"DORR!!"
Fina tiba-tiba saja mengagetkanku yang sedang duduk di bawah sebuah pohon rindang di salah satu taman yang ada di kampusku. Sepertinya jika aku memiliki penyakit jantung, sekarang aku sudah berada di ambulans menuju IGD.
"Fin..." Ku usap dadaku karena memang sekaget itu aku karena Fina yang datang dengan suara stereonya. "Kamu ngagetin tahu!" Kesalku.
Fina malah terbahak puas. "Gue udah manggil lo dari ujung taman, tahu. Lagian lo ngapain coba di sini sendirian? Mengasingkan diri lo? Gue cariin kemana ternyata di sini." Ia kemudian duduk di sebelahku.
"Aku lagi pengen menyendiri aja." Ujarku kembali pada lamunanku.
"Eh, lo belajar deh jangan aku-kamu. Geli tahu dengernya."
Ku tatap Fina dengan sinis. "Emang kenapa sih, aku 'kan orang Bandung. Ya cara ngomong aku kayak ginilah. gak ada yang salah."
"Lo itu sekarang di Jakarta. Di sini lo harus adaptasi. Lagian lo tahu gak yang bikin si Vito baper sama lo? Karena lo ngobrol ke dia pakai aku-kamu."
"Kamu ada-ada aja sih. Masa kayak gitu doang Vito baper."
"Seriusan. Emang bukan faktor utama, tapi salah satunya karena itu. Nih gue kasih tahu, di sini yang biasanya aku-kamu itu orang-orang yang udah pacaran."
Memang benar adanya. Sudah satu bulan lebih aku berada di sini, rasanya di jurusan hanya aku yang berbicara aku-kamu. Teman sejurusan kami ada yang berbicara aku-kamu, dan itupun hanya dengan pacarnya saja.
Di tempat asalku, kami terbiasa berbicara seperti itu. Tapi ternyata disini budayanya sedikit berbeda. Apalagi jika benar Vito 'baper' karena cara bicaraku, itu artinya aku harus berubah.
Orang bilang panjang umur jika orang yang kita bicarakan atau sedang kita pikirkan tiba-tiba datang. Itulah yang terjadi sekarang, Vito sedang berlari kecil di rumput hijau taman menuju ke arahku.
"Ngapain itu idol wanna be datang kemari." Celetuk Fina.
Baiklah. Kuputuskan mengubah cara bicaraku saat di kampus.
"Mau apa lagi, pasti mau ngerecokin gue."
Fina sontak menolehku dengan tercengang. "Nah itu baru anak sini." kedua jempolnya mengarah padaku.
"Hai Nis, ngapain disini." Vito duduk di sebelah kiriku berseberangan dengan Fina.
"Danis doang yang disapa. Okay, fine, gue 'kan tembus pandang." Sindir Fina.
Vito terkekeh. "Baper amat sih, lo. Lagian aneh banget kalau gue nyapa lo, Hai Fina. Mau muntah rasanya." Ucapnya dengan nada bercanda.
Fina melemparkan kotak susu yang sudah kosong yang sejak tadi dimainkannya pada Vito. "Sembarangan. Gue juga sama pengen muntah ngelihat lo sekarang!"
Vito mengerutkan dahinya. "Gue kenapa emangnya?"
Tiba-tiba Fina berbicara serius. "Udah deh lo gak perlu belaga bego depan gue. Gue tahu lo main 'kan sama tante-tante makanya lo bisa berubah kayak gini!" Seloroh Fina dengan front^lnya.
Sontak raut wajah Vito berubah kesal. "Lo jangan sembarangan! Jangan-jangan lo yang nyebarin fitnah kalau gue jadi simpenannya tante-tante selama ini sama orang-orang. Lo punya masalah apa sih sama gue?!"
"Lo yang fitnah! Ngapain juga gue nyebarin gosip gak mutu kayak gitu! Dengan orang-orang lihat lo sering bareng sama Stefan and the g^nk udah ngejawab semuanya! Lagian lo ngapain sih main sama itu gigol0? Berguru lo sama dia?!"
Vito terdiam. Aneh sekali ia langsung terdiam seperti itu. Apa spekulasi orang-orang selama ini benar bahwa ia menjadi lelaki penghibur bagi perempuan-perempuan kaya raya yang kesepian?
"Nis, lo percaya?" Tanyanya menatapku khawatir.
"Gue gak tahu." Ujarku, membuat raut wajah Vito berubah tercengang. "Tapi sebaiknya lo emang jangan deket-deket sama Stefan."
"Kenapa cara ngomong lo jadi gitu? Pasti gara-gara dia!" Bentaknya pada Fina.
"Udah dong, kalian ini berantem terus kalau ketemu. Pusing gue dengernya." Leraiku.
Ponsel Vito berbunyi ia segera memeriksanya dan menghela nafas kesal. "Gue pergi dulu. Nih buat lo." Ia mengeluarkan sebatang coklat dari saku jaketnya kemudian pergi.
"Dasar s!nting!" Umpat Fina saat Vito sudah cukup jauh. "Dulu dia anak yang baik dan asyik. Sekarang kok jadi gitu sih?!"
Ku sodorkan coklat itu pada Fina. "Udah ih, kam eh lo marah-marah mulu."
"Serius buat gue?" Tanya Fina meraih coklat itu dari tanganku.
Aku mengangguk. "Biar lo moodnya jadi bagus. Kuping gue sakit denger lo teriak-teriak terus."
