14. Adik Aiden

"Ada apa ini?"tanya Pak Wanto yang tiba-tiba muncul. Kepala pelayan itu mendengar suara keributan di dalam dapur. Karena itu, kepala pelayan itu langsung masuk ke dalam dapur untuk mencari tahu apa yang sedang terjadi.

"Pak, nona Yuniar membuat kopi untuk Tuan Aiden. Tapi Saminten tidak mengijinkannya, bahkan mendorong nona Yuniar,"sahut Bik Sari menjelaskan.

"Kenapa kamu melarang nona Yuniar? Tuan Aiden mengatakan, jika semua orang yang ada di rumah ini harus menghormati dan memperlakukan nona Yuniar dengan baik. Tidak boleh melarang nona Yuniar mengerjakan apapun di rumah ini dan tidak berhak menyuruh nona Yuniar mengerjakan apapun. Kita semua juga harus menuruti perintah nona Yuniar. Apa kamu berani menentang perintah Tuan Aiden?"tanya Pak Wanto pada cucunya.

Perkataan Pak Wanto sang kepala pelayan di rumah Aiden itu sontak membuat Yuniar terkejut. Begitu pula dengan Saminten yang tadi pagi tidak ikut briefing karena sedang membayar hutang di kamar mandi, alias sedang buang air besar.

"Apa? Tuan Aiden mengatakan semua itu pada semua pelayan?"gumam Yuniar dalam hati. Ada sedikit rasa bahagia di hati Yuniar saat mengetahui dirinya diistimewakan di rumah itu oleh Aiden. Walaupun tidak diakui sebagai istri, setidaknya dirinya tidak diperlakukan seperti pelayan.

"Kenapa dia diperlakukan seperti seorang nyonya di rumah ini? Dia, 'kan, hanya seorang perawat? Aku tidak terima. Aku akan membuat dia tidak betah tinggal di rumah ini,"gumam Saminten dalam hati menatap Yuniar penuh dengan kebencian.

Tanpa berkata apapun, Saminten pergi dari tempat itu dengan wajah yang terlihat sangat kesal dan hati yang dongkol.

"Maaf, nona. Cucu saya telah membuat keributan. Silahkan lanjutkan pekerjaan nona,"ujar Pak Wanto sopan, tapi tegas dan berwibawa.

"Tidak apa, Pak,"sahut Yuniar tersenyum tipis.

Pak Wanto kemudian meninggalkan dapur itu. Hingga hanya ada Yuniar dan Bik Sari saja di dalam dapur itu.

"Nona jangan mau ditindas oleh Saminten. Dia itu angkuh dan sombong hanya karena kakeknya adalah kepala pelayan di rumah ini. Dia bertingkah seperti nyonya di rumah ini. Tidak sadar diri siapa dia,"ujar Bik Sari yang merasa tidak suka dengan Saminten yang angkuh dan sombong itu.

"Iya, bki,"sahut Yuniar yang bertekad untuk melawan Saminten jika gadis itu berusaha menindasnya lagi. Karena, walaupun dirinya tidak diakui istri oleh suaminya, tapi Yuniar sudah diberikan hak layaknya seperti nyonya oleh Aiden,"Memangnya, dimana kedua orang tua Saminten, Bik?"tanya Yuniar kemudian.

"Saya dengar, kedua orang tuanya meninggal dalam sebuah kecelakaan, non,"

Yuniar menghela napas mendengar jawaban Bik Sari,"Gadis yang angkuh dan sombong itu ternyata adalah anak yatim piatu,"gumam Yuniar dalam hati.

Setelah melewati drama saat berada di dapur, akhirnya Yuniar selesai membuat kopi untuk Aiden. Gadis itupun bergegas ke ruangan kerja Aiden dengan secangkir kopi di tangannya.

Yuniar mengetuk pintu ruangan kerja Aiden dan masuk ke dalam ruangan itu setelah Aiden mempersilahkan dirinya masuk.

"Ini kopi Tuan,"Yuniar meletakkan kopi yang di buatnya di atas meja kerja Aiden.

"Hmm,"sahut Aiden tanpa menatap Yuniar. Pria itu fokus membaca sebuah berkas.

