Sudah banyak petugas medis yang membujuk Yuniar untuk istirahat karena merasa kasihan melihat Yuniar. Tapi gadis itu tetap kukuh pada pendiriannya. Tidak mau pergi dari depan ruangan Aiden.
Yuniar merasa kepalanya pusing dan tubuhnya terasa semakin lemas. Lama-kelamaan Yuniar merasa pandangan matanya berkunang-kunang.
"Hei! Awas!"teriak bodynya yang berjaga di depan pintu ruangan Aiden.
Bodyguard Aiden itu melihat Yuniar yang sudah hampir terjatuh dan pria itu bergegas menangkap tubuh Yuniar, hingga tubuh Yuniar tidak jadi jatuh ke lantai.
"Aku akan membawa dia mencari dokter agar dia segera di tangani. Kamu beritahu tentang hal ini pada Tuan,"ucap bodyguard Aiden yang menolong Yuniar sambil menggendong tubuh Yuniar yang sudah lemas.
"Baik,"sahut bodyguard satunya lagi.
Bodyguard itu bergegas mengetuk pintu ruangan Aiden. Setelah dipersilahkan masuk oleh si empunya kamar, bodyguard itupun masuk ke dalam.
"Tuan, gadis itu pingsan,"lapor bodyguard Aiden terlihat cemas.
"Apa kalian sudah memanggil petugas medis?'tanya Aiden terdengar datar.
"Gadis itu diantarkan ke dokter untuk mendapatkan perawatan, Tuan,"
"Ya sudah, untuk apa kamu melapor padaku?"tanya Aiden nampak acuh.
"Kalau begitu, saya permisi, Tuan,"ucap bodyguard itu kemudian keluar dari ruangan itu seraya menghela napas panjang.
"Apa Tuan tidak kasihan pada gadis itu?"gumam bodyguard itu dalam hati.
Aiden membuang napas kasar setelah bodyguard itu keluar dari ruangannya. Aiden benar-benar tidak menyangka jika Yuniar begitu keras kepala.
"Ceklek"
Pintu ruangan itu kembali terbuka dan Fina terlihat memasuki ruangan itu.
"Den, gadis yang kamu usir kemarin benar-benar tidak pergi dari depan ruangan kamu dan sampai pingsan karena tidak makan dan minum selama hampir dua puluh empat jam. Dia begitu ingin menikah dengan kamu. Aku jadi curiga, kamu pasti sudah mengambil kesucian gadis itu, 'kan? Jika tidak, tidak mungkin dia bersikeras untuk menikah dengan kamu. Jangan jadi pengecut, Den! Sebagai laki-laki, kamu harus bertanggung jawab atas perbuatan kamu,"ujar Fina membuang napas kadar.
Fina baru datang ke rumah sakit itu. Tapi wanita itu malah mendengar kabar ada gadis yang pingsan di depan ruangan Aiden. Karena hampir dua puluh empat jam tidak pergi dari depan pintu ruangan Aiden tanpa makan dan minum.
"Aku tidak pernah melakukan apapun padanya, apalagi melecehkannya. Kenapa aku harus bertanggung jawab pada dia?"kilah Aiden yang memang tidak pernah sekalipun melecehkan Yuniar.
"Dari wajahnya, sudah jelas dia itu gadis baik-baik dan polos. Tidak mungkin dia kukuh ingin kamu nikahi, jika kamu tidak melakukan apapun padanya. Apalagi kamu itu seorang Casanova. Gadis itu terlihat cantik walaupun tanpa make-up. Bentuk tubuhnya juga aduhai. Aku tidak yakin, kalau kamu yang seorang Casanova itu tidak tergiur melihat wajah dan bentuk tubuh gadis itu,"tuduh Fina dengan asumsinya.
"Aku memang seorang Casanova, tapi aku tidak akan memaksa seorang wanita untuk bercinta dengan ku. Aku tidak serendah itu, Fin. Banyak wanita yang dengan sukarela menjadi teman berbagi peluh dengan ku di atas ranjang. Buat apa aku memaksa seorang gadis untuk bercinta dengan ku?"tampik Aiden yang memang benar adanya.
