2. Hanya Terimakasih ?

"Apa imbalannya jika aku menolong kamu?"tanya Aiden tersenyum penuh arti pada Yuniar.

"Jika Tuan ingin meminta imbalan atas kebaikan yang Tuan berikan pada saya, lebih baik Tuan tidak perlu menolong saya,"ucap Yuniar yang merasa kesal pada Aiden. Di saat genting seperti ini, Aiden malah bernegosiasi dengan dirinya.

"Kebanyakan basa basi. Cepat, kita bawa gadis itu,"ucap salah seorang dari empat pria itu nampak tidak sabar mendengar Yuniar dan Aiden bernegosiasi.

Yuniar melepaskan helmnya. Bersiap untuk memukul siapa saja yang akan mendekati dirinya. Tidak ingin mengharapkan bantuan dari Aiden lagi.

"Aku tidak mau terjebak dalam hutang budi lagi. Aku tidak ingin dia meminta apapun sebagai imbalan karena telah menolong ku. Aku harus mengandalkan diriku sendiri,"gumam Yuniar dalam hati dengan tekad yang bulat, sebulat bola.

Aiden membuang napas kasar melihat wajah kecewa Yuniar. Menatap gadis yang nampak bersiap-siap melawan empat orang pria menggunakan helm.

"Bugh"

"Akhh!" Berani melawan rupanya,"

Saat salah seorang pria itu ingin menarik tangan Yuniar, tapi Yuniar langsung memukul pria itu menggunakan helm nya.

"Dasar gadis keras kepala! Tapi aku menyukainya,"gumam Aiden dalam hati penuh senyuman.

"Berani menyentuh calon istri ku? Kalian jangan menyesal, jika aku membuat kalian babak belur atau patah tulang,"ujar Aiden tersenyum miring saat melihat para pria itu kembali ingin menyentuh Yuniar.

"Iih.. Sejak kapan aku menjadi calon istrinya dia?"gerutu Yuniar dalam hati dengan wajah yang terlihat cemberut melirik ke arah Aiden.

Aiden akhirnya memukul siapapun yang mendekati Yuniar. Perkelahian empat lawan dua pun terjadi. Setiap ada yang terjatuh karena pukulan atau tendangan Aiden, Yuniar langsung menyerang orang itu dengan memukulinya menggunakan helmnya. Hingga orang itu tidak bisa lagi berdiri untuk menyerang Aiden.

Satu persatu dari empat orang pria yang mengejar Yuniar akhirnya tumbang semua. Dihajar oleh Aiden dan Yuniar.

"Kembalikan kunci motor ku!"bentak Yuniar pada pria yang mengambil kunci motornya tadi.

"Ambil saja sendiri!"ketus pria itu memegangi kepalanya yang terasa pusing karena dipukuli Yuniar menggunakan helm.

"Ambilkan! Atau akan aku pukul lagi dengan helm!"ancam Yuniar.

"Dasar gadis sialan!"umpat pria itu merogoh saku celananya, tapi tidak menemukan kunci motor Yuniar.

"Kuncinya hilang,"ujar pria itu karena tidak menemukan apapun di saku celananya.

"Jangan bohong!"sergah Yuniar.

"Dugh"

"Akhh! Sakit! Dasar gadis sialan!"pekik pria itu karena Yuniar memukul kepalanya mengunakan helm lagi.

"Berikan kunci motor ku! Atau aku akan menginjak kakimu hingga patah!"ancam Yuniar.

"Kuncinya benar-benar tidak ada. Kalau tidak percaya, cari sendiri di saku celanaku!"

"Aku tidak mau menyentuh pria brengseek seperti mu. Enak saja! Kamu mau mengambil kesempatan dalam kesempitan?!"ketus Yuniar yang tidak mau memasukkan tangannya di saku celana pria itu.

"Nggak mau, ya, sudah!"ketus pria itu terlihat kesal.

Aiden yang dari tadi melihat kelakuan Yuniar sambil menelpon polisi pun menjadi gemas. Tidak menyangka jika gadis yang terlihat lembut itu ternyata bar-bar juga.

