13. Berlagak Seperti Nyonya

Yuniar membulatkan matanya mendengar Aiden memintanya untuk membantu memakai celana boxer-nya. Dengan cepat Yuniar berbalik. Tapi...

"Akhhh!"

"Hei!"

"Brugh"

Yuniar yang membalikkan tubuhnya dengan cepat malah kehilangan keseimbangan. Lagi dan lagi Yuniar kembali jatuh di pangkuan Aiden. Namun kali ini dengan posisi terduduk di pangkuan Aiden, membelakangi Aiden.

"Kamu benar-benar sangat suka menjatuhkan diri mu padaku,"bisik Aiden di telinga Yuniar dengan suara sensuall, membuat Yuniar membulatkan matanya. Dengan cepat Yuniar turun dari pangkuan Aiden.

"Ma.. Maaf!"ucap Yuniar tergagap dengan posisi membelakangi Aiden,"Astagaa... Apa yang terjadi padaku? Aku seperti mencari kesempatan untuk mendekati dan bersentuhan dengan Tuan Aiden. Sungguh sangat memalukan sekali,"gumam Yuniar dengan wajah yang memerah, merutuki kecerobohan dirinya sendiri.

Aiden mengulum senyum melihat Yuniar yang berdiri membelakanginya. Dengan susah payah Aiden berusaha memakai celana boxer-nya.

"Bukankah kamu ingin menjadi istri ku karena ingin merawat ku? Lalu, kenapa kamu tidak mau membantu suamimu memakai pakaian?"tanya Aiden yang masih berusaha memakai celana boxer-nya.

"Jika kamu tidak sanggup merawat ku, kamu bisa meminta cerai dari ku. Tidak usah memaksakan diri dengan dalih untuk membalas budi. Apalagi karena rasa bersalah dan kasihan,"ujar Aiden tersenyum sinis.

"Deg"

Yuniar merasa tertampar dengan perkataan Aiden. Benar yang dikatakan Aiden, Yuniar bersikeras menikah dengan Aiden karena ingin merawat Aiden. Lalu kenapa sekarang dirinya tidak mau membantu Aiden memakai pakaiannya?

Tanpa berpikir panjang, seketika Yuniar membalikkan tubuhnya. Tidak peduli jika saat ini Aiden sedang dalam keadaan polos tanpa sehelai benang sekalipun..Bagaimana pun, dirinya harus menjadi istri yang baik bagi Aiden. Merawat dan melayani Aiden sebaik mungkin. Terlepas bagaimana Aiden memperlakukan dirinya saat ini dan nanti, Yuniar tetap harus merawat Aiden dengan baik.

Sebab, kesuciannya masih terjaga sampai saat ini adalah karena kebaikan hati Aiden. Nyawanya masih tetap berada di raganya sampai saat ini juga karena Aiden. Jiwa, raga dan hidupnya adalah milik Aiden. Itulah yang ada di dalam otak Yuniar.

Untung saja Aiden sudah selesai memakai celana boxer-nya saat Yuniar membalikkan tubuhnya. Yuniar pun langsung melepaskan bathrobe yang di pakai Aiden. Tidak peduli jika dirinya akan melihat sesuatu yang akan membuat dirinya malu.

Yuniar membantu Aiden memakai baju piyamanya. Wajah gadis itu terlihat memerah saat membantu Aiden memakai celana. Sesuatu yang menonjol di balik celana boxer Aiden lah yang membuat wajah gadis itu kembali memerah.

"Gadis ini. Aku kira dia akan menyerah. Tapi, ternyata tidak. Gadis ini benar-benar keras kepala dan membuat aku mati gaya,"gumam Aiden dalam hati karena Yuniar tetap tidak menyerah untuk merawat dirinya.

"Apalagi yang harus saya lakukan untuk anda?"tanya Yuniar serius.

"Buatkan aku minuman,"ujar Aiden menghela napas panjang.

"Minuman apa? Kopi, teh, jus buah..."

"Kopi. Buat kopinya setelah kamu selesai membersihkan diri,"sahut Aiden memotong kata-kata Yuniar,"Antar dulu aku ke ruangan kerjaku,"pinta Aiden.

"Iya,"sahut Yuniar langsung mendorong kursi roda Aiden keluar dari kamar itu menuju ruangan kerja Aiden.

Saminten yang melihat Yuniar keluar dari kamar Aiden seraya mendorong kursi roda Aiden pun terlihat tidak suka.

"Apa sejak tadi gadis itu berada di kamar Tuan Aiden?"gumam Saminten melihat Aiden yang sudah berganti pakaian dan terlihat lebih segar,"Menurut yang aku dengar, selama ini Tuan Aiden jarang pulang ke rumah ini. Tadi pagi saat pulang malah dengan keadaan kaki yang lumpuh. Tapi, walaupun lumpuh, aku mau, kok, jadi istrinya. Tuan Aiden, 'kan, tampan dan kaya. Jika aku bisa membuat Tuan Aiden menikahi aku, aku bisa hidup mewah dan menjadi nyonya di rumah ini,"gumam Saminten dalam hati penuh senyuman.

Saminten ingin menjadi pemeran utama seperti di novel-novel. Kisah majikan menikahi pembantu. Yang artinya Aiden menikahi dirinya. Itulah yang dikhayalkan Saminten.

"Sam! Sedang apa kamu di sini?"tanya Wanto sang kepala pelayan yang melihat cucunya berdiri diam di sudut ruangan.

"Issh.. Kakek ini! Sudah di bilang panggil aku Intan. Masih saja kakek manggil aku Sam.. Sam.. ,"protes Saminten bersungut-sungut.

Setelah mengantar Aiden ke ruangan kerjanya, Yuniar bergegas kembali ke kamarnya. Gadis itu membersihkan dirinya tanpa berlama-lama di dalam kamar mandi. Setelah selesai membersihkan diri, Yuniar bergegas memakai pakaian dan menyisir rambutnya.

Wajah polos tanpa make-up seperti biasanya. Hanya bedak tabur yang dipakai Yuniar, itupun juga bedak tabur bayi. Karena kakak Yuniar memang melarang Yuniar memakai make up. Namun kakaknya selalu membelikan skincare untuk Yuniar. Jadi, walaupun Yuniar tidak memakai make-up, kulit gadis itu halus, lembut dan glowing, alias bersinar.

"Maaf, bik. Dapur di rumah ini di sebelah mana, ya?"tanya Yuniar sopan pada seorang pelayan yang berusia paruh baya. Dari pakaiannya, Yuniar bisa tahu jika perempuan paruh baya itu adalah pelayan di rumah itu.

Semua pelayan di rumah Aiden diwajibkan memakai seragam pelayan yang tertutup dan longgar. Karena Aiden tidak ingin ada pelayan muda yang sengaja memakai pakaian yang ketat dan seksi di rumahnya. Sebab, pakaian ketat dan seksi akan menimbulkan kesan tidak sopan dan kemungkinan akan memicu terjadinya pelecehan seksuall di antara para pelayan. Mengingat pelayanan di rumah itu laki-laki dan perempuan.

"Kamu siapa, ya?"tanya pelayan paruh baya itu. Pelayan itu menatap Yuniar dari ujung rambut hingga ujung kaki. Gadis cantik tanpa make-up dengan rambut yang panjangnya sepinggang. Kulit yang terlihat terawat dan rambut yang juga terlihat indah terawat.

"Saya yang bertugas merawat Tuan Aiden,"sahut Yuniar tersenyum tipis.

"Oh.. Non Yuniar, ya?"tanya pelayan itu ramah.

Pelayan paruh baya itu ingat, tadi pagi kepala pelayan di rumah itu sudah memberitahu pada semua pelayan, bahwa ada seorang gadis bernama Yuniar yang akan merawat majikan mereka.

Kepala pelayan berpesan agar semua orang yang ada di rumah itu menghormati dan memperlakukan Yuniar dengan baik. Mereka tidak boleh melarang Yuniar mengerjakan apapun di rumah itu dan tidak berhak menyuruh Yuniar mengerjakan apapun. Mereka semua juga harus menuruti perintah Yuniar. Kepala pelayan mengatakan semua itu sesuai dengan pesan Aiden.

"Benar, Bik. Tapi, dari mana bibi tahu kalau nama saya Yuniar?"tanya Yuniar seraya mengernyitkan keningnya.

"Tadi pagi kepala pelayan sudah memberi tahu semua yang ada di rumah ini tentang nona,"jelas pelayan paruh baya itu.

"Oh, begitu rupanya,"sahut Yuniar dengan seulas senyum tipis. Namun setelah mendengar penjelasan pelayan paruh baya itu, Yuniar jadi merasa heran. Karena tadi, pelayan berambut pendek alias Saminten malah mengusir, bahkan memukuli dirinya.

"Iya. Mari, bibi tunjukkan di mana letak dapurnya,"ujar pelayan itu ramah.

"Terimakasih, Bik,"ucap Yuniar masih dengan senyuman di bibirnya,"Nama bibi siapa?"tanya Yuniar sopan.

"Saya Sari, non,"sahut wanita paruh baya yang ternyata bernama Sari itu.

"Oh, Bik Sari. Saya baru di sini. Tidak apa-apa, ya, kalau nanti saya banyak bertanya pada bibi?"

"Tentu saja tidak apa-apa, non. Nona boleh bertanya apa saja dan boleh menyuruh saya melakukan apa saja. Pasti akan saya kerjakan,"sahut Sari serius.

"Mana berani saya menyuruh bibi. Saya tidak memiliki kedudukan apapun di rumah ini selain merawat Tuan Aiden,"sahut Yuniar tertawa hambar,"Bagaimana mungkin aku bertindak layaknya seorang nyonya di rumah ini dan menyuruh pelayan di rumah ini untuk mengerjakan sesuatu. Sedangkan aku ini adalah istri yang tidak ingin diakui suamiku di hadapan orang lain,"gumam Yuniar di dalam hati merasa sedih menyadari bahwa suaminya tidak ingin hubungan mereka diketahui orang lain.

"Gadis ini penampilannya tertutup. Wajahnya polos tanpa make-up, tapi tetap terlihat cantik. Kecantikan alami tanpa polesan. Dia juga terlihat ramah, sopan dan tidak sombong. Sepertinya dia gadis yang menyenangkan. Tapi.. Jika mengingat apa yang di sampaikan oleh kepala pelayan tadi pagi, kenapa aku merasa nona Yuniar ini diperlakukan Tuan Aiden layaknya seorang nyonya di rumah ini, ya?"gumam Bik Sari dalam hati.

Yuniar bertanya pada pelayan itu tentang letak barang-barang yang ingin dipakainya. Bik Sari pun memberitahu Yuniar letak barang-barang yang ingin dipakainya. Bahkan Bik Sari juga memberitahu tentang semua yang ada di dalam dapur itu.

"Hei! Ngapain kamu di dapur ini?"tanya Saminten yang tiba-tiba muncul. Gadis itu menatap Yuniar dengan tatapan sinis.

Yuniar yang sedang meracik kopi itupun menghela napas melihat Saminten. Gadis angkuh yang cantik karena makeup.

"Saya sedang membuat kopi untuk Tuan Aiden,"sahut Yuniar melanjutkan aktivitasnya.

"Biar aku saja. Pergi sana kamu!"ketus Saminten seraya menghampiri Yuniar dengan wajah juteknya.

"Gadis ini! Mentang-mentang cucu kepala pelayan, lagaknya sudah seperti nyonya rumah saja,"gumam Bik Sari dalam hati merasa tidak suka saat melihat Saminten.

"Saya akan pergi setelah selesai membuat kopi,"sahut Yuniar tetap lanjut membuat kopi.

"Sudah aku bilang, biar aku yang membuat kopi untuk Tuan Aiden,"sergah Saminten seraya mendorong Yuniar. Untung saja Yuniar tidak terjatuh.

"Sam! Apa yang kamu lakukan? Jangan kasar pada nona Yuniar!"sergah Bik Sari seraya menghampiri Yuniar.

"Jangan ikut campur! Urus saja pekerjaan kamu sendiri!"ketus Saminten menatap tidak suka pada Bik Sari.

"Ada apa ini?"

...🌸❤️🌸...

.

To be continued

Terpopuler

Comments

Pisces97

Pisces97

siapa yang menyela apakah kepala pelayan atau Aiden sendiri???

2024-04-08

1

Imas Jubaedah

Imas Jubaedah

pasti ketahuan kelakuan sang cucu yang ingin jadi nyonya rumah oleh sang kakek.

2024-01-10

2

Susetiyanti RoroSuli

Susetiyanti RoroSuli

menurutku ceritanya bagus koq , yach .... dimana mana setiap orang itu khan yo berbeda beda perangainya , apalagi jika didasari dng keinginan tertertu dpt dipastikan bisa aja berbuat jahat , betul khan thor /Rose//Rose/

2024-01-03

3

lihat semua
Episodes
1 1. Di Hadang
2 2. Hanya Terimakasih ?
3 3. Tekad Bulat
4 4. Sama-sama Keras Kepala
5 5. Persentase
6 6. Dengan Syarat
7 7. Perjanjian Pra Nikah
8 8. Menyerah
9 9. Berbohong
10 10. Di Awasi
11 11. Pelayan Berambut Pendek
12 12. Malu
13 13. Berlagak Seperti Nyonya
14 14. Adik Aiden
15 15. Mencari Muka
16 16. Menarik
17 17. Alam Mendukung
18 18. Dari Mana Dia Tahu?
19 19. Berapa Harus Mengganti?
20 20. Senang Menggoda
21 21. Keinginan.
22 22. Sadar
23 23. Tidak Apa-apa
24 24. Bertekad
25 25. Dibalikkan
26 26. Merasa Berhasil
27 27. Aroma Kecemburuan
28 28. Membangkang
29 29. Hasil Lab
30 30. Secerah Harapan
31 31. Demi Aiden
32 32. Asumsi
33 33. Kedua
34 34. Tidak Rela
35 35. Rekaman
36 36. Memutar Balikkan Fakta
37 37. Merasa Bersalah
38 38. Pamit
39 39. Berat Hati
40 40. Mengagumi Tanpa Memiliki
41 41. Menilai
42 42. Bahagia
43 43. Cemburu, Ya?
44 44. Salah Bicara
45 45. Untung Saja
46 46. Menghindar
47 47. By
48 48. Dilema
49 49. Modus
50 50. Mengganjal
51 51. Nampak Enggan
52 52. Belum Siap
53 53. Mengantisipasi
54 54. Was-was dan Bimbang
55 55. Belum Sadar
56 56. Rendah Diri
57 57. Terkejut Dan Penasaran
58 58. Kenapa?
59 59. Jaga Hatimu!
60 60. Sesak
61 61. Karena Kamu
62 62. Kalut
63 63. Lain Kali
64 64. Magang
65 65. Menguping
66 66. Sudah Terlanjur
67 67. Latihan Ganda
68 68. Bersikap Profesional
69 69. Idaman Banget
70 70. Memilih Mengalah
71 71. MBA
72 72. Biarkan Saja
73 73. Unfaedah
74 74. Mengancam
75 75. Jika
76 76. Hanya Milikku
77 77. Suka Yang Lokal
78 78. Saran
79 79. Bekal
80 80. Malu
81 81. Formal
82 82. Mengamuk
83 83. Kamu Pantas
84 84. Tidak Berani
85 85. Meminta Bantuan
86 86. Merasa Masuk Perangkap
87 87. Emosi
88 88. Menyesal
89 89. Tidak Becus
90 90. Berpura-pura
91 91. Membantu
92 92. Diam
93 93. Merendahkan
94 94. Berniat Kabur
95 95. Kapan Bahagia?
96 96. Berita
97 97. Sedih Atau Bahagia?
98 98. Memprovokasi
99 99. Buktikan!
100 100. Cara Membujuk
101 101. Pingsan
102 102. Merasa Dikhianati
103 103. Apa Salah?
104 104. Cerai
105 105. Dengan Syarat
106 106. Solusi Yang Mana?
107 107. Mentah-mentah
108 108. Kepercayaan
109 109. Tidak Mau
110 110. Virus Abadi
111 111. Menjelaskan
112 112. Siapa Yang Datang?
113 113. Mengelola Ekspresi
114 114. Merasa Lega
115 115. Pegang Dia!
116 116. Terlalu Kuat
117 117. Apa Benar ?
118 118. Menyergap
119 119. Dasar Absurd!
120 120. Pisah Kamar
121 121. Sayangnya, Iya.
122 122. Mengunjungi
123 123. Terlalu Memuji
124 124. Perasaan Sebenarnya
125 125. Bicara Dengan Siapa?
126 126. Yang Terakhir
127 127. Resep Dan Novel Baru
Episodes

