangat fashionable dan menarik perhatian. Vito adalah salah satu mahasiswa yang langsung saja banyak mendapat perhatian karena wajah tampannya sejak masa orientasi. Sekarang dengan pakaian yang digunakan, aku yakin orang-orang akan semakin banyak yang membicarakan ketampanannya.

Namun satu hal yang cukup membuatku curiga dan bertanya-tanya, Fina sempat mengatakan bahwa Vito kini berteman dengan Stefan dan teman-temannya. Stefan adalah mahasiswa kedokteran tingkat tiga. Ada kabar miring mengenai dirinya dan teman-temannya yang sering aku dengar. Katanya, mereka sering kali menjadi simpanan tante-tante berduit yang kesepian.

Tapi benar atau tidaknya kabar itu, aku juga tidak tahu.

"Kenapa lo liatin gue kayak gitu?" Tanyanya heran, sambil tersenyum.

"Gak apa-apa." Ujarku datar.

Vito tersenyum penuh arti. Entah apa yang dipikirkannya.

Nasi goreng yang kami pesan pun datang. Segera kami menyantapnya.

"Lo ngapain ada disini, Nis? Mana Om lo? Gak jemput?"

"Kepo banget sih, kamu."

"Kepo dong. Biasanya lo bareng Om lo itu sampai gue gak bisa deketin lo sama sekali."

"Ya gak harus dong aku setiap saat bareng Om Rey." Ujarku sekenanya. "Kamu sendiri ngapain disini?"

"Tadinya gue mau ketemu sama Om Tanoe, tapi lihat lo masuk ke tenda ini ya udah gue ikutin. Kebetulan gue juga laper." Vito melahap nasi gorengnya di sampingku.

Selebihnya kami mengobrol tentang hal-hal biasa, perkuliahan, dan hal-hal random lainnya. Sampai akhirnya makanan kami habis dan aku memutuskan untuk pulang.

"Berapa Bang?" Tanyaku pada Abang penjugal nasi goreng itu.

"Biar gue aja yang bayar." Vito menyerahkan selembar seratus ribu.

"Apa sih kenapa kamu jadi traktir aku?" Dumelku

"Orang kalau ditraktir seneng deh perasaaan. Lo kok malah ngambek?" Vito menerima uang kembaliannya dan memasukkan ke dalam dompetnya.

Aku menghela nafas. "Ya udah tapi ikhlas 'kan? Jangan minta diganti loh."

Vito terkekeh seraya mengusak rambutku. "Lo itu gemesin banget sih."

Segera aku menangkis tangannya. "Jangan pegang-pegang ih!"

Ku buka ponselku dan mulai menyalakannya. Akhirnya aku harus menyalakan ponselku karena aku harus memesan ojek online untuk pulang. Saat HP baru saja menyala langsung saja muncul notifikasi panggilan tak terjawab dan chat dari berbagai grup, dan tentu saja dari Om Rey.

Seketika aku terenyuh karena chat dari Om Rey banyak sekali. Ku buka chat-chat darinya.

[Om Rey] : Dan, kamu kenapa pergi duluan?

[Om Rey] : Kamu marah sama Om?

[Om Rey] : Bales dong, Dan.

[Om Rey] : HP kamu kenapa masih gak aktif?

[Om Rey] : Danisa, Om minta maaf. Kalau kamu lagi kosong, ayo ketemu.

[Om Rey] : Kasih Om kesempatan buat jelasin ke kamu.

[Om Rey] : Kamu dimana sih sebenernya?

Dan masih banyak chat-chat lainnya. Seketika aku galau, apakah aku akan pulang atau tidak. Melihat dia begitu ingin mengetahui keberadaanku membuatku merasa tidak enak. Hal itu semakin membuktikan bahwa perasaannya terhadapku memang nyata.

Dalam sekejap Om yang selama ini aku anggap seperti ayahku, kini berubah. Aku bahkan tak tahu harus bagaimana bersikap di depannya sekarang.

Dan aku pun sangat yakin jantungku juga berdebar kencang saat bibir Om Rey bermain di bibirku. Apa aku juga mulai merasakan perasaan ini pada suami tanteku itu?

"Lo mau pulang? Udah gak usah pesen ojol, gue anterin aja."

Aku melihat ke layar ponselku. Jam 9 malam. Tidak sesuai dengan rencanaku, tapi aku juga tidak memiliki tujuan akan kemana setelah ini. Ya sudahlah aku pulang saja.

Kebetulan juga Vito menawarkan tumpangan gratis. "Ya udah." Ujarku cuek.

Wajah Vito sumringah. Ia pun berjalan ke pinggir tenda dan memberikanku sebuah helm yang disimpannya di sebuah motor ninja berwarna putih.

"Kamu ganti motor?" Tanyaku, sebenarnya tak ingin tahu tapi karena Fina aku jadi penasaran juga darimana Vito mendapatkan motor ini.

"Iya. Motor gue yang itu udah ngadat mulu. Dikit-dikit mogok. Jadi gue ganti." Vito yang sudah menggunakan helm fullfacenya menunggangi motornya dan menyalakan.

"Keren banget anak beasiswa bisa ganti sama ninja." Celetukku.

"Ini... gue dikasih sama Tante gue." Ada nada ragu dari cara bicaranya. "Ehm... Adiknya nyokap. Dia lumayan tajir, anaknya mau ganti motor. Jadi motor yang ini dia kasih ke gue."

Dikasih? Berarti harusnya motornya ini bekas. Tapi yang aku lihat motornya ini masih sangat baru. "Oh gitu..." Ucapku seraya naik ke jok belakang, tak ingin bertanya lebih jauh.

"Pegangan, Nis." Ucap Vito.

"Jangan nyari kesempatan, ya! Aku tahu maksud kamu itu apa."

"Galak bener sih, lo."

Vitopun mulai melajukan motornya sesuai instruksiku hingga setelah beberapa saat, motor Vito berhenti di depan rumah Om Rey.

"Wow, rumah Tante lo keren banget." Puji Vito.

"Iya dong, suaminya Tante aku yang bikin. Dia arsitek."

"Pantesan." Ujarnya.

"Ya udah, thanks ya." Aku berjalan menuju gerbang setelah menyerahkan helmku.

"Gue gak disuruh masuk dulu? Tawarin minum gitu?"

Sontak aku membalikkan badanku. "Udah malem ini. Kamu pulang, Vit."

Vito tak membantahku. Ia melambai sekilas dan kemudian pergi dari rumah Om Rey. Setelah itu aku mulai membuka pintu gerbang.

Tiba-tiba saja hujan turun.

"Kok tiba-tiba hujan?" Segera ku percepat membuka pintu gerbang itu dan berlari menuju rumah.

Saat ku buka pintu, rumah sangat sepi. Sepertinya Om Rey pergi. Dan ketika aku melihat ke arah garasi, mobilnya memang tidak ada.

Diam-diam aku bernafas lega karena aku tak perlu bertemu dengannya. Segera aku kembali ke kamar, mandi dan memutuskan untuk segera tidur.

Suara hujan di luar membuatku mengantuk lebih cepat, hingga tanpa sadar aku menutup mataku. Namun, aku terbangun sekitar satu jam kemudian karena tenggorokanku terasa sangat kering.

Dengan malas aku berjalan keluar kamar untuk mengambil air di dapur. Saat menuruni tangga sebuah suara mengejutkanku.

"Darimana aja kamu?!" Teriaknya.

Sontak aku melihat Om Rey yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Kedua matanya menatapku tak percaya. Dan saat kuperhatikan, rambut dan semua pakaiannya basah kuyup.

Apa yang sudah dilakukannya?

