Bab 8: Benar-benar Dijemput

"Silahkan." Ku berikan satu cup ice americano pada seorang pelanggan.

Ku tatap jam dinding di kafe Bittersweet tempatku bekerja. Jam menunjukkan pukul lima. Selesai sudah shiftku di hari pertama ini. Ku lepaskan apronku dan menghampiri Om Tanoe yang duduk di salah satu meja.

"Om, shift aku udah beres ya." Ujarku seraya menyelempangkan sling bagku.

"Okay. Kerja bagus buat hari ini, Nis. Om suka sama kerja kamu rapi, cekatan, ramah." Puji Om Tanoe membuatku tersanjung. Ku ucapkan terimakasih padanya dengan penuh rasa syukur.

"Ya udah sana tuh cowok kamu udah nungguin dari tadi." Om Tanoe menggerakkan dagunya ke arah jendela.

"Cowok aku?" Tanyaku seraya menatap ke luar jendela. Ku lihat Vito sudah berada disana, duduk di atas motor maticnya.

"Vito? Dia bukan cowok aku, Om. Baru juga kenalan pas awal orientasi."

"Oh belom jadian. Ya udah semoga sukses PDKTnya."

Tak habis pikir dengan Om Tanoe. Masa aku dikatakan sedang PDKT dengan Vito?

Setelah beberapa saat kami sampai di sebuah restoran yang dari eksteriornya saja sudah terlihat bahwa restoran itu cukup berkelas. "Serius kita mau makan disini?"

"Iya dong. First date itu harus spesial." Ujar Vito seraya melepas helmnya.

Ku daratkan pukulan di pundak Vito memperingatkannya. "Ngedate kepala kamu!"

"Kalau bukan ngedate apa dong?" Ujar Vito sambil meringis kesakitan.

"Ya makan malem bareng aja. Orang kalau aku gak punya hutang budi sama kamu, aku ogah makan bareng kamu."

"Wah lo kok gitu sih, Nis. Gue ini most wantednya anak kedokteran tahu gak. Lo harusnya merasa bersyukur diajak dinner sama gue." Ujarnya percaya diri.

"Males banget cowok most wanted." Cibirku. "Ayo ah cepetan aku laper." Ku dorong tubuh Vito agar segera memasuki restoran itu.

Kami pun masuk dan memesan makanan. Beberapa saat kemudian makanan sudah tersedia di hadapan kami. Segera ku lahap makanan itu dengan lahapnya.

"Lo jadi cewek gak ada jaim-jaimnya sih, Nis?" Vito mungkin keheranan karena cara makanku yang sama sekali tidak anggun. Aku memang seperti ini. Dan aku cuek saja makan sampai pipiku menggembung seperti ini.

"Jaim? Depan kamu? Gak perlu, ya." Ujarku sekenanya.

Vito malah menatapku gemas. "Tapi itu yang bikin lo beda. Lo begini aja udah cantik. Gue suka sama cewek yang gak jaim." Vito sampai menahan kepalanya dengan sebelah tangannya sambil tersenyum padaku.

"Kalau gak akan dimakan udah sini makanannya buat aku aja." Ujarku meraih piring Vito yang berisi spaghetti carbonara.

"Ya udah lo ambil aja, makan yang banyak." Vito sama sekali tak keberatan. Tapi kuurungkan niatku karena aku memang tak bersungguh-sungguh untuk mengambil makanannya.

"Gak jadi. Udah makanya kamu makan, jangan liatin aku terus." Aku kembali melahap spaghetti aglio olioku.

"Lo emang selalu galak gini ya depan cowok?"

"Iya. Kecuali di depan..."

Seketika aku mengingat Om Rey. Ya Ampun. Harusnya aku memasak untuknya. Segera aku meraih ponselku dan aku melihat ada chat dan juga panggilan tak terjawab darinya.

"Om, maaf aku lupa gak ngasih tahu. Aku lagi makan sama temen. Aku pulang abis makananku abis ya." Aku segera meneleponnya. Merasa tidak enak. Seharusnya aku sudah berada di rumah dan memasak seperti janjiku.

"Gak apa-apa, Dan. Kamu nyantei aja makannya. Kamu sama temen kamu? Siapa?" Tanya Om Rey di sambungan telepon.

"Ada temen kampus, Om. Tapi beda fakultas." Ujarku.

"Laki-laki atau perempuan?"

Aneh sekali Om Rey menanyakan itu.

Ku jawab saja. "Laki-laki, Om."

"Berdua?"

"Iya, Om. Dia ngasih info lowongan kerja buat aku..."

