Gion mencium kening arelta sebelum akhirnya ia keluar dari kamar arleta.
"Gion" Ucap devin yang kini berada tepat dihadapannya.
"Devin!! Apa yang kau lakukan disini" tanya gion pelan
"Aku ingin bertemu denganmu, ada yang perlu aku bicarakan denganmu"
Gion langsung menarik tangan devin, mengikuti langkahnya hingga kehalaman belakang."Bukankah aku sudah bilang jangan datang kemari, mengapa kau tidak menelpon saja jika ada yang ingin dibicarakan. bagaimana jika arleta tahu kalau kau juga terlibat."
"Apa sekarang kau bilang kau melarangku kesini?? Kau tidak ingat siapa yang sudah membantumu agar arelta bisa bersamamu" balas devin tak terima akan ucapan gion padanya
"Bukan begitu vin. Aku tahu tanpa kau ini semua tidak akan berjalan tapi bukankah aku sudah bilang aku tak ingin arelta sampai tahu kau terlibat."
"Kenapa?? Aku tidak takut jika arelta membenciku justru aku malah menyesalinya sekarang. Tidak seharusnya aku membantu kalian" Herdiknya.
Namun dibelakang devin bayu tiba-tiba datang dan memukulnya hingga tak sadarkan diri.
"Mas!!..apa yang kau lakukan" sontak gion merasa terkejut dengan bayu yang tiba-tiba datang dan memukulnya.
"Aku tidak akan membiarkan dia berhianat. itu pantas untuknya" Jawab batu sembari memberikan isyarat pada anak buahnya untuk membawa devin pergi.
"Dia ingin dibawa kemana, Mas?" tanya gion saat anak buah batu menyeret tubuh devin
"Menjauhkannya dari disini" balasnya dengan raut wajah datar lalu pergi meninggalkan gion
saat itu devin tengah berada dicafe menikmati secangkir kopi kesukaanya.matanya terus tertuju pada hujan yang turun.hingga seorang pria yang tak lain bayu duduk dihadpaannya.
"Kau devin bukan?"
" kau siapa? Mengapa bisa tahu namaku"
"Aku bayu. Baiklah langsung ke intinya ssja aku ingin menawarkan kerjasama denganmu untuk menghancurkan hubungan axsa dan arleta." Ucapnya.
"Kau ingin mengahancurkan rumah tangga orang lain? Apa kau gila? Tentu saja aku tidak akan melakukannya" balas devin tak habis pikir dengan ucapan bayu.
"Lanats ap kau ingin jika gadis itu bernasib sama seperti adikmu, mendapatkan laki-laki yang selalu menyakitinya" Ucapan itu seketika menghentikan langkah kaki devin yang tadinya akan pergi.
"Jal*ngnya, masalalunya, bahkan apa yang kau tidak tahu aku mengetahuinya. Kau tidak mau bukan jika gadis itu bernasib sama seperti tania"
Seketika devin menarik kerah baju, menatap bayu dengan tatapan tajam, "Shitt!! Tutup mulut kau.siapa kau berani menilai seseorang seperti itu"
Devin segera melepaskan kerah baju baju, dan beranjak pergi. Devin memasuki mobilnya dengan nafas yang masih menggebu-gebu ia kembali mengingat saat terakhir kali tania mengatakan bahwa dia membenci axsa sebelum akhirnya kecelakaan itu terjadi.
"Apa yang sebenarnya terjadi, apa mungkin axsa adalah penyebab kematian tania, tapi mengapa dia begitu terluka saat tabia pergi " batinnya
Tak mau terlarut dalam pikiran negatifnya devin segera menyalakan mesin mobilnya, lalu melajukan mobilnya.
Sementara disisi lain. Axsa berada dikamarnya menatap bingkai foto arelta dan juga tania secara bergantian.
"Andaikan waktu itu aku menahan emosiku, mungkin tania masih berada disini. Harusnya kau percaya dan tidak menyakitinya begitu saja tanpa tahu kejelasannya" Gumam axsa tanpa sadar devin mendengar semuanya.
"Jadi benar yang dikatakan pria tadi. Kau menyebab tania meninggal" bati devin yang kini mengetahui kebenarannya.
Devin mengepal tangannya.dari situ devin pun akhirnya menyetujui kerjasama yang bayu tawarkan padanya.
***
BEBERAPA BULAN KEMUDIAN
Arelta keluar dari balik tirai, menggunakan gaun putih panjang putih dengan paduan brukat yang menambah kesan cantik
"Gaun ini tidak cocok ya" Tanya arelta saat melihat gion hanya terdiam tak bereaksi.
"Tidak" dengan cepat gion mengelengkan kepalanya, "justru ini sangat cocok dan cantik untuk kamu. Aku tidak sabar menikah dengan kamu" ucapnya
Memilih diam arelta pun hanya membalasnya dengan tersenyum tipis.
"Aku ganti bajunya dulu ya, kita sudah selesaikan mencobanya"
"Iya ta, sudah. Kalau gitu aku tunggu kamu dimobil ya" balas gion. Arelta mengangkuk dan segera masuk kembali keruang ganti.
