Di belakang rumah Om Rey, ada sebuah area bundar berdiameter sekitar tiga meter. Di tengah-tengah area itu terdapat sebuah tempat yang diperuntukan untuk membuat sebuah api unggun. Di sanalah aku dan Om Rey sekarang. Di bawah cahaya bulan, duduk bersebelahan menghadap api unggun yang menyala sambil membakar marshmallow. Hujan memang baru saja berhenti turun saat itu, sehingga malam itu sedikit sejuk.
"Wah, Om Rey bikin rumah ini udah bener-bener mikirin semuanya ya. Bahkan bikin area buat api unggun gini." Pujiku.
"Om desain rumah ini buat keluarga kecil Om. Kalau mau camping gak perlu pergi ke tempat camping gitu, bisa di halaman belakang ini. Sambil barbeque di sana." Om Rey menunjuk sebuah area gazebo yang agak tinggi sekitar satu meter dari permukaan tanah di sebelah barat tempat api unggun ini. Di sana ada alat pembakaran dan juga meja beserta kursi taman yang tertata estetik dan nyaman sekali.
"Terus kalau mau berenang tinggal ke kolam renang. Mau main lari-larian atau bikin garden party buat ulang tahun atau acara keluarga, bisa di area sana." Om Rey menunjuk ke arah kolam renang yang terletak di sisi timur dan area luas sebelahnya yang ditutupi rumput hijau.
Semuanya benar-bener sangat family oriented.
"Tapi setelah lima tahun semua belum pernah ditempatin." Kembali aku mendengar nada sedih dari Om Rey.
"Karena Om sama Tante Manda pindah ke Jepang ya?" Tanyaku.
Om Rey mengangguk. "Manda dipindah tugaskan ke Jepang dari perusahaan tempat dia kerja waktu kami baru menikah dua bulan. Rumah ini baru banget selesai dibangun waktu itu. Tapi karena Om gak mau LDR, jadi ya akhirnya Om ikut Manda ke Jepang."
"Selama di Jepang Om kerja dimana?"
"Om waktu itu magang di salah satu perusahaan. Seudah magang Om nyari freelance sambil ngusahain lisensi Om sebagai arsitek. Terus Om juga ngejar sertifikasi sebagai arsitek spesialis bangunan urban."
"Buat jadi arsitek itu ternyata panjang banget perjuangannya ya, Om."
"Iya, Dan. Hampir samalah kayak dokter. Seudah dapet gelar sarjana masih banyak tahapan yang harus ditempuh untuk bisa jadi seorang arsitek."
Aku mengangguk paham.
"Om, aku boleh nanya gak?"
Sebenarnya hal ini sudah menggangguku sejak lama. Aku benar-benar penasaran dengan hubungan Om Rey dengan Tante Manda. Namun aku tak cukup berani menanyakan. Rasanya tidak sopan saja. Tapi kali ini aku merasa sudah cukup dekat dengan Om Rey. Aku harus tahu mengenai hubungannya dengan Tanteku itu.
"Boleh, dong. Mau nanya apa?"
"Sebenernya, Om sama Tante Manda itu gak tinggal bareng sejak kapan? Maaf ya, Om. Aku pengen tahu aja soalnya gimanapun harusnya 'kan aku tinggal sama Tante Manda. Bunda aku 'kan nitipin aku ke Tante Manda. Tapi aku malah disini sama Om. Sedangkan dia kemana? Semua biaya aku jadi Om yang tanggung. Jujur aku gak enak sama Om."
"Kenapa gak enak segala sih, Dan. Om udah pernah bilang, Om malah seneng ada kamu di rumah ini."
Om Rey menatapku lekat.
Aku mengalihkan pandanganku, entah mengapa rasanya tatapannya mengganggu sekali hingga jantungku berdebar aneh.
"Ya udah Om akan ceritain semuanya sama kamu. Awalnya Om sama Tante kamu ketemu pas kita wisuda. Kita satu angkatan, tapi beda jurusan. Om di teknik arsitektur, tante kamu di manajemen resort and leisure. Kita deket dan akhirnya pacaran. Karena udah ngerasa cocok, Om lamar dia. Awalnya Om ditolak beberapa kali tapi karena Om udah yakin sama Manda, Om gak nyerah. Sampai akhirnya Manda nerima Om dan kita nikah. Gak lama dari situ manda yang udah dapet kerja ditugasin buat ke Jepang. Dan yang kayak tadi Om bilang, Om ikut ke Jepang karena gak mau LDR padahal Om lagi magang waktu itu. Akhirnya Om nyari tempat magang yang baru di Jepang dan Om mengulang dari awal."
Aku mengangguk paham, menyimak cerita Om Rey.