Belum selesai aku berbicara Om Rey memotong. "Kerja? Kamu ngapain kerja? Nanti kuliah kamu gimana?" Nada bicaranya berubah sedikit dingin.

"Aku kerja pas pulang kuliah, Om. Sampai jam 5 sore. Seudah itu aku bakal langsung pulang. Cuma hari ini aja aku pulang telat."

"Om jemput kamu sekarang. Shareloc. Om Tunggu."

Om Rey memutuskan teleponnya begitu saja.

'Aneh banget, sih?' Ucapku dalam hati.

"Siapa sih, Nis? Lo kalau lagi sama gue jangan teleponan sama orang lain dong." Dumel Vito.

"Ini Om aku. Mau jemput katanya."

"Hah? Ngapain lo dijemput Om lo segala? Kita 'kan lagi ngedate. Gue yang bakal anter lo nanti. Lagian makanan lo juga belum abis. Masa lo udah mau pulang lagi?"

"Kita gak ngedate, ya. Lagian dia Om-ku. Bisa dibilang dia wali aku, yang gantiin Bunda aku sebagai orang tua aku selama aku di Jakarta." Ujarku galak. Kembali aku menghabiskan makananku sebelum Om Rey datang.

Vito berdecak kesal.

Beberapa saat kemudian makananku habis. Tanganku siap menyambar sepotong pizza di depanku yang memang Vito pesan untuk kami berdua.

Namun tepat saat itu Om Rey benar-benar datang menjemput ku.

"Ayo, pulang." Ujar Om Rey yang tiba-tiba saja ada di sampingku.

Aku mendongak, tercengang.

Maksudku, ia baru saja meneleponku sekitar 15 menit yang lalu. Dan sekarang ia benar-benar sudah ada disini.

"Om." Vito segera berdiri dan mengulurkan tangannya. "Saya Vito, Om. Temennya Danis."

Om Rey tak menyambutnya dan malah menatap Vito dingin. "Saya bukan Om kamu. Sebaiknya kamu juga segera pulang. Lain kali gak usah ngajak-ngajak Danisa untuk keluar seperti ini lagi. Paham?"

Om Rey meraih tanganku, menggenggamnya dan kemudian membawaku keluar dari restoran.

"Vit, makasih ya!" Pamitku dengan tergopoh berjalan di belakang Om Rey. Ku lihat Vito berdiri antara bingung dan kesal.

Beberapa saat aku sudah berada di mobil Om Rey. Aku duduk di sampingnya. Ku tatap Om Rey yang fokus menyetir. Ia sama sekali tak berbicara setelah menarikku keluar dari restoran itu.

"Om, udah makan?" Tanyaku basa-basi.

"Belum. Bukannya kamu mau masakin buat Om. Malah makan sama cowok lain."

Aku mengernyit merasa aneh dengan sikap Om Rey. "Maaf, Om. Vito itu ngasih tahu aku info kerjaan. Aku ngajak dia makan siang tadinya, buat ucapan terimakasih gitu, Om. Tapi Vito malah pengennya makan malam. Itu juga dia yang bayarin soalnya Om tahu tempat tadi lumayan mahal. Tapi aku orangnya tahu diri, makanya aku milih menu yang paling murah. Soalnya dia itu anak beasiswa juga sama kayak aku, Om. Tapi aneh juga ya, tiba-tiba dia jadi bisa traktir aku di tempat mahal kayak gitu. Tadi itu dia udah pesen makanan lain yang gak aku pesen. Tadinya aku pengen makan pizzanya. Tapi karena Om keburu jemput aku, aku jadi gak jadi makan pizzanya." Celotehku. Sedikit menyesal juga tidak bisa memakan pizza yang terlihat enak itu.

Tiba-tiba Om Rey mengusap kasar wajahnya dan menghela nafas.

"Maafin Om ya, Dan." Ujarnya menyesal.

"Gak, kok. Gak apa-apa, Om. Serius! Om jangan minta maaf gitu. Aku gak maksud nyalahin Om, kok." Jadi tidak enak Om Rey sampai meminta maaf seperti itu.

"Iya Om gak enak aja jadinya. Ya udah, Kamu mau makan pizza? Om beliin buat kamu ya? Kita pesen aja dan makannya di rumah. Gimana?"

"Serius, Om?"

"Iya. Kamu pesen aja sekarang biar nanti gak terlalu lama nunggu."

Senyumku pun merekah. "Extra keju ya, Om! Sama cola float! Oh lasagnanya juga jangan lupa!" Tanpa sadar aku begitu bersemangat.

