Berbeda denganku, Om Rey justru bersikap sangat tenang. Kedua tangannya meraih pinggangku dan diangkatnya aku dari pangkuannya ke sisi tempat tidur lagi.
"Tunggu di sini." Ia mengelus pipiku sekilas dan berjalan menuju kamar mandi, lalu membawa kunci pintu ke arah pintu kamar dan membukanya.
Aku segera berlari menuju kamar mandi dan mengunci diriku disana. Tepat saat itu terdengar Tante Manda memasuki kamar.
"Ada siapa di kamar ini?!" Teriak Tante Manda, membuat seluruh tubuhku panas dingin saking tegangnya. Ku tempelkan telingaku di permukaan pintu agar bisa menguping lebih jelas.
"Maksudnya?" Tanya Om Rey datar.
"Kamu jangan pura-pura bego, Rey! Aku denger barusan ada yang masuk ke kamar mandi atau ke walk in closet!"
"Langsung aja ke intinya, ada apa kamu datang kesini? Tadi siang semua barang kamu di rumah ini udah aku kirim ke apartemen kamu. Dan aku yakin kamu udah terima surat itu."
Surat? Surat apa?
"Jadi akhirnya kamu milih buat cerai?!" Tanya Tante Manda tak terima.
"Iya, aku udah sangat yakin buat cerai sama kamu. Kita bukan lagi suami istri. Kamu udah gak berhak datang ke rumah ini lagi apalagi dengan seenaknya kayak gini."
Hampir saja aku memekik kaget, untungnya aku segera membekap mulutku. Jadi, Om Rey sudah menceraikan Tante Manda?
"Tunggu apa lagi?" Tanya Om Rey tanpa perasaan.
"Rumah ini rumah aku juga! Jadi aku berhak atas rumah ini kalau kita cerai!"
"Oh ya? Aku tanya, sejak kapan kamu nganggep rumah ini rumah kamu? Berapa kali kamu pulang kesini setelah kita pulang dari Jepang? Aku bahkan bisa hitung, gak sampai dua puluh kali. Itu juga kamu datang buat ambil barang kamu, terus kamu pergi lagi. Apartemen yang kamu tempati, aku gak pernah tahu seperti apa dalamnya. Bahkan kamu gak pernah ngebiarin aku tahu di unit berapa kamu tinggal. Dan aku tegasin, aku gak akan nuntut hak aku atas apartemen itu. Jadi kamu juga sama, gak ada hak atas rumah ini. Sekarang kita udah selesai, sekali lagi, rumah ini gak akan pernah aku kasih buat kamu."
"Gak bisa! Rumah ini adalah harta gono gini! Aku berhak atas rumah ini!"
"Sejak awal kita nikah, kita gak pernah mempersatukan apapun harta kita. Gaji kamu, gaji kamu. Gaji aku, gaji aku. Bahkan kita gak pernah punya properti bersama. Awalnya aku bikin rumah ini emang buat kamu, tapi kamu 'kan udah nolak. Kamu bilang rumah ini kecil. Kamu gak mau tinggal di rumah sekecil ini. Terus kamu sendiri yang balik nama rumah ini jadi nama aku lagi. Terus kenapa sekarang kamu tiba-tiba nuntut hak atas rumah ini?"
Saking kesalnya mendengar kenyataan ini aku menggerutu sendiri. "Tante Manda udah gila apa? Rumah seluas dan senyaman ini masih dibilang kecil?! Dia maunya dibikinin istana negara apa?! Gak bersyukur banget jadi orang." dumelku tanpa sadar.
Sebenarnya Rumah tangga macam apa yang dibangun oleh Om Rey dan Tante Manda? Apa jangan-jangan jika makan di luar mereka juga akan membayar masing-masing?
"Emang kecil. Kamu bandingin dengan rumah orang tua kamu dan rumah keempat kakak-kakak kamu! Mereka tinggal di mansion! Tapi kamu? Malah cuma bikin rumah kayak gini buat aku! Dan harusnya kamu seneng karena punya istri yang mandiri kayak aku! Bahkan selama di Jepang aku lebih banyak membiayai kamu karena selama disana kamu gak bisa nafkahin aku!" Ujarnya dengan arogannya.
"Aku nafkahin kamu! Kamu jangan memutar balikkan fakta ya, Man!"
Tante Manda terbahak mengejeknya. "Berapa Yen yang bisa kamu kasih buat aku?! Bahkan untuk biaya skincare aku aja gak akan cukup!"
"Aku masih harus magang, dapetin lisensi, dan juga ngejar sertifikat profesional aku, Man." Ujar Om Rey jengah. "Kamu tahu itu 'kan!! Aku rintis semuanya dari awal!"
"Harusnya kamu itu terima biaya yang dikasih ibu kamu buat kita! Harusnya kamu terima rumah yang dibeliin Ibu kamu buat kita di Jepang! Mobil! Semuanya! Kamu malah bawa aku hidup miskin! Suami macam apa kayak gitu! Malah ngebiarin istrinya banting tulang!" Nada bicara Tante Manda begitu merendahkan.
