Bab 20: Curahan Hati

"DORR!!"

Fina tiba-tiba saja mengagetkanku yang sedang duduk di bawah sebuah pohon rindang di salah satu taman yang ada di kampusku. Sepertinya jika aku memiliki penyakit jantung, sekarang aku sudah berada di ambulans menuju IGD.

"Fin..." Ku usap dadaku karena memang sekaget itu aku karena Fina yang datang dengan suara stereonya. "Kamu ngagetin tahu!" Kesalku.

Fina malah terbahak puas. "Gue udah manggil lo dari ujung taman, tahu. Lagian lo ngapain coba di sini sendirian? Mengasingkan diri lo? Gue cariin kemana ternyata di sini." Ia kemudian duduk di sebelahku.

"Aku lagi pengen menyendiri aja." Ujarku kembali pada lamunanku.

"Eh, lo belajar deh jangan aku-kamu. Geli tahu dengernya."

Ku tatap Fina dengan sinis. "Emang kenapa sih, aku 'kan orang Bandung. Ya cara ngomong aku kayak ginilah. gak ada yang salah."

"Lo itu sekarang di Jakarta. Di sini lo harus adaptasi. Lagian lo tahu gak yang bikin si Vito baper sama lo? Karena lo ngobrol ke dia pakai aku-kamu."

"Kamu ada-ada aja sih. Masa kayak gitu doang Vito baper."

"Seriusan. Emang bukan faktor utama, tapi salah satunya karena itu. Nih gue kasih tahu, di sini yang biasanya aku-kamu itu orang-orang yang udah pacaran."

Memang benar adanya. Sudah satu bulan lebih aku berada di sini, rasanya di jurusan hanya aku yang berbicara aku-kamu. Teman sejurusan kami ada yang berbicara aku-kamu, dan itupun hanya dengan pacarnya saja.

Di tempat asalku, kami terbiasa berbicara seperti itu. Tapi ternyata disini budayanya sedikit berbeda. Apalagi jika benar Vito 'baper' karena cara bicaraku, itu artinya aku harus berubah.

Orang bilang panjang umur jika orang yang kita bicarakan atau sedang kita pikirkan tiba-tiba datang. Itulah yang terjadi sekarang, Vito sedang berlari kecil di rumput hijau taman menuju ke arahku.

"Ngapain itu idol wanna be datang kemari." Celetuk Fina.

Baiklah. Kuputuskan mengubah cara bicaraku saat di kampus.

"Mau apa lagi, pasti mau ngerecokin gue."

Fina sontak menolehku dengan tercengang. "Nah itu baru anak sini." kedua jempolnya mengarah padaku.

"Hai Nis, ngapain disini." Vito duduk di sebelah kiriku berseberangan dengan Fina.

"Danis doang yang disapa. Okay, fine, gue 'kan tembus pandang." Sindir Fina.

Vito terkekeh. "Baper amat sih, lo. Lagian aneh banget kalau gue nyapa lo, Hai Fina. Mau muntah rasanya."  Ucapnya dengan nada bercanda.

Fina melemparkan kotak susu yang sudah kosong yang sejak tadi dimainkannya pada Vito. "Sembarangan. Gue juga sama pengen muntah ngelihat lo sekarang!"

Vito mengerutkan dahinya. "Gue kenapa emangnya?"

Tiba-tiba Fina berbicara serius. "Udah deh lo gak perlu belaga bego depan gue. Gue tahu lo main 'kan sama tante-tante makanya lo bisa berubah kayak gini!" Seloroh Fina dengan front^lnya.

Sontak raut wajah Vito berubah kesal. "Lo jangan sembarangan! Jangan-jangan lo yang nyebarin fitnah kalau gue jadi simpenannya tante-tante selama ini sama orang-orang. Lo punya masalah apa sih sama gue?!"

"Lo yang fitnah! Ngapain juga gue nyebarin gosip gak mutu kayak gitu! Dengan orang-orang lihat lo sering bareng sama Stefan and the g^nk udah ngejawab semuanya! Lagian lo ngapain sih main sama itu gigol0? Berguru lo sama dia?!"

Vito terdiam. Aneh sekali ia langsung terdiam seperti itu. Apa spekulasi orang-orang selama ini benar bahwa ia menjadi lelaki penghibur bagi perempuan-perempuan kaya raya yang kesepian?

"Nis, lo percaya?" Tanyanya menatapku khawatir.

"Gue gak tahu." Ujarku, membuat raut wajah Vito berubah tercengang. "Tapi sebaiknya lo emang jangan deket-deket sama Stefan."

"Kenapa cara ngomong lo jadi gitu? Pasti gara-gara dia!" Bentaknya pada Fina.

"Udah dong, kalian ini berantem terus kalau ketemu. Pusing gue dengernya." Leraiku.

Ponsel Vito berbunyi ia segera memeriksanya dan menghela nafas kesal. "Gue pergi dulu. Nih buat lo." Ia mengeluarkan sebatang coklat dari saku jaketnya kemudian pergi.

"Dasar s!nting!" Umpat Fina saat Vito sudah cukup jauh. "Dulu dia anak yang baik dan asyik. Sekarang kok jadi gitu sih?!"

Ku sodorkan coklat itu pada Fina. "Udah ih, kam eh lo marah-marah mulu."

"Serius buat gue?" Tanya Fina meraih coklat itu dari tanganku.

Aku mengangguk. "Biar lo moodnya jadi bagus. Kuping gue sakit denger lo teriak-teriak terus."

"Thanks kalau gitu." Dengan semangat Fina membuka coklat itu dan mulai memakannya. "Sekarang lo ceritain. Kenapa dari pagi lo ngelamun terus. Biasanya kalau dosen ngejelasin, buku lo penuh sama catetan lo. Tapi tadi gue lihat catetan lo bersih putih tak bernoda gitu. Kenapa lo?"

Aku terdiam dan berpikir, apa aku cerita pada Fina? Terkadang dia selalu bisa memberikanku solusi yang logis saat aku memiliki masalah.

"Ini tentang Om Rey." Ucapku akhirnya.

"Kenapa lagi Om lo itu?"

"Lo udah tahu 'kan Om Rey suka sama gue. Dan kayaknya... gue juga suka sama dia. Gue gila gak sih?!"

"Fiks, lo emang udah gila. Suka sama suami tante lo sendiri. Kalian berdua udah gila. Gila banget malahan."

Aku mendengus. "Lo mah gak ngasih solusi. Malah ngatain."

"Kan lo nanya lo gila apa kagak, ya bener 'kan gue jawabnya."

"Iya maksudnya gue harus gimana. Apa gue harus pindah ya dari rumah itu? Gue udah gak bisa nganggep dia sebagai Om gue lagi. Sekarang kalau lihat dia gue rasanya kayak..."

"Kayak apa?" Fina masih sibuk memakan coklat itu.

"Kayak gue ngelihat seorang cowok aja. Ganteng, baik, perhatian, dan manly abis. Terus dia juga dewasa banget. Dan lo tahu gak, gue baru sadar jadi selama ini perhatian dia ke gue itu bukan perhatian Om ke ponakannya, tapi cowok ke cewek yang disukainnya. Ngerti gak sih lo?" Ujarku gemas karena tak menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keseluruhan dari perasaanku.

"Iya ngerti. Sejak kapan emang Om Rey suka sama lo?"

Aku memainkan tali hoodie yang ku kenakan. "Dari pertama dia lihat gue katanya." Cicitku malu-malu.

Fina terbahak keras sekali. "Gila emang Om lo. Berarti selama ini dia nahan perasaannya dan bersikap kayak Om sama ponakan ke lo padahal sebenernya dia suka sama lo. Pinter banget." Pujinya sarkas.

"Tapi menurut lo Om Rey ini baik gak sih, Fin?" Tanyaku. Biasanya Fina ini bisa menilai orang dengan sangat baik.