Lesung pipi Om Rey kembali muncul tatkala ia tersenyum mendengar permintaanku yang berlebihan ini. "Iya boleh. Pesen sebanyak dan apapun yang kamu mau. Om yang bayar."

Terpopuler

Comments

⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾

⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾

om....."pesan yang banyak...AQ yg bayar"

Reader juga mau di traktir 🤭🤭🤭😁😁😁

2023-08-25

1

lihat semua
Episodes
1 Bab 1: Bertemu Om Rey
2 Bab 2: Makan Malam
3 Bab 3: Menuju Kampus
4 Bab 4: Berbelanja
5 Bab 5: Semakin Dekat
6 Bab 6: Amanda
7 Bab 7: Memeluk Om Rey
8 Bab 8: Benar-benar Dijemput
9 Bab 9: Kejadian Semalam
10 Bab 10: Parfum
11 Bab 11: Vito dan Tantenya
12 Bab 12: Rey dan Gadis Kecil
13 Bab 13: Malam Api Unggun
14 Bab 14: Terjerat Pesona Om Rey
15 Bab 15: Menghindar
16 Bab 16: Sepanik-paniknya
17 Bab 17: Rumah Tangga Hambar
18 Bab 18: Pernyataan Cinta
19 Bab 19: Kembali ke Semula itu Mustahil
20 Bab 20: Curahan Hati
21 Bab 21: Dimabuk Cinta
22 Bab 22: Agar Satu Sama
23 Bab 23: Terlalu Malu
24 Bab 24: Firasat Ibu
25 Bab 25: Maukah Kamu jadi Pacar Om?
26 Bab 26: Dibutakan Cinta
27 Bab 27: Tahap Selanjutnya
28 Bab 28: Gosip Satu Angkatan
29 Bab 29: For The Last Time
30 Bab 30: Pelakor itu Keponakanku
31 Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma
32 Bab 32: Aku Tidak Merebutnya
33 Bab 33: Seminggu Sebelum Menikah
34 Bab 34: Vito dan Rasanya
35 Bab 35: Menemui Calon Suami
36 Bab 36: Nasihat Bunda
37 Bab 37: Rencana
38 Bab 38: Mas Rey
39 Bab 39: Pengalaman Pertama
40 Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya
41 Bab 41: Menghilang
42 Bab 42: Dijebak
43 Bab 43: Tak Habis Pikir
44 Bab 44: Istri Kecil
45 Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan
46 Bab 46: Satu Bulan Menikah
47 Bab 47: Suamiku Selingkuh
48 Bab 48: Bingung
49 Bab 49: Rasa yang Aneh
50 Bab 50: Akhirnya Bertemu Tante Manda
51 Bab 51: Aku Memang Pelakor
52 Bab 52: Yang Terbaik
53 Bab 53: Mas Rey Pergi
54 Bab 54: Sangat Rindu
55 Bab 55: Vito itu Temanku
56 Bab 56: Kemana Takdir akan Berpihak?
57 Bab 57: Kabar
58 Bab 58: Tanteku, Maduku
59 Bab 59: Cinta Segi Empat
60 Bab 60: Tak Sanggup
61 Bab 61: Solusi
62 Bab 62: Rencana Mas Rey
63 Bab 63: Terkuak
64 Bab 64: Tertangkap Basah
65 Bab 65: Ditemani Fina dan Vito
66 Bab 66: Membuat Vito Mengerti
67 Bab 67: Menyerah
68 Bab 68: Kejutan
69 Bab 69: Dua Pria Bodoh
70 Bab 70: Bukan Teman Lagi
71 Bab 71: Menjebak Amanda
72 Bab 72: Permainan Selesai
73 Bab 73: Kehidupan yang Berbeda
74 Bab 74: Manda Sudah Sembuh
75 Bab 75: Gender Reveal
76 Bab 76: Kata Terakhir
77 Bab 77: Baby Revi
78 Bab 78: Rasa Canggung
79 Bab 79: Ibu Susu Baby Revi
80 Bab 80: Melahirkan
81 Bab 81: Mama, Papa, Ayah
82 Bab 82: Om Rey Tersayang (end)
83 Ekstra 1: Promosi Novel Baru
84 Ekstra 2: Visual Novel
85 Ekstra 3: Wanita Rahasia Daddy Zach
86 Ekstra 4: Pengorbanan Nayara
87 Ekstra 5: The Bad Boy and His Nanny
88 Ekstra 6: Marry Me, Dev
89 Ekstra 7: My Big Girl
90 Ekstra 8: Single Mom
91 Ekstra 9: Miss Rania, I Love You
92 Ekstra 10: Selingkuh Itu Indah
93 Ekstra 11: Mengejar Cinta Nabila
94 Ekstra 12: Jodohkah Kita?
Episodes

