"Silahkan." Ku berikan satu cup ice americano pada seorang pelanggan.
Ku tatap jam dinding di kafe Bittersweet tempatku bekerja. Jam menunjukkan pukul lima. Selesai sudah shiftku di hari pertama ini. Ku lepaskan apronku dan menghampiri Om Tanoe yang duduk di salah satu meja.
"Om, shift aku udah beres ya." Ujarku seraya menyelempangkan sling bagku.
"Okay. Kerja bagus buat hari ini, Nis. Om suka sama kerja kamu rapi, cekatan, ramah." Puji Om Tanoe membuatku tersanjung. Ku ucapkan terimakasih padanya dengan penuh rasa syukur.
"Ya udah sana tuh cowok kamu udah nungguin dari tadi." Om Tanoe menggerakkan dagunya ke arah jendela.
"Cowok aku?" Tanyaku seraya menatap ke luar jendela. Ku lihat Vito sudah berada disana, duduk di atas motor maticnya.
"Vito? Dia bukan cowok aku, Om. Baru juga kenalan pas awal orientasi."
"Oh belom jadian. Ya udah semoga sukses PDKTnya."
Tak habis pikir dengan Om Tanoe. Masa aku dikatakan sedang PDKT dengan Vito?
Setelah beberapa saat kami sampai di sebuah restoran yang dari eksteriornya saja sudah terlihat bahwa restoran itu cukup berkelas. "Serius kita mau makan disini?"
"Iya dong. First date itu harus spesial." Ujar Vito seraya melepas helmnya.
Ku daratkan pukulan di pundak Vito memperingatkannya. "Ngedate kepala kamu!"
"Kalau bukan ngedate apa dong?" Ujar Vito sambil meringis kesakitan.
"Ya makan malem bareng aja. Orang kalau aku gak punya hutang budi sama kamu, aku ogah makan bareng kamu."
"Wah lo kok gitu sih, Nis. Gue ini most wantednya anak kedokteran tahu gak. Lo harusnya merasa bersyukur diajak dinner sama gue." Ujarnya percaya diri.
"Males banget cowok most wanted." Cibirku. "Ayo ah cepetan aku laper." Ku dorong tubuh Vito agar segera memasuki restoran itu.
Kami pun masuk dan memesan makanan. Beberapa saat kemudian makanan sudah tersedia di hadapan kami. Segera ku lahap makanan itu dengan lahapnya.
"Lo jadi cewek gak ada jaim-jaimnya sih, Nis?" Vito mungkin keheranan karena cara makanku yang sama sekali tidak anggun. Aku memang seperti ini. Dan aku cuek saja makan sampai pipiku menggembung seperti ini.
"Jaim? Depan kamu? Gak perlu, ya." Ujarku sekenanya.
Vito malah menatapku gemas. "Tapi itu yang bikin lo beda. Lo begini aja udah cantik. Gue suka sama cewek yang gak jaim." Vito sampai menahan kepalanya dengan sebelah tangannya sambil tersenyum padaku.
"Kalau gak akan dimakan udah sini makanannya buat aku aja." Ujarku meraih piring Vito yang berisi spaghetti carbonara.
"Ya udah lo ambil aja, makan yang banyak." Vito sama sekali tak keberatan. Tapi kuurungkan niatku karena aku memang tak bersungguh-sungguh untuk mengambil makanannya.
"Gak jadi. Udah makanya kamu makan, jangan liatin aku terus." Aku kembali melahap spaghetti aglio olioku.
"Lo emang selalu galak gini ya depan cowok?"
"Iya. Kecuali di depan..."
Seketika aku mengingat Om Rey. Ya Ampun. Harusnya aku memasak untuknya. Segera aku meraih ponselku dan aku melihat ada chat dan juga panggilan tak terjawab darinya.
"Om, maaf aku lupa gak ngasih tahu. Aku lagi makan sama temen. Aku pulang abis makananku abis ya." Aku segera meneleponnya. Merasa tidak enak. Seharusnya aku sudah berada di rumah dan memasak seperti janjiku.
"Gak apa-apa, Dan. Kamu nyantei aja makannya. Kamu sama temen kamu? Siapa?" Tanya Om Rey di sambungan telepon.
"Ada temen kampus, Om. Tapi beda fakultas." Ujarku.
"Laki-laki atau perempuan?"
Aneh sekali Om Rey menanyakan itu.
Ku jawab saja. "Laki-laki, Om."
"Berdua?"
"Iya, Om. Dia ngasih info lowongan kerja buat aku..."
Belum selesai aku berbicara Om Rey memotong. "Kerja? Kamu ngapain kerja? Nanti kuliah kamu gimana?" Nada bicaranya berubah sedikit dingin.