"Tuan, bolehkah saya mengerjakan tugas kuliah saya di sini? Agar saya bisa melayani Tuan jika Tuan membutuhkan sesuatu,"tanya Yuniar lembut.

"Hmm,"sahut Aiden lagi-lagi hanya berdehem tanpa melirik, apalagi menatap Yuniar.

Yuniar bergegas keluar dari ruangan itu untuk mengambil laptop dan buku-bukunya. Gadis itu merasa lega karena Aiden mengizinkan dirinya untuk mengerjakan tugas kuliahnya di ruangan kerja Aiden.

Aiden menghela napas panjang setelah Yuniar keluar dari ruangan kerjanya. Pria itu mengambil kopi yang di buat oleh Yuniar. Aiden menghirup aroma kopi yang masih mengepulkan asap itu.

"Aromanya harum,"gumam Aiden, kemudian menyesap sedikit kopi buatan Yuniar,"Dia pintar juga meracik kopi,"gumam Aiden menatap cangkir di tangannya, kemudian meletakkan kembali kopi itu di atas meja.

Setelah mengambil laptop dan buku-bukunya, Yuniar bergegas kembali ke ruangan kerja Aiden. Tanpa berkata apapun, Yuniar duduk di atas sofa yang ada di ruangan itu dan kembali mengerjakan tugas kuliahnya yang tadi belum selesai.

Aiden nampak melirik Yuniar yang terlihat fokus pada laptopnya. Rambut panjang gadis itu nampak tergerai indah. Wajahnya yang cantik alami tanpa make up membuat Aiden tidak bosan untuk memandangnya.

"Aku akan sangat bahagia, andai saja kamu menikah dengan aku bukan karena rasa tanggung jawab, rasa bersalah dan rasa kasihan padaku karena kakiku cacat. Tapi, sayangnya kamu menikahi aku karena semua alasan itu. Aku merasa terhina. Harga diriku merasa terluka karena semua alasan kamu itu,"gumam Aiden dalam hati.

Aiden benar-benar merasa terhina dan harga dirinya terluka karena Yuniar mau menikah dengan dirinya karena balas budi, rasa bersalah, tanggung jawab, dan rasa kasihan pada dirinya.

"Ting tong Ting tong "

Saminten bergegas berjalan menuju pintu saat terdengar suara bel rumah itu berbunyi. Saminten membuka pintu dan terlihat mengernyitkan keningnya. Gadis itu diam terpaku di depan pintu saat melihat siapa yang bertamu ke rumah itu.

Pria rupawan yang tidak kalah rupawan dari majikannya. Menggendong bayi tampan yang terlihat menggemaskan di lengannya dan seorang wanita cantik yang berdiri di samping pria rupawan itu.

"Apa Aiden ada?"tanya pria yang tidak lain adalah Rayyan, adik ipar Aiden yang datang bersama Aurora, adik Aiden.

"Si.. Siapa, Tuan? Dan ada keperluan apa menemui Tuan Aiden?"tanya Saminten tergagap saat pria di depannya itu menatap dirinya dengan tatapan dan suara yang terdengar datar. Sedangkan Aurora nampak membuang napas kasar mendengar pertanyaan Saminten.

"CK, kamu pasti pelayan baru di rumah ini,"ujar Rayyan seraya merangkul pinggang Aurora dan membawa wanita itu masuk ke dalam rumah itu.

"Tunggu! Tuan tidak boleh masuk ke rumah ini sembarangan!"ucap Saminten bergegas menghadang Rayyan dan Aurora.

"Kamu melarang kami masuk?"tanya Aurora terlihat tidak suka pada Saminten.

"Katakan dulu siapa nama kalian dan ada keperluan apa? Baru..."

"Sam! Hentikan!"sergah suara seorang pria yang tidak lain adalah Pak Wanto, memotong kata-kata Saminten. Pria tua itu nampak menghampiri Rayyan dan Aurora.

"Maaf, Tuan, nyonya. Saminten ini baru di sini dan tidak mengenali Tuan dan nyonya,"ujar Pak Wanto sopan.