"Biar aku saja yang mencarinya,"ujar Aiden setelah selesai menelpon polisi. Akhirnya Aiden turun tangan mencari kunci motor Yuniar di saku celana pria yang mengambil kunci motor Yuniar tadi.

"Benar-benar tidak ada kunci motor di saku celananya,"ujar Aiden menatap Yuniar, setelah mencari di semua saku celana pria itu.

"Mungkin saja dia memberikannya pada temannya,"sahut Yuniar.

Aiden kembali menggeledah satu persatu empat pria itu, tapi tidak menemukan kunci motor. Aiden hanya menemukan kunci mobil dari saku salah seorang pria itu.

"Aku tidak menemukan kunci motor dari empat orang ini. Mereka hanya membawa kunci mobil,"ucap Aiden.

"Kembalikan kunci motor ku! Kembalikan! Kembalikan!"pekik Yuniar memukuli pria yang tadi mengambil kunci motornya.

Pria itu hanya bisa merintih kesakitan karena dipukuli Yuniar dengan brutal.

"Sudah! Sudah! Kamu bisa membuatnya mati jika memukuli dia terus,"ujar Aiden seraya menarik Yuniar menjauh dari pria yang sudah tidak berdaya itu.

"Motor itu dibelikan oleh kakak ku. Kakakku bersusah payah mencari uang untuk membeli motor itu,"ujar Yuniar terlihat kesal, tapi malah terlihat menggemaskan di mata Aiden.

"Tenang saja, nanti aku akan mengurusnya untuk mu,"ujar Aiden, kemudian mengambil tali dari dalam mobilnya dan mengikat empat orang pria itu.

"Ayo, kita pulang! Aku sudah menelpon polisi. Sebentar lagi, mereka akan sampai di sini,"ajak Aiden setelah selesai mengikat empat orang pria itu.

"Tapi, jalan ke arah sana di hadang mobil empat orang itu,"ujar Yuniar.

"Begitu, ya?"sahut Aiden, lalu mengambil lagi kunci mobil dari salah seorang pria yang diikatkannya tadi.

"Ayo, pulang! Sebentar lagi akan gelap,"ujar Aiden membuka pintu mobil bagian penumpang di sebelah kursi kemudi untuk Yuniar.

Melihat matahari yang sebentar lagi benar-benar akan tenggelam, Yuniar pun tidak memiliki pilihan lain selain ikut bersama Aiden.

Aiden dan Yuniar meninggalkan empat orang pria itu dalam keadaan terikat. Beberapa meter setelah melajukan mobilnya, Aiden pun menghentikan mobilnya karena jalan itu tertutup oleh mobil yang melintang di jalan. Sehingga Aiden tidak bisa melanjutkan perjalanan. Aiden melihat sebuah sepeda motor di dekat mobil itu.

"Apa itu mobil para pria tadi? Dan itu motor kamu?"tanya Aiden menoleh pada Yuniar.

"Iya,"sahut Yuniar yang semenjak masuk ke dalam mobil hanya diam saja.

Aiden akhirnya turun dan menepikan mobil empat orang tadi agar mobilnya bisa lewat. Tak lama kemudian Aiden kembali masuk ke dalam mobil dan kembali melajukan mobilnya.

Yuniar hanya bisa menatap motornya yang terpaksa di tinggalkannya di tempat itu.

"Jadi, kamu berlari dari tempat itu sampai ke tempat kita bertemu tadi?"tanya Aiden yang melihat bahwa jarak antara dirinya menemukan Yuniar dan menemukan motor Yuniar lumayan jauh.

"Iya. Terimakasih karena telah menolong aku,"ucap Yuniar menatap wajah Aiden sekilas.

"Hanya terimakasih?"tanya Aiden menoleh sebentar ke arah Yuniar seraya tersenyum tipis.

Yuniar tidak merespon pertanyaan Aiden. Lebih memilih diam dari pada terjebak dengan pertanyaan Aiden seperti sebelumnya.

"Aku sudah menyelamatkan kamu dari empat pria brengseek tadi. Bagaimana jika kamu menikah saja dengan aku? Sebagai imbalan aku telah menolong kamu,"Aiden tersenyum tipis melirik Yuniar.

