Jam menunjukkan pukul 6.00 sore. Itu artinya sudah satu jam sejak shiftku berakhir. Namun aku masih berada disini, di dapur kafe. Aku menawarkan diri untuk bekerja over shift pada Om Tanoe. Akhirnya ia membiarkanku mencuci piring dan gelas yang kotor, kebetulan karyawan yang seharusnya bekerja di shift selanjutnya izin datang terlambat karena suatu alasan.
Tanganku sibuk mencuci piring-piring itu, sementara pikiranku terus berkelana, memikirkan kemana lagi aku setelah ini. Aku harus pulang sekitar pukul 10 malam paling cepat. Pokoknya jangan sampai aku bertemu dengan Om Rey.
"Sekarang kamu boleh pulang, Nis." Om Tanoe menghampiriku.
"Masih banyak, Om. Biar aku beresin ya sampai semuanya bersih." Cegahku.
"Gak usah, itu udah kerjaan karyawan yang lain."
"Aku gak dibayar gak apa-apa, Om. Serius!"
"Gak bisa dong. Om gak profesional kalau gitu."
Tak ingin keras kepala, akhirnya aku pergi dari kafe dengan berat hati. Aku tidak tahu akan kemana. Karena perutku mulai keroncongan, aku pun berjalan ke arah tenda nasi goreng pinggir jalan tak jauh dari kafe tempatku bekerja. Ku pesan seporsi nasi goreng dan duduk di salah satu kursi di tenda itu.
Ku keluarkan ponselku dan tertegun. Ku pandangi layar ponsel yang berwarna hitam itu dengan bimbang, pasalnya sejak pergi ke kampus tadi pagi, aku belum menyalakan ponselku lagi.
Wangi nasi goreng yang sedang dimasak tercium menggugah selera, membuatku teringat sesuatu. "Om Rey udah makan belum ya?" Gumamku tanpa sadar. Harusnya aku sudah menyiapkan makan malam sejak satu jam yang lalu. Setelah itu biasanya kami akan menyantap makan malam bersama-sama.
Aku menghela nafas. Rasanya momen itu akan hilang sekarang. Tidak hanya makan malam, tapi semua hal yang biasanya kami lakukan bersama, kini tak akan bisa kami lakukan lagi.
Pernyataan Om Rey tadi malam yang mengubah semuanya. Tidak mungkin aku masih bersikap biasa setelah apa yang terjadi. Bagaimanapun juga perasaan Om Rey tak boleh semakin besar terhadapku. Dia harus sadar apa yang dirasakannya itu salah. Sangat salah. Dan aku harus segera menghentikan semuanya.
"Hey, ngapain lo disini sendirian?" Sebuah suara membuyarkan lamunanku.
"Vito?" Laki-laki itu duduk di sebelahku setelah memesan satu porsi nasi goreng.
Aku teringat dengan ucapan Fina hingga tanpa sadar ku perhatikan penampilannya. Memang sih, Vito terlihat berbeda. Dari ujung rambut hingga ujung kaki terlihat sangat fashionable dan menarik perhatian. Vito adalah salah satu mahasiswa yang langsung saja banyak mendapat perhatian karena wajah tampannya sejak masa orientasi. Sekarang dengan pakaian yang digunakan, aku yakin orang-orang akan semakin banyak yang membicarakan ketampanannya.
Namun satu hal yang cukup membuatku curiga dan bertanya-tanya, Fina sempat mengatakan bahwa Vito kini berteman dengan Stefan dan teman-temannya. Stefan adalah mahasiswa kedokteran tingkat tiga. Ada kabar miring mengenai dirinya dan teman-temannya yang sering aku dengar. Katanya, mereka sering kali menjadi simpanan tante-tante berduit yang kesepian.
Tapi benar atau tidaknya kabar itu, aku juga tidak tahu.
"Kenapa lo liatin gue kayak gitu?" Tanyanya heran, sambil tersenyum.
"Gak apa-apa." Ujarku datar.
Vito tersenyum penuh arti. Entah apa yang dipikirkannya.
Nasi goreng yang kami pesan pun datang. Segera kami menyantapnya.
"Lo ngapain ada disini, Nis? Mana Om lo? Gak jemput?"
"Kepo banget sih, kamu."
"Kepo dong. Biasanya lo bareng Om lo itu sampai gue gak bisa deketin lo sama sekali."
"Ya gak harus dong aku setiap saat bareng Om Rey." Ujarku sekenanya. "Kamu sendiri ngapain disini?"
"Tadinya gue mau ketemu sama Om Tanoe, tapi lihat lo masuk ke tenda ini ya udah gue ikutin. Kebetulan gue juga laper." Vito melahap nasi gorengnya di sampingku.
Selebihnya kami mengobrol tentang hal-hal biasa, perkuliahan, dan hal-hal random lainnya. Sampai akhirnya makanan kami habis dan aku memutuskan untuk pulang.
"Berapa Bang?" Tanyaku pada Abang penjugal nasi goreng itu.
"Biar gue aja yang bayar." Vito menyerahkan selembar seratus ribu.
"Apa sih kenapa kamu jadi traktir aku?" Dumelku
"Orang kalau ditraktir seneng deh perasaaan. Lo kok malah ngambek?" Vito menerima uang kembaliannya dan memasukkan ke dalam dompetnya.
Aku menghela nafas. "Ya udah tapi ikhlas 'kan? Jangan minta diganti loh."
Vito terkekeh seraya mengusak rambutku. "Lo itu gemesin banget sih."
