**
Axsa yang sampai di rumah menghancurkan barang-barang di kamarnya. ia sangat kesal dan tak terima atas keputusan sepihak dari arelta yang ingin berpisah.
"Ada apa dengan kamu Arelta? Mengapa kamu tiba-tiba mengatakan ingin berpisah.i" Gumam Axsa dengan empusan nafas yang membara.
Axsa menatap pantulan dirinya dicermin, pria itu sektika dihujami beribu pertanya tentang apa yang terjadi pada arelta, pasalnya tak mungkin jika arelta mengatakan hal itu tib-tiba seperti ini. Pasti ada penyebabnya.
**
Tiga hari kemudian. Tiga hari berturut-turut arelta tak keluar kamar, gadis hanya menangis dan tak mengisi perutnya dengan apapun. Aden yang melihat putrinya seperti itu merasa bersalah, karena kesalahan masa lalu nya sang putri harus menanggung semuanya.
Lelaki paruh bayah itu meraih ponselnya ia berniat mengatakan semua pada Axsa, mungkin dengan ia mengakui kesalahanya, bisa memmbuat Axsa memaafkannya dan tak akan membenci arelta, namun saat panggilnya hampir saja terhubungan suara teriakan sang pembantu terdengar, Aden buru-buru mematikanya dan berlari menuju asal suara yang berasal dari kamar arelta itu.
Sesampainya dikamar lelaki paruh baya itu dikejutkan dengan sang putri yang sudah tergeletak tak sadarkan diri dengan bagian tangan kanan yang terus mengeluarkan darah.
"Cepat panggil penjaga,suruh mereka membantu saya membawa arelta kerumah sakit." Suruhnya dengan panik pada sang pembantu
"Baik tuan" wanita paruh baya itu segera berlari, dan tak lama kemdian ia kembali dengan para penjaga "
"Cepat bawa arelta kerumah sakit" Perintah Aden.
Para penjaga itu segera membawa arelta kerumah sakit.
kini arelta sudah berada di ruang ICU, ia sedang ditangani oleh para dokter. Aden duduk dibangku tunggu menunggu dokter keluar bersamaan dengan itu Gion sedang mengurus dokumen pindahannya untuk ke jakarta, tak sengaja melihat Pak Aden yang duduk dibanngku tunggu.
"Pak Aden. Apa yang anda lakukan disini? Apa anda sakit lagi" ? Tanya gion.
"Dokter Gion, tidak dok, saya sedang menunggu arelta, dia berada di ICU sekarang." Jawabnya
"Arelta! " Ucapnya terkejut. " apa yang terjadi padanya pak? Mengapa arelta bisa masuk ICU ?" Tanya Gion
Namun, saat akan menjawabnya tiba-tiba saja dokter yang menangani arelta keluar. Aden langsung memhampirnya saat dokteer itu keluar dari ruang ICU.
"Bagaimana keadaan putri saja dok? Dia baik-baik saja kan?" Tany apak Aden.
"Sekarang keadaanya baik-baik aja pak, untung bapak membawanya tepat waktu jika tidak pasti luka sayatan itu sudah membunuhnya." Jawab dokter.
"Luka sayatan? Apa arelta memcoba bunuh diri?" Kedua bola mata gion dengan cepat menatap pak aden.
"Sepertinya begitu dokter Gion, karena dari luka yang saya lihat itu dilakukam dengan sangaja" Jawab dokter muda yang tampak seumuran dengan Gion. "Kalau tidak ada yang ditanyakan lagi, saya permisi dulu ya"
"Iya dokter terimakasih" Balas pak aden, doker itu pun pergi.
"Apa yang sebenarnya teerjadi? Mengapa arelta sampai inhin bunuh diri pak?" Tanya gion sekali lagi.
"Ceritanya pajang doker gion, saya juga tidak tahu mengapa arelta bisa nekat melakukanya" Jawab pak aden.
Suara dering ponsel terdengar, Gion yang menyadari jika ponsel milikinya yang berdering segera meraih alat komunikas jarak jauh itu dari dalam sakunya.
"Halo, siapa ini?" Ucap gion saat panggilanya terhubung.
"Ini aku Devin. Kau dimana gion? Ada hal penting yang harus aku bicarakan padamu" Jawab si penelpon yang ternyata Devin.
