"Rey!"
Sebuah suara terdengar dari arah depan ketika kami hampir sampai di depan rumah Om Rey. Aku melihat Tante Manda keluar dari dalam mobilnya yang terparkir di depan rumah.
Seketika aku sedikit meronta, hingga akhirnya Om Rey menurunkanku dari punggungnya.
"Tante Manda?" Ucapku sumringah. Akhirnya aku bertemu dengannya. Dengan terpincang aku berjalan ke arahnya. "Tante kok baru nongol sekarang sih?"
"Iya, Tante sibuk, Nis." Ucap Tante Manda seraya memelukku. "Kaki kamu kenapa?"
"Jatoh barusan waktu jogging. Jadi Om Rey gendong aku deh." Terangku.
"Kamu ada-ada aja sih. Ya udah cepet obatin biar gak infeksi." Ucap Tante Manda. Kemudian ia menatap pada sang suami. "Aku mau ambil baju doang, terus pergi lagi. Masih banyak kerjaan di resort yang baru dibangun di Lombok."
Tak sengaja aku menatap ke arah Om Rey. Wajahnya dingin. Aku baru kali ini melihatnya seperti itu. Om Rey yang hampir selalu terlihat hangat, kini menatap Tante Manda dengan begitu menusuknya.
Tak mendapat jawaban dari Om Rey, tanpa menunggu lagi Tante Manda pun masuk ke dalam rumah. Aku mengekornya. Dan ketika sudah di dalam rumah aku ke dapur untuk mengambil kotak P3K, sedangkan Tante Manda masuk ke dalam kamarnya.
Aku mulai mengobati lukaku sambil duduk di kursi meja makan. Ku lihat Om Rey masuk ke dalam kamarnya dan aku mulai mendengar teriakan dari keduanya.
Aku tidak ingin menguping, tapi pertengkaran mereka memang terdengar sejelas itu dari tempatku duduk. Yang aku dengar dari perdebatan mereka, Tante Manda ternyata sering kali tidak pulang. Ia disibukkan oleh pekerjaannya di resort milik perusahaannya.
Om Rey terdengar begitu marah dan lelah dengan sikap Tante Manda. "Kenapa gak sekalian aja kamu bawa barang-barang kamu semuanya? Ngapain juga kamu nyimpen barang di sini, tapi kamu gak pernah tinggal di sini?!"
"Ini rumah aku juga ya, kamu jangan lupa aku punya hak atas rumah ini!"
Terlihat Tante Manda keluar dari kamar. Kemudian Om Rey menyusulnya dan segera menyergap tangan Tante Manda.
"Oh ya? Setelah apa yang terjadi kamu masih ngomongin hak?! Kewajiban kamu dulu, Man. Mana? Kamu lakuin gak? Kamu kira aku gak tahu selama ini apa yang kamu lakuin?!"
Tante Manda menghempaskan tangan Om Rey yang mencengkramnya. "Emang apa yang aku lakuin selama ini?" Tantangnya.
Om Rey terdiam, ia melihat ke arahku sekilas.
"Kenapa diem aja?" Tante Manda masih menunggu.
Om Rey kembali terdiam.
"Kamu bener-bener buang waktu aku tahu gak!" Kemudian Tante Manda melenggang pergi dengan sebuah tas di tangannya.
Segera aku menyusulnya. "Tante!"
Tante Manda yang baru saja akan masuk ke mobilnya menoleh ke arahku. "Kenapa?" Tanyanya kesal.
"Tante gak akan tinggal disini? Terus aku gimana, Tan?"
Ia menyapukan rambut coklatnya. "Mbak Dian udah nitipin kamu sama Tante disini. Kamu tinggal aja disini." Ia bersiap masuk ke mobilnya.
"Tante!" Ujarku.
"Apa lagi, Nis?!" Ujarnya tak sabar.
"Tapi aku cuma tinggal sama Om Rey disini kalau Tante gak ada. Aku gak enak, Tan. Gak mungkin juga berdua aja di rumah."
"Emang kenapa? Udah deh kamu mikir apa sih? Rey itu gak akan macem-macem. Lagian dia juga cuma nganggep kamu keponakannya aja, kecuali kamu yang kecentilan! Makanya jaga sikap kamu!"