Segera aku menangkis tangannya. "Jangan pegang-pegang ih!"
Ku buka ponselku dan mulai menyalakannya. Akhirnya aku harus menyalakan ponselku karena aku harus memesan ojek online untuk pulang. Saat HP baru saja menyala langsung saja muncul notifikasi panggilan tak terjawab dan chat dari berbagai grup, dan tentu saja dari Om Rey.
Seketika aku terenyuh karena chat dari Om Rey banyak sekali. Ku buka chat-chat darinya.
[Om Rey] : Dan, kamu kenapa pergi duluan?
[Om Rey] : Kamu marah sama Om?
[Om Rey] : Bales dong, Dan.
[Om Rey] : HP kamu kenapa masih gak aktif?
[Om Rey] : Danisa, Om minta maaf. Kalau kamu lagi kosong, ayo ketemu.
[Om Rey] : Kasih Om kesempatan buat jelasin ke kamu.
[Om Rey] : Kamu dimana sih sebenernya?
Dan masih banyak chat-chat lainnya. Seketika aku galau, apakah aku akan pulang atau tidak. Melihat dia begitu ingin mengetahui keberadaanku membuatku merasa tidak enak. Hal itu semakin membuktikan bahwa perasaannya terhadapku memang nyata.
Dalam sekejap Om yang selama ini aku anggap seperti ayahku, kini berubah. Aku bahkan tak tahu harus bagaimana bersikap di depannya sekarang.
Dan aku pun sangat yakin jantungku juga berdebar kencang saat bibir Om Rey bermain di bibirku. Apa aku juga mulai merasakan perasaan ini pada suami tanteku itu?
"Lo mau pulang? Udah gak usah pesen ojol, gue anterin aja."
Aku melihat ke layar ponselku. Jam 9 malam. Tidak sesuai dengan rencanaku, tapi aku juga tidak memiliki tujuan akan kemana setelah ini. Ya sudahlah aku pulang saja.
Kebetulan juga Vito menawarkan tumpangan gratis. "Ya udah." Ujarku cuek.
Wajah Vito sumringah. Ia pun berjalan ke pinggir tenda dan memberikanku sebuah helm yang disimpannya di sebuah motor ninja berwarna putih.
"Kamu ganti motor?" Tanyaku, sebenarnya tak ingin tahu tapi karena Fina aku jadi penasaran juga darimana Vito mendapatkan motor ini.
"Iya. Motor gue yang itu udah ngadat mulu. Dikit-dikit mogok. Jadi gue ganti." Vito yang sudah menggunakan helm fullfacenya menunggangi motornya dan menyalakan.
"Keren banget anak beasiswa bisa ganti sama ninja." Celetukku.
"Ini... gue dikasih sama Tante gue." Ada nada ragu dari cara bicaranya. "Ehm... Adiknya nyokap. Dia lumayan tajir, anaknya mau ganti motor. Jadi motor yang ini dia kasih ke gue."
Dikasih? Berarti harusnya motornya ini bekas. Tapi yang aku lihat motornya ini masih sangat baru. "Oh gitu..." Ucapku seraya naik ke jok belakang, tak ingin bertanya lebih jauh.
"Pegangan, Nis." Ucap Vito.
"Jangan nyari kesempatan, ya! Aku tahu maksud kamu itu apa."
"Galak bener sih, lo."
Vitopun mulai melajukan motornya sesuai instruksiku hingga setelah beberapa saat, motor Vito berhenti di depan rumah Om Rey.
"Wow, rumah Tante lo keren banget." Puji Vito.
"Iya dong, suaminya Tante aku yang bikin. Dia arsitek."
"Pantesan." Ujarnya.
"Ya udah, thanks ya." Aku berjalan menuju gerbang setelah menyerahkan helmku.
"Gue gak disuruh masuk dulu? Tawarin minum gitu?"
Sontak aku membalikkan badanku. "Udah malem ini. Kamu pulang, Vit."
Vito tak membantahku. Ia melambai sekilas dan kemudian pergi dari rumah Om Rey. Setelah itu aku mulai membuka pintu gerbang.
Tiba-tiba saja hujan turun.
"Kok tiba-tiba hujan?" Segera ku percepat membuka pintu gerbang itu dan berlari menuju rumah.
Saat ku buka pintu, rumah sangat sepi. Sepertinya Om Rey pergi. Dan ketika aku melihat ke arah garasi, mobilnya memang tidak ada.
Diam-diam aku bernafas lega karena aku tak perlu bertemu dengannya. Segera aku kembali ke kamar, mandi dan memutuskan untuk segera tidur.
Suara hujan di luar membuatku mengantuk lebih cepat, hingga tanpa sadar aku menutup mataku. Namun, aku terbangun sekitar satu jam kemudian karena tenggorokanku terasa sangat kering.
Dengan malas aku berjalan keluar kamar untuk mengambil air di dapur. Saat menuruni tangga sebuah suara mengejutkanku.
"Darimana aja kamu?!" Teriaknya.
Sontak aku melihat Om Rey yang sedang duduk di sofa ruang tamu. Kedua matanya menatapku tak percaya. Dan saat kuperhatikan, rambut dan semua pakaiannya basah kuyup.
Apa yang sudah dilakukannya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Nita Beni Bening
ku tunggu kelanjutannya kak🙏😊
2023-09-02
1
Rodiah Rodiah
lanjuuuuut thooor
2023-09-02
1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Ya jelas nyariin kamu dong 🤭🤭
Masak om Rey udah tua masih main hujan hujanan😜😜
2023-09-02
1