Om Rey menjauh dan menatapku dengan senyum tipis di wajahnya. "Jadi itu jawaban kamu, Dan?"
"Aku..." Ku palingkan wajahku. "Aku gak tahu, Om..."
Ku rasakan pucuk kepalaku di kecupnya. "Om, paham. Om gak akan maksa. Kamu telaah perasaan kamu dulu aja. Kamu tanya pelan-pelan hati kamu, apakah kamu bener suka sama Om juga atau enggak."
Aku masih memalingkan wajahku.
"Dan mengenai kamu tinggal disini atau enggak..." Seketika aku memusatkan perhatianku. Cukup penasaran dengan apa yang akan Om Rey ucapkan. "Om setuju seharusnya kita gak tinggal bersama. Akan bahaya untuk kita. Om takut gak bisa nahan kayak tadi. Kalau Manda gak dateng, mungkin aja Om udah..."
Seketika tubuhku meremang aneh, seraya perasaan tidak rela tiba-tiba saja hinggap. Memang benar harusnya kami tak tinggal bersama, tapi rasanya aku tak ingin pergi dari sini.
"Jangan sedih gitu dong mukanya." Om Rey menangkap ketidakrelaanku yang bahkan tak aku sadari.
"Hah? Enggak kok, Om." Elakku.
"Om akan nyari apartemen buat kamu tinggal. Kamu tinggal di sana biar bunda kamu gak khawatir."
"Tapi sewa apartemen itu mahal, Om." Darimana aku bisa membayar uang sewanya, Om Rey ini bagaimana?
Om Rey malah tersenyum gemas. "Om yang akan bayar uang sewanya, Dan. Kamu tinggal di sana dan fokus sama kuliah kamu. Gak usah pikirin yang lain."
"Tapi Om, aku gak mungkin terima itu. Kalau Om mau bantu aku, bantu aku cari kost aja..."
"Enggak, Dan. Kamu harus tinggal di apartemen yang Om carikan untuk kamu. Om ingin kamu ada di tempat yang nyaman. Kalau kamu gak mau berarti kamu tinggal di sini aja."
Penawaran Om Rey semakin menguatkan keinginanku untuk tetap tinggal. Sungguh membingungkan.
"Tapi aku gak mungkin tinggal di sini lagi." Gumamku, namun sesungguhnya hati kecilku ingin terus berada disini, menyiapkan makanan untuknya, dan melakukan hal-hal lainnya seperti waktu itu.
"Makanya, kamu tinggal di apartemen. Atau... kamu lebih suka tinggal di sini?" Entah mengapa aku merasa pertanyaan Om Rey lebih seperti memancingku.
"Iya, aku lebih suka tinggal disini..." Tanpa sadar aku mengatakannya. Segera kututup mulutku.
Kembali ia tersenyum gemas, memunculkan lesung pipi manisnya. "Kamu lebih milih tinggal di sini?" Tanya Om Rey memastikan.
Mendengar Om Rey bertanya seperti itu, membuat aku merasa memang itulah yang aku inginkan.
Segera ku putar otakku mencari alasan selogis mungkin. "Ma-maksud aku kalau Om sewain aku apartemen, itu akan makan biaya. Sedangkan kalau aku tinggal di sini, aku 'kan bisa sambil masak buat makan Om Rey setiap hari. Jadi aku bisa sekalian balas budi sama Om. Inget 'kan kita ini simbiosis mutualisme, Om."
Apakah alasanku terdengar seperti pembenaran ya? Karena aku merasanya seperti itu.
"Dan..."
"Aku janji aku akan jaga sikap. Kita akan buat jarak di antara kita. Kita jangan sampai melewati batas."
Kemudian aku melanjutkannya dalam hati dengan raut wajah penuh harap. 'Tapi jangan sampai aku pindah dari sini. Please Om, aku ingin tinggal di sini dan...lihat Om setiap hari.'
Mata kami bersih tatap beberapa saat. Om Rey kemudian tersenyum. "Ya udah. Kita akan seperti dulu. Kamu akan tinggal di sini seperti sebelumnya."
Seketika hatiku lega sekali. "Makasih, Om. Apa yang udah terjadi diantara aku dan Om..." Seharusnya aku mengatakan kami harus melupakan semuanya tapi semua kata-kata itu tertahan di tenggorokanku.