"Di mana kakakku, Pak?"tanya Aurora pada Pak Wanto.

"Beliau ada di dalam ruangan kerjanya, nyonya,"sahut Pak Wanto sopan.

"Terimakasih, Pak!"ucap Aurora kemudian bergegas menuju ruangan kerja Aiden diikuti Rayyan.

"Lain kali, kamu jangan menghalangi Nyonya Aurora dan Tuan Rayyan masuk ke dalam rumah ini. Nyonya Aurora adalah adik kandung Tuan Aiden. Dan Tuan Rayyan adalah adik ipar Tuan Aiden, sekaligus sahabat Tuan Aiden. Tuan Rayyan dan keluarganya banyak berjasa pada Tuan Aiden,"ujar Pak Wanto memperingati Saminten.

"Iya,"sahut Saminten membuang napas kasar, meninggalkan kakeknya,"Kalau aku tahu mereka adalah adik dan adik ipar Tuan Aiden, pasti mereka akan aku sambut dengan baik,"gumam Saminten yang ingin mencari muka di depan Aiden.

"Kenapa putraku bisa memiliki anak seperti Saminten ini? Gadis ini susah sekali di atur,"gumam Pak Wanto menghela napas panjang menatap cucunya yang semakin menjauh.

Saminten memang baru setengah bulan tinggal di rumah Aiden. Karena sebelumnya tinggal bersama kedua orang tuanya di pinggir kota. Kedua orang tua Saminten mengelola kebun yang lumayan luas. Kedua orang tua Saminten tidak memiliki otak yang cerdas, sehingga hanya sekolah sampai SMA dan memilih mengelola kebun milik Pak Wanto yang ada di pinggir kota.

"Kak!"panggil Aurora.

"Ceklek"

Aurora membuka pintu ruangan kerja Aiden. Aiden dan Yuniar yang berada di dalam ruangan itu pun langsung menatap ke arah pintu.

"Kakak! Kenapa kakak tidak mengabari kami, kalau kakak mengalami kecelakaan? Kakak tidak menganggap aku adik?"tanya Aurora terlihat kesal menghampiri kakaknya.

"Aku tidak ingin menganggu kalian berlibur. Karena itu, aku tidak mengabari kalian mengenai kecelakaan yang aku alami,"sahut Aiden menghela napas panjang.

Aiden memang sengaja merahasiakan kecelakaan yang di alaminya pada adik nya. Sebab Aiden tidak ingin adiknya buru-buru pulang di saat sedang berlibur hanya karena.mendengar dirinya mengalami kecelakaan.

"Kakak tidak seharusnya berbuat seperti itu. Aku berhak tahu tentang keadaan kakak,"protes Aurora yang menyesalkan keputusan yang diambil Aiden.

"Aku benar-benar tidak ingin membuat kalian khawatir, Ra. Aku tahu, jika kalian jarang berlibur. Mana tega aku membuat kalian menghentikan liburan kalian demi aku,"sahut Aiden jujur adanya.

"Apa tidak sebaiknya kamu berobat ke luar negeri?"tanya Rayyan.

"Aku sudah meminta Fina untuk mencari informasi tentang dokter ahli untuk menyembuhkan kakiku. Biarkan aku gendong keponakan ku,"ujar Aiden mengulurkan tangannya pada Zayn yang berada dalam gendongan Rayyan. Rayyan pun memberikan putranya pada Aiden.

"Jagoan Om sudah semakin besar,"ujar Aiden tersenyum hangat pada Zayn dan mencium pipi bayi yang terlihat menggemaskan itu.

"Kamu? Bukankah kamu adik kak Sumi, ya? Kamu Yuniar, 'kan?"tanya Aurora saat tanpa sengaja melihat ke arah sofa dan melihat Yuniar duduk di sofa.

...🌸❤️🌸...

Notebook :

Briefing adalah memberikan penjelasan-penjelasan secara singkat atau pertemuan untuk memberikan penerangan secara ringkas.