"Hal penting apa? "
"Aku tidak bisa mengatakanya lewat hape, kita harus bertemu langsung"
"Baiklah aku akan menemuimu nanti, sekarang aku harus melihat keadaan arelta dulu di ICU"
"Apakah sesuatu terjadi? Mengapa arelta berada di ICU?"
"Sekarang aku juga belum tahu, nanti aku akan memberitahumu jika aku tahu. Maaf aku harus mematikanya sekarang" Gion segera mengakhirnya panggilanya, dan menyusul Aden yang sudah lebih dulu masuk ke ruang ICU.
Terlihat arelta yang berbaring tak sadarkan diri dengan selang infus ditanganya. Pak aden menitihkan air matanya saat melihat sang putri terbaring seperti ini.
"Maafkan ayah nak, semua pasti karena ayah kamu sampai mencoba untuk bunuh diri" lirih pak aden.
"Maaf pak Aden, apakah saya boleh tahu apa yang sebenarnya terjadi? Mengapa arelta sampai mencoba bunuh diri seperti ini?" Tanya Gion pada lelaki paruh bayu itu.
"Ini semua salah saya kalau saja saya tak membawa arelta dalam masalah saya mungkim dia tak harus ikutan merasa bersalah seperti ini"
"Maksud pak aden"
Lelaki paruh bayu itu seketika teerdiam, bayangan masa lalu terlihat jelas dikedua matanya, bibir itu kini mulai menceritakan apa yang telah terjadi.
"Cek kembali apa mereka masih hidup? Jangan sampai ada yang terlewati." Ucap pria tua yang mengenakan tongkat itu
"Baik tuan"
semua anak buahnya mengecek orang-orang yangs udah terkapar tak bernyawa itu termamsu Aden, pria itu mengecek keadaan sekitarnya, pandanganya seketika tertuju pada anak kecil masih hidup.Aden yang melihatnya pun memilih diam, ia justru menyuruh anak kecil untuk berhenti menangis dan jangan bersuara. Sampai semua rekan dan bosnya pergi barulah aden, membantu anak itu dengan membawanya kerumah sakit.
"Suster tolong selamatkan anak ini" pintanya dengan tubuh masih berlumur darah.
Para suster dan dokterpun segera melalukan tindakan, dibawanya anak kedalam ruang operasi. Tak butuh waktu lama operasipun selesai para dokter kelua.
"Bagaimana keadaan anak itu dokter? Apakah dia baik-baik saja" Tanya aden dengan raut wajah khwatir.
"Anda tidak perlu khawatir, itu hanya goresan kecil saja kami sudah menjahitnya dan memberikannya obat setelah efeknya hilang anak itu akan tersadar" jawab sang doker
Aden mengelah nafas lega, setidaknya anak itu baik-baik saja. Sejak saat itu Aden mengundurkan diri dari pekerjaanya ia tak ingin melukai siapapun lagi, dan sebagai permintaan maafnya hari itu aden bermaksud ingin merawat anak itu hingga ia besar namun saat mendatangi rumah sakit ia mendapatkan ruangan itu telah kosong.
"Suster, diamana anak yang beradi di ruangan ini, mengapa dia tidak ada ?" Ucap aden pada salah satu suster yang llewat
"Pasien anak kecil atas nama axsa arcelio ya pak? Dia sudah dibawa oleh paman dan bibinya. Mereka bilang akan merujuknya kerumah sakit yang lebih besar." Jawabnya
"Oh, baiklah terimakasih suster"
Sejak saat itu aden tak lagi bertemu dengan Axsa, kabarnya anak itu dibawa ke luar negri untuk menjalani rehabilitas atas traumanya sekaligus melindunginya dari orang yang mengincar nyawanya.
Hingga delapan belas tahun kemudian untuk pertama kalinya aden bertemu kembali dengan Axsa. Pada saat itu aden tak nenyangka jika orang yang menolong putrinya adalah anak kecil yang dulu kehidupanya ia hancurnya, mengetahui Axsa mengejar arelta aden bermaksud menjodohkan putriny itu dengan Axsa, anggap saja ini sebagai permintaan maaf dan rasa bersalah.
"Saya yang salah dokter Gion, yang bodoh karena tidak memikirkan perasaan arelta." Lirih Pak Aden setelah meneceritakam semuanya pada Gion
"Lantas apa yang akan pak aden lakukan?"
"Saya akan mengakuinya dan menjalaskan semua pada axsa, setidaknya dengan ini dia tidak akan membenci arelta."
"Jangan pak, jangan mengakui atau menjelaskanya sekarang. Bagaimana jika bapak menjalaskan semua sekarang, akan tetapi axsa tidak dapat menerimanya, maka arelta yang akan jadi korbanya lagi."
"Lalu saya harus apa sekarang, saya tidak bisa melihat putri saya terua menerus berlarut dalam rasa bersalah yang tidak ia berbuat. "
"Kita tunggu waktu yang pas pak atau setidaknya sampai kondisi arelta pulih sepenuhnya. Saya juga berjanji akan menjaga arelta sampai dia pulih" ucap gion dengan sungguh-sungguh.
"Baiklah, saya percaya pada dokter gion, pasti anda akan melakukan yang terbaik seperti yang sebelumnya."
Pak aden menpuk pelan bahu lebar milik gion, pria itu yakin gion adalah pria yang baik. Buktinya semasa arelta depresi atas kehilangan Abian, Gionlah yang selalu ada disamping arelta, menemani, dan menjaganya.
**
Saat ini gion tengah menunggu devin di cafe yang mereka janjikan, dan lama kemudian pria dengan kemeja polos dan celana loose pant iti pun datang, devin duduk dihadapan gion.
"Jadi hal penting apa yang kau maksud?" Tanya Gion.
"Ini tentang bayu, dia berkerja sama dengan xena sekarang" jawab devin to the point.
"Apakah kau tak salah, bagaimana mungkin mereka bisa saling mengenal? "
"Dia bayu nugroho, gion. Apapun pasti akan dia lakukan demi kelancaran balas dendamnya. Aku juga yakin apa yang terjadi pada arelta sekarang ada hubuhganya dengan bayu."
Hembusan nafas berat itu terdengar dari gion, pria itu langsung memijat batang hidungnya saat mendengar ucapan devin, entah mengapa semua ini membuatnya merasa pusing.
"Sekarang apa yang akan kau lalukan, Gion. Apakah kau akan membiarkan semuanya?"
"Tentu saja tidak, tapi kali ini masalahnya bukan hanya tentang balas dendam mas bayu tapi juga fakta pak aden yang telah membunuh keluarga Axsa."
"Apa!! Jadi pembunuh itu adalah pak aden?
"Iya, tapi aku minta padamu untuk merahasiakan semuanya dulu, jangan sampai axsa mengetahuinya."
"Tidak, axsa harus tahu yang sebenarnya gion." Tolaknya.
"Aku tahu makasudmu tapi ini bukan waktu yang pas devin, arelta sedang sakit, jiwa terguncang jika sampai mendengar hal buruk terjadi pasti akan membuatnya kehilangan kendali lagi, kau paham bukan maksudku"
Devin terdiam mendengar ucapan gion, ia sangat paham apa yang dimaksud oleh gion itu. Akan tetapi, bagaimana dengan Axsa, dia juga harus mengetahui kebenaran ini.
"Yang terpenting sekarang adalah kau harus membantuku mengawasi xena dan mas bayu agar mereka tak mendekati axsa karena aku yakin mereka juga sudah tahu tentang ini dan pasti tujuan mereka selanjutnya adalah axsa." ucap gion, namun devin langsung mengelengkan kepalanya.
"Aku tidak bisa, karena sudah mengirim surat resignku pada axsa. Sekarang aku bukanlah sekertarisnya lagi" jawab devin.
Gion mengelah nafasnya, dan berkata. "Kalau gitu bekerjalah untikuku, kau tenang saja aku akan membayarmu"
"Baiklah" balas devin. Sebenarnya ia tak ingin ikut campur dalam masalah ini. Akan tetapi mendengar gion akan membayarnya devin mengubah pikiranya, setidaknya uang itu bisa untuk membayar sewa rumah, dan lagi ia juga masih merasa bersalah dengan axsa, anggap saja ini sebagai permintaan maaf.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments