Amanda's Point of View
Amanda menjatuhkan tubuh polosnya yang penuh peluh ke tempat tidur. Nafasnya tersengal, tubuhnya lemas luar biasa.
"Kok udah lagi sih, Tan?" Tanya seorang pria kurus di sampingnya yang adalah...
"Tante abis lembur, Vito. Belum lagi Tante baru pulang dari Lombok. Terus Tante emang udah on dari tadi, jadi cepet deh keluarnya." Ujar Manda dengan nafas yang sudah mulai teratur.
"Kasihan banget Tanteku ini kerja terus buat beliin aku motor baru." Ujar Vito seraya mengecup bibir ranum Amanda yang terbaring di sampingnya beberapa kali.
"Geer banget sih kamu. Siapa juga yang kerja buat kamu?!" Dumel Amanda.
"Tante kenapa kok emosi gitu sih? Gak asyik." Vito beranjak dari tempat tidur. Ia berjalan meraih pakaiannya yang berserakan di lantai kamar hotel itu dan mulai menggunakannya.
"Kamu mau kemana?" Amanda bangkit dari posisi berbaringnya.
"Pulang." Ujarnya singkat seraya memakai celananya.
"Ih kamu kok marah sih, gitu doang. Tante cuma lagi kesel. Tapi bukan kesel sama kamu. Tante lagi kesel sama suami tante. Selama sebulan ini dia gak ada chat sama sekali. Pas Tante pulang juga dia gak ngajak Tante berantem atau nahan Tante buat gak pergi kayak biasanya. Ngeselin banget. Dia kok berubah sih." Amanda tak bisa berhenti menggerutu.
"Bukannya Tante udah pengen cerai sama suami Tante? Ya bagus 'kan kalau gitu." Timpal Vito dengan cueknya.
"Iya, sih tapi gak suka aja. Aneh aja dia secuek itu. Hubungan Tante sama dia emang udah hambar banget, tapi dia masih suka kadang nanyain kabar tante kalau lagi gak ketemu. Apa jangan-jangan dia ada cewek lain ya?" Gumamnya.
"Kalau Tante cuma mau ngedumel kayak gini ngapain manggil aku? Curhat aja sama temen Tante. Jangan sama aku."
"Kamu kok bete gitu, sih." Amanda meraih kemeja flanel milik Vito yang baru saja akan dipakai Vito dan memakainya untuk menutupi tubuh polosnya.
"Balikin, Tan. Aku mau pulang." Ujar Vito kesal.
Amanda mengalungkan tangannya di sekeliling leher Vito. "Kamu kenapa sih, Sayang. Tante gak suka kamu ketus gitu sama Tante. Apa beli motornya gak usah jadi aja?"
Vito seketika luluh dengan nada bicara Amanda yang dibuat manja, dan juga kata-kata Amanda yang menyinggung mengenai motor yang memang sudah dijanjikan oleh Amanda.
Disentuhnya pinggang ramping Amanda dan mengelusnya pelan. "Aku pengennya kalau kita lagi bareng ya udah gak usah ngomongin yang lain. Gak usah curhat-curhat. Ngomongin tentang kita aja, Tan." Goda Vito.
"Emang kenapa sih kalau Tante cerita tentang suami Tante? Apa jangan-jangan kamu cemburu ya Tante ngomongin suami Tante terus?"
Vito berdecak kesal. Dilepaskannya tangan Amanda yg melingkar di lehernya.
"Tante, jangan lupa hubungan apa yang kita punya. Aku gak pernah ngelibatin perasaan saat berhubungan sama Tante. Tante sendiri tahu aku punya cewek yang aku suka."
Mendengar penuturan Vito, Amanda terbahak.
"Kamu suka sama cewek, tapi kamu kayak gini di belakang dia. Tante jadi penasaran kalau dia tahu bakal kayak gimana."
"Udah deh, tadi 'kan aku udah bilang. Kalau kita lagi bareng gak usah ngomongin yang lain. Sekarang balikin baju aku! Mending aku pulang aja." Ujar Vito kesal dan meraih kemeja flanelnya yang masih membungkus tubuh polos Amanda.
Kedua tangan Amanda menahan tangan Vito yang akan melepas kemejanya. "Kamu itu berani banget ya sama Tante. Baru kali ini Tante dapet berondong yang beranian kayak kamu." Amanda menatap Vito dengan nakalnya. Tatapannya menyapu wajah manis Vito yang memiliki mata sipit dan wajah yang tirus, ia sudah dikuasai rasa itu lagi. "Untung kamu ganteng."
Amanda kembali mencium Vito dengan beringasnya, disambutnya bibir Amanda dengan imbang oleh Vito hingga kegiatan panas itu berlanjut. Merekapun melakukannya lagi hingga keduanya kelelahan dan tertidur.
***
Sebuah motor sport berwarna putih memasuki area parkir. Segerombol mahasiswa menatapnya terkaget-kaget, pasalnya mereka seperti mengenal orang yang mengendarai motor besar itu. Namun mereka tak terlalu yakin.
Hingga laki-laki yang mengendarai motor itu membuka helm fullfacenya. Gerombolan mahasiswa itu tak henti-hentinya berkomentar tak percaya, ternyata orang yang mereka sangka ternyata betul adalah salah satu dari teman mereka.
"Wah parah, Vit. Sebulan aja lo udah dapet motor. Mantap!" Ujar seorang dari mahasiswa itu saat Vito sudah menghampiri mereka.
"Jangan terlalu hebohlah. Gak enak entar ada yang denger." Ucap seorang lainnya dengan rambut coklat yang bernama Stefan, memperingatkan teman-temannya.
"Bilang aja lo sirik. Si Vito baru dapet satu tante langsung royal gitu sama dia."
"Kalah pamor nih si Stefan."
"Mana tantenya si Vito cantik dan masih muda lagi. Hoki banget emang lo, Vit!"
Vito hanya menanggapinya dengan senyum bangga. Obrolan mereka semakin tak karuan. Obrolan 'kotor' dimana mereka saling menceritakan pengalaman mereka bersama dengan 'tante' mereka masing-masing.
Setelah beberapa saat mereka kembali ke fakultasnya masing-masing. Vito dan Stefan yang berada di jurusan yang sama, berjalan menuju gedung fakultas kedokteran.
"Gimana seru 'kan part-time yang gue rekomendasiin sama lo. Jangan lupa persenannya, Bro." Ujar Stefan.
"Gak tahu gue. Emang sih gue dapetin motor, uang jajan yang lumayan tiap gue nemenin dia, tapi gak tahu kenapa gue malah ngerasa bersalah, Bang."
"Wajar. Itu karena lo belum kebiasa. Tapi lo bawa have fun aja. Lama-lama juga lo malah bakal enjoy dan ketagihan."
Vito terdiam. Selalu ada rasa sesal tatkala mengingat hubungan yang sudah ia lakukan dengan Amanda.
"Udah lo gak usah baper gitu. Yang penting sekarang lo dapetin motor yang lo pengenin itu. Lo 'kan pengen si Danis ngelirik lo. Lihat aja penampilan lo sekarang. Udah gak kucel lagi. Kaos lo branded, motor lo moge. Dijamin si Danis bakal mulai tertarik sama lo."
Lagi-lagi Vito terbuai dengan tipu daya Stefan yang telah membawanya mengenal dunia itu. Demi mendapat perhatian Danisa, ia ingin terus membuat dirinya lebih dari laki-laki lain. Terlihat keren, mempesona, dan menarik perhatian.
Terbukti, sejak kedatangannya dengan motor besarnya, perhatian kaum hawa langsung tertuju padanya. Label Cowok most wanted fakultas kedokteran semakin melekat pada diri Vito.
Namun bagi seorang Vito hanya satu perempuan yang ia inginkan untuk melihat transformasi dari dirinya itu, yaitu Danisa.
Tapi sepertinya Vito masih harus kecewa karena Danisa masih saja mengabaikannya. Setelah makan malam waktu itu untuk sekedar makan siang di kampusnya saja Danisa kerap kali menolak. Chat Vito juga tak pernah dibalasnya. Maka dari itu ia bertekad untuk membuat Danisa meliriknya.
Siang itu ia kembali menghampiri fakultas keperawatan, di depan gedung ia melihat Danisa berjalan terburu menuju gerbang kampus. Segera Vito mengejarnya. "NIS!" Teriaknya. Tapi karena jarak yang lumayan jauh Danisa terus berlari kecil.
Vito berniat untuk mengejarnya. Namun langkahnya terhenti karena tas di punggungnya ditarik oleh seseorang.
"Mau kemana lo?"
Vito menoleh dan melihat Fina, teman satu SMAnya yang sekarang menjadi teman sejurusannya Danisa.
"Apaan sih lo, gue mau ngejar si Danis!"
"Gue pengen nanya sama lo. Kenapa lo sekarang jadi sering gaul sama gengnya Stefan?"
Vito menatap Fina tak suka. "Lo gak usah kepo."
Kemudian ia berlari menuju gerbang. Dilihatnya Danisa berdiri tepat di gerbang kampus. Namun kemudian datang sebuah mobil menghampirinya, dan Danisa masuk ke dalam mobil itu. Tak lama mobil itu pergi.
"Sial! Ngapain sih si Danis sama Omnya terus?!"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
R_3DHE 💪('ω'💪)
whattttttt😳😳😳
2023-10-15
1
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Aduh....Vito .....gigolo🤭🤭🙈🙈
2023-08-28
1