"Apa yang terjadi antara Om dan kamu, kita lupakan untuk saat ini. Om akan menyelesaikan dulu proses cerai Om dengan Manda. Setelah itu... kita pikirkan lagi nanti. Gimana?"
Bahagia menyeruak dalam hatiku. Rasanya itu adalah keputusan terbaik yang bisa diambil untuk saat ini.
Aku mengangguk semangat. Kata-kata dari Om Rey sungguh membuatku semakin lega. Itu memang yang seharusnya kami lakukan. Aku akan menelaah hatiku lebih dalam lagi. Apakah aku benar-benar mencintai Om Rey? Bersamaan dengan itu kami juga harus menunggu sampai proses cerai Om Rey dan Tante Manda selesai.
Setelah itu apa yang akan terjadi, biarlah ku pikirkan lagi nanti. Yang terpenting setidaknya untuk sekarang, hubunganku dan Om Rey akan kembali nyaman seperti sebelumnya.
Semoga saja.
Pagi harinya aku memasak untuk sarapan dan bekal makan siang. Setelah selesai aku membersihkan diriku dan turun kembali ke meja makan untuk sarapan bersama dengan Om Rey.
Saat aku turun ia sudah berada di meja makan, ketika melihatku ia tersenyum. "Selamat pagi, Dan." Om Rey yang ramah itu sudah kembali lagi.
Namun kini, jantungku bergetar hanya dengan melihat wajahnya dan juga senyumnya yang menampilkan lesung pipi itu.
Aku duduk di hadapannya. "Selamat pagi, Om." Ujarku antara tersipu dan sumringah.
Kemudian kami mulai menyantap sarapan sambil mengobrol hal-hal biasa, seperti dulu. Om Rey juga mengatakan akan menjemputku nanti saat aku pulang bekerja seperti biasa yang ia lakukan.
Sejauh ini semua berjalan seperti semula. Aku senang sekali karena kejadian sejak Om Rey menyatakan perasaannya pertama kali saat api unggun itu, seperti tak pernah terjadi. Kami kembali bersenda gurau seperti biasa.
Tapi semua hanya berlangsung hanya beberapa menit saja.
Saat kami akan berangkat, di depan pintu keluar tiba-tiba saja aku ingat ada sebuah buku yang belum aku masukan ke dalam tas. Sontak aku berbalik dan berniat untuk segera mengambilnya. Namun Om Rey yang berjalan di belakangku, tak sengaja aku tabrak membuat tubuhku hilang keseimbangan. Tangan Om Rey dengan sigap menangkap tubuhku yang nyaris saja membentur tembok.
Akhirnya kami berakhir dengan posisi Om Rey yang memelukku. Aku bisa mendengar degup jantung Om Rey begitu kencang saat tak sengaja telingaku menempel di dada kirinya.
"Maaf, Om. Aku ada yang ketinggalan." Ujarku dengan salah tingkah seraya mendorong tubuhnya menjauh dariku.
Saat akan melangkah kembali menuju tangga, Om Rey menarik tanganku. Tangan lainnya menarik tengkukku mendekat ke arah wajahnya dan kemudian ia menciumku.
Kepalaku langsung saja terasa sangat pusing. Aku tak bisa berpikir hingga hanya bisa membiarkan Om Rey kembali melakukannya lagi.
Ciuman yang lagi-lagi membuatku seperti kehilangan akal sehatku.
Akhirnya aku mendapatkan kesempatanku untuk berbicara saat bibir Om Rey tak lagi membungkam mulutku. "Om... Kita gak boleh..." Kini ia menjelajah di leherku, membuat kata-kataku berganti dengan des^ahan lirih.
Seperti tak mendengarku ia mendorongku ke sofa ruang tamu dan membimbingku untuk duduk di pangkuannya lagi. Kembali bibir lembabnya mencium leherku. Tangannya mulai menelusuri tubuh bagian belakangku, atas hingga ke bawah.
"Om..." Akhirnya kewarasanku kembali padaku sepenuhnya. Ku tahan Om Rey dengan cara melingkarkan tanganku di sekeliling lehernya dan memeluknya erat.
"Om, tolong berhenti!" Pekikku dengan nafas tersengal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Mulut berkata tidak🤭
tapi bahasa tubuh tak menolak sentuhan om Rey😜
2023-09-05
1