"Aku tidak percaya. Kamu pasti merayu dia hingga dia terjebak oleh rayuan maut mu, dan akhirnya tanpa sadar menyerahkan dirinya padamu. Sebaiknya kamu bertanggung jawab padanya,"balas Fina yang tidak percaya pada Aiden.
"Huff.. Kamu lebih percaya pada orang lain dari pada degan sahabat mu sendiri,"keluh Aiden.
"Kalau bukan urusan ranjang, aku bakal percaya sama kamu. Tapi kalau sudah mengenai urusan ranjang, sembilan puluh sembilan koma sembilan puluh sembilan persen, aku tidak percaya padamu,"sahut Fina sesuai kata hatinya.
"Dia itu hanya merasa bersalah pada ku, Fin. Sebab, kecelakaan yang kami alami kemarin terjadi karena dia. Karena itu dia kukuh ingin menikah dengan aku. Dia merasa bersalah dan merasa harus bertanggung jawab karena kecelakaan itu telah membuat kakiku lumpuh,"Aiden akhirnya menjelaskan apa yang terjadi.
"Nah, kalau begitu, itu lebih bagus lagi. Itu berarti dia benar-benar gadis baik-baik. Gadis yang bertanggung jawab. Kenapa kamu malah masih keras kepala tidak mau menikahi dia?"
"Aku tidak ingin menikah dengan orang yang menikahi aku karena rasa kasihan. Aku ingin menikah dengan orang yang mencintai aku apa adanya,"tanggap Aiden membuang napas kasar.
"Turunkan sedikit ego kamu itu! Dia tetap mau menikah dengan kamu, walaupun kaki kamu lumpuh. Setidaknya, dia tulus ingin bertanggung jawab dan mengurus kamu. Lagi pula, dari pembicaraan kalian, aku dengar sebelumnya kamu ingin menikahi dia. Kenapa sekarang setelah dia bersedia menikah dengan kamu, kamu malah tidak mau menikah dengan dia?"
"Jika kakiku tidak lumpuh seperti ini, aku akan sangat senang dia mau menikah dengan aku. Dan aku tidak akan peduli dengan alasan dia mau menikah dengan aku. Namun, dengan keadaan ku sekarang ini, aku hanya ingin menikah dengan orang yang benar-benar tulus mencintai aku,"
"Jika kamu ragu dengan ketulusan hatinya, kamu bisa membuat perjanjian pra nikah yang menguntungkan kamu. Jika dia tetap mau menikah dengan kamu setelah melihat perjanjian pra nikah yang kamu buat, berarti dia benar-benar tulus padamu,"
"Aku tidak ingin membahas dia lagi,"ketus Aiden yang tidak ingin berdebat lagi dengan Fina.
"Terserah kamu, lah Tapi jangan sampai kamu menyesal di kemudian hari,"sahut Fina yang sudah menyerah untuk membujuk Aiden. Akhirnya Fina meninggalkan ruangan Aiden.
"Nanti juga dia menyerah,"gumam Aiden menghela napas berat.
Aiden benar-benar tidak percaya diri dengan keadaannya saat ini. Benar-benar merasa terhina karena Yuniar ingin menikah dengan dirinya karena rasa kasihan. Harga dirinya sebagai seorang Casanova benar-benar terluka. Karena, seorang gadis mau menikah dengan dirinya hanya karena rasa kasihan.
Di ruangan lain, Yuniar membuka matanya dan mendapati dirinya sudah terbaring di ruangan tempatnya di rawat kemarin. Gadis itu menatap jam yang menempel di dinding, lalu melepaskan jarum infus di punggung tangannya. Dengan kepala yang terasa pusing, Yuniar berjalan ke kamar mandi untuk membersihkan diri. Setelah selesai membersihkan diri, Yuniar keluar ruangannya menuju ruangan Aiden. Kebetulan tidak ada perawat yang melihatnya. Jadi tidak ada yang menghalangi Yuniar untuk keluar dari ruangan itu.
Kedua bodyguard yang berjaga di depan ruangan Aiden saling menatap saat melihat gadis dengan langkah gontai itu berjalan ke arah mereka. Kedua orang itu hanya bisa menghela napas bersamaan. Salah seorang bodyguard itu mendekati temanya.
"Menurut kamu, gadis itu ingin menikah dengan Tuan Aiden karena apa?"tanya salah seorang bodyguard itu pada temannya.
"Mungkin karena Tuan Aiden kaya. Walaupun cacat, asal dompet tebal, 'kan, nggak masalah,"
"Tapi gadis itu terlihat polos. Nggak mungkin dia memiliki motif seperti itu,"
"Jangan tertipu dengan wajah polos. Zaman sekarang, sulit untuk membedakan mana yang tulus dan mana yang akal bulus. Gadis aja belum tentu perawan,"
"Iya, juga, ya,"
"Apa kita tidak memberitahu Tuan, jika gadis itu kembali ke sini lagi?"
"Nggak usah lah. Pasti Tuan juga bakal bilang biarin saja,"
Bisik-bisik dua orang bodyguard Aiden hingga akhirnya keduanya berhenti berbicara dan saling menjauh saat Yuniar sudah semakin mendekat.
Fina yang tidak sengaja melihat Yuniar kembali ke depan ruangan Aiden pun menghela napas panjang.
"Dok, gadis itu lama-lama kondisinya akan semakin memburuk. Dia tidak makan dan minum, bahkan setelah sadar, dia kabur ke sana. Dia nekad melepaskan infusnya,"ucap seorang perawat yang mencari Yuniar, karena tidak menemukan Yuniar di ruangan rawatnya.
"Apa tidak ada keluarganya yang mencari dia?"tanya Fina.
"Dari kemarin tidak ada, dok,"
"Mereka benar-benar sama-sama keras kepala,"gumam Fina, kemudian menghampiri Yuniar.
"Kamu sebaiknya kembali ke ruangan kamu! Tidak ada gunanya kamu berdiri di sini. Aiden tetap tidak akan mau menikah dengan kamu Orang tuamu pasti juga khawatir padamu,"bujuk Fina yang merasa kasihan melihat keadaan Yuniar.
Fina, Yuniar dan dua orang bodyguard Aiden tidak menyadari jika pintu ruangan Aiden sedikit terbuka.
"Saya akan tetap berada di sini sampai Tuan Aiden mengizinkan saya merawat Tuan Aiden, hingga Tuan Aiden sembuh,"sahut Yuniar.
"Kenapa kamu begitu gigih ingin merawat dia. Kamu sudah berniat baik padanya, tapi dia tetap tidak mau menerima kebaikan kamu. Jadi, kamu tidak perlu merasa bersalah lagi. Lebih baik kamu pulang saja,"
"Saya akan merasa bersalah seumur hidup saya, jika saya tidak merawat Tuan Aiden sampai sembuh. Tuan Aiden telah menolong saya, tapi karena saya, kaki Tuan Aiden menjadi lumpuh. Bagaimana saya bisa hidup dengan tenang, jika saya telah membuat orang yang telah menyelamatkan saya menjadi cacat karena saya? Saya akan dihantui rasa bersalah seumur hidup saya. Dengan merawat Tuan Aiden, saya tidak akan terlalu merasa bersalah,"
"Tapi, Aiden tidak ingin menikah dengan kamu karena rasa bersalah dan kasihan kamu padanya. Dia ingin menikah dengan orang yang mencintai dia. Sebaiknya kamu kembali ke ruangan kamu. Dan setelah sehat, sebaiknya kamu segera pulang. Orang tuamu pasti mencemaskan kamu,"bujuk Fina yang sekarang sudah tahu duduk permasalahan di antara Aiden dan Yuniar.
"Saya tidak akan pulang. Saya akan tetap berada di sisi Tuan Aiden,"ujar Yuniar tetap keras kepala, membuat Fina menghela napas panjang.
"Baiklah, kalau kamu begitu keras kepala, aku akan menikahi kamu. Tapi dengan syarat,"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Pisces97
syarat nya jangan berat² ya bg Aiden kasian yuniar nya
2024-04-08
1
Imas Jubaedah
hore akhirnya perjuangan yuniar tidak sia2, untuk membalas budi terhadap aiden karma rasa bersalahnya
2024-01-10
2
Hinarin
semangat ya yun 👍
2023-12-29
3