Seketika aku tersinggung mendengarnya. Rasanya lama tak bertemu dengan Tante Manda, aku tak tahu bahwa ia kini berubah menjadi lebih seenaknya. Dulu dia sudah sangat seenaknya, meskipun begitu aku tahu dia orang yang baik. Tapi kali ini ternyata ia berubah menjadi lebih menyebalkan.
Kemudian Tante Manda pergi bersama mobilnya. Aku pun kembali ke dalam rumah. Segera aku bergegas untuk berangkat ke kampus karena aku hampir terlambat. Saat turun dari lantai dua, aku menemukan ruangan itu sepi.
"Om Rey udah berangkat gitu ya?" Gumamku.
Aku menghampiri meja makan dan sarapan belum disentuhnya. Akhirnya ku ketuk kamar Om Rey.
"Om? Aku berangkat ya."
Tak ada sahutan dari dalam dan kemudian aku memutuskan untuk pergi saja.
Namun baru beberapa langkah, terdengar pintu kamarnya terbuka. Sontak aku menoleh ke arahnya. Ia masih menggunakan pakaian olahraga yang tadi dikenakannya. Ia menatapku sendu.
"Om?" Tanyaku di depan pintu kamarnya. "Aku berangkat duluan ya, Om."
Seketika entah bagaimana aku sudah berada di dalam pelukannya.
Iya, suami Tanteku ini tiba-tiba memelukku!
"Om!" Aku mendorong tubuhnya.
"Sebentar aja, Dan." Bukannya melepasku, ia malah mempererat pelukannya.
"Tapi Om..." Panik sekali, apalagi saat tiba-tiba saja aku teringat wajah Tante Manda yang semakin jutek itu. Bagaimana jika tiba-tiba ia melihat ini?
"Biarkan Om menelaah perasaan Om. Sebentar aja." Lirihnya.
Mendengar suaranya yang begitu sedih membuat aku menghentikan doronganku. Apa ia sedang berbicara mengenai pertengkarannya dengan Tante Manda?
"Tolong peluk Om juga, Dan." Pintanya.
Apa? Apa Om Rey salah makan?
"Tolong, Dan. Om ingin sekali dipeluk oleh kamu."
Dengan terpaksa akupun mulai melingkarkan tanganku di sekeliling tubuh Om Rey dan menenangkannya.
***
Ku bawa kedua kakiku melangkah menuju gedung fakultasku dengan malas. Ku hela nafasku berkali-kali dan tak henti-hentinya kepalaku memutar kejadian yang baru saja terjadi.
Baru saja aku dan Om Rey berpelukan dengan begitu eratnya.
Apa yang aku lakukan salah? Tapi aku tidak ada rasa terhadapnya. Juga aku memeluknya karena ia yang memintaku. Juga, aku merasa kasihan padanya karena tadi ia terlihat begitu sedih. Bagiku Om Rey seperti ayahku, aku tak menganggapnya sebagai seorang pria.
Jadi, seharusnya pelukan itu tidak berarti apapun.
"Woy! Ngelamun." Tiba-tiba Vito sudah berada di sampingku. "Kenapa sih bengong? Kenapa juga lo dateng telat?"
"Ada urusan. Biarin deh paling dihukum." Ujarku tak semangat. "Kamu juga sama telat tapi masih nyantai. Masa anak beasiswa kayak gitu."
"Ah nyantei aja. Gue udah izin sama senior."
Kemudian aku teringat hutang budiku pada Vito. "Vit, nanti siang makan siang bareng ya. Aku pengen traktir kamu."
Wajah Vito berubah sumringah. "Serius?"
Aku mengangguk. "Sebagai ucapan kamu udah ngasih info kerjaan sama aku."
"Dimana?"
"Di kantin kampus aja yang deket dan murah." Ujarku cengengesan.
"Gak mau kalau makan siang. Gue maunya makan malem dan gak di kampus."
"Kamu dikasih hati minta jantung!" Gerutuku.
"Pilih, kalau makan siang lo yang bayar. Kalau makan malam gue yang bayar. Gue bakal bawa lo ke restoran mahal."
"Loh? Kalau gitu aku jadi gak jadi dong traktir kamunya."
"Gak apa-apa. Dengan lo dinner sama gue, gue bakal nganggep kalau lo udah bayar hutang budi lo. Gimana?"
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
rista_su
iyha. nraktir pake duitnya manda yha vit 🤪
2023-12-14
0
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
tetap semangat update terbaru 😘😘😘
2023-08-24
1