Terpopuler

Comments

Nita Beni Bening

Nita Beni Bening

ku tunggu kelanjutannya kak🙏😊

2023-09-02

1

Rodiah Rodiah

Rodiah Rodiah

lanjuuuuut thooor

2023-09-02

1

⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾

⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾

Ya jelas nyariin kamu dong 🤭🤭
Masak om Rey udah tua masih main hujan hujanan😜😜

2023-09-02

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Bertemu Om Rey
2 Bab 2: Makan Malam
3 Bab 3: Menuju Kampus
4 Bab 4: Berbelanja
5 Bab 5: Semakin Dekat
6 Bab 6: Amanda
7 Bab 7: Memeluk Om Rey
8 Bab 8: Benar-benar Dijemput
9 Bab 9: Kejadian Semalam
10 Bab 10: Parfum
11 Bab 11: Vito dan Tantenya
12 Bab 12: Rey dan Gadis Kecil
13 Bab 13: Malam Api Unggun
14 Bab 14: Terjerat Pesona Om Rey
15 Bab 15: Menghindar
16 Bab 16: Sepanik-paniknya
17 Bab 17: Rumah Tangga Hambar
18 Bab 18: Pernyataan Cinta
19 Bab 19: Kembali ke Semula itu Mustahil
20 Bab 20: Curahan Hati
21 Bab 21: Dimabuk Cinta
22 Bab 22: Agar Satu Sama
23 Bab 23: Terlalu Malu
24 Bab 24: Firasat Ibu
25 Bab 25: Maukah Kamu jadi Pacar Om?
26 Bab 26: Dibutakan Cinta
27 Bab 27: Tahap Selanjutnya
28 Bab 28: Gosip Satu Angkatan
29 Bab 29: For The Last Time
30 Bab 30: Pelakor itu Keponakanku
31 Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma
32 Bab 32: Aku Tidak Merebutnya
33 Bab 33: Seminggu Sebelum Menikah
34 Bab 34: Vito dan Rasanya
35 Bab 35: Menemui Calon Suami
36 Bab 36: Nasihat Bunda
37 Bab 37: Rencana
38 Bab 38: Mas Rey
39 Bab 39: Pengalaman Pertama
40 Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya
41 Bab 41: Menghilang
42 Bab 42: Dijebak
43 Bab 43: Tak Habis Pikir
44 Bab 44: Istri Kecil
45 Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan
46 Bab 46: Satu Bulan Menikah
47 Bab 47: Suamiku Selingkuh
48 Bab 48: Bingung
49 Bab 49: Rasa yang Aneh
50 Bab 50: Akhirnya Bertemu Tante Manda
51 Bab 51: Aku Memang Pelakor
52 Bab 52: Yang Terbaik
53 Bab 53: Mas Rey Pergi
54 Bab 54: Sangat Rindu
55 Bab 55: Vito itu Temanku
56 Bab 56: Kemana Takdir akan Berpihak?
57 Bab 57: Kabar
58 Bab 58: Tanteku, Maduku
59 Bab 59: Cinta Segi Empat
60 Bab 60: Tak Sanggup
61 Bab 61: Solusi
62 Bab 62: Rencana Mas Rey
63 Bab 63: Terkuak
64 Bab 64: Tertangkap Basah
65 Bab 65: Ditemani Fina dan Vito
66 Bab 66: Membuat Vito Mengerti
67 Bab 67: Menyerah
68 Bab 68: Kejutan
69 Bab 69: Dua Pria Bodoh
70 Bab 70: Bukan Teman Lagi
71 Bab 71: Menjebak Amanda
72 Bab 72: Permainan Selesai
73 Bab 73: Kehidupan yang Berbeda
74 Bab 74: Manda Sudah Sembuh
75 Bab 75: Gender Reveal
76 Bab 76: Kata Terakhir
77 Bab 77: Baby Revi
78 Bab 78: Rasa Canggung
79 Bab 79: Ibu Susu Baby Revi
80 Bab 80: Melahirkan
81 Bab 81: Mama, Papa, Ayah
82 Bab 82: Om Rey Tersayang (end)
83 Ekstra 1: Promosi Novel Baru
84 Ekstra 2: Visual Novel
85 Ekstra 3: Wanita Rahasia Daddy Zach
86 Ekstra 4: Pengorbanan Nayara
87 Ekstra 5: The Bad Boy and His Nanny
88 Ekstra 6: Marry Me, Dev
89 Ekstra 7: My Big Girl
