Bab 15

******

"Apa kamu bisa berhenti menatapku" Ucap Arelta pada akhirnya merasa tak nyaman dengan Axsa yang sejak tadi terus melihat dan memperhatikannya.

"Mengapa? Apa aku tidak boleh menatap istriku sendiri?"

"Bukan begitu, hanya saja itu membuat tidak nyaman"

Axsa tersenyum tipis mendengar ucapan sang istri, perlahan ia beranjak dari tempat duduknya mendekati arelta yang tengah sibuk menyiapkan makanan, lalu memeluk pinggang istrinya dari belakang dan berkata,

"Jika seperti ini apa juga tidak membuatmu nyaman, hmm ?"

Arelta mengulum bibirnya, Entah mengapa ia merasa malu tapi juga berbunga-bunga, moment ini sungguh mengingat gadis itu dengan perlakuan manis abian dulu.

Melihat arelta sangat gemas, membuat Axs segera mungkin mendaratkan bibirnya pada bibir manis sang istri.

"Tuan Axsa, Ad-" Pria berbaju hitam itu segera berbalik saat menyadari pemadangan didepanya, "Maafkan saya tuan, sepertinya saya masuk diwaktu yang tidak tepat" Pria itu akan pergi, Namun Axsa menghentikanya

"Tidak apa-apa. tadi kau ingin bilang apa?" Tanya Axsa, setelah melepaskan tautanya dari bibir manis sang istri, sementara arelta segera bersembunyi dibelakang Axsa karena merasa malu.

"Ada pria bernama Gion didepan, dia bilang mencari anda" Ucap Pria berbaju serba hitam itu.

"Suruh saja dia masuk dan katakan aku ada diruang makan bersama arelta"

"Baik tuan" Pria itu pun pergi.

Tak lama kemudian terlihat Gion berjalan menghamiri dua instan yang tengah duduk berhadapan, gadis itu tampaknya, kini sudah lebih akrab dengan Axsa.

"Jujur saja tadi kamu malu bukan?"

"Tidak, aku tidak mau"

"Lalu kenapa kamu bersembunyi dibelakangku? Sudahlah akui saja itu, kamu malu bukan ?" Axsa terus mengoda arelta dengan kata-katanya.

"Ehmm" Deham Gion, membuat dua insan itu kini menyadari kehadiran dirinya, "Kalian asik sekali, sampai tidak menyadari aku sudah berdiri sejak tadi" Ucap Gion.

"Maaf, aku lupa kau disini, ayo duduklah" Balas Axsa, sementara arelta gadis iti teerdiam menunuduk, entah mengapa melihat Gion seketika membuatnya merasa bersalah.

"Ada apa, arelta? Kamu baik-baik saja bukan, demamnya sudah turun ?" Tanya Gion, saat nenyadari gadis itu terdiam.

"Kamu tahu aku demam? Bagaimana bisa? "

"Semalam Gion yang mengecek keadaanmu. aku panik karena tubuhmu panas sementara kamu tidak mau ke rumah sakit, tidak ada pilihan lain jadi aku menghubungi Gion" Sahut Axsa, yang langsung menjelaskan semuanya.

Arelta mengangguk paham, akan tetapi gadis itu kembali menundukan kepalanya. "Arelta? Apa kepalamu masih terasa pusing? Mengapa dari tadi kamu hanya diam dan terus menunduk?" Ucap Gion.

"Tidak Gion, Aku baik-baik saja" Jawab arelta dengan cepat.

"Tapi mengapa kamu hanya diam tak mengatakan apapun? Apakah aku membuatmu tidak nyaman?"

"Tidak Gion, aku..." arelta menjeda ucapanya bagaimana mungkin ia mengatakan bahwa ia merasa bersalah.

"Apa aku sungguh membuatmu tidak nyaman ?" Tanya gion sekali lagi.

"Bukan begitu Gion, hanya saja aku merasa bersalah padamu"

Ucapan itu semakin terdengar serius, Axsa yang disadari sejak tadi hanya diam mememperhatikan, kini mulai paham akan situasinya. Pria itu memilih untuk pergi, memberikan waktu berdua pada Arelta dan Gion, agar mereka menyelesaikan masalahnya.

"Aku sungguh merasa bersalah karena selalu menyakiti perasaanmu yang tulus padaku" Ucap arelta,menatap kedua bola mata Gion.

"Bukankah semua telah diatur, dan kita? hanya mengikuti alur?"

"Tapi Gion!! aku telah melukai hatimu, aku tak mengerti mengapa aku tak bisa menerima dirimu dalam hatiku, meskipun aku sudah berusaha sekalipun, pada akhirnya aku tetap akan gagal menerimamu dalam hati ini" Gadis itu menitihkan air matanya sembari memengang dadanya.

"Hatiku memang terluka, tapi aku tak pernah menyalahkanmu atas luka ini karena aku tahu semuanya telah di atur, dan kamu tidak mungkin menyakitiku." Gion tersenyum, sembari kedua tanganya menghapus air mata arelta yang terus mengalir jatuh.

"Bolehkah aku memelukmu." Ucap Gion, arelta membalasnya dengan sebuah anggukan.

"Maafkan aku Gion, karena mengenalku kamu selalu terluka seperti ini." Lirih arelta dalam dekapan Gion.

"Aku tidak pernah menyesal mengenalmu, Tapi dari kamu justru aku belajar, Cinta yang besar adalah mengikhlaskan, seorang yang dicintainya untuk bahagia. Dan mulai sekarang aku akan berusaha melepasnmu, arelta."

"Aku yakin akan banyak prempuan diluar sana yang bisa membuatmu bahagia, dan mencintaimu lebih dari cintamu padaku" Arelta melepaskan pelukanya, menatap lelaki bermata coklat itu.

Gion tersenyum tipis, " Terimakasih karena pernah hadir di kehidupanku, arelta. walaupun hanya sesaat setidaknya semesta pernah melihat betapa bahagianya aku ketika bersamamu."

"Terimakasih juga telah mencintaiku dengan tulus, Gion. Aku akan selalu memgingat itu selamanya"

Pada akhirnya mengikhlaskan adalah cara terbaik mencintai seseorang, meskipun sulit dan menyakitkan akan tetapi itu adalah hal yang terbaik untuk seterusnya, setidaknya dengan keikhlasan itu tidak akan ada lagi hati yang terluka.

Gion berpamitan untuk pulang, setelah ia mengatakan salam perpisah, jika ia akan kembali tugas ke jakarta minggu depan, itu artinya Gion akan menentap disana sekitar satu sampai dua tahun. Arelta ditemani Axsa mengantar Gion sampai ke depan.

"Aku pamit, arelta. Terimakasih untuk segelanya " Ucap Gion.

"Aku yang berterimakasih karena kamu tetap menjadi orang baik meskipun hatimu terluka" Balas arelta penuh senyum.

Gion membalas dengan senyuman tipis, sebelum akhirnya pria itu memasuki mobilnya, dan keluar meninggalkan. halaman rumah.

"Ada apa? Kamu masih merindukanya hingga terus menatap kepergianya seperti itu?" Ucap Axsa, saat arelta yang diam menatap mobil Gion yang perlahan menghilang.

"Bukan begitu Axsa, aku hanya masih bersalah padanya, selama ini aku tidak tahu bahwa dia mencintaiku begitu besar."

"Arelta, bukankah Gion sudah mengatakan bahwa semua telah diatur? Jadi jangan salahkan dirimu atas takdir ini" Ucap Axsa. " Sekarang ayo kita masuk, masih banyak hal yang kamu ceritakan padaku"

Axsa langsung menggendong sang istri dengan ala bridal style.

"Axsa, apa yang kamu lakukan, turunkan aku!!" Ucap Arelta yang merasa malu dengan anak buah Axsa yang masih berdiri itu.

Sementara dari kejauhan, bayu sudah berada dimobilnya memperhatikan dua instan yang tengah kasmaran itu. Tanganya terkepal menatap Axsa dan arelta yang bercanda dan tertawa lepas.

"Hidupmu terlalu beruntung Axsa!! Tapi kau tenang saja keberuntunganmu itu hanya sementara, aku akan membuatmu menderita lagi" Batin Bayu yang tersenyum menyeringai menatap kedua instan yang masih terlihat tertawa itu.

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!