Tak sampai lima menit aku menunggu di gerbang kampus, mobil Om Rey sudah datang. Mobil itu menepi dan kemudian aku naik ke kursi penumpang. Langsung saja mobil itu kembali melaju ke arah Mall.
"Lama-lama kita jadi anak Mall, Om." Celotehku ketika kami memasuki sebuah Mall.
"Kenapa? Saking seringnya kita ke Mall?" Ujar Om Rey terkekeh.
"Iya, baru juga kita ke Mall beberapa hari lalu. Sekarang udah ke Mall lagi."
"Gak apa-apa dong."
"Om ngapain hari ini ngajak aku ke Mall lagi? Sampai suruh aku izin kerja. Untung Fina bisa gantiin aku." Tanyaku. Jujur aku merasa tak enak pada Om Tanoe.
"Om pengen jalan-jalan aja. Kalau jalan-jalan sendiri, sedih kayaknya jadi kayak orang ilang. Jadi Om ngajakin kamu."
Ada nada sedih dalam kata-kata Om Rey yang berbalut candaan itu. Sepertinya sebetulnya ia berharap bisa pergi bersama Tante Manda.
"Ya udah sekarang kita mau kemana, Om?" Tanyaku.
"Sebenernya Om ada kerjaan dikit sih datang kesini. Om mau ketemu klien Om yang mau buat resto, dia minta Om ngedesain untuk interiornya. Walaupun ini bukan spesialis Om, tapi karena klien Om itu istri dari sahabat Om, jadi Om bantuin deh. Soalnya dia suka sama desain-desain yang Om buat."
"Tapi aku jadi gak enak dong nanti ganggu Om kerja." Ujarku khawatir.
"Gak apa-apa, Dan. Malah Om seneng kalau kamu temenin." Tangan Om Rey merangkul pundakku.
Om Rey tidak biasanya seperti ini. Rasanya beberapa hari terakhir ia semakin sering berkata tentang sesuatu yang membuatku merasa aneh. Bagaimana tidak, kata-kata Om Rey sering terdengar seperti...
Tidak, Danisa. Aku menggelengkan kepala. Apa sih yang kamu pikirkan?
Tak lama kami sampai di sebuah area yang sedang dalam tahap pembangunan di lantai 3 Mall itu.
"Rey, udah dateng lo." Sapa seorang pria tinggi yang sepertinya seumuran dengan Om Rey. Mereka melakukan tos dan saling memeluk sekilas.
Seorang perempuan cantik dengan pakaian yang elegan menghampiri kami. Sontak aku langsung merasa insecure, karena aku yang hanya memakai blouse dan skinny jeans. "Rey, udah lama kita gak ketemu." Perempuan itu memeluk Om Rey sekilas. Dari interaksinya aku tahu mereka sudah sangat dekat dengan Om Rey.
"Cel, Sar, kenalin. Ini Danisa." Om Rey memperkenalkanku.
Aku mengangguk sopan seraya mengulurkan tanganku. "Danisa, Om, Tante." Ujarku.
"Jadi ini..." Ujar pria itu. "Okay. Okay, gue diem." Sontak aku melihat ke arah Om Rey, karena bingung dengan sikap sahabatnya itu.
Tak ada yang salah dengan ekspresinya.
"Dan, ini sahabat Om, Marcel dan istrinya, Sarah." Om Rey memperkenalkan sahabat-sahabatnya padaku.
"Kamu cantik banget, Danisa." Puji Tante Sarah dengan ramah.
"Danis aja, Tante. Makasih, Tante. Tante juga cantik banget." Jujur aku merasa sangat canggung.
"Kamu beneran masih kuliah semester 1, Danis?" Tanya Om Marcel.
"Iya, Om." Sahutku bingung.
Marcel terkekeh seraya menatap ke arah Om Rey. "Parah lo, Rey."
Sontak aku melihat ke arah Om Rey yang sepertinya, jika aku tak salah melihat, ekspresinya seperti orang yang tertangkap basah. "Gak usah dipikirin, Dan. Dia emang kadang suka aneh."
Aku mengangguk saja walaupun sebenarnya tak paham dengan situasinya.
"Ya udah, Sar, jadi gimana konsep yang lo pengen?"
Kemudian Om Rey dan juga Tante Sarah mulai membicarakan konsep desain restoran yang diinginkan oleh Tante Sarah. Mereka larut dalam obrolan. Tapi aku merasa tak bosan sama sekali karena jujur aku jadi bisa melihat Om Rey jika sedang bertemu klien itu seperti apa.
Dan kini aku tahu ide-ide Om Rey benar-benar brilian. Ia memiliki imajinasi yang tinggi. Caranya menjelaskan pada Tante Sarah juga begitu detail hingga aku saja yang adalah orang awam, bisa ikut membayangkan seperti apa desain yang dipikirkannya.
Semakin kagum saja aku pada Om Rey ini.
"Okay jadi nanti gue bikinin dulu desainnya di ArchiCAD, entar lo bisa revisi kalau masih ada yang kurang." Pungkas Om Rey.
"Thanks banget ya, Rey. Gue percaya resto gue bakal keren banget di tangan lo." Puji Tante Sarah.
Setelah itu kami keluar dari area pembangunan. "Yakin lo gak akan traktir gue makan?" Canda Om Rey.
"Gak ah, takut ganggu. Lagian gue mau main dulu sama Clara."
Clara? Siapa itu?
"Lo gak bilang Clara dibawa. Pengen dong ketemu." Om Rey seketika sumringah.
"Makanya punya dong." Timpal Om Marcel. Seketika dada Om Marcel menjadi tempat mendarat pukulan dari Tante Sarah.
"Yah, masa ngomong gitu." Tegur Tante Sarah.
"Bun, Rey ini harus sering dikasih tahu biar sadar. Udah lepasin yang itu, jadiin cepet sama yang ini."
Lagi-lagi aku merasa kata-kata Om Marcel seperti ada hubungannya denganku.
Aneh. Aku semakin merasa Om Rey ini aneh. Kata-kata dari Om Marcel juga entah mengapa terasa penuh arti dan amb!gu. Selama ini aku selalu menganggap Om Rey memperlakukanku hanya sebagai seorang keponakan. Tapi kini aku semakin menyadari bahwa sejak awal sikap Om Rey memang aneh.
Aku baru menyadarinya sekarang. Terutama setelah bertemu dengan Om Marcel ini.
Kami kini berada di sebuah tempat bermain anak-anak. Ternyata Clara adalah putri dari Om Marcel dan Tante Sarah yang berusia dua tahun. Selama kami berada di area pembangunan, Clara bersama pengasuhnya menunggu di tempat bermain ini. Karena Clara masih sangat betah dan tak ingin pulang, kami semua masuk ke dalam tempat bermain itu.
Aku melihat Om Rey yang paling semangat untuk bertemu Clara. Ia berlari ke arah Clara dan langsung saja menggendong tubuh mungil itu ke udara. Om Rey terlihat begitu menyukai Clara. Ia mengikuti Clara kesana kemari. Berbeda dengan Om Marcel yang malah duduk bersamaku dan Tante Sarah.
"Clara kayaknya seneng banget ya sama Om Rey, Tante." Ujarku sambil gemas melihat interaksi Om Rey dengan gadis kecil itu.
"Waktu Clara lahir, Rey itu lebih heboh daripada Marcel. Aneh 'kan? Kalau Marcel itu emang lebih ke cuek 'kan, tapi kalau Rey itu kayak emang udah pengen dapet momongan, tapi sayangnya Manda masih belum hamil juga."
"Ya gimana mau hamil." Om Marcel tiba-tiba bergabung ke obrolan kami. "Orang dia pasang alat k^ntrasepsi."
"Hah?" Sahutku dan Tante Sarah berbarengan.
"Serius, Yah?" Tanya Tante Sarah ingin jawaban agar lebih yakin.
"Baru sebulan yang lalu kalau gak salah Rey tahu itu. Terus dia cerita ke Ayah." Sahut Om Marcel.
Syok. Aku benar-benar syok. Kenapa Tante Manda menggunakan alat itu di saat Om Rey sangat ingin memiliki anak? Sontak aku menatap Om Rey yang masih saja tertawa gembira bersama Clara. Entah mengapa hatiku berdenyut sakit, merasa empati padanya.
"Makanya, Nis. Ada kamu di sisi Rey, tolong bahagiain dia. Kasihan itu anak, korban bucin istrinya sendiri."
"Maksud Om Marcel gimana?" Aku berharap apa yang aku pikirkan sejak tadi tidak benar.
"Rey itu..." Tante Sarah segera membekap mulut Om Marcel.
"Yah, jangan suka ikut campur." Tegur sang istri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Next Kaka ❤️❤️❤️❤️
2023-08-29
1