Prakk!
Axsa melempar botol minumanya, pria itu tampak kacau dengan rambutnya yang berantakan.
"Mengapa semua orang meninggalkanku? Apa salahku? APA!" teriak Axsa kala melihat foto besar keluarganya.
Seketika air mata itu tumpah membasahi pipinya, pria itu meremas rambutnya kembali dengan kedua tanganya. "Apa yang aku lakukan hingga kau menghukumku seperti ini, tuhan!." Lirihnya
Bersamaan dengan itu arelta juga terlihat tengah menangis menatap kosong ke sembarang arah, hingga Gion pun datang dan menyadarkanya dari lamunan.
"Aku bawa makanan untukmu, kamu makan dulu " ucap gion sembari menenyodorkan sendok berisi bubur itu pada arelta.
Namun, gadis cantik dengan hidung mancung itu malah menolehkan kepalanya menghidari suapan yang gion berikan padanya.
"Jangan seperti ini, arelta. aku mohon, aku tak bisa melihatmu sakit." Gion menatap wajah pucat arelta.
"Biarkan saja! biarkan aku sakit dan mati, lagipula untuk apa aku hidup diatas penderitaan orang lain." Jawab gadis dengan hidung mancung itu.
"Pak aden sudah menceritakannya padaku. Akan tetapi, semua itu bukanlah kesalahanmu arelta, itu semua salah ayahmu lantas untuk apa kamu merasa bersalah seperti ini? " ucap Gion yang kali ini sedikit lebih tegas pada arelta.
"Katakan padaku, apa kamu mengerti dengan perasanku? Apakah kamu tahu bagaimana rasanya membuat hidup orang lain hancur? Tidak bukan? Asalkan kamu tahu gion, axsa begitu terluka atas apa yang ayahku lakukan padanya dimasa lalu. "
"Tapi arelta, ayahmu melakukanya atas dasar perintah, dia diancam, bukan karena dia meninginkanya" jawab gion menatap gadis dihadapnya.
"Aku tahu itu,dan karena ancaman itu ayah melakukanya bukan? Karena ayahm ingin melindungiku dia membunuh keluarga Axsa. Apa bedanya aku dengan ayah? Kita sama-sama membuat axsa terluka. " balas arelta derai air mata.
Gion mengulum bibirnya, pria itu mengelah nafas beratnya. sekarang ia diam tak mengatakan apapun lagi, disaat sekarang menjawabpun akan percuma, karena arelta tengah berlarut dalam argumennya.
"Baiklah, aku tidak akan memakasa jika kamu tidak ingin makan, tapi aku hanya ingin menagtakan semua akan baik-baik saja aku yakin axsa tidak akan membencimu" ucap gion, dia adalah seorang dokter dan psikiater tentu saja ia memahami bagaimana harus bertidak saat mengahdapan pasien dengan gejala seperti arelta.
Gadis dengan rambut pajang dan hidung mancung itu tak menjawab, ia hanya diam mamalingkan wajah sementara gion, pria berjas putih itu memilih untuk keluar, membiarlan arelta untuk tenang lebih dulu.
"Nak gion! Bagaimana dengan arelta" ucap pak aden yang disadari sudah berada diluar sejak tadi, awal aden ingin masuk kedalam namun saat mendegar suara lirih sang putri ia mengurungkan niat dan memilih menunggu diluar.
"Dia baik-baik saja pak, tapi untuk saat ini sebaiknya biarkan arelta untuk sendiri dulu" jawab gion
"Tapi bagaimana jika arelta menyakiti dirinya lagi jika ditinggal sendiri?"
"Pak aden tidak perlu khawatir saya akan mengawasi setiap gerak- gerik arelta dari CCTV yang ada didalam, jadi saya pastikan dia akan aman."
"Baiklah, terimakasih nak gion" Pak aden mengelah nafas leganya.
**
Saat ini axsa kembali mengujungi rumah arelta, pria itu menunggu dihalaman depan, kala melihat mobil aden memasuki halaman rumah Axsa segera berlari menghamprinya.
"Axsa!!" ucap pak aden dengan kehadiran axsa." Ada apa axsa, mengapa kau kemari?" Tanya pak aden.
"Aku ingin bertemu arelta ayah, tolong katakan padanya aku menunggunya disini" pintanya, membuat aden merasa tak tega.
