Beberapa saat kami saling menatap.
Sampai akhirnya aku tersadar dan bangkit dari atas tubuhnya. "Maafin aku, Om!" Ku hindari bertemu tatap dengannya dan merutuki diriku sendiri.
Ia perlahan bangkit dari posisinya. "Dimana kecoanya?"
"Di dalam, Om." Cicitku.
Kemudian Om Rey masuk ke kamarku. Dan beberapa saat kemudian ia keluar dengan seekor kecoa di tangannya. Aku bergidik geli melihatnya. "Udah mati kecoanya, kamu bisa tidur sekarang. Maaf ya, mungkin ART kurang bersih bersihinnya."
"Makasih, Om!" Ucapku, bahkan agak berteriak, seraya berlari masuk ke dalam kamarku dan mengunci pintu.
Nafasku tersengal. "Kejadian apaan barusan? Kok bisa aku jatuh dengan posisi kayak gitu? Danis kamu ceroboh banget!" Gumamku dengan kedua tanganku menutup wajahku. Malu sekali rasanya.
Bagaimana aku bisa bertemu dengannya besok?
Aku terbangun dini hari. Setelah mandi aku turun menuju dapur. Tadi malam aku sudah mendapatkan izin dari Om Rey untuk menggunakan dapur ini untuk memasak. Ku buka kulkas dan melihat hanya ada beberapa butir telur, buah-buahan, dan sekotak susu. Tidak ada yang lain. Beras pun tidak ada. Om Rey dan Tante Manda benar-benar tidak pernah memasak atau bagaimana ya ini? Dengan hanya ada telur aku mau buat apa?
Akhirnya aku pergi ke toko depan komplek dan membeli beberapa bahan masakan. Kemudian aku kembali ke rumah dan membuat sesuatu yang mudah dan cepat. Setelah 15 menit sarapan yang aku buat sudah siap. Aku segera ke kamarku dan mengganti bajuku dengan kemeja putih dan rok hitam, seragam yang harus aku gunakan selama masa orientasi.
Aku kembali ke dapur dan menata meja makan.
"Wah. Udah siap makanannya, Dan?" Tiba-tiba Om Rey menghampiriku seraya mengancingkan kancing lengan kemeja kantornya, kemudian duduk di salah satu kursi di meja makan.
Seketika aku begitu canggung mengingat kembali kejadian tadi malam.
"I-iya, Om." Akhirnya aku menyahut.
"Ini lengkap banget makanannya, Dan. Kamu dapet bahan masakannya dari mana?" Tanyanya.
Pandangan Om Rey menyapu meja yang kini penuh dengan berbagai macam makanan seperti roti garlic panggang, wortel dan brokoli rebus, sosis panggang, dan telur mata sapi. Tak lupa aku menyediakan susu untuk menyempurnakan gizi menu sarapan itu.
Ekspresi Om Rey biasa saja. Maksudku, sepertinya kejadian semalam tidak mempengaruhinya sama sekali.
Diam-diam aku bernafas lega, aku kira suasana akan sangat canggung, tapi Om Rey bersikap biasa dan tetap ramah padaku.
"Kamu beli dulu ke toko sayuran depan ya? Uangnya darimana?" Tanya Om Rey.
"Udah gak usah pikirin itu, Om. Silahkan Om dimakan." Akupun duduk berhadapan dengan Om Rey. Aku mulai menyantap makanan yang ada di meja itu.
"Nanti Om ganti ya." Sahut Om Rey mulai melahap makanan yang tersedia.
"Gak apa-apa, Om. Anggap aja aku yang traktir." Ujarku sama sekali tidak keberatan. "Oh iya Om, Tante Manda belum pulang ya?" Tanyaku karena sampai detik ini aku belum juga melihat sosok tanteku itu.
Bahu Om Rey naik dan kemudian turun, menghela nafas panjang. Wajahnya seperti menahan jengkel. "Iya. Tante kamu ada pekerjaan yang mengharuskan dia lembur sampai gak pulang."
Aku mengangguk paham. Sayang sekali makanan yang sudah aku siapkan untuk Tante Manda. Mungkin nanti aku akan bekal saja untuk makan siang di kampus.
"Pulangnya kapan ya, Om? Aku belum ketemu sama Tante Manda sejak kemarin."
"Kamu udah coba chat dia?"
"Udah, Om. Sejak aku sampai kemarin sore, tapi sampai sekarang belum dibaca juga chat dari aku, padahal Tante Manda sempat online. Mungkin sibuk sekali ya, Om."
Om Rey tersenyum getir. "Jangan aneh kalau dia kayak gitu." Ujarnya seperti tak peduli.
Sepertinya memang ada masalah antara Om Rey dengan Tante Manda. Tapi aku tidak ingin mencampuri kehidupan pribadi mereka. Mari tinggal di rumah ini dengan nyaman dan tentram, mengetahui hal yang memang perlu saja, dan tidak melewati batas.
