Roni mampir ke sebuah apotek, yang kebetulan di sebelahnya adalah toko pakaian. Kedua pria itu keluar dari mobil menggunakan payung, karena hujan masih turun dengan deras. Roni turun untuk membeli obat, sedangkan Aiden turun membelikan pakaian untuk Yuniar. Yuniar sendiri berada di dalam mobil berusaha untuk tidak menggaruk tubuhnya yang terasa semakin gatal, tapi Yuniar tidak bisa menahan diri untuk tidak menggaruk tubuhnya. Rasa gatal itu semakin menyebar ke seluruh tubuhnya. Tubuh gadis itu jadi memerah dan bengkak.
"Ya Tuhan.. aku sudah tidak tahan lagi. Tubuhku gatal semua dan juga terasa perih karena aku garuk. Tapi aku tidak bisa berhenti menggaruk,"gumam Yuniar.
Tak lama kemudian, Aiden dan Roni kembali ke dalam mobil dan Roni langsung melajukan mobil itu di bawah guyuran hujan yang seperti enggan untuk berhenti. Sesekali kilat dan petir pun bersahutan.
"Jangan terus menggaruknya! Tubuh kamu akan terluka karena kuku kamu itu,"ucap Aiden yang merasa prihatin pada Yuniar.
Gadis itu tidak menjawab, masih terus menggaruk tubuhnya yang rasa gatalnya semakin menjadi. Masih duduk di posisi yang sama, yaitu menempel di pintu mobil, tidak ingin berdekatan dengan Aiden.
"Kenapa dia tidak segera memberikan obat yang dibelinya padaku? Untuk apa dia membelinya jika tidak ingin memberikannya padaku? Apa dia tidak bisa melihat, betapa aku tersiksa dengan rasa gatal ini?"gumam Yuniar menatap kantong plastik yang berisi obat di pangkuan Aiden. Yuniar ingin sekali meminta obat itu pada Aiden tapi tidak berani.
Aiden yang melihat kemana arah tatapan Yuniar pun berkata,"Kamu harus membersihkan tubuh kamu dulu, baru memakai obat ini. Percuma memakai obat ini jika tubuh kamu tidak bersih. Pasti ada bulu ulat tadi yang menempel di tubuh kamu, karena itu tubuh kamu menjadi gatal. Jadi, kamu harus membersihkan tubuh kamu dulu sebelum mengobatinya,"
Yuniar tidak berkata apa-apa lagi setelah mendengar alasan Aiden tidak memberikan obat itu padanya. Tak lama kemudian, mobil yang di kendarai oleh Romi pun berhenti. Yuniar membulatkan matanya setelah melihat dimana tempat mereka berhenti.
"Hotel? Kenapa dia membawa aku ke hotel? Apa maksudnya?"gumam Yuniar terlihat cemas dan takut.
"Ayo, turun!"ajak Aiden.
"Tidak!"jawab Yuniar cepat dan tegas.
"Aku tidak mau masuk ke dalam hotel itu. Bagaimana jika di dalam sana dia melakukan sesuatu padaku. Aku harus menjaga diri ku baik-baik,"gumam Yuniar dalam hati.
Aiden menghela napas panjang mendengar penolakan tegas dari Yuniar. Menatap Yuniar yang terlihat cemas, ketakutan sekaligus waspada.
"Jangan berpikir macam-macam! Kita ke sini agar kamu bisa membersihkan diri, mengobati alergi kamu karena ulat bulu itu dan berganti pakaian,"ujar Aiden yang bisa membaca apa yang dipikirkan oleh gadis di samping itu.
"Ayo cepat keluar! Atau kamu ingin tubuh kamu semakin gatal, bengkak dan terluka karena kamu garuk terus? Kalau kamu tidak mau turun dan masuk ke dalam hotel itu, sebaiknya kamu turun dari mobilku dan pergi. Terserah kamu mau apa, aku tidak peduli,"ujar Aiden dengan wajah serius.
"Jika dia meninggalkan aku di sini dalam keadaan ku yang seperti ini, itu akan menyulitkan diriku sendiri. Tapi, kalau aku masuk ke dalam hotel itu bersama dia, apa aku bisa menjaminkan dia tidak akan melakukan apa-apa?"gumam Yuniar dalam hati.
"Jadi, kamu mau masuk ke hotel itu atau tidak? Jika tidak mau, turunlah dari mobil ku! Aku masih banyak pekerjaan yang harus aku selesaikan,"ujar Aiden yang tidak tahu harus bagaimana membuat Yuniar percaya jika dirinya berniat baik pada Yuniar. Tidak ada niat buruk ataupun pikiran kotor sama sekali di hatinya.
"Aku mau,"sahut Yuniar pelan.
Mau tak mau akhirnya Yuniar turun dari mobil itu. Yuniar tahu, pria seperti Aiden pasti sangat sibuk dengan pekerjaannya. Namun Yuniar bertekad untuk melindungi dirinya dan menjaga kesuciannya.
"Saya pesan satu kamar. Apa bisa saya minta tolong pada salah seorang petugas hotel wanita untuk menemani adik saya? Dia terkena alergi karena ulat bulu. Jadi saya memerlukan seseorang untuk membantu dia mengoleskan salep setelah dia membersihkan diri. Jangan khawatir, saya akan memberikan tips bagi yang mau membantu adik saya mengoleskan salep di tubuhnya,"ujar Aiden pada resepsionis hotel.
"Tentu saja bisa, Tuan,"sahut resepsionis itu tersenyum ramah.
"Ini kunci kamarnya. Aku akan menunggu kamu di sini,"ucap Aiden menyerahkan kunci kamar hotel pada Yuniar.
"Terimakasih!"ucap Yuniar kemudian di pandu seorang wanita petugas hotel yang berusia sekitar tiga puluh lima tahun menuju kamar hotel yang di pesan Aiden.
Aiden memilih duduk di lobby hotel seraya membuka laptopnya untuk mengerjakan beberapa pekerjaan kantornya.
"Walaupun dia mengatakan akan menunggu di lobby hotel, aku harus tetap waspada. Siapa tahu dia akan menyusul aku ke kamar hotel,"gumam Yuniar dalam hati, tetap waspada.
Sekitar setengah jam kemudian, akhirnya Yuniar menghampiri Aiden yang duduk di lobby hotel seraya memangku laptopnya.
"Tuan!"panggil Yuniar membuat Aiden yang fokus pada laptopnya itu mendongak menatap Yuniar.
"Sudah selesai?"tanya Aiden menatap Yuniar yang sudah berganti pakaian dengan pakaian yang dibelinya tadi.
Pakaian yang di beli Aiden dengan harga yang tidak terlalu mahal karena di beli di toko di pinggir jalan. Dress berlengan pendek dengan model simpel yang panjangnya di bawah lutut. Tapi terlihat cantik saat di pakai Yuniar karena tubuh Yuniar berisi di beberapa bagian yang tepat.
"Sudah,"sahut Yuniar dengan kepala tertunduk,"Orang ini bisa membelikan aku pakai beserta pakaian dalam yang begitu pas dengan tubuh ku. Benar-benar seorang Casanova sejati,"gumam Yuniar dalam hati.
"Ayo, aku akan mengantar kamu pulang! Roni sudah membersihkan mobilnya, jadi kamu tidak perlu takut akan gatal-gatal lagi,"ujar Aiden menutup laptopnya kemudian beranjak keluar dari hotel itu diikuti oleh Yuniar.
Setelah Aiden dan Yuniar masuk ke dalam mobil, Roni pun segera melajukan mobil itu. Yuniar tetap duduk menempel di pintu mobil dan memasang sikap waspada. Setelah membersihkan diri, lalu mengoleskan salep yang dibelikan Aiden tadi, gatal di tubuh Yuniar sudah mulai reda. Jadi Yuniar bisa menahan diri untuk tidak menggaruk tubuhnya.
"Mau aku turunkan di mana?"tanya Aiden seraya membuka laptopnya dan memangkunya. Memilih bekerja dengan laptopnya agar Yuniar merasa agak rileks, karena Aiden melihat Yuniar nampak menjaga jarak dan terlihat waspada kepadanya.
"Di pom bensin aja, ya? Dari pom bensin yang ada di jalan xx itu sudah tidak jauh lagi, 'kan, dari rumah kamu?"tanya Aiden lagi dengan jemari tangan yang lincah mengetik di keyboard laptopnya. Mata pria itu nampak fokus pada layar laptopnya.
"I.. iya,"sahut Yuniar seraya mengernyitkan keningnya,"Pria ini, apa dia tahu alamat rumah aku? Kok, dia bisa tahu kalau pom bensin di jalan xx itu tidak jauh dari rumah aku? Dia juga tahu siapa namaku. Kenapa aku jadi tambah takut, ya, pada pria ini? Apa dia ingin mendekati aku? Apa motif nya? Apa dia salah seorang pria yang mengejar kakak? Mungkin saja, 'kan, dia mendekati aku karena ingin mendekati kakak ku? Iya, pasti itu motif pria ini mendekati aku. Dia pasti ingin mengambil hatiku agar bisa mendapatkan hati kakak ku. Kakak, 'kan, sulit di dekati. Bahkan kak Hendrik aja di tolak kakak,"gumam Yuniar dalam hati yang mengira Aiden mendekati dirinya untuk mendekati kakaknya.
"Gadis ini benar-benar sulit di dekati. Dia seperti memasang benteng yang kokoh dan tinggi. Selalu terlihat waspada dan tidak mudah percaya pada orang lain. Bahkan sejak pertama kali bertemu dengan aku, gadis ini berusaha menghindari aku,"gumam Aiden dalam hati.
"Berapa saya harus mengganti untuk obat, pakaian dan hotel tadi?"tanya Yuniar yang tidak ingin berhutang budi pada Aiden.
"Tidak perlu. Aku ikhlas, kok, menolong kamu. Kamu tidak perlu mengganti apapun padaku,"sahut Aiden tanpa menatap Yuniar, tetap fokus pada layar laptopnya.
"Saya tidak ingin berhutang budi pada siapapun,"sahut Yuniar jujur adanya.
Aiden berhenti mengetik di laptopnya, lalu menatap Yuniar dengan senyuman yang sulit diartikan.
"Kalau begitu, tidak usah menghitung berapa uang yang aku keluarkan untuk membelikan obat, pakaian dan biaya hotel yang aku keluarkan untuk kamu. Kita hitung saja berapa waktu ku yang tersita untuk menolong kamu. Berapa jam sejak kamu masuk ke dalam mobil ku?"
"Sekitar dua jam,"sahut Yuniar setelah melihat jam di ponsel nya.
"Dua jam, ya? Jika penghasilanku sekitar satu koma dua triliun per hari, kira-kira berapa uang yang harus kamu ganti untuk waktu dua jam yang aku luangkan untuk kamu?"tanya Aiden santai dengan senyuman menawan di bibirnya.
Yuniar membulatkan matanya saat mendengar pertanyaan Aiden. Lidahnya kelu untuk menjawab pertanyaan Aiden.
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Berdo'a saja
ooooooww
2023-10-22
2
Cicih Sophiana
tak terhitung Yun🤭
2023-10-05
1
Rifa Endro
skak matt
2023-09-12
1