"Ayah mengerti perasaanmu tapi lebih baik kau pulang saja, percuma, arelta tetap tak ingin bertemu denganmu meski ayah membujuknya sekalipun." Tolak aden dengan lembut, bagaimanapun ia tak ingin melukai perasaannya.
"Apakah arelta sungguh ingin berpisah denganku? " ucap axsa tak dapat menyembunyikan kepedihan hatinya, air matanya perlahan keluar membasahi pipinya.
Aden terdiam, ia tak bisa berbuat apapun, ia tak menyangka jika pernihkahan yang ia pikir akan menyelesaikan rasa bersalahnya justru malah menyakiti dua hati dalam sekaligus seperti ini.
Aden menepuk pundaknya dan berkata." Kau pasti kuat, aku yakin itu" ucap aden sembari terus menepuk pundaknya.
Bayu tersenyum dingin sambil melihat ke arah kaca kecil di dalam mobil. "Tunggu dan lihat bagaimana rasa sakit itu akan kau rasakan axsa," gumam bayu,
"Xena, lanjutkan rencana kita" ucap bayu pada panggilan yang sudah terhubung dengan xena itu.
"Baiklah" jawab xena, yang kini sudah berada di depan ruang rawat arelta.
Gadis langsing dengan balutan dress putih itu melangkah masuk, didalam xena melihat arelta yang sedang berbaring menghadap samping.
"Kita bertemj lagi arelta." ucap xena membuat arelta seketika membalikan badanya.
"Mau apa aku disini?" balas arelta.
"Tenanglah, aku hanya ingin menjengukmu, aku mendengarnya dari gion jadi aku kemari" jawab xena yang berbohong, tentu saja ia mendapatkan informasi itu dari bayu.
"Sebenarnya aku tak ingin mengatakanya tapi sepertinya kau harus tahu, arelta!" Ucap xena tiba-tiba
"Maksudmu?"
Xena memberikan beberapa foto masa kecil axsa.
"Lihatlah, apakah tak merasa kasihan padany" ucap xena.
Arelta melihat foto-foto itu satu persatu, hatinya begitu teriris kala melihat foto masa kecil axsa yang sendirian bahkan dihari kelulusanya.
"Sejak orang tuanya meninggal axsa mengalami trauma berat ia harus direhabiltasi karena sering mengalami delusi dan mengamuk, dan ini kau pasti sudah melihat luka ini bukan? Ini luka tembakan karena ayahmu" ucap xena sembari menunjukan gambar luka persis yang gadis itu lihat pada dada axsa sebelumnya.
"Apakaha sekarang kau masih ingin membuatnya terluka dengan cinta palsu yang kau katakan itu? Bahkan kau sendiri tak tahu hatimu berdetak untuknya atau abian."
Ucapan itu yang seketika membuat gadis berhidung mancung itu terdiam, buliran air mata kian tumpah dari pelupuk matanya.
"Lepaskan dia arelta, mengapa kau begitu jahat, mengapa kau begitu tega pada axsa." ucap xena, membuat arelta tiba-tiba menjerit histeris.
"Tidak...maafkan aku axsa..maafkan aku" gadis itu terus mengelengkan kepalanya, dengan nafas memburu ia menutupi kedua telinga. "Maafkan aku..maafkan aku axsa" Lirih arelta, bersamaan dengan itu Gion pun masuk dengan satpam dibelakangnya.
"Bawa dia keluar pak" perintahnya, satpam itu langsung menyeret xena keluar, dan dengan cepat gion menyuntikan obat penenang pada arelta, perlahan-lahan gadis itu kembali tenang.
Gion membaringkan tubuhnya kembali lalu mnyelimutinya. Untung saja Gion melihat CCTV dan datang tepat waktu, jika tidak mungkin hal lebih buruk pasti akan terjadi.
Gion segera mengejar xena setelah membuat arleta tenang. Pria itu meraih tangan xena hingga menghentikam langkahnya.
"Berhenti mengangu arelta, dan kata itu juga pada mas bayu, atau aku tidak akan tinggal diam" ucap gion dengan tegas.
"Mengapa harus aku? Mengapa tidak kau katakan saja sendiri, lagipula aku hanya bekerja jadi aku tak ada urusnya dengan kalian." Balas xena sebelum akhirnya gadis itu melangkah pergi.
"Si*l...apa yang harus aku lakukan sekarang. mengapa mas Bayu begitu tega pada arelta dan axsa." Umpat gion merasa yang kesal.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments