Yuniar membulatkan matanya mendengar Aiden memintanya untuk membantu memakai celana boxer-nya. Dengan cepat Yuniar berbalik. Tapi...
"Akhhh!"
"Hei!"
"Brugh"
Yuniar yang membalikkan tubuhnya dengan cepat malah kehilangan keseimbangan. Lagi dan lagi Yuniar kembali jatuh di pangkuan Aiden. Namun kali ini dengan posisi terduduk di pangkuan Aiden, membelakangi Aiden.
"Kamu benar-benar sangat suka menjatuhkan diri mu padaku,"bisik Aiden di telinga Yuniar dengan suara sensuall, membuat Yuniar membulatkan matanya. Dengan cepat Yuniar turun dari pangkuan Aiden.
"Ma.. Maaf!"ucap Yuniar tergagap dengan posisi membelakangi Aiden,"Astagaa... Apa yang terjadi padaku? Aku seperti mencari kesempatan untuk mendekati dan bersentuhan dengan Tuan Aiden. Sungguh sangat memalukan sekali,"gumam Yuniar dengan wajah yang memerah, merutuki kecerobohan dirinya sendiri.
Aiden mengulum senyum melihat Yuniar yang berdiri membelakanginya. Dengan susah payah Aiden berusaha memakai celana boxer-nya.
"Bukankah kamu ingin menjadi istri ku karena ingin merawat ku? Lalu, kenapa kamu tidak mau membantu suamimu memakai pakaian?"tanya Aiden yang masih berusaha memakai celana boxer-nya.
"Jika kamu tidak sanggup merawat ku, kamu bisa meminta cerai dari ku. Tidak usah memaksakan diri dengan dalih untuk membalas budi. Apalagi karena rasa bersalah dan kasihan,"ujar Aiden tersenyum sinis.
"Deg"
Yuniar merasa tertampar dengan perkataan Aiden. Benar yang dikatakan Aiden, Yuniar bersikeras menikah dengan Aiden karena ingin merawat Aiden. Lalu kenapa sekarang dirinya tidak mau membantu Aiden memakai pakaiannya?
Tanpa berpikir panjang, seketika Yuniar membalikkan tubuhnya. Tidak peduli jika saat ini Aiden sedang dalam keadaan polos tanpa sehelai benang sekalipun..Bagaimana pun, dirinya harus menjadi istri yang baik bagi Aiden. Merawat dan melayani Aiden sebaik mungkin. Terlepas bagaimana Aiden memperlakukan dirinya saat ini dan nanti, Yuniar tetap harus merawat Aiden dengan baik.
Sebab, kesuciannya masih terjaga sampai saat ini adalah karena kebaikan hati Aiden. Nyawanya masih tetap berada di raganya sampai saat ini juga karena Aiden. Jiwa, raga dan hidupnya adalah milik Aiden. Itulah yang ada di dalam otak Yuniar.
Untung saja Aiden sudah selesai memakai celana boxer-nya saat Yuniar membalikkan tubuhnya. Yuniar pun langsung melepaskan bathrobe yang di pakai Aiden. Tidak peduli jika dirinya akan melihat sesuatu yang akan membuat dirinya malu.
Yuniar membantu Aiden memakai baju piyamanya. Wajah gadis itu terlihat memerah saat membantu Aiden memakai celana. Sesuatu yang menonjol di balik celana boxer Aiden lah yang membuat wajah gadis itu kembali memerah.
"Gadis ini. Aku kira dia akan menyerah. Tapi, ternyata tidak. Gadis ini benar-benar keras kepala dan membuat aku mati gaya,"gumam Aiden dalam hati karena Yuniar tetap tidak menyerah untuk merawat dirinya.
"Apalagi yang harus saya lakukan untuk anda?"tanya Yuniar serius.
"Buatkan aku minuman,"ujar Aiden menghela napas panjang.
"Minuman apa? Kopi, teh, jus buah..."
"Kopi. Buat kopinya setelah kamu selesai membersihkan diri,"sahut Aiden memotong kata-kata Yuniar,"Antar dulu aku ke ruangan kerjaku,"pinta Aiden.
"Iya,"sahut Yuniar langsung mendorong kursi roda Aiden keluar dari kamar itu menuju ruangan kerja Aiden.
Saminten yang melihat Yuniar keluar dari kamar Aiden seraya mendorong kursi roda Aiden pun terlihat tidak suka.
"Apa sejak tadi gadis itu berada di kamar Tuan Aiden?"gumam Saminten melihat Aiden yang sudah berganti pakaian dan terlihat lebih segar,"Menurut yang aku dengar, selama ini Tuan Aiden jarang pulang ke rumah ini. Tadi pagi saat pulang malah dengan keadaan kaki yang lumpuh. Tapi, walaupun lumpuh, aku mau, kok, jadi istrinya. Tuan Aiden, 'kan, tampan dan kaya. Jika aku bisa membuat Tuan Aiden menikahi aku, aku bisa hidup mewah dan menjadi nyonya di rumah ini,"gumam Saminten dalam hati penuh senyuman.
Saminten ingin menjadi pemeran utama seperti di novel-novel. Kisah majikan menikahi pembantu. Yang artinya Aiden menikahi dirinya. Itulah yang dikhayalkan Saminten.
"Sam! Sedang apa kamu di sini?"tanya Wanto sang kepala pelayan yang melihat cucunya berdiri diam di sudut ruangan.
"Issh.. Kakek ini! Sudah di bilang panggil aku Intan. Masih saja kakek manggil aku Sam.. Sam.. ,"protes Saminten bersungut-sungut.
Setelah mengantar Aiden ke ruangan kerjanya, Yuniar bergegas kembali ke kamarnya. Gadis itu membersihkan dirinya tanpa berlama-lama di dalam kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, Yuniar bergegas memakai pakaian dan menyisir rambutnya.
Wajah polos tanpa make-up seperti biasanya. Hanya bedak tabur yang dipakai Yuniar, itupun juga bedak tabur bayi. Karena kakak Yuniar memang melarang Yuniar memakai make up. Namun kakaknya selalu membelikan skincare untuk Yuniar. Jadi, walaupun Yuniar tidak memakai make-up, kulit gadis itu halus, lembut dan glowing, alias bersinar.
"Maaf, bik. Dapur di rumah ini di sebelah mana, ya?"tanya Yuniar sopan pada seorang pelayan yang berusia paruh baya. Dari pakaiannya, Yuniar bisa tahu jika perempuan paruh baya itu adalah pelayan di rumah itu.
Semua pelayan di rumah Aiden diwajibkan memakai seragam pelayan yang tertutup dan longgar. Karena Aiden tidak ingin ada pelayan muda yang sengaja memakai pakaian yang ketat dan seksi di rumahnya. Sebab, pakaian ketat dan seksi akan menimbulkan kesan tidak sopan dan kemungkinan akan memicu terjadinya pelecehan seksuall di antara para pelayan. Mengingat pelayanan di rumah itu laki-laki dan perempuan.
"Kamu siapa, ya?"tanya pelayan paruh baya itu. Pelayan itu menatap Yuniar dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gadis cantik tanpa make-up dengan rambut yang panjangnya sepinggang. Kulit yang terlihat terawat dan rambut yang juga terlihat indah terawat.
"Saya yang bertugas merawat Tuan Aiden,"sahut Yuniar tersenyum tipis.
"Oh.. Non Yuniar, ya?"tanya pelayan itu ramah.
Pelayan paruh baya itu ingat, tadi pagi kepala pelayan di rumah itu sudah memberitahu pada semua pelayan, bahwa ada seorang gadis bernama Yuniar yang akan merawat majikan mereka.
Kepala pelayan berpesan agar semua orang yang ada di rumah itu menghormati dan memperlakukan Yuniar dengan baik. Mereka tidak boleh melarang Yuniar mengerjakan apapun di rumah itu dan tidak berhak menyuruh Yuniar mengerjakan apapun. Mereka semua juga harus menuruti perintah Yuniar. Kepala pelayan mengatakan semua itu sesuai dengan pesan Aiden.
"Benar, Bik. Tapi, dari mana bibi tahu kalau nama saya Yuniar?"tanya Yuniar seraya mengernyitkan keningnya.
"Tadi pagi kepala pelayan sudah memberi tahu semua yang ada di rumah ini tentang nona,"jelas pelayan paruh baya itu.
"Oh, begitu rupanya,"sahut Yuniar dengan seulas senyum tipis. Namun setelah mendengar penjelasan pelayan paruh baya itu, Yuniar jadi merasa heran. Karena tadi, pelayan berambut pendek alias Saminten malah mengusir, bahkan memukuli dirinya.
"Iya. Mari, bibi tunjukkan di mana letak dapurnya,"ujar pelayan itu ramah.
"Terimakasih, Bik,"ucap Yuniar masih dengan senyuman di bibirnya,"Nama bibi siapa?"tanya Yuniar sopan.
"Saya Sari, non,"sahut wanita paruh baya yang ternyata bernama Sari itu.
"Oh, Bik Sari. Saya baru di sini. Tidak apa-apa, ya, kalau nanti saya banyak bertanya pada bibi?"
"Tentu saja tidak apa-apa, non. Nona boleh bertanya apa saja dan boleh menyuruh saya melakukan apa saja. Pasti akan saya kerjakan,"sahut Sari serius.
"Mana berani saya menyuruh bibi. Saya tidak memiliki kedudukan apapun di rumah ini selain merawat Tuan Aiden,"sahut Yuniar tertawa hambar,"Bagaimana mungkin aku bertindak layaknya seorang nyonya di rumah ini dan menyuruh pelayan di rumah ini untuk mengerjakan sesuatu. Sedangkan aku ini adalah istri yang tidak ingin diakui suamiku di hadapan orang lain,"gumam Yuniar di dalam hati merasa sedih menyadari bahwa suaminya tidak ingin hubungan mereka diketahui orang lain.
"Gadis ini penampilannya tertutup. Wajahnya polos tanpa make-up, tapi tetap terlihat cantik. Kecantikan alami tanpa polesan. Dia juga terlihat ramah, sopan dan tidak sombong. Sepertinya dia gadis yang menyenangkan. Tapi.. Jika mengingat apa yang di sampaikan oleh kepala pelayan tadi pagi, kenapa aku merasa nona Yuniar ini diperlakukan Tuan Aiden layaknya seorang nyonya di rumah ini, ya?"gumam Bik Sari dalam hati.
Yuniar bertanya pada pelayan itu tentang letak barang-barang yang ingin dipakainya. Bik Sari pun memberitahu Yuniar letak barang-barang yang ingin dipakainya. Bahkan Bik Sari juga memberitahu tentang semua yang ada di dalam dapur itu.
"Hei! Ngapain kamu di dapur ini?"tanya Saminten yang tiba-tiba muncul. Gadis itu menatap Yuniar dengan tatapan sinis.
Yuniar yang sedang meracik kopi itupun menghela napas melihat Saminten. Gadis angkuh yang cantik karena makeup.
"Saya sedang membuat kopi untuk Tuan Aiden,"sahut Yuniar melanjutkan aktivitasnya.
"Biar aku saja. Pergi sana kamu!"ketus Saminten seraya menghampiri Yuniar dengan wajah juteknya.
"Gadis ini! Mentang-mentang cucu kepala pelayan, lagaknya sudah seperti nyonya rumah saja,"gumam Bik Sari dalam hati merasa tidak suka saat melihat Saminten.
"Saya akan pergi setelah selesai membuat kopi,"sahut Yuniar tetap lanjut membuat kopi.
"Sudah aku bilang, biar aku yang membuat kopi untuk Tuan Aiden,"sergah Saminten seraya mendorong Yuniar. Untung saja Yuniar tidak terjatuh.
"Sam! Apa yang kamu lakukan? Jangan kasar pada nona Yuniar!"sergah Bik Sari seraya menghampiri Yuniar.
"Jangan ikut campur! Urus saja pekerjaan kamu sendiri!"ketus Saminten menatap tidak suka pada Bik Sari.
"Ada apa ini?"
...🌸❤️🌸...
.
To be continued
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 127 Episodes
Comments
Pisces97
siapa yang menyela apakah kepala pelayan atau Aiden sendiri???
2024-04-08
1
Imas Jubaedah
pasti ketahuan kelakuan sang cucu yang ingin jadi nyonya rumah oleh sang kakek.
2024-01-10
2
Susetiyanti RoroSuli
menurutku ceritanya bagus koq , yach .... dimana mana setiap orang itu khan yo berbeda beda perangainya , apalagi jika didasari dng keinginan tertertu dpt dipastikan bisa aja berbuat jahat , betul khan thor /Rose//Rose/
2024-01-03
3