"Saya tadi memang meminta bantuan pada Tuan. Tapi, 'kan.. tidak jadi. Lalu, Tuan membantu saya tanpa saya pinta. Jadi, seharusnya Tuan tidak meminta balasan atas pertolongan Tuan pada saya. Tapi, saya tetap berterimakasih karena Tuan mau menolong saya,"ujar Yuniar lembut, enggan menatap wajah Aiden.

"Kamu pintar juga mengelak,"ujar Aiden tersenyum tipis,"Tapi, aku tidak mau tahu, kamu harus menikah dengan aku. Coba bayangkan, jika aku tidak menolong kamu. Mungkin.. Kamu sudah di gilir oleh empat orang pria tadi,"

"Ta.. Tapi.. Saya tidak ingin menikah dengan Tuan,"

"Apa kekurangan ku, hingga kamu selalu menghindari dan menolak aku? Aku serius padamu. Aku akan memberikan apapun yang kamu minta, asalkan kamu mau menikah dengan ku,"

"Maaf, saya tidak ingin menikah dengan anda,"sahut Yuniar kukuh pada pendiriannya, membuat Aiden menghela napas panjang.

Yuniar terlihat mulai tidak nyaman. Gadis yang memakai kemeja itu mulai menggaruk lehernya.

"Kenapa leherku terasa gatal, ya? Apa jangan-jangan, aku terkena ulat bulu saat berlari dan bersembunyi di kebun pisang tadi, ya?"gumam Yuniar dalam hati dengan wajah yang tiba-tiba cemas.

Yuniar berusaha untuk tidak menggaruk tubuhnya. Karena rasa gatal itu semakin menjalar di tubuhnya.

"Kamu kenapa?"tanya Aiden menoleh sebentar ke arah Yuniar.

Aiden mengernyitkan keningnya saat melihat Yuniar yang nampak tidak tenang dan seperti menahan sesuatu.

"Tidak apa-apa,"ujar Yuniar seraya mengusap beberapa bagian tubuhnya yang terasa semakin gatal.

"Orang bilang, jika wanita mengatakan tidak apa-apa, itu berarti sedang tidak baik-baik saja,"ujar Aiden yang mulai melewati jalan yang sudah agak banyak dilalui kendaraan. Hari benar-benar telah menjadi gelap.

Yuniar tidak menjawab. Gadis itu masih mengusap beberapa bagian tubuhnya yang terasa gatal.

"Apa tubuhmu gatal-gatal lagi?"tanya Aiden saat melihat Yuniar mengusap beberapa bagian tubuhnya untuk meredakan gatalnya.

Aiden yang penasaran pun, akhirnya menyalakan lampu dalam mobil.

"Akhh! Akhh!"pekik Yuniar tiba-tiba. Saat meraba lehernya, Yuniarti menemukan ulat bulu. Yuniar melempar asal ulat bulu itu.

"Akkhh! Akkhh!"

Yuniar kembali memekik dan membuka sabuk pengamannya, karena saat melihat ke arah dadanya sendiri, malah masih ada ulat lagi yang masuk ke dalam kemejanya.

"Hei! Tenang!"ujar Aiden yang sempat terkejut mendengar Yuniar memekik. Aiden mencoba menepikan mobilnya.

"Ulat! Ulat! Ulat! Akkh!"pekik Yuniar yang panik mencoba mengibas-ngibaskan kemejanya hingga tanpa senagaja tubuhnya malah terhuyung dan jatuh ke arah Aiden.

"Akkhh"

"Hei!"

"Tiiiinnn.."

"Akhhh!!"

"Brakk"

...🌟"Ada ubi ada talas, ada budi ada balas. Walaupun tidak semua hutang budi bisa dibalas."🌟...

..."Nana 17 Oktober"...

...🌸❤️🌸...

To be continued

Terpopuler

Comments

Pisces97

Pisces97

meminta balas Budi tidak bisa dihitung berapa pun membalas Budi baik tidak ada ujungnya 😁

2024-04-07

2

Mr.VANO

Mr.VANO

kerja sama yg baik,,untk melawan penjahat

2023-11-04

4

who am I

who am I

apes si aiden 🤭

2023-10-19

1

lihat semua
Episodes
1 1. Di Hadang
2 2. Hanya Terimakasih ?
3 3. Tekad Bulat
4 4. Sama-sama Keras Kepala
5 5. Persentase
6 6. Dengan Syarat
7 7. Perjanjian Pra Nikah
8 8. Menyerah
9 9. Berbohong
10 10. Di Awasi
11 11. Pelayan Berambut Pendek
12 12. Malu
13 13. Berlagak Seperti Nyonya
14 14. Adik Aiden
15 15. Mencari Muka
16 16. Menarik
17 17. Alam Mendukung
18 18. Dari Mana Dia Tahu?
19 19. Berapa Harus Mengganti?
20 20. Senang Menggoda
21 21. Keinginan.
22 22. Sadar
23 23. Tidak Apa-apa
24 24. Bertekad
25 25. Dibalikkan
26 26. Merasa Berhasil
27 27. Aroma Kecemburuan
28 28. Membangkang
29 29. Hasil Lab
30 30. Secerah Harapan
31 31. Demi Aiden
32 32. Asumsi
33 33. Kedua
34 34. Tidak Rela
35 35. Rekaman
36 36. Memutar Balikkan Fakta
37 37. Merasa Bersalah
38 38. Pamit
39 39. Berat Hati
40 40. Mengagumi Tanpa Memiliki
41 41. Menilai
42 42. Bahagia
43 43. Cemburu, Ya?
44 44. Salah Bicara
45 45. Untung Saja
46 46. Menghindar
47 47. By
48 48. Dilema
49 49. Modus
50 50. Mengganjal
51 51. Nampak Enggan
52 52. Belum Siap
53 53. Mengantisipasi
54 54. Was-was dan Bimbang
55 55. Belum Sadar
56 56. Rendah Diri
57 57. Terkejut Dan Penasaran
58 58. Kenapa?
59 59. Jaga Hatimu!
60 60. Sesak
61 61. Karena Kamu
62 62. Kalut
63 63. Lain Kali
64 64. Magang
65 65. Menguping
66 66. Sudah Terlanjur
67 67. Latihan Ganda
68 68. Bersikap Profesional
69 69. Idaman Banget
70 70. Memilih Mengalah
71 71. MBA
72 72. Biarkan Saja
73 73. Unfaedah
74 74. Mengancam
75 75. Jika
76 76. Hanya Milikku
77 77. Suka Yang Lokal
78 78. Saran
79 79. Bekal
80 80. Malu
81 81. Formal
82 82. Mengamuk
83 83. Kamu Pantas
84 84. Tidak Berani
85 85. Meminta Bantuan
86 86. Merasa Masuk Perangkap
87 87. Emosi
88 88. Menyesal
89 89. Tidak Becus
90 90. Berpura-pura
91 91. Membantu
92 92. Diam
93 93. Merendahkan
94 94. Berniat Kabur
95 95. Kapan Bahagia?
96 96. Berita
97 97. Sedih Atau Bahagia?
98 98. Memprovokasi
99 99. Buktikan!
100 100. Cara Membujuk
101 101. Pingsan
102 102. Merasa Dikhianati
103 103. Apa Salah?
104 104. Cerai
105 105. Dengan Syarat
106 106. Solusi Yang Mana?
107 107. Mentah-mentah
108 108. Kepercayaan
109 109. Tidak Mau
110 110. Virus Abadi
111 111. Menjelaskan
112 112. Siapa Yang Datang?
113 113. Mengelola Ekspresi
114 114. Merasa Lega
115 115. Pegang Dia!
116 116. Terlalu Kuat
117 117. Apa Benar ?
118 118. Menyergap
119 119. Dasar Absurd!
120 120. Pisah Kamar
121 121. Sayangnya, Iya.
122 122. Mengunjungi
123 123. Terlalu Memuji
124 124. Perasaan Sebenarnya
125 125. Bicara Dengan Siapa?
126 126. Yang Terakhir
127 127. Resep Dan Novel Baru
Episodes