Fitting pakaian sudah selesai, memilih tempat juga sudah selesai sekarang gion membawa arelta untuk menikmati senja dipantai yang tak jauh dari lokasi aula pernikahannya nanti.
"Bagaimana dengan ayah, apa kondisinya sudah membaik??" tanya arelta pada akhirnya membuyarkan keheningan diantara mereka.
"Setelah aku memindahkannya untuk pengobatan di luar negri sekarang kondisi pak aden jauh lebih baik ta, kamu tidak perlu mengakhwatirkannya lagi sekarang"
"Terimakasih telah merawat ayahku" lirihnya
Arelta kembali terdiam menatap kosong laut lepas dihadapannya. Gion yang menyadari kalau ada sesuatu yang dipikirkan arelta, akhirnya pun bertanya.
"Ada apa ta? Kamu pasti sedang memikirkan sesuatu bukan?"
Arelta menggelengkan kepalanya ia melihat gion lalu meraih tangannya " aku hanya lelah, ayo kita pulang" gadis itu tersenyum tipis lalu berjalan mendahului gion.
Tak butuh waktu lama arleta dan gion sampai dirumah.
Arelta disadari hanya diam melamun tak sadar jika dirinya dan gion telah sampai dirumah. Gion menepuk pundak gadis berhidung bangir itu.
"Ta, kita sudah sampai"
"Eoh iya axaa" Ucap aeta tanpa sadar jika ia menyebut nama axsa.
"Jadi kau sedang memikirkanya?"
Arelta yang menyadari ucapnya langsung merasa tak enak pada jungkook, "Tidak gion aku hanya-"arlta bingung harus menjawab apa karena memang sebenarnya ia sedang memikirkan axsa.
"Apa kama mencintainya ta, " Tanya gion dengan dengan ekspresi kecewa.
"Tidak Gion, aku tidak mencintai "
"Apa kamu yakin? tolong jangan membohongi diri kamu lagi ta, aku sudah tahu semuanya. sejak kamu bersamaku, aku melihatnya,aku melihat jika kamu benar-benar mencintai axsa. Cara kamu menatap axsa sama seperti cara kamu menatap abian. aku hanya ingin kamu jujur dengan perasaan, aku tidak akan marah ta. " Ucapnya
Arelta menitihkan air matanya
"Maafkan aku gion aku tidak bermaksud seperti itu, aku sudah berusaha membuka hatiku untuk kamu tapi sepertinya aku gagal. Aku justru malah mencintai axsa"
Gion menghusap air mata arelta lalu meraih tangan mungil itu.
"Jangan menangis, bukankah kami tahu aku tidak suka jika kamu menangis seperti ini, dan kalau kamu memang mencintainya maka tetaplah bersamanya, hangan paksakan diri kamu untuk tetap bersamaku. Aku akan bahagia kalau kamu juga bahagia ta"
Arelta semakin menangis memeluk gion.mengapa ia tidak bisa mencintai pria sebaik gion, mengapa begitu sulit hatinya untuk terbuka.
"Maafkan aku gion" lirihnya memeluk erat-erat tubuh pria berbahu besar dan tinggi itu.
Gion tersenyum tipis, dan menitihkan air matanyanya. Hatinya merasa sakit karena dirinya lagi-lagi harus merelakan wanita yang dicintainya bersama orang lain.
Bayu yang mendengar pembicaraan gion dan arelta dari balik pintu mengepal kedua tangannya. rasanya ia sangat marah saat ini
Beberapa saat kemudian gion keluar dari kamar Arelta. Bayu yang sudah menunggunya itu langsung menarik gion hingga kearah balkon.
"Apa kau bodoh hah? Kau ingin mengorbankan perasaanmu lagi ?" tegas bayu
"Mas,bukan seperti ini yang aku inginkan.aku ingin menikah bersamany atas dasar karena dia mencintaiku bukan karena paksaan. aku mohon mas mengertilah" lirihnya
"Lalu bagaimana dengan rencana kita kau bilang ingin membantumu menghancurkan axsa?"
"Sudahlah Mas, lupakan dendammu padanya aku tahu jika kau sangat mencintai tania tapi kau harus sadar kepergian tania bukanlah sepenuhnya kesalahan axsa "
Bayu mengepal tangannya ketika mendengar ucapan gionnlalu menarik kerah baju, "Tania meninggalkan karena axsa. pria breng*k itu yang sudah membunuhya " Ucap bayu dengan penuh amarah.
"Tapi jika kau tidak menyuruh wanita lain untuk menggoda axsa, tania tidak akan melihat dan mereka tak akan bertengkar. Kau harus sadar mas kecelakaan itu juga terjadi karenamu"ucap gion yang tak mau kalah
Bayu terdiam akan ucapan gion, perlahan tangannya melepaskan cengkramannya dari kerah baju gion.
Malas dan tak ingin berdebat lagi gion pun pergi begitu saja.
"Tidak!! Tania meninggalkan karena axsa, bukan aku" bicaranya sendiri.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 40 Episodes
Comments