"Baik, sih. Yang gue tahu dari cerita-cerita lo dia emang cowok yang baik. Sebenernya, awalnya gue udah curiga soalnya sikap om lo yang terlalu protektif sama lo itu janggal banget. Terus gue juga mikirnya ini suami tante lo Om-om beristri tapi kok segitunya sama lo, kentara banget dia suka sama lo. Punya istri tapi malah mepet ponakannya. Gue udah sempet neg^tif thinking sih sama dia. Tapi pas lo sering ceritain gimana kelakuan tante lo yang workaholic itu, gue jadi ngerti kenapa dia nyaman sama lo. Malah gue gak ngerti kenapa dia bisa kawin sama cewek modelan tante lo itu. Soalnya Om Rey ini kayaknya tipe cowok yang family oriented gitu, mentingin keluarga dan tipe cowok yang setia."

Aku terenyuh mendengarnya. Benar 'kan apa kataku, Fina memang pandai menilai orang. Bahkan ia sudah bisa merasakan sikap Om Rey yang menyukaiku di saat aku sendiri tak menyadarinya.

"Terus menurut lo hubungan gue sama Om Rey, benar apa salah?"

"Ya jelas salah."

Seketika aku cemberut. "Iya sih."

"Salah kalau lo berhubungan sama dia sekarang. Mau gimanapun dia suaminya tante lo."

"Tapi Om Rey lagi proses cerai sekarang."

"Serius?" Kuanggukan kepalaku. "Tapi kalian tetep harus sabar. Lo harus tunggu sampai proses cerai itu selesai baru lo bisa pacaran sama dia."

"Iya bener, Fin. Menurut lo, gue masih bisa gak tinggal bareng dia? Apa gue harus pindah?"

"Lo maunya gimana?" Fina menatapku penuh arti.

"Apaan sih lo kok liatin gue kayak gitu." Seketika aku gugup.

"Tinggal bareng seorang cowok dewasa normal yang suka sama lo, pasti minimal kalian udah ciuman."

"FINA!" Teriakku.

"Aduh kuping gue." Dumelnya seraya menutup kupingnya, aku berteriak cukup keras memang. "Lo kalem kali. Gak usah malu sama gue." Ia terkekeh.

Wajahku pasti sudah memerah.

"Lo mau saran yang gimana? Tanpa gue kasih tahu, lo juga udah ngerti kali kalau lo seharusnya gimana. Tapi balik lagi sama keputusan lo. Kalau lo mau ngikutin logika lo, ya lo harus pindah. Atau kalau lo mau ngikutin hati lo, ya gak usah. Cuma ya..."

"Cuma apa?"

"Lo berarti mutusin buat main api kalau tetep tinggal disana. Anget sih, tapi hati-hati lo sama dia bisa kebakar nantinya."

Terpopuler

Comments

Rodiah Rodiah

Rodiah Rodiah

ngak sabar lagi ,lanjuuutlah thooor🙏

2023-09-05

1

Rodiah Rodiah

Rodiah Rodiah

sudah habiz apa ceritanya😄

2023-09-05

1

sarinah najwa

sarinah najwa

vina ini bijak yah.. demen kalau teman kayak vina🥰🥰🥰

2023-09-05

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Bertemu Om Rey
2 Bab 2: Makan Malam
3 Bab 3: Menuju Kampus
4 Bab 4: Berbelanja
5 Bab 5: Semakin Dekat
6 Bab 6: Amanda
7 Bab 7: Memeluk Om Rey
8 Bab 8: Benar-benar Dijemput
9 Bab 9: Kejadian Semalam
10 Bab 10: Parfum
11 Bab 11: Vito dan Tantenya
12 Bab 12: Rey dan Gadis Kecil
13 Bab 13: Malam Api Unggun
14 Bab 14: Terjerat Pesona Om Rey
15 Bab 15: Menghindar
16 Bab 16: Sepanik-paniknya
17 Bab 17: Rumah Tangga Hambar
18 Bab 18: Pernyataan Cinta
19 Bab 19: Kembali ke Semula itu Mustahil
20 Bab 20: Curahan Hati
21 Bab 21: Dimabuk Cinta
22 Bab 22: Agar Satu Sama
23 Bab 23: Terlalu Malu
24 Bab 24: Firasat Ibu
25 Bab 25: Maukah Kamu jadi Pacar Om?
26 Bab 26: Dibutakan Cinta
27 Bab 27: Tahap Selanjutnya
28 Bab 28: Gosip Satu Angkatan
29 Bab 29: For The Last Time
30 Bab 30: Pelakor itu Keponakanku
31 Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma
32 Bab 32: Aku Tidak Merebutnya
33 Bab 33: Seminggu Sebelum Menikah
34 Bab 34: Vito dan Rasanya
35 Bab 35: Menemui Calon Suami
36 Bab 36: Nasihat Bunda
37 Bab 37: Rencana
38 Bab 38: Mas Rey
39 Bab 39: Pengalaman Pertama
40 Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya
41 Bab 41: Menghilang
42 Bab 42: Dijebak
43 Bab 43: Tak Habis Pikir
44 Bab 44: Istri Kecil
45 Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan
46 Bab 46: Satu Bulan Menikah
47 Bab 47: Suamiku Selingkuh
48 Bab 48: Bingung
49 Bab 49: Rasa yang Aneh
50 Bab 50: Akhirnya Bertemu Tante Manda
51 Bab 51: Aku Memang Pelakor
52 Bab 52: Yang Terbaik
53 Bab 53: Mas Rey Pergi
54 Bab 54: Sangat Rindu
55 Bab 55: Vito itu Temanku
56 Bab 56: Kemana Takdir akan Berpihak?
57 Bab 57: Kabar
58 Bab 58: Tanteku, Maduku
59 Bab 59: Cinta Segi Empat
60 Bab 60: Tak Sanggup
61 Bab 61: Solusi
62 Bab 62: Rencana Mas Rey
63 Bab 63: Terkuak
64 Bab 64: Tertangkap Basah
65 Bab 65: Ditemani Fina dan Vito
66 Bab 66: Membuat Vito Mengerti
67 Bab 67: Menyerah
68 Bab 68: Kejutan
69 Bab 69: Dua Pria Bodoh
70 Bab 70: Bukan Teman Lagi
71 Bab 71: Menjebak Amanda
72 Bab 72: Permainan Selesai
73 Bab 73: Kehidupan yang Berbeda
74 Bab 74: Manda Sudah Sembuh
75 Bab 75: Gender Reveal
76 Bab 76: Kata Terakhir
77 Bab 77: Baby Revi
78 Bab 78: Rasa Canggung
79 Bab 79: Ibu Susu Baby Revi
80 Bab 80: Melahirkan
81 Bab 81: Mama, Papa, Ayah
82 Bab 82: Om Rey Tersayang (end)
83 Ekstra 1: Promosi Novel Baru
84 Ekstra 2: Visual Novel
85 Ekstra 3: Wanita Rahasia Daddy Zach
86 Ekstra 4: Pengorbanan Nayara
87 Ekstra 5: The Bad Boy and His Nanny
88 Ekstra 6: Marry Me, Dev
89 Ekstra 7: My Big Girl
90 Ekstra 8: Single Mom
91 Ekstra 9: Miss Rania, I Love You
92 Ekstra 10: Selingkuh Itu Indah
93 Ekstra 11: Mengejar Cinta Nabila
94 Ekstra 12: Jodohkah Kita?
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1: Bertemu Om Rey
2
Bab 2: Makan Malam
3
Bab 3: Menuju Kampus
4
Bab 4: Berbelanja
5
Bab 5: Semakin Dekat
6
Bab 6: Amanda
7
Bab 7: Memeluk Om Rey
8
Bab 8: Benar-benar Dijemput
9
Bab 9: Kejadian Semalam
10
Bab 10: Parfum
11
Bab 11: Vito dan Tantenya
12
Bab 12: Rey dan Gadis Kecil
13
Bab 13: Malam Api Unggun
14
Bab 14: Terjerat Pesona Om Rey
15
Bab 15: Menghindar
16
Bab 16: Sepanik-paniknya
17
Bab 17: Rumah Tangga Hambar
18
Bab 18: Pernyataan Cinta
19
Bab 19: Kembali ke Semula itu Mustahil
20
Bab 20: Curahan Hati
21
Bab 21: Dimabuk Cinta
22
Bab 22: Agar Satu Sama
23
Bab 23: Terlalu Malu
24
Bab 24: Firasat Ibu
25
Bab 25: Maukah Kamu jadi Pacar Om?
26
Bab 26: Dibutakan Cinta
27
Bab 27: Tahap Selanjutnya
28
Bab 28: Gosip Satu Angkatan
29
Bab 29: For The Last Time
30
Bab 30: Pelakor itu Keponakanku
31
Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma
32
Bab 32: Aku Tidak Merebutnya
33
Bab 33: Seminggu Sebelum Menikah
34
Bab 34: Vito dan Rasanya
35
Bab 35: Menemui Calon Suami
36
Bab 36: Nasihat Bunda
37
Bab 37: Rencana
38
Bab 38: Mas Rey
39
Bab 39: Pengalaman Pertama
40
Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya
41
Bab 41: Menghilang
42
Bab 42: Dijebak
43
Bab 43: Tak Habis Pikir
44
Bab 44: Istri Kecil
45
Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan
46
Bab 46: Satu Bulan Menikah
47
Bab 47: Suamiku Selingkuh
48
Bab 48: Bingung
49
Bab 49: Rasa yang Aneh
50
Bab 50: Akhirnya Bertemu Tante Manda
51
Bab 51: Aku Memang Pelakor
52
Bab 52: Yang Terbaik
53
Bab 53: Mas Rey Pergi
54
Bab 54: Sangat Rindu
55
Bab 55: Vito itu Temanku
56
Bab 56: Kemana Takdir akan Berpihak?
57
Bab 57: Kabar
58
Bab 58: Tanteku, Maduku
59
Bab 59: Cinta Segi Empat
60
Bab 60: Tak Sanggup
61
Bab 61: Solusi
62
Bab 62: Rencana Mas Rey
63
Bab 63: Terkuak
64
Bab 64: Tertangkap Basah
65
Bab 65: Ditemani Fina dan Vito
66
Bab 66: Membuat Vito Mengerti
67
Bab 67: Menyerah
68
Bab 68: Kejutan
69
Bab 69: Dua Pria Bodoh
70
Bab 70: Bukan Teman Lagi
71
Bab 71: Menjebak Amanda
72
Bab 72: Permainan Selesai
73
Bab 73: Kehidupan yang Berbeda
74
Bab 74: Manda Sudah Sembuh
75
Bab 75: Gender Reveal
76
Bab 76: Kata Terakhir
77
Bab 77: Baby Revi
78
Bab 78: Rasa Canggung
79
Bab 79: Ibu Susu Baby Revi
80
Bab 80: Melahirkan
81
Bab 81: Mama, Papa, Ayah
82
Bab 82: Om Rey Tersayang (end)
83
Ekstra 1: Promosi Novel Baru
84
Ekstra 2: Visual Novel
85
Ekstra 3: Wanita Rahasia Daddy Zach
86
Ekstra 4: Pengorbanan Nayara
87
Ekstra 5: The Bad Boy and His Nanny
88
Ekstra 6: Marry Me, Dev
89
Ekstra 7: My Big Girl
90
Ekstra 8: Single Mom
91
Ekstra 9: Miss Rania, I Love You
92
Ekstra 10: Selingkuh Itu Indah
93
Ekstra 11: Mengejar Cinta Nabila
94
Ekstra 12: Jodohkah Kita?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!