"Aku kerja pas pulang kuliah, Om. Sampai jam 5 sore. Seudah itu aku bakal langsung pulang. Cuma hari ini aja aku pulang telat."
"Om jemput kamu sekarang. Shareloc. Om Tunggu."
Om Rey memutuskan teleponnya begitu saja.
'Aneh banget, sih?' Ucapku dalam hati.
"Siapa sih, Nis? Lo kalau lagi sama gue jangan teleponan sama orang lain dong." Dumel Vito.
"Ini Om aku. Mau jemput katanya."
"Hah? Ngapain lo dijemput Om lo segala? Kita 'kan lagi ngedate. Gue yang bakal anter lo nanti. Lagian makanan lo juga belum abis. Masa lo udah mau pulang lagi?"
"Kita gak ngedate, ya. Lagian dia Om-ku. Bisa dibilang dia wali aku, yang gantiin Bunda aku sebagai orang tua aku selama aku di Jakarta." Ujarku galak. Kembali aku menghabiskan makananku sebelum Om Rey datang.
Vito berdecak kesal.
Beberapa saat kemudian makananku habis. Tanganku siap menyambar sepotong pizza di depanku yang memang Vito pesan untuk kami berdua.
Namun tepat saat itu Om Rey benar-benar datang menjemput ku.
"Ayo, pulang." Ujar Om Rey yang tiba-tiba saja ada di sampingku.
Aku mendongak, tercengang.
Maksudku, ia baru saja meneleponku sekitar 15 menit yang lalu. Dan sekarang ia benar-benar sudah ada disini.
"Om." Vito segera berdiri dan mengulurkan tangannya. "Saya Vito, Om. Temennya Danis."
Om Rey tak menyambutnya dan malah menatap Vito dingin. "Saya bukan Om kamu. Sebaiknya kamu juga segera pulang. Lain kali gak usah ngajak-ngajak Danisa untuk keluar seperti ini lagi. Paham?"
Om Rey meraih tanganku, menggenggamnya dan kemudian membawaku keluar dari restoran.
"Vit, makasih ya!" Pamitku dengan tergopoh berjalan di belakang Om Rey. Ku lihat Vito berdiri antara bingung dan kesal.
Beberapa saat aku sudah berada di mobil Om Rey. Aku duduk di sampingnya. Ku tatap Om Rey yang fokus menyetir. Ia sama sekali tak berbicara setelah menarikku keluar dari restoran itu.
"Om, udah makan?" Tanyaku basa-basi.
"Belum. Bukannya kamu mau masakin buat Om. Malah makan sama cowok lain."
Aku mengernyit merasa aneh dengan sikap Om Rey. "Maaf, Om. Vito itu ngasih tahu aku info kerjaan. Aku ngajak dia makan siang tadinya, buat ucapan terimakasih gitu, Om. Tapi Vito malah pengennya makan malam. Itu juga dia yang bayarin soalnya Om tahu tempat tadi lumayan mahal. Tapi aku orangnya tahu diri, makanya aku milih menu yang paling murah. Soalnya dia itu anak beasiswa juga sama kayak aku, Om. Tapi aneh juga ya, tiba-tiba dia jadi bisa traktir aku di tempat mahal kayak gitu. Tadi itu dia udah pesen makanan lain yang gak aku pesen. Tadinya aku pengen makan pizzanya. Tapi karena Om keburu jemput aku, aku jadi gak jadi makan pizzanya." Celotehku. Sedikit menyesal juga tidak bisa memakan pizza yang terlihat enak itu.
Tiba-tiba Om Rey mengusap kasar wajahnya dan menghela nafas.
"Maafin Om ya, Dan." Ujarnya menyesal.
"Gak, kok. Gak apa-apa, Om. Serius! Om jangan minta maaf gitu. Aku gak maksud nyalahin Om, kok." Jadi tidak enak Om Rey sampai meminta maaf seperti itu.
"Iya Om gak enak aja jadinya. Ya udah, Kamu mau makan pizza? Om beliin buat kamu ya? Kita pesen aja dan makannya di rumah. Gimana?"
"Serius, Om?"
"Iya. Kamu pesen aja sekarang biar nanti gak terlalu lama nunggu."
Senyumku pun merekah. "Extra keju ya, Om! Sama cola float! Oh lasagnanya juga jangan lupa!" Tanpa sadar aku begitu bersemangat.
Lesung pipi Om Rey kembali muncul tatkala ia tersenyum mendengar permintaanku yang berlebihan ini. "Iya boleh. Pesen sebanyak dan apapun yang kamu mau. Om yang bayar."
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 94 Episodes
Comments
⁽⁽ଘ[🐾©️le🅾️🦋]ଓ⁾⁾
om....."pesan yang banyak...AQ yg bayar"
Reader juga mau di traktir 🤭🤭🤭😁😁😁
2023-08-25
1