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Susetiyanti RoroSuli

Susetiyanti RoroSuli

do,aku semoga Yuniar dan Aiden berjodoh

2024-01-03

2

Bundanya Pandu Pharamadina

Bundanya Pandu Pharamadina

Rayyan Aurora , Andi Kanaya, Aiden Yuniar
👍❤💕❤❤❤

2023-12-08

4

Anonim

Anonim

naaaahh curiga ni pasti Aurora saat tahu Yuniar ada diruang Aiden

2023-11-07

2

lihat semua
Episodes
1 1. Di Hadang
2 2. Hanya Terimakasih ?
3 3. Tekad Bulat
4 4. Sama-sama Keras Kepala
5 5. Persentase
6 6. Dengan Syarat
7 7. Perjanjian Pra Nikah
8 8. Menyerah
9 9. Berbohong
10 10. Di Awasi
11 11. Pelayan Berambut Pendek
12 12. Malu
13 13. Berlagak Seperti Nyonya
14 14. Adik Aiden
15 15. Mencari Muka
16 16. Menarik
17 17. Alam Mendukung
18 18. Dari Mana Dia Tahu?
19 19. Berapa Harus Mengganti?
20 20. Senang Menggoda
21 21. Keinginan.
22 22. Sadar
23 23. Tidak Apa-apa
24 24. Bertekad
25 25. Dibalikkan
26 26. Merasa Berhasil
27 27. Aroma Kecemburuan
28 28. Membangkang
29 29. Hasil Lab
30 30. Secerah Harapan
31 31. Demi Aiden
32 32. Asumsi
33 33. Kedua
34 34. Tidak Rela
35 35. Rekaman
36 36. Memutar Balikkan Fakta
37 37. Merasa Bersalah
38 38. Pamit
39 39. Berat Hati
40 40. Mengagumi Tanpa Memiliki
41 41. Menilai
42 42. Bahagia
43 43. Cemburu, Ya?
44 44. Salah Bicara
45 45. Untung Saja
46 46. Menghindar
47 47. By
48 48. Dilema
49 49. Modus
50 50. Mengganjal
51 51. Nampak Enggan
52 52. Belum Siap
53 53. Mengantisipasi
54 54. Was-was dan Bimbang
55 55. Belum Sadar
56 56. Rendah Diri
57 57. Terkejut Dan Penasaran
58 58. Kenapa?
59 59. Jaga Hatimu!
60 60. Sesak
61 61. Karena Kamu
62 62. Kalut
63 63. Lain Kali
64 64. Magang
65 65. Menguping
66 66. Sudah Terlanjur
67 67. Latihan Ganda
68 68. Bersikap Profesional
69 69. Idaman Banget
70 70. Memilih Mengalah
71 71. MBA
72 72. Biarkan Saja
73 73. Unfaedah
74 74. Mengancam
75 75. Jika
76 76. Hanya Milikku
77 77. Suka Yang Lokal
78 78. Saran
79 79. Bekal
80 80. Malu
81 81. Formal
82 82. Mengamuk
83 83. Kamu Pantas
84 84. Tidak Berani
85 85. Meminta Bantuan
86 86. Merasa Masuk Perangkap
87 87. Emosi
88 88. Menyesal
89 89. Tidak Becus
90 90. Berpura-pura
91 91. Membantu
92 92. Diam
93 93. Merendahkan
94 94. Berniat Kabur
95 95. Kapan Bahagia?
96 96. Berita
97 97. Sedih Atau Bahagia?
98 98. Memprovokasi
99 99. Buktikan!
100 100. Cara Membujuk
101 101. Pingsan
102 102. Merasa Dikhianati
103 103. Apa Salah?
104 104. Cerai
105 105. Dengan Syarat
106 106. Solusi Yang Mana?
107 107. Mentah-mentah
108 108. Kepercayaan
109 109. Tidak Mau
110 110. Virus Abadi
111 111. Menjelaskan
112 112. Siapa Yang Datang?
113 113. Mengelola Ekspresi
114 114. Merasa Lega
115 115. Pegang Dia!
116 116. Terlalu Kuat
117 117. Apa Benar ?
118 118. Menyergap
119 119. Dasar Absurd!
120 120. Pisah Kamar
121 121. Sayangnya, Iya.
122 122. Mengunjungi
123 123. Terlalu Memuji
124 124. Perasaan Sebenarnya
125 125. Bicara Dengan Siapa?
126 126. Yang Terakhir
127 127. Resep Dan Novel Baru
Episodes