Updated 127 Episodes

1
1. Di Hadang
2
2. Hanya Terimakasih ?
3
3. Tekad Bulat
4
4. Sama-sama Keras Kepala
5
5. Persentase
6
6. Dengan Syarat
7
7. Perjanjian Pra Nikah
8
8. Menyerah
9
9. Berbohong
10
10. Di Awasi
11
11. Pelayan Berambut Pendek
12
12. Malu
13
13. Berlagak Seperti Nyonya
14
14. Adik Aiden
15
15. Mencari Muka
16
16. Menarik
17
17. Alam Mendukung
18
18. Dari Mana Dia Tahu?
19
19. Berapa Harus Mengganti?
20
20. Senang Menggoda
21
21. Keinginan.
22
22. Sadar
23
23. Tidak Apa-apa
24
24. Bertekad
25
25. Dibalikkan
26
26. Merasa Berhasil
27
27. Aroma Kecemburuan
28
28. Membangkang
29
29. Hasil Lab
30
30. Secerah Harapan
31
31. Demi Aiden
32
32. Asumsi
33
33. Kedua
34
34. Tidak Rela
35
35. Rekaman
36
36. Memutar Balikkan Fakta
37
37. Merasa Bersalah
38
38. Pamit
39
39. Berat Hati
40
40. Mengagumi Tanpa Memiliki
41
41. Menilai
42
42. Bahagia
43
43. Cemburu, Ya?
44
44. Salah Bicara
45
45. Untung Saja
46
46. Menghindar
47
47. By
48
48. Dilema
49
49. Modus
50
50. Mengganjal
51
51. Nampak Enggan
52
52. Belum Siap
53
53. Mengantisipasi
54
54. Was-was dan Bimbang
55
55. Belum Sadar
56
56. Rendah Diri
57
57. Terkejut Dan Penasaran
58
58. Kenapa?
59
59. Jaga Hatimu!
60
60. Sesak
61
61. Karena Kamu
62
62. Kalut
63
63. Lain Kali
64
64. Magang
65
65. Menguping
66
66. Sudah Terlanjur
67
67. Latihan Ganda
68
68. Bersikap Profesional
69
69. Idaman Banget
70
70. Memilih Mengalah
71
71. MBA
72
72. Biarkan Saja
73
73. Unfaedah
74
74. Mengancam
75
75. Jika
76
76. Hanya Milikku
77
77. Suka Yang Lokal
78
78. Saran
79
79. Bekal
80
80. Malu
81
81. Formal
82
82. Mengamuk
83
83. Kamu Pantas
84
84. Tidak Berani
85
85. Meminta Bantuan
86
86. Merasa Masuk Perangkap
87
87. Emosi
88
88. Menyesal
89
89. Tidak Becus
90
90. Berpura-pura
91
91. Membantu
92
92. Diam
93
93. Merendahkan
94
94. Berniat Kabur
95
95. Kapan Bahagia?
96
96. Berita
97
97. Sedih Atau Bahagia?
98
98. Memprovokasi
99
99. Buktikan!
100
100. Cara Membujuk
101
101. Pingsan
102
102. Merasa Dikhianati
103
103. Apa Salah?
104
104. Cerai
105
105. Dengan Syarat
106
106. Solusi Yang Mana?
107
107. Mentah-mentah
108
108. Kepercayaan
109
109. Tidak Mau
110
110. Virus Abadi
111
111. Menjelaskan
112
112. Siapa Yang Datang?
113
113. Mengelola Ekspresi
114
114. Merasa Lega
115
115. Pegang Dia!
116
116. Terlalu Kuat
117
117. Apa Benar ?
118
118. Menyergap
119
119. Dasar Absurd!
120
120. Pisah Kamar
121
121. Sayangnya, Iya.
122
122. Mengunjungi
123
123. Terlalu Memuji
124
124. Perasaan Sebenarnya
125
125. Bicara Dengan Siapa?
126
126. Yang Terakhir
127
127. Resep Dan Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!