"Thanks kalau gitu." Dengan semangat Fina membuka coklat itu dan mulai memakannya. "Sekarang lo ceritain. Kenapa dari pagi lo ngelamun terus. Biasanya kalau dosen ngejelasin, buku lo penuh sama catetan lo. Tapi tadi gue lihat catetan lo bersih putih tak bernoda gitu. Kenapa lo?"
Aku terdiam dan berpikir, apa aku cerita pada Fina? Terkadang dia selalu bisa memberikanku solusi yang logis saat aku memiliki masalah.
"Ini tentang Om Rey." Ucapku akhirnya.
"Kenapa lagi Om lo itu?"
"Lo udah tahu 'kan Om Rey suka sama gue. Dan kayaknya... gue juga suka sama dia. Gue gila gak sih?!"
"Fiks, lo emang udah gila. Suka sama suami tante lo sendiri. Kalian berdua udah gila. Gila banget malahan."
Aku mendengus. "Lo mah gak ngasih solusi. Malah ngatain."
"Kan lo nanya lo gila apa kagak, ya bener 'kan gue jawabnya."
"Iya maksudnya gue harus gimana. Apa gue harus pindah ya dari rumah itu? Gue udah gak bisa nganggep dia sebagai Om gue lagi. Sekarang kalau lihat dia gue rasanya kayak..."
"Kayak apa?" Fina masih sibuk memakan coklat itu.
"Kayak gue ngelihat seorang cowok aja. Ganteng, baik, perhatian, dan manly abis. Terus dia juga dewasa banget. Dan lo tahu gak, gue baru sadar jadi selama ini perhatian dia ke gue itu bukan perhatian Om ke ponakannya, tapi cowok ke cewek yang disukainnya. Ngerti gak sih lo?" Ujarku gemas karena tak menemukan kata-kata yang tepat untuk menggambarkan keseluruhan dari perasaanku.
"Iya ngerti. Sejak kapan emang Om Rey suka sama lo?"
Aku memainkan tali hoodie yang ku kenakan. "Dari pertama dia lihat gue katanya." Cicitku malu-malu.
Fina terbahak keras sekali. "Gila emang Om lo. Berarti selama ini dia nahan perasaannya dan bersikap kayak Om sama ponakan ke lo padahal sebenernya dia suka sama lo. Pinter banget." Pujinya sarkas.
"Tapi menurut lo Om Rey ini baik gak sih, Fin?" Tanyaku. Biasanya Fina ini bisa menilai orang dengan sangat baik.
"Baik, sih. Yang gue tahu dari cerita-cerita lo dia emang cowok yang baik. Sebenernya, awalnya gue udah curiga soalnya sikap om lo yang terlalu protektif sama lo itu janggal banget. Terus gue juga mikirnya ini suami tante lo Om-om beristri tapi kok segitunya sama lo, kentara banget dia suka sama lo. Punya istri tapi malah mepet ponakannya. Gue udah sempet neg^tif thinking sih sama dia. Tapi pas lo sering ceritain gimana kelakuan tante lo yang workaholic itu, gue jadi ngerti kenapa dia nyaman sama lo. Malah gue gak ngerti kenapa dia bisa kawin sama cewek modelan tante lo itu. Soalnya Om Rey ini kayaknya tipe cowok yang family oriented gitu, mentingin keluarga dan tipe cowok yang setia."
Aku terenyuh mendengarnya. Benar 'kan apa kataku, Fina memang pandai menilai orang. Bahkan ia sudah bisa merasakan sikap Om Rey yang menyukaiku di saat aku sendiri tak menyadarinya.
"Terus menurut lo hubungan gue sama Om Rey, benar apa salah?"
"Ya jelas salah."
Seketika aku cemberut. "Iya sih."
"Salah kalau lo berhubungan sama dia sekarang. Mau gimanapun dia suaminya tante lo."
"Tapi Om Rey lagi proses cerai sekarang."
"Serius?" Kuanggukan kepalaku. "Tapi kalian tetep harus sabar. Lo harus tunggu sampai proses cerai itu selesai baru lo bisa pacaran sama dia."
"Iya bener, Fin. Menurut lo, gue masih bisa gak tinggal bareng dia? Apa gue harus pindah?"
"Lo maunya gimana?" Fina menatapku penuh arti.
"Apaan sih lo kok liatin gue kayak gitu." Seketika aku gugup.
"Tinggal bareng seorang cowok dewasa normal yang suka sama lo, pasti minimal kalian udah ciuman."
"FINA!" Teriakku.
"Aduh kuping gue." Dumelnya seraya menutup kupingnya, aku berteriak cukup keras memang. "Lo kalem kali. Gak usah malu sama gue." Ia terkekeh.
Wajahku pasti sudah memerah.
"Lo mau saran yang gimana? Tanpa gue kasih tahu, lo juga udah ngerti kali kalau lo seharusnya gimana. Tapi balik lagi sama keputusan lo. Kalau lo mau ngikutin logika lo, ya lo harus pindah. Atau kalau lo mau ngikutin hati lo, ya gak usah. Cuma ya..."
"Cuma apa?"
"Lo berarti mutusin buat main api kalau tetep tinggal disana. Anget sih, tapi hati-hati lo sama dia bisa kebakar nantinya."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
Rodiah Rodiah
ngak sabar lagi ,lanjuuutlah thooor🙏
2023-09-05
1
Rodiah Rodiah
sudah habiz apa ceritanya😄
2023-09-05
1
sarinah najwa
vina ini bijak yah.. demen kalau teman kayak vina🥰🥰🥰
2023-09-05
1