Updated 94 Episodes

1
Bab 1: Bertemu Om Rey
2
Bab 2: Makan Malam
3
Bab 3: Menuju Kampus
4
Bab 4: Berbelanja
5
Bab 5: Semakin Dekat
6
Bab 6: Amanda
7
Bab 7: Memeluk Om Rey
8
Bab 8: Benar-benar Dijemput
9
Bab 9: Kejadian Semalam
10
Bab 10: Parfum
11
Bab 11: Vito dan Tantenya
12
Bab 12: Rey dan Gadis Kecil
13
Bab 13: Malam Api Unggun
14
Bab 14: Terjerat Pesona Om Rey
15
Bab 15: Menghindar
16
Bab 16: Sepanik-paniknya
17
Bab 17: Rumah Tangga Hambar
18
Bab 18: Pernyataan Cinta
19
Bab 19: Kembali ke Semula itu Mustahil
20
Bab 20: Curahan Hati
21
Bab 21: Dimabuk Cinta
22
Bab 22: Agar Satu Sama
23
Bab 23: Terlalu Malu
24
Bab 24: Firasat Ibu
25
Bab 25: Maukah Kamu jadi Pacar Om?
26
Bab 26: Dibutakan Cinta
27
Bab 27: Tahap Selanjutnya
28
Bab 28: Gosip Satu Angkatan
29
Bab 29: For The Last Time
30
Bab 30: Pelakor itu Keponakanku
31
Bab 31: Bertemu Keluarga Kusuma
32
Bab 32: Aku Tidak Merebutnya
33
Bab 33: Seminggu Sebelum Menikah
34
Bab 34: Vito dan Rasanya
35
Bab 35: Menemui Calon Suami
36
Bab 36: Nasihat Bunda
37
Bab 37: Rencana
38
Bab 38: Mas Rey
39
Bab 39: Pengalaman Pertama
40
Bab 40: Kamu Lebih Segala-galanya
41
Bab 41: Menghilang
42
Bab 42: Dijebak
43
Bab 43: Tak Habis Pikir
44
Bab 44: Istri Kecil
45
Bab 45: Berkunjung ke Dokter Kandungan
46
Bab 46: Satu Bulan Menikah
47
Bab 47: Suamiku Selingkuh
48
Bab 48: Bingung
49
Bab 49: Rasa yang Aneh
50
Bab 50: Akhirnya Bertemu Tante Manda
51
Bab 51: Aku Memang Pelakor
52
Bab 52: Yang Terbaik
53
Bab 53: Mas Rey Pergi
54
Bab 54: Sangat Rindu
55
Bab 55: Vito itu Temanku
56
Bab 56: Kemana Takdir akan Berpihak?
57
Bab 57: Kabar
58
Bab 58: Tanteku, Maduku
59
Bab 59: Cinta Segi Empat
60
Bab 60: Tak Sanggup
61
Bab 61: Solusi
62
Bab 62: Rencana Mas Rey
63
Bab 63: Terkuak
64
Bab 64: Tertangkap Basah
65
Bab 65: Ditemani Fina dan Vito
66
Bab 66: Membuat Vito Mengerti
67
Bab 67: Menyerah
68
Bab 68: Kejutan
69
Bab 69: Dua Pria Bodoh
70
Bab 70: Bukan Teman Lagi
71
Bab 71: Menjebak Amanda
72
Bab 72: Permainan Selesai
73
Bab 73: Kehidupan yang Berbeda
74
Bab 74: Manda Sudah Sembuh
75
Bab 75: Gender Reveal
76
Bab 76: Kata Terakhir
77
Bab 77: Baby Revi
78
Bab 78: Rasa Canggung
79
Bab 79: Ibu Susu Baby Revi
80
Bab 80: Melahirkan
81
Bab 81: Mama, Papa, Ayah
82
Bab 82: Om Rey Tersayang (end)
83
Ekstra 1: Promosi Novel Baru
84
Ekstra 2: Visual Novel
85
Ekstra 3: Wanita Rahasia Daddy Zach
86
Ekstra 4: Pengorbanan Nayara
87
Ekstra 5: The Bad Boy and His Nanny
88
Ekstra 6: Marry Me, Dev
89
Ekstra 7: My Big Girl
90
Ekstra 8: Single Mom
91
Ekstra 9: Miss Rania, I Love You
92
Ekstra 10: Selingkuh Itu Indah
93
Ekstra 11: Mengejar Cinta Nabila
94
Ekstra 12: Jodohkah Kita?

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!