90 Ekstra 8: Single Mom
91 Ekstra 9: Miss Rania, I Love You
92 Ekstra 10: Selingkuh Itu Indah
93 Ekstra 11: Mengejar Cinta Nabila
94 Ekstra 12: Jodohkah Kita?
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1: Bertemu Om Rey
2
Bab 2: Makan Malam
3
Bab 3: Menuju Kampus
4
Bab 4: Berbelanja
5
Bab 5: Semakin Dekat
6
Bab 6: Amanda
7
Bab 7: Memeluk Om Rey
8
Bab 8: Benar-benar Dijemput
9
Bab 9: Kejadian Semalam
10
Bab 10: Parfum
11
Bab 11: Vito dan Tantenya
12
Bab 12: Rey dan Gadis Kecil
13
Bab 13: Malam Api Unggun
14
Bab 14: Terjerat Pesona Om Rey
15
Bab 15: Menghindar
16
Bab 16: Sepanik-paniknya
17
Bab 17: Rumah Tangga Hambar
18
Bab 18: Pernyataan Cinta
19
Bab 19: Kembali ke Semula itu Mustahil
20
Bab 20: Curahan Hati
21
Bab 21: Dimabuk Cinta
22
Bab 22: Agar Satu Sama
23
Bab 23: Terlalu Malu
24
Bab 24: Firasat Ibu
25
Bab 25: Maukah Kamu jadi Pacar Om?
26
Bab 26: Dibutakan Cinta
27
Bab 27: Tahap Selanjutnya
28
Bab 28: Gosip Satu Angkatan
29
Bab 29: For The Last Time
30
Bab 30: Pelakor itu Keponakanku
31
Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma
32
Bab 32: Aku Tidak Merebutnya
33
Bab 33: Seminggu Sebelum Menikah
34
Bab 34: Vito dan Rasanya
35
Bab 35: Menemui Calon Suami
36
Bab 36: Nasihat Bunda
37
Bab 37: Rencana
38
Bab 38: Mas Rey
39
Bab 39: Pengalaman Pertama
40
Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya
41
Bab 41: Menghilang
42
Bab 42: Dijebak
43
Bab 43: Tak Habis Pikir
44
Bab 44: Istri Kecil
45
Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan
46
Bab 46: Satu Bulan Menikah
47
Bab 47: Suamiku Selingkuh
48
Bab 48: Bingung
49
Bab 49: Rasa yang Aneh
50
Bab 50: Akhirnya Bertemu Tante Manda
51
Bab 51: Aku Memang Pelakor
52
Bab 52: Yang Terbaik
53
Bab 53: Mas Rey Pergi
54
Bab 54: Sangat Rindu
55
Bab 55: Vito itu Temanku
56
Bab 56: Kemana Takdir akan Berpihak?
57
Bab 57: Kabar
58
Bab 58: Tanteku, Maduku
59
Bab 59: Cinta Segi Empat
60
Bab 60: Tak Sanggup
61
Bab 61: Solusi
62
Bab 62: Rencana Mas Rey
63
Bab 63: Terkuak
64
Bab 64: Tertangkap Basah
65
Bab 65: Ditemani Fina dan Vito
66
Bab 66: Membuat Vito Mengerti
67
Bab 67: Menyerah
68
Bab 68: Kejutan
69
Bab 69: Dua Pria Bodoh
70
Bab 70: Bukan Teman Lagi
71
Bab 71: Menjebak Amanda
72
Bab 72: Permainan Selesai
73
Bab 73: Kehidupan yang Berbeda
74
Bab 74: Manda Sudah Sembuh
75
Bab 75: Gender Reveal
76
Bab 76: Kata Terakhir
77
Bab 77: Baby Revi
78
Bab 78: Rasa Canggung
79
Bab 79: Ibu Susu Baby Revi
80
Bab 80: Melahirkan
81
Bab 81: Mama, Papa, Ayah
82
Bab 82: Om Rey Tersayang (end)
83
Ekstra 1: Promosi Novel Baru
84
Ekstra 2: Visual Novel
85
Ekstra 3: Wanita Rahasia Daddy Zach
86
Ekstra 4: Pengorbanan Nayara
87
Ekstra 5: The Bad Boy and His Nanny
88
Ekstra 6: Marry Me, Dev
89
Ekstra 7: My Big Girl
90
Ekstra 8: Single Mom
91
Ekstra 9: Miss Rania, I Love You
92
Ekstra 10: Selingkuh Itu Indah
93
Ekstra 11: Mengejar Cinta Nabila
94
Ekstra 12: Jodohkah Kita?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!