"Uang yang aku kasih buat kamu lebih dari cukup buat hidup kita sehari-hari kalau kamu gak hobi foya-foya!!" Teriak Om Rey dengan murkanya. "Juga kalau bukan hobi kamu yang itu, uang kita akan sangat cukup!"
Hobi yang itu? Hobi apa yang dimaksudkan oleh Om Rey?
"Ma-maksud kamu..." Tante Manda terdengar gelagapan. "Kamu jangan nuduh aku yang aneh-aneh ya! Udah jelas kamu yang gak bertanggung jawab! Aku kira nikahin kamu, aku bakal jadi nyonya Kusuma yang serba berkecukupan. Nyatanya kamu cuma bawa aku hidup sengsara!"
"STOP MANDA!!" Teriakan Om Rey keras sekali. "Cukup. Kita udah selesai, gak perlu kita bahas semua yang udah jadi masa lalu. Aku minta kamu pergi dari sini, segera kamu urusin berkas-berkas yang dibutuhkan dan kita ketemu di persidangan."
"Aku gak akan pergi! Sebenernya apa yang buat kamu berubah? Aku gak akan pergi sebelum dapat jawabannya. Bilang sama aku dengan jujur, sejak kapan kamu selingkuh?!"
"Kamu gak bisa bilang aku selingkuh. Karena sejak sebulan lalu, disaat aku tahu kamu pasang alat kontr^sepsi, kamu udah bukan istri aku lagi. Secara agama, kita udah cerai. Dan sejak hari ini, proses cerai kita secara hukum juga udah dimulai. Jadi aku gak pernah selingkuhin kamu! Jangan samakan aku sama kamu!"
Jangan samakan aku dengan kamu? Maksudnya Tante Manda... selingkuh?
"Aku gak peduli! Siapa perempuan itu?!" Dari suaranya terdengar ia seperti sedang menggeledah kamar Om Rey.
Hingga ia sampai di depan pintu kamar mandi. Gagang pintu bergerak-gerak. Segera aku menjauh dari pintu itu dan menutup mulutku dengan begitu gugupnya. "Siapa yang ada di dalam?! Siapa perempuan itu, Rey?! Buka pintunya perempuan sialan!! "
Tubuhku bahkan gemetar sekarang, takut sekali Tante Manda berhasil membuka pintu dan memergokiku disini. Bagaimana ini?
"Cukup, Manda! Kamu gak berhak untuk menghina dia! Dia justru yang bikin aku sadar, betapa bodohnya aku selama ini bertahan di sisi kamu yang gak pernah bisa menghargai aku sebagai suami!"
"Jangan bilang kamu udah jatuh cinta sama dia. Dia cuma pelampiasan kamu aja, iya 'kan?" Suara Tante Manda bergetar.
"Enggak, Manda. Aku serius sama dia. Aku sangat cinta sama dia. Dan cuma ada dia di hati aku sekarang, udah gak ada sedikitpun kamu di dalam hati aku."
"BOHONG!!" Teriak Tante manda histeris. "Jadi kamu bohong?! Katanya kamu cinta sama aku selamanya, Rey! Kamu pernah ngomong itu sama aku dulu!!"
"Harusnya kamu nanya sama diri kamu sendiri! Kenapa aku yang dulu secinta itu sama kamu, sekarang dengan sangat yakinnya milih buat cerai sama kamu! Aku juga punya batas kesabaran! Aku juga pengen punya kehidupan pernikahan yang normal kayak orang-orang! Aku pengen punya anak! Ibuku pengen punya cucu dari aku! Tapi apa yang kamu udah lakuin selama ini?! Justru harusnya aku cerai-in kamu sejak lama, Man!"
Tante Manda mulai menangis. "Kamu jahat, Rey! Kamu jahat!!"
"Aku atau kamu yang jahat? Tanya pada hati kamu sendiri kalau kamu memang masih punya hati. Berapa kali kesempatan yang udah aku kasih buat kamu tapi gak pernah kamu manfaatkan dengan baik. Kamu selalu ngecewain aku, Man. Udah cukup. Batas kesabaran aku hanya sampai di sini. Sekarang lebih baik kamu pulang, dan pikirkan semuanya. Bukannya ini yang kamu inginkan? Hidup bebas dari aku? Sekarang kamu bebas lakukan apapun yang kamu mau. Aku udah lepasin kamu."
"Enggak, Rey! Gara-gara perempuan itu kamu jadi kayak gini! Semua itu gara-gara perempuan itu!" Kembali terdengar pintu kamar mandi digedor dengan sangat keras. "KELUAR DASAR PELAKOR!!"
Hatiku berdenyut nyeri. Batinku mengasihani diriku sendiri. Mengapa tiba-tiba saja aku terjebak di antara Om Rey dan Tante Manda seperti ini? Bahkan tak pernah terbayangkan sama sekali aku akan dikatai pelakor di usiaku yang baru saja genap 18 tahun.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
Manda.... kayak kebakaran jenggot 😜😜
Bilang gaji Rey kecil tapi bisa beli brondong tiap hari🤭🤭
Bisa buat foya foya gak jelas 🙈🙈
Sukurin diceraiin Rey
Go go go Dan.....pelakor semakin di depan😁😁
2023-09-04
1