Setelah itu aku membereskan sisa makanan ke dalam sebuah wadah untuk ku bawa ke kampus. Piring kotornya aku biarkan di wastafel cuci piring. Kata Om Rey, nanti akan ada ART yang mencucinya, juga membereskan seluruh rumah. Karena sudah hampir terlambat, aku pun menuruti perkataan Om Rey. Jika sedang tidak terburu-buru maka aku akan mencucinya. Aku paling tidak bisa membiarkan sesuatu tidak rapi dan tidak bersih. Gemas sekali rasanya ingin segera membersihkannya.
Aku sedang menuruni tangga setelah membawa tasku di kamar, saat Om Rey juga baru saja keluar dari kamarnya.
"Kamu berangkat ke kampus sekarang, Dan?" Tanya Om Rey.
"Iya, Om. Aku udah pesen ojek online barusan." Sahutku.
"Batalin aja. Kamu bisa bareng Om. Kampus kamu kelewatan kok sama Om kalau mau pergi ke kantor."
"Tapi..." Tiba-tiba ponselku mendapat chat dari driver bahwa ia memintaku men-cancel pesanan karena ban motornya kempes.
"Ayo, gak apa-apa bareng aja sama Om." Om Rey meyakinkan.
Ya sudah akhirnya aku setuju untuk menumpang pada mobilnya.
Beberapa saat kemudian aku sudah duduk di bangku depan, di sebelah Om Rey. Kejadian semalam terlintas lagi di benaknya, sontak aku kembali merasa canggung padanya.
"Kamu jurusan apa, Dan?" Tanya Om Rey seraya mengemudikan mobilnya.
"Keperawatan Om." Ujarku.
"Hebat banget. Kamu pasti telaten ya orangnya."
"Enggak juga, Om." Ujarku malu.
"Udah sekitar lima tahun gak ketemu kamu berubah banget ya."
"Masa sih, Om?"
"Iya. Dulu kamu masih pendek, kurus, rambut kamu dikucir terus, lari kesana kesini, tomboy banget."
Tanpa sadar aku terbahak mendengar kata-kata Om Rey. Segera aku menghentikan tawaku, kami tak cukup akrab sampai aku terbahak seperti itu di depannya.
Tapi bukannya canggung, ia malah ikut tertawa, membuat suasana menjadi cair.
"Tapi sekarang kamu udah jadi perempuan yang cantik, calon perawat lagi. Siapa yang nyangka, Dan. Om kira kamu akan jadi guru olahraga, atau atlet karate."
"Dulu aku setomboy itu ya, Om?"
"Banget, Dan." Om Rey terkekeh.
Sepertinya kejadian semalam memang bukan masalah bagi Om Rey. Aku pun memutuskan untuk melupakannya.
Begitulah, sepanjang jalan kami terus bercengkrama. Asyik sekali Om Rey ini. Ia senang bercanda, hangat, dan sosok Om yang dewasa. Aku jadi teringat kepada almarhum ayahku, beliau juga memiliki kepribadian yang hangat seperti Om Rey.
Dia juga memberikan beberapa tips mengenai perkuliahan. Aku akan menjalankan tipsnya karena ia memang lulusan terbaik saat itu, ia bahkan berpidato pada saat acara wisudanya. Dia adalah sosok yang tepat jika aku ingin bertanya bagaimana menjadi mahasiswa teladan, walaupun tidak berniat juga aku terlalu berprestasi. Cukup dapat nilai yang selalu bagus demi mempertahankan beasiswaku, itu sudah cukup.
"Nah, berhenti di depan aja, Om." Pintaku, lalu Om Rey menepikan mobilnya.
"Nanti sore kita belanja ya. Om antar kamu." Om Rey mengingatkan.
"Om yakin mau nganter aku belanja buat masak? Om Bisa kasih uangnya aja sama aku, Om. Nanti aku beli sendiri. Takutnya Om repot dan sibuk."
"Gak apa-apa, Dan. Om seneng kok. Lagian kamu 'kan baru disini takutnya nyasar atau gimana 'kan?"
Aku pun setuju akhirnya. "Ya udah kalau gitu. Aku turun ya, Om. Makasih banyak udah bolehin aku numpang. Semangat kerjanya ya Om." Ku kepalkan kedua tanganku seraya tersenyum padanya, tulus memberikan semangat padanya.
Om Rey menatapku beberapa saat, kemudian senyum mengembang tipis di wajah tampannya.
Ia meraih puncak kepalaku, mengusap pelan rambutku. "Makasih ya, Dan. Om pasti semangat kerjanya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Cornelia Pujiastuti
rmh orang kaya kom ada kecoal??
2024-05-20
1