Bab 3: Menuju Kampus

Beberapa saat kami saling menatap.

Sampai akhirnya aku tersadar dan bangkit dari atas tubuhnya. "Maafin aku, Om!" Ku hindari bertemu tatap dengannya dan merutuki diriku sendiri.

Ia perlahan bangkit dari posisinya. "Dimana kecoanya?"

"Di dalam, Om." Cicitku.

Kemudian Om Rey masuk ke kamarku. Dan beberapa saat kemudian ia keluar dengan seekor kecoa di tangannya. Aku bergidik geli melihatnya. "Udah mati kecoanya, kamu bisa tidur sekarang. Maaf ya, mungkin ART kurang bersih bersihinnya."

"Makasih, Om!" Ucapku, bahkan agak berteriak, seraya berlari masuk ke dalam kamarku dan mengunci pintu.

Nafasku tersengal. "Kejadian apaan barusan? Kok bisa aku jatuh dengan posisi kayak gitu? Danis kamu ceroboh banget!" Gumamku dengan kedua tanganku menutup wajahku. Malu sekali rasanya.

Bagaimana aku bisa bertemu dengannya besok?

Aku terbangun dini hari. Setelah mandi aku turun menuju dapur. Tadi malam aku sudah mendapatkan izin dari Om Rey untuk menggunakan dapur ini untuk memasak. Ku buka kulkas dan melihat hanya ada beberapa butir telur, buah-buahan, dan sekotak susu. Tidak ada yang lain. Beras pun tidak ada. Om Rey dan Tante Manda benar-benar tidak pernah memasak atau bagaimana ya ini? Dengan hanya ada telur aku mau buat apa?

Akhirnya aku pergi ke toko depan komplek dan membeli beberapa bahan masakan. Kemudian aku kembali ke rumah dan membuat sesuatu yang mudah dan cepat. Setelah 15 menit sarapan yang aku buat sudah siap. Aku segera ke kamarku dan mengganti bajuku dengan kemeja putih dan rok hitam, seragam yang harus aku gunakan selama masa orientasi.

Aku kembali ke dapur dan menata meja makan.

"Wah. Udah siap makanannya, Dan?" Tiba-tiba Om Rey menghampiriku seraya mengancingkan kancing lengan kemeja kantornya, kemudian duduk di salah satu kursi di meja makan.

Seketika aku begitu canggung mengingat kembali kejadian tadi malam.

"I-iya, Om." Akhirnya aku menyahut.

"Ini lengkap banget makanannya, Dan. Kamu dapet bahan masakannya dari mana?" Tanyanya.

Pandangan Om Rey menyapu meja yang kini penuh dengan berbagai macam makanan seperti roti garlic panggang, wortel dan brokoli rebus, sosis panggang, dan telur mata sapi. Tak lupa aku menyediakan susu untuk menyempurnakan gizi menu sarapan itu.

Ekspresi Om Rey biasa saja. Maksudku, sepertinya kejadian semalam tidak mempengaruhinya sama sekali.

Diam-diam aku bernafas lega, aku kira suasana akan sangat canggung, tapi Om Rey bersikap biasa dan tetap ramah padaku.

"Kamu beli dulu ke toko sayuran depan ya? Uangnya darimana?" Tanya Om Rey.

"Udah gak usah pikirin itu, Om. Silahkan Om dimakan." Akupun duduk berhadapan dengan Om Rey. Aku mulai menyantap makanan yang ada di meja itu.

"Nanti Om ganti ya." Sahut Om Rey mulai melahap makanan yang tersedia.

"Gak apa-apa, Om. Anggap aja aku yang traktir." Ujarku sama sekali tidak keberatan. "Oh iya Om, Tante Manda belum pulang ya?" Tanyaku karena sampai detik ini aku belum juga melihat sosok tanteku itu.

Bahu Om Rey naik dan kemudian turun, menghela nafas panjang. Wajahnya seperti menahan jengkel. "Iya. Tante kamu ada pekerjaan yang mengharuskan dia lembur sampai gak pulang."

Aku mengangguk paham. Sayang sekali makanan yang sudah aku siapkan untuk Tante Manda. Mungkin nanti aku akan bekal saja untuk makan siang di kampus.

"Pulangnya kapan ya, Om? Aku belum ketemu sama Tante Manda sejak kemarin."

"Kamu udah coba chat dia?"

"Udah, Om. Sejak aku sampai kemarin sore, tapi sampai sekarang belum dibaca juga chat dari aku, padahal Tante Manda sempat online. Mungkin sibuk sekali ya, Om."

Om Rey tersenyum getir. "Jangan aneh kalau dia kayak gitu." Ujarnya seperti tak peduli.

Sepertinya memang ada masalah antara Om Rey dengan Tante Manda. Tapi aku tidak ingin mencampuri kehidupan pribadi mereka. Mari tinggal di rumah ini dengan nyaman dan tentram, mengetahui hal yang memang perlu saja, dan tidak melewati batas.

Setelah itu aku membereskan sisa makanan ke dalam sebuah wadah untuk ku bawa ke kampus. Piring kotornya aku biarkan di wastafel cuci piring. Kata Om Rey, nanti akan ada ART yang mencucinya, juga membereskan seluruh rumah. Karena sudah hampir terlambat, aku pun menuruti perkataan Om Rey. Jika sedang tidak terburu-buru maka aku akan mencucinya. Aku paling tidak bisa membiarkan sesuatu tidak rapi dan tidak bersih. Gemas sekali rasanya ingin segera membersihkannya.

Aku sedang menuruni tangga setelah membawa tasku di kamar, saat Om Rey juga baru saja keluar dari kamarnya.

"Kamu berangkat ke kampus sekarang, Dan?" Tanya Om Rey.

"Iya, Om. Aku udah pesen ojek online barusan." Sahutku.

"Batalin aja. Kamu bisa bareng Om. Kampus kamu kelewatan kok sama Om kalau mau pergi ke kantor."

"Tapi..." Tiba-tiba ponselku mendapat chat dari driver bahwa ia memintaku men-cancel pesanan karena ban motornya kempes.

"Ayo, gak apa-apa bareng aja sama Om." Om Rey meyakinkan.

Ya sudah akhirnya aku setuju untuk menumpang pada mobilnya.

Beberapa saat kemudian aku sudah duduk di bangku depan, di sebelah Om Rey. Kejadian semalam terlintas lagi di benaknya, sontak aku kembali merasa canggung padanya.

"Kamu jurusan apa, Dan?" Tanya Om Rey seraya mengemudikan mobilnya.

"Keperawatan Om." Ujarku.

"Hebat banget. Kamu pasti telaten ya orangnya."

"Enggak juga, Om." Ujarku malu.

"Udah sekitar lima tahun gak ketemu kamu berubah banget ya."

"Masa sih, Om?"

"Iya. Dulu kamu masih pendek, kurus, rambut kamu dikucir terus, lari kesana kesini, tomboy banget."

Tanpa sadar aku terbahak mendengar kata-kata Om Rey. Segera aku menghentikan tawaku, kami tak cukup akrab sampai aku terbahak seperti itu di depannya.

Tapi bukannya canggung, ia malah ikut tertawa, membuat suasana menjadi cair.

"Tapi sekarang kamu udah jadi perempuan yang cantik, calon perawat lagi. Siapa yang nyangka, Dan. Om kira kamu akan jadi guru olahraga, atau atlet karate."

"Dulu aku setomboy itu ya, Om?"

"Banget, Dan." Om Rey terkekeh.

Sepertinya kejadian semalam memang bukan masalah bagi Om Rey. Aku pun memutuskan untuk melupakannya.

Begitulah, sepanjang jalan kami terus bercengkrama. Asyik sekali Om Rey ini. Ia senang bercanda, hangat, dan sosok Om yang dewasa. Aku jadi teringat kepada almarhum ayahku, beliau juga memiliki kepribadian yang hangat seperti Om Rey.

Dia juga memberikan beberapa tips mengenai perkuliahan. Aku akan menjalankan tipsnya karena ia memang lulusan terbaik saat itu, ia bahkan berpidato pada saat acara wisudanya. Dia adalah sosok yang tepat jika aku ingin bertanya bagaimana menjadi mahasiswa teladan, walaupun tidak berniat juga aku terlalu berprestasi. Cukup dapat nilai yang selalu bagus demi mempertahankan beasiswaku, itu sudah cukup.

"Nah, berhenti di depan aja, Om." Pintaku, lalu Om Rey menepikan mobilnya.

"Nanti sore kita belanja ya. Om antar kamu." Om Rey mengingatkan.

"Om yakin mau nganter aku belanja buat masak? Om Bisa kasih uangnya aja sama aku, Om. Nanti aku beli sendiri. Takutnya Om repot dan sibuk."

"Gak apa-apa, Dan. Om seneng kok. Lagian kamu 'kan baru disini takutnya nyasar atau gimana 'kan?"

Aku pun setuju akhirnya. "Ya udah kalau gitu. Aku turun ya, Om. Makasih banyak udah bolehin aku numpang. Semangat kerjanya ya Om." Ku kepalkan kedua tanganku seraya tersenyum padanya, tulus memberikan semangat padanya.

Om Rey menatapku beberapa saat, kemudian senyum mengembang tipis di wajah tampannya.

Ia meraih puncak kepalaku, mengusap pelan rambutku. "Makasih ya, Dan. Om pasti semangat kerjanya."

Terpopuler

Comments

Cornelia Pujiastuti

Cornelia Pujiastuti

rmh orang kaya kom ada kecoal??

2024-05-20

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Bertemu Om Rey
2 Bab 2: Makan Malam
3 Bab 3: Menuju Kampus
4 Bab 4: Berbelanja
5 Bab 5: Semakin Dekat
6 Bab 6: Amanda
7 Bab 7: Memeluk Om Rey
8 Bab 8: Benar-benar Dijemput
9 Bab 9: Kejadian Semalam
10 Bab 10: Parfum
11 Bab 11: Vito dan Tantenya
12 Bab 12: Rey dan Gadis Kecil
13 Bab 13: Malam Api Unggun
14 Bab 14: Terjerat Pesona Om Rey
15 Bab 15: Menghindar
16 Bab 16: Sepanik-paniknya
17 Bab 17: Rumah Tangga Hambar
18 Bab 18: Pernyataan Cinta
19 Bab 19: Kembali ke Semula itu Mustahil
20 Bab 20: Curahan Hati
21 Bab 21: Dimabuk Cinta
22 Bab 22: Agar Satu Sama
23 Bab 23: Terlalu Malu
24 Bab 24: Firasat Ibu
25 Bab 25: Maukah Kamu jadi Pacar Om?
26 Bab 26: Dibutakan Cinta
27 Bab 27: Tahap Selanjutnya
28 Bab 28: Gosip Satu Angkatan
29 Bab 29: For The Last Time
30 Bab 30: Pelakor itu Keponakanku
31 Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma
32 Bab 32: Aku Tidak Merebutnya
33 Bab 33: Seminggu Sebelum Menikah
34 Bab 34: Vito dan Rasanya
35 Bab 35: Menemui Calon Suami
36 Bab 36: Nasihat Bunda
37 Bab 37: Rencana
38 Bab 38: Mas Rey
39 Bab 39: Pengalaman Pertama
40 Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya
41 Bab 41: Menghilang
42 Bab 42: Dijebak
43 Bab 43: Tak Habis Pikir
44 Bab 44: Istri Kecil
45 Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan
46 Bab 46: Satu Bulan Menikah
47 Bab 47: Suamiku Selingkuh
48 Bab 48: Bingung
49 Bab 49: Rasa yang Aneh
50 Bab 50: Akhirnya Bertemu Tante Manda
51 Bab 51: Aku Memang Pelakor
52 Bab 52: Yang Terbaik
53 Bab 53: Mas Rey Pergi
54 Bab 54: Sangat Rindu
55 Bab 55: Vito itu Temanku
56 Bab 56: Kemana Takdir akan Berpihak?
57 Bab 57: Kabar
58 Bab 58: Tanteku, Maduku
59 Bab 59: Cinta Segi Empat
60 Bab 60: Tak Sanggup
61 Bab 61: Solusi
62 Bab 62: Rencana Mas Rey
63 Bab 63: Terkuak
64 Bab 64: Tertangkap Basah
65 Bab 65: Ditemani Fina dan Vito
66 Bab 66: Membuat Vito Mengerti
67 Bab 67: Menyerah
68 Bab 68: Kejutan
69 Bab 69: Dua Pria Bodoh
70 Bab 70: Bukan Teman Lagi
71 Bab 71: Menjebak Amanda
72 Bab 72: Permainan Selesai
73 Bab 73: Kehidupan yang Berbeda
74 Bab 74: Manda Sudah Sembuh
75 Bab 75: Gender Reveal
76 Bab 76: Kata Terakhir
77 Bab 77: Baby Revi
78 Bab 78: Rasa Canggung
79 Bab 79: Ibu Susu Baby Revi
80 Bab 80: Melahirkan
81 Bab 81: Mama, Papa, Ayah
82 Bab 82: Om Rey Tersayang (end)
83 Ekstra 1: Promosi Novel Baru
84 Ekstra 2: Visual Novel
85 Ekstra 3: Wanita Rahasia Daddy Zach
86 Ekstra 4: Pengorbanan Nayara
87 Ekstra 5: The Bad Boy and His Nanny
88 Ekstra 6: Marry Me, Dev
89 Ekstra 7: My Big Girl
90 Ekstra 8: Single Mom
91 Ekstra 9: Miss Rania, I Love You
92 Ekstra 10: Selingkuh Itu Indah
93 Ekstra 11: Mengejar Cinta Nabila
94 Ekstra 12: Jodohkah Kita?
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1: Bertemu Om Rey
2
Bab 2: Makan Malam
3
Bab 3: Menuju Kampus
4
Bab 4: Berbelanja
5
Bab 5: Semakin Dekat
6
Bab 6: Amanda
7
Bab 7: Memeluk Om Rey
8
Bab 8: Benar-benar Dijemput
9
Bab 9: Kejadian Semalam
10
Bab 10: Parfum
11
Bab 11: Vito dan Tantenya
12
Bab 12: Rey dan Gadis Kecil
13
Bab 13: Malam Api Unggun
14
Bab 14: Terjerat Pesona Om Rey
15
Bab 15: Menghindar
16
Bab 16: Sepanik-paniknya
17
Bab 17: Rumah Tangga Hambar
18
Bab 18: Pernyataan Cinta
19
Bab 19: Kembali ke Semula itu Mustahil
20
Bab 20: Curahan Hati
21
Bab 21: Dimabuk Cinta
22
Bab 22: Agar Satu Sama
23
Bab 23: Terlalu Malu
24
Bab 24: Firasat Ibu
25
Bab 25: Maukah Kamu jadi Pacar Om?
26
Bab 26: Dibutakan Cinta
27
Bab 27: Tahap Selanjutnya
28
Bab 28: Gosip Satu Angkatan
29
Bab 29: For The Last Time
30
Bab 30: Pelakor itu Keponakanku
31
Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma
32
Bab 32: Aku Tidak Merebutnya
33
Bab 33: Seminggu Sebelum Menikah
34
Bab 34: Vito dan Rasanya
35
Bab 35: Menemui Calon Suami
36
Bab 36: Nasihat Bunda
37
Bab 37: Rencana
38
Bab 38: Mas Rey
39
Bab 39: Pengalaman Pertama
40
Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya
41
Bab 41: Menghilang
42
Bab 42: Dijebak
43
Bab 43: Tak Habis Pikir
44
Bab 44: Istri Kecil
45
Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan
46
Bab 46: Satu Bulan Menikah
47
Bab 47: Suamiku Selingkuh
48
Bab 48: Bingung
49
Bab 49: Rasa yang Aneh
50
Bab 50: Akhirnya Bertemu Tante Manda
51
Bab 51: Aku Memang Pelakor
52
Bab 52: Yang Terbaik
53
Bab 53: Mas Rey Pergi
54
Bab 54: Sangat Rindu
55
Bab 55: Vito itu Temanku
56
Bab 56: Kemana Takdir akan Berpihak?
57
Bab 57: Kabar
58
Bab 58: Tanteku, Maduku
59
Bab 59: Cinta Segi Empat
60
Bab 60: Tak Sanggup
61
Bab 61: Solusi
62
Bab 62: Rencana Mas Rey
63
Bab 63: Terkuak
64
Bab 64: Tertangkap Basah
65
Bab 65: Ditemani Fina dan Vito
66
Bab 66: Membuat Vito Mengerti
67
Bab 67: Menyerah
68
Bab 68: Kejutan
69
Bab 69: Dua Pria Bodoh
70
Bab 70: Bukan Teman Lagi
71
Bab 71: Menjebak Amanda
72
Bab 72: Permainan Selesai
73
Bab 73: Kehidupan yang Berbeda
74
Bab 74: Manda Sudah Sembuh
75
Bab 75: Gender Reveal
76
Bab 76: Kata Terakhir
77
Bab 77: Baby Revi
78
Bab 78: Rasa Canggung
79
Bab 79: Ibu Susu Baby Revi
80
Bab 80: Melahirkan
81
Bab 81: Mama, Papa, Ayah
82
Bab 82: Om Rey Tersayang (end)
83
Ekstra 1: Promosi Novel Baru
84
Ekstra 2: Visual Novel
85
Ekstra 3: Wanita Rahasia Daddy Zach
86
Ekstra 4: Pengorbanan Nayara
87
Ekstra 5: The Bad Boy and His Nanny
88
Ekstra 6: Marry Me, Dev
89
Ekstra 7: My Big Girl
90
Ekstra 8: Single Mom
91
Ekstra 9: Miss Rania, I Love You
92
Ekstra 10: Selingkuh Itu Indah
93
Ekstra 11: Mengejar Cinta Nabila
94
Ekstra 12: Jodohkah Kita?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!