Updated 127 Episodes

1
1. Di Hadang
2
2. Hanya Terimakasih ?
3
3. Tekad Bulat
4
4. Sama-sama Keras Kepala
5
5. Persentase
6
6. Dengan Syarat
7
7. Perjanjian Pra Nikah
8
8. Menyerah
9
9. Berbohong
10
10. Di Awasi
11
11. Pelayan Berambut Pendek
12
12. Malu
13
13. Berlagak Seperti Nyonya
14
14. Adik Aiden
15
15. Mencari Muka
16
16. Menarik
17
17. Alam Mendukung
18
18. Dari Mana Dia Tahu?
19
19. Berapa Harus Mengganti?
20
20. Senang Menggoda
21
21. Keinginan.
22
22. Sadar
23
23. Tidak Apa-apa
24
24. Bertekad
25
25. Dibalikkan
26
26. Merasa Berhasil
27
27. Aroma Kecemburuan
28
28. Membangkang
29
29. Hasil Lab
30
30. Secerah Harapan
31
31. Demi Aiden
32
32. Asumsi
33
33. Kedua
34
34. Tidak Rela
35
35. Rekaman
36
36. Memutar Balikkan Fakta
37
37. Merasa Bersalah
38
38. Pamit
39
39. Berat Hati
40
40. Mengagumi Tanpa Memiliki
41
41. Menilai
42
42. Bahagia
43
43. Cemburu, Ya?
44
44. Salah Bicara
45
45. Untung Saja
46
46. Menghindar
47
47. By
48
48. Dilema
49
49. Modus
50
50. Mengganjal
51
51. Nampak Enggan
52
52. Belum Siap
53
53. Mengantisipasi
54
54. Was-was dan Bimbang
55
55. Belum Sadar
56
56. Rendah Diri
57
57. Terkejut Dan Penasaran
58
58. Kenapa?
59
59. Jaga Hatimu!
60
60. Sesak
61
61. Karena Kamu
62
62. Kalut
63
63. Lain Kali
64
64. Magang
65
65. Menguping
66
66. Sudah Terlanjur
67
67. Latihan Ganda
68
68. Bersikap Profesional
69
69. Idaman Banget
70
70. Memilih Mengalah
71
71. MBA
72
72. Biarkan Saja
73
73. Unfaedah
74
74. Mengancam
75
75. Jika
76
76. Hanya Milikku
77
77. Suka Yang Lokal
78
78. Saran
79
79. Bekal
80
80. Malu
81
81. Formal
82
82. Mengamuk
83
83. Kamu Pantas
84
84. Tidak Berani
85
85. Meminta Bantuan
86
86. Merasa Masuk Perangkap
87
87. Emosi
88
88. Menyesal
89
89. Tidak Becus
90
90. Berpura-pura
91
91. Membantu
92
92. Diam
93
93. Merendahkan
94
94. Berniat Kabur
95
95. Kapan Bahagia?
96
96. Berita
97
97. Sedih Atau Bahagia?
98
98. Memprovokasi
99
99. Buktikan!
100
100. Cara Membujuk
101
101. Pingsan
102
102. Merasa Dikhianati
103
103. Apa Salah?
104
104. Cerai
105
105. Dengan Syarat
106
106. Solusi Yang Mana?
107
107. Mentah-mentah
108
108. Kepercayaan
109
109. Tidak Mau
110
110. Virus Abadi
111
111. Menjelaskan
112
112. Siapa Yang Datang?
113
113. Mengelola Ekspresi
114
114. Merasa Lega
115
115. Pegang Dia!
116
116. Terlalu Kuat
117
117. Apa Benar ?
118
118. Menyergap
119
119. Dasar Absurd!
120
120. Pisah Kamar
121
121. Sayangnya, Iya.
122
122. Mengunjungi
123
123. Terlalu Memuji
124
124. Perasaan Sebenarnya
125
125. Bicara Dengan Siapa?
126
126. Yang Terakhir
127
127. Resep Dan Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!