Bel rumah berbunyi. Segera aku berlari ke depan rumah dan benar saja, pengantar pizza itu sudah datang membawakan pesananku. Segera aku membawa pizza itu masuk dan menyajikannya di meja ruang tengah. Aku berlari kecil menuju dapur dan membawa dua buah gelas untuk cola yang memang ku pesan untuk menemani menyantap pizza.
Cola dan pizza memang kombinasi yang sangat sempurna.
Kemudian kembali aku duduk di karpet yang menghadap ke sebuah TV layar datar. Sebuah film dari Netflix sudah aku siapkan untuk menemani kami memakan pizza.
"Udah dateng pizzanya?" Om Rey keluar dari kamarnya dan menghampiriku.
"Udah, Om. Baru aja. Ayo dimakan, Om. " Aku mempersilahkan. "Eh maksudnya, makasih ya, Om. Dimakan, Om pizzanya." Ralatku.
Kenapa malah aku yang menawarinya pizza, semua ini 'kan dibayar oleh Om Rey.
Om Rey tersenyum gemas seraya mengusak rambutku. "Kamu gak usah sungkan sama Om. Makan yang banyak ya." Om Rey pun mengambil sepotong pizza dan duduk di sebelahku.
Kami mulai melahap pizza itu. "Kita sambil nonton ya, Om." Ku tekan tombol play.
"Ini nonton film apa?" Tanya Om Rey.
"Ini film action, Om. Katanya sih seru. Ratingnya juga bagus. Gak apa-apa 'kan aku nyalain TVnya, Om?"
Om Rey mencubit gemas pipiku. "Auw, sakit Om!"
"Dibilangin sama Om gak usah sungkan gitu. Anggap ini rumah kamu sendiri."
Aku terkekeh. "Okay deh kalau gitu. Makasih Om Rey ganteng dan baik hati." Kembali ku lahap pizzaku.
Saat akan mencelupkan pizza pada saus garlic butter di meja, tak sengaja aku menangkap basah Om Rey sedang menatapku. "Kenapa, Om?" Tanyaku heran.
Om Rey berdeham. "Gak apa-apa, kok."
Lagi-lagi Om Rey bersikap aneh.
Kemudian kami sama-sama terlarut dalam film itu. Sesekali kami berdiskusi mengenai jalannya film tersebut. Namun lama-lama rasanya jalan ceritanya sedikit membosankan. Hingga mataku terasa berat.
Dan sepertinya aku tertidur karena ketika aku terbangun aku sudah berada di tempat tidur. Tapi aku terheran-heran karena aku tidak terbangun di kamarku, tapi di kamar Om Rey!
Sontak aku bangkit dari posisi berbaringku. Melihat ke sekeliling kamar itu dan mendapati Om Rey tidak ada di kamar. Syukurlah. Aku kira kami tidur bersama.
Apa yang aku pikirkan, sih?
Aku pun beranjak dari tempat tidur dan keluar dari kamar, dan melihat Om Rey tertidur di sofa. Ku lirik jam di dinding, ini masih tengah malam. Ku bangunkan saja Om Rey.
Ku tepuk pelan lengannya.
"Om, pindah tidurnya ya. Om kayak gak nyaman gitu tidurnya." Perlahan Om Rey membuka matanya dan melihat ke arahku. Sepertinya nyawanya belum benar-benar terkumpul, karena matanya terlihat sendu dan tanpa ekspresi.
"Om? Kenapa aku ada di kamar Om ya? Apa aku ketiduran tadi? Terus Om mindahin aku?"
Lagi-lagi Om Rey hanya terdiam. Kedua manik hitamnya masih menatapku.
"Om...?" Aku sedikit khawatir karena ia tak menggubrisku.
Namun tiba-tiba saja Om Rey menarik tanganku sekuat tenaga hingga aku berlutut di depannya. Tangannya meraih tengkukku dan seketika aku bisa melihat kedua matanya yang tertutup dari jarak kurang dari satu senti saja.
Kurasakan sesuatu yang lembut dan basah di bibirku.
Apa ini? Apa yang ada di bibirku adalah...bibir Om Rey?
Seketika aku mengingat beberapa adegan film yang pernah aku lihat. Apa seperti ini rasanya sedang berciuman?
Dan... apa Om Rey sedang menciumku?!
Setelah cukup sadar aku mendorong jauh tubuhnya dan menutup bibirku yang lembab. Tanpa pamit aku berlari menuju kamarku di lantai dua dan mengunci pintu.
Jantungku berdetak tak karuan. Kejadian yang baru saja terjadi terus berputar di dalam benakku. Jelas sekali.
Bibir Om Rey, menyentuh bibirku. Bahkan tak hanya menyentuh, bermain dengan liarnya di bibirku.
Seketika aku tak mengerti. Kenapa Om Rey melakukan itu?
Sisa malam itu aku tak bisa tidur. Bagaimanapun aku mencoba menutup mataku, tapi aku tetap terjaga. Hingga subuh pun tiba. Aku segera membersihkan diri dan berjalan menuju dapur untuk menyiapkan sarapan. Namun walaupun tanganku sibuk mengolah berbagai bahan, pikiranku terus tertuju pada kejadian itu.
Hingga aku terperanjat saat tiba-tiba saja Om Rey sudah duduk di salah satu kursi meja makan itu. Hampir saja aku melemparkan spatula yang sedang aku pegang.
"Kamu kenapa, Dan? Kok kayak yang kaget ngelihat Om. Emangnya Om hantu?" Candanya.
Jujur aku tertegun dengan sikapnya yang biasa seakan tidak terjadi apapun.
"Muka kamu kenapa?" Om Rey menelisik, dahinya mengerut menatapku. "Kamu demam? Kok mukanya merah?"
"Hah? Eng-enggak, kok." Tanganku menyentuh pipiku, dan memang terasa hangat. Segera aku mengalihkan perhatianku dengan menyelesaikan masakanku.
Saat akan menata meja, aku melihat Om Rey kembali ke kamarnya.
Beberapa saat kemudian kami sudah berada di meja makan, menyantap sarapan bersama-sama. Om Rey sudah siap dengan setelan kantornya. Kemeja dan celana jeans, dipadukan dengan blazer semi formal. Sepertinya kantor Om Rey memang tidak terlalu formal dalam menggunakan pakaian, buktinya Om Rey selalu berpakaian seperti itu. Maksudku, aku kira orang yang berkerja di kantor pasti menggunakan dasi, tapi Om Rey tak pernah mengenakannya.
"Nanti udah kuliah kamu kerja lagi?" Suara Om Rey memecah keheningan.
"Iya, Om." Ujarku singkat. Jujur rasanya menjadi sangat canggung mengingat kejadian semalam.
"Pulang jam lima 'kan? Nanti Om jemput ya." Om Rey terlihat biasa saja, seperti tak ada apa-apa.
"Gak usah, Om." Ujarku tak enak.
"Gak apa-apa. Lagian Om khawatir kalau kamu pulang sendiri. Jadi biar Om jemput aja kamu nanti."
Aku terdiam tak menggubrisnya.
"Kamu kenapa, Dan? Kok jadi pendiem gitu sejak tadi? Bener ya kamu sakit?"
"Hah? Eng-enggak, Kok. Aku gak apa-apa."
"Semalem kamu pindah dari kamar Om, ya? Jam berapa? Kok Om Gak tahu?"
Seketika aku menatapnya bingung.
"Maksud Om gimana?"
"Kemarin kamu ketiduran. Karena Om udah lumayan ngantuk, terus angkat kamu ke kamar atas lumayan menguras tenaga, jadi Om pindahin kamu ke kamar Om aja. Tapi pas Om kebangun di sofa, Om ngecek kamu di kamar, eh kamu udah gak ada."
Jadi kejadian semalam itu aku mimpi atau bagaimana? Kenapa Om Rey tidak mengingatnya?
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
miranda Arsyra
si om pinter bener ngibul nya
2023-10-15
3
Dwi Aryani
pura pura amnesia om..
2023-10-15
1