"Awalnya kami baik-baik aja, semua berjalan normal. Walaupun kami sama-sama sibuk kami selalu nyempatin buat ngabisin waktu bareng-bareng. Tapi lama kelamaan, kita jadi jarang ketemu. Manda sering kali lembur sampai kadang gak pulang. Sampai kita ada di titik seperti gak menjalin hubungan pernikahan, malah lebih seperti temen sekost-an, saking jarangnya kita ngobrol dan berinteraksi. Kalaupun berinteraksi kami berantem. Om memutuskan untuk pulang ke Indonesia setelah 5 tahun bertahan di sana, dan tepat saat itu Manda juga ditempatkan kembali ke kantor di Jakarta. Dan pulanglah kami beberapa bulan lalu."
"Tapi keadaan tetap sama setelah kami berada di Indonesia lagi. Malah tambah parah. Dulu paling Manda gak pulang sehari dua hari tapi sekarang kamu sendiri tahu gimana." Ujarnya sedih.
Ya ampun, ternyata sudah selama itu hubungan Om dan Tante Manda tidak baik-baik saja. "Tante Manda itu workaholic banget ya, Om. Aku baru tahu. Sampai lebih milih pekerjaannya."
Om Rey malah tertawa getir. "Iya. Dia emang workaholic." Ada penekanan saat Om Rey mengatakan workaholic. Membuatku semakin penasaran, apalagi dengan kata-kata Om Marcel tadi yang mengatakan bahwa Tante Manda menggunakan alat untuk menunda kehamilan. Ingin rasanya aku tanyakan hal itu pada Om Rey.
Tapi aku telan rasa penasaranku. Tak sopan rasanya jika aku menanyakan hal sepribadi itu padanya.
"Kamu kenapa bengong gitu, Dan? Ada yang mau kamu tanyain lagi?"
Aku terperanjat kaget, mendapati Om Rey yang menebak apa yang aku pikirkan dengan sangat tepat.
"Enggak, Om." Dustaku. "Semoga Om sama Tante bisa kembali baik lagi ya."
Om Rey langsung saja menggeleng. "Enggak, Dan. Om akan menyerah dengan pernikahan ini."
Total aku tercengang.
"Om selama ini bertahan dalam pernikahan itu dengan berpikir bahwa Om akan jatuh cinta sekali dan menikah juga sekali, yaitu sama Tante kamu. Makanya Om bertahan di rumah tangga ini walaupun Om udah sangat lelah dan hambar." Om Rey menatapku lagi dengan begitu lekatnya. "Tapi ternyata Om salah."
"Salah gimana...Om?" Entah mengapa tatapan Om Rey membuatku tak bisa berkutik. Sampai aku tertegun tak lepas dari kedua manik hitamnya yang memantulkan cahaya api unggun yang menyala temaram.
"Om udah terlalu lelah mempertahankan hubungan Om dengan Manda. Di saat Om ada di titik terendah, seseorang datang dan ngasih Om rasa nyaman dan semua hal sederhana yang selama ini Om impikan."
Jantungku semakin berdebar kencang. Wajah Om Rey yang disinari api unggun terlihat lebih tampan dan suasana menjadi lebih... romantis.
Juga kata-kata Om Rey, dan tatapannya yang hangat menghipnotis itu, membuat aku tak bisa tidak salah paham.
"Hal sesederhana jogging di pagi hari, sarapan bersama, berangkat bersama, pulang bersama. Dibuatkan bekal makan siang, nonton film dan makan pizza, berjalan-jalan ke Mall, ke tempat wisata, ke toko buku. Mengobrol di waktu senggang. Ditemenin saat kerja dan ketemu klien. Semua itu hal yang selalu Om impikan bisa Om lakukan bersama Manda, tapi gak pernah terwujud."
Dan semua hal itu malah ia lakukan bersamaku?
"Semua itu malah Om lakukan dengan kamu."
Tanpa sadar aku tertegun. Apa selama ini aku salah mengartikan perhatian Om Rey? Aku kira selama ini kami hanyalah teman. Kasih sayangnya padaku hanyalah seperti seorang paman kepada keponakannya. Bahkan aku menganggap perhatiannya seperti Ayahku.
Tapi ternyata aku salah. Sejak kapan sebenarnya Om Rey memiliki perasaan terhadapku?
"Om sudah jatuh cinta untuk kedua kalinya tapi bukan pada istri Om, tapi kamu. Danisa, keponakan dari istri Om sendiri."
Seketika otakku seperti berhenti bekerja, tubuhku meremang, dan sekujur tubuhku hangat, kemudian dingin, hangat, dan dingin lagi. Nafasku bahkan mulai menderu.
Perlahan tangan besar dan hangatnya meraih pipiku. Aku terdiam mematung. Entahlah, aku kehilangan kendali akan diriku.
Om Rey mulai mendekat dan seketika bibirnya sudah menyentuh bibirku.
Om Rey... menciumku? Lagi?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Ya...om Rey menciummu lagi dan kamu terbuai tanpa sadar kamu ikut membalas ciuman itu menjadi lumatan yg semakin menuntut ah..ahh..ahh....
Dan terjadilah belah duren 😁😁
2023-08-31
1