"Apa imbalannya jika aku menolong kamu?"tanya Aiden tersenyum penuh arti pada Yuniar.
"Jika Tuan ingin meminta imbalan atas kebaikan yang Tuan berikan pada saya, lebih baik Tuan tidak perlu menolong saya,"ucap Yuniar yang merasa kesal pada Aiden. Di saat genting seperti ini, Aiden malah bernegosiasi dengan dirinya.
"Kebanyakan basa basi. Cepat, kita bawa gadis itu,"ucap salah seorang dari empat pria itu nampak tidak sabar mendengar Yuniar dan Aiden bernegosiasi.
Yuniar melepaskan helmnya. Bersiap untuk memukul siapa saja yang akan mendekati dirinya. Tidak ingin mengharapkan bantuan dari Aiden lagi.
"Aku tidak mau terjebak dalam hutang budi lagi. Aku tidak ingin dia meminta apapun sebagai imbalan karena telah menolong ku. Aku harus mengandalkan diriku sendiri,"gumam Yuniar dalam hati dengan tekad yang bulat, sebulat bola.
Aiden membuang napas kasar melihat wajah kecewa Yuniar. Menatap gadis yang nampak bersiap-siap melawan empat orang pria menggunakan helm.
"Bugh"
"Akhh!" Berani melawan rupanya,"
Saat salah seorang pria itu ingin menarik tangan Yuniar, tapi Yuniar langsung memukul pria itu menggunakan helm nya.
"Dasar gadis keras kepala! Tapi aku menyukainya,"gumam Aiden dalam hati penuh senyuman.
"Berani menyentuh calon istri ku? Kalian jangan menyesal, jika aku membuat kalian babak belur atau patah tulang,"ujar Aiden tersenyum miring saat melihat para pria itu kembali ingin menyentuh Yuniar.
"Iih.. Sejak kapan aku menjadi calon istrinya dia?"gerutu Yuniar dalam hati dengan wajah yang terlihat cemberut melirik ke arah Aiden.
Aiden akhirnya memukul siapapun yang mendekati Yuniar. Perkelahian empat lawan dua pun terjadi. Setiap ada yang terjatuh karena pukulan atau tendangan Aiden, Yuniar langsung menyerang orang itu dengan memukulinya menggunakan helmnya. Hingga orang itu tidak bisa lagi berdiri untuk menyerang Aiden.
Satu persatu dari empat orang pria yang mengejar Yuniar akhirnya tumbang semua. Dihajar oleh Aiden dan Yuniar.
"Kembalikan kunci motor ku!"bentak Yuniar pada pria yang mengambil kunci motornya tadi.
"Ambil saja sendiri!"ketus pria itu memegangi kepalanya yang terasa pusing karena dipukuli Yuniar menggunakan helm.
"Ambilkan! Atau akan aku pukul lagi dengan helm!"ancam Yuniar.
"Dasar gadis sialan!"umpat pria itu merogoh saku celananya, tapi tidak menemukan kunci motor Yuniar.
"Kuncinya hilang,"ujar pria itu karena tidak menemukan apapun di saku celananya.
"Jangan bohong!"sergah Yuniar.
"Dugh"
"Akhh! Sakit! Dasar gadis sialan!"pekik pria itu karena Yuniar memukul kepalanya mengunakan helm lagi.
"Berikan kunci motor ku! Atau aku akan menginjak kakimu hingga patah!"ancam Yuniar.
"Kuncinya benar-benar tidak ada. Kalau tidak percaya, cari sendiri di saku celanaku!"
"Aku tidak mau menyentuh pria brengseek seperti mu. Enak saja! Kamu mau mengambil kesempatan dalam kesempitan?!"ketus Yuniar yang tidak mau memasukkan tangannya di saku celana pria itu.
"Nggak mau, ya, sudah!"ketus pria itu terlihat kesal.
Aiden yang dari tadi melihat kelakuan Yuniar sambil menelpon polisi pun menjadi gemas. Tidak menyangka jika gadis yang terlihat lembut itu ternyata bar-bar juga.
"Biar aku saja yang mencarinya,"ujar Aiden setelah selesai menelpon polisi. Akhirnya Aiden turun tangan mencari kunci motor Yuniar di saku celana pria yang mengambil kunci motor Yuniar tadi.
"Benar-benar tidak ada kunci motor di saku celananya,"ujar Aiden menatap Yuniar, setelah mencari di semua saku celana pria itu.
"Mungkin saja dia memberikannya pada temannya,"sahut Yuniar.
Aiden kembali menggeledah satu persatu empat pria itu, tapi tidak menemukan kunci motor. Aiden hanya menemukan kunci mobil dari saku salah seorang pria itu.
"Aku tidak menemukan kunci motor dari empat orang ini. Mereka hanya membawa kunci mobil,"ucap Aiden.
"Kembalikan kunci motor ku! Kembalikan! Kembalikan!"pekik Yuniar memukuli pria yang tadi mengambil kunci motornya.
Pria itu hanya bisa merintih kesakitan karena dipukuli Yuniar dengan brutal.
"Sudah! Sudah! Kamu bisa membuatnya mati jika memukuli dia terus,"ujar Aiden seraya menarik Yuniar menjauh dari pria yang sudah tidak berdaya itu.
"Motor itu dibelikan oleh kakak ku. Kakakku bersusah payah mencari uang untuk membeli motor itu,"ujar Yuniar terlihat kesal, tapi malah terlihat menggemaskan di mata Aiden.
"Tenang saja, nanti aku akan mengurusnya untuk mu,"ujar Aiden, kemudian mengambil tali dari dalam mobilnya dan mengikat empat orang pria itu.
"Ayo, kita pulang! Aku sudah menelpon polisi. Sebentar lagi, mereka akan sampai di sini,"ajak Aiden setelah selesai mengikat empat orang pria itu.
"Tapi, jalan ke arah sana di hadang mobil empat orang itu,"ujar Yuniar.
"Begitu, ya?"sahut Aiden, lalu mengambil lagi kunci mobil dari salah seorang pria yang diikatkannya tadi.
"Ayo, pulang! Sebentar lagi akan gelap,"ujar Aiden membuka pintu mobil bagian penumpang di sebelah kursi kemudi untuk Yuniar.
Melihat matahari yang sebentar lagi benar-benar akan tenggelam, Yuniar pun tidak memiliki pilihan lain selain ikut bersama Aiden.
Aiden dan Yuniar meninggalkan empat orang pria itu dalam keadaan terikat. Beberapa meter setelah melajukan mobilnya, Aiden pun menghentikan mobilnya karena jalan itu tertutup oleh mobil yang melintang di jalan. Sehingga Aiden tidak bisa melanjutkan perjalanan. Aiden melihat sebuah sepeda motor di dekat mobil itu.
"Apa itu mobil para pria tadi? Dan itu motor kamu?"tanya Aiden menoleh pada Yuniar.
"Iya,"sahut Yuniar yang semenjak masuk ke dalam mobil hanya diam saja.
Aiden akhirnya turun dan menepikan mobil empat orang tadi agar mobilnya bisa lewat. Tak lama kemudian Aiden kembali masuk ke dalam mobil dan kembali melajukan mobilnya.
Yuniar hanya bisa menatap motornya yang terpaksa di tinggalkannya di tempat itu.
"Jadi, kamu berlari dari tempat itu sampai ke tempat kita bertemu tadi?"tanya Aiden yang melihat bahwa jarak antara dirinya menemukan Yuniar dan menemukan motor Yuniar lumayan jauh.
"Iya. Terimakasih karena telah menolong aku,"ucap Yuniar menatap wajah Aiden sekilas.
"Hanya terimakasih?"tanya Aiden menoleh sebentar ke arah Yuniar seraya tersenyum tipis.
Yuniar tidak merespon pertanyaan Aiden. Lebih memilih diam dari pada terjebak dengan pertanyaan Aiden seperti sebelumnya.
"Aku sudah menyelamatkan kamu dari empat pria brengseek tadi. Bagaimana jika kamu menikah saja dengan aku? Sebagai imbalan aku telah menolong kamu,"Aiden tersenyum tipis melirik Yuniar.
"Saya tadi memang meminta bantuan pada Tuan. Tapi, 'kan.. tidak jadi. Lalu, Tuan membantu saya tanpa saya pinta. Jadi, seharusnya Tuan tidak meminta balasan atas pertolongan Tuan pada saya. Tapi, saya tetap berterimakasih karena Tuan mau menolong saya,"ujar Yuniar lembut, enggan menatap wajah Aiden.
"Kamu pintar juga mengelak,"ujar Aiden tersenyum tipis,"Tapi, aku tidak mau tahu, kamu harus menikah dengan aku. Coba bayangkan, jika aku tidak menolong kamu. Mungkin.. Kamu sudah di gilir oleh empat orang pria tadi,"
"Ta.. Tapi.. Saya tidak ingin menikah dengan Tuan,"
"Apa kekurangan ku, hingga kamu selalu menghindari dan menolak aku? Aku serius padamu. Aku akan memberikan apapun yang kamu minta, asalkan kamu mau menikah dengan ku,"
"Maaf, saya tidak ingin menikah dengan anda,"sahut Yuniar kukuh pada pendiriannya, membuat Aiden menghela napas panjang.
Yuniar terlihat mulai tidak nyaman. Gadis yang memakai kemeja itu mulai menggaruk lehernya.
"Kenapa leherku terasa gatal, ya? Apa jangan-jangan, aku terkena ulat bulu saat berlari dan bersembunyi di kebun pisang tadi, ya?"gumam Yuniar dalam hati dengan wajah yang tiba-tiba cemas.
Yuniar berusaha untuk tidak menggaruk tubuhnya. Karena rasa gatal itu semakin menjalar di tubuhnya.
"Kamu kenapa?"tanya Aiden menoleh sebentar ke arah Yuniar.
Aiden mengernyitkan keningnya saat melihat Yuniar yang nampak tidak tenang dan seperti menahan sesuatu.
"Tidak apa-apa,"ujar Yuniar seraya mengusap beberapa bagian tubuhnya yang terasa semakin gatal.
"Orang bilang, jika wanita mengatakan tidak apa-apa, itu berarti sedang tidak baik-baik saja,"ujar Aiden yang mulai melewati jalan yang sudah agak banyak dilalui kendaraan. Hari benar-benar telah menjadi gelap.
Yuniar tidak menjawab. Gadis itu masih mengusap beberapa bagian tubuhnya yang terasa gatal.
"Apa tubuhmu gatal-gatal lagi?"tanya Aiden saat melihat Yuniar mengusap beberapa bagian tubuhnya untuk meredakan gatalnya.
Aiden yang penasaran pun, akhirnya menyalakan lampu dalam mobil.
"Akhh! Akhh!"pekik Yuniar tiba-tiba. Saat meraba lehernya, Yuniarti menemukan ulat bulu. Yuniar melempar asal ulat bulu itu.
"Akkhh! Akkhh!"
Yuniar kembali memekik dan membuka sabuk pengamannya, karena saat melihat ke arah dadanya sendiri, malah masih ada ulat lagi yang masuk ke dalam kemejanya.
"Hei! Tenang!"ujar Aiden yang sempat terkejut mendengar Yuniar memekik. Aiden mencoba menepikan mobilnya.
"Ulat! Ulat! Ulat! Akkh!"pekik Yuniar yang panik mencoba mengibas-ngibaskan kemejanya hingga tanpa senagaja tubuhnya malah terhuyung dan jatuh ke arah Aiden.
"Akkhh"
"Hei!"
"Tiiiinnn.."
"Akhhh!!"
"Brakk"
...🌟"Ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Walaupun tidak semua hutang budi bisa dibalas."🌟...
..."Nana 17 Oktober"...
...🌸❤️🌸...
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Pisces97
meminta balas Budi tidak bisa dihitung berapa pun membalas Budi baik tidak ada ujungnya 😁
2024-04-07
2
Mr.VANO
kerja sama yg baik,,untk melawan penjahat
2023-11-04
4
who am I
apes si aiden 🤭
2023-10-19
1