Updated 127 Episodes

1
1. Di Hadang
2
2. Hanya Terimakasih ?
3
3. Tekad Bulat
4
4. Sama-sama Keras Kepala
5
5. Persentase
6
6. Dengan Syarat
7
7. Perjanjian Pra Nikah
8
8. Menyerah
9
9. Berbohong
10
10. Di Awasi
11
11. Pelayan Berambut Pendek
12
12. Malu
13
13. Berlagak Seperti Nyonya
14
14. Adik Aiden
15
15. Mencari Muka
16
16. Menarik
17
17. Alam Mendukung
18
18. Dari Mana Dia Tahu?
19
19. Berapa Harus Mengganti?
20
20. Senang Menggoda
21
21. Keinginan.
22
22. Sadar
23
23. Tidak Apa-apa
24
24. Bertekad
25
25. Dibalikkan
26
26. Merasa Berhasil
27
27. Aroma Kecemburuan
28
28. Membangkang
29
29. Hasil Lab
30
30. Secerah Harapan
31
31. Demi Aiden
32
32. Asumsi
33
33. Kedua
34
34. Tidak Rela
35
35. Rekaman
36
36. Memutar Balikkan Fakta
37
37. Merasa Bersalah
38
38. Pamit
39
39. Berat Hati
40
40. Mengagumi Tanpa Memiliki
41
41. Menilai
42
42. Bahagia
43
43. Cemburu, Ya?
44
44. Salah Bicara
45
45. Untung Saja
46
46. Menghindar
47
47. By
48
48. Dilema
49
49. Modus
50
50. Mengganjal
51
51. Nampak Enggan
52
52. Belum Siap
53
53. Mengantisipasi
54
54. Was-was dan Bimbang
55
55. Belum Sadar
56
56. Rendah Diri
57
57. Terkejut Dan Penasaran
58
58. Kenapa?
59
59. Jaga Hatimu!
60
60. Sesak
61
61. Karena Kamu
62
62. Kalut
63
63. Lain Kali
64
64. Magang
65
65. Menguping
66
66. Sudah Terlanjur
67
67. Latihan Ganda
68
68. Bersikap Profesional
69
69. Idaman Banget
70
70. Memilih Mengalah
71
71. MBA
72
72. Biarkan Saja
73
73. Unfaedah
74
74. Mengancam
75
75. Jika
76
76. Hanya Milikku
77
77. Suka Yang Lokal
78
78. Saran
79
79. Bekal
80
80. Malu
81
81. Formal
82
82. Mengamuk
83
83. Kamu Pantas
84
84. Tidak Berani
85
85. Meminta Bantuan
86
86. Merasa Masuk Perangkap
87
87. Emosi
88
88. Menyesal
89
89. Tidak Becus
90
90. Berpura-pura
91
91. Membantu
92
92. Diam
93
93. Merendahkan
94
94. Berniat Kabur
95
95. Kapan Bahagia?
96
96. Berita
97
97. Sedih Atau Bahagia?
98
98. Memprovokasi
99
99. Buktikan!
100
100. Cara Membujuk
101
101. Pingsan
102
102. Merasa Dikhianati
103
103. Apa Salah?
104
104. Cerai
105
105. Dengan Syarat
106
106. Solusi Yang Mana?
107
107. Mentah-mentah
108
108. Kepercayaan
109
109. Tidak Mau
110
110. Virus Abadi
111
111. Menjelaskan
112
112. Siapa Yang Datang?
113
113. Mengelola Ekspresi
114
114. Merasa Lega
115
115. Pegang Dia!
116
116. Terlalu Kuat
117
117. Apa Benar ?
118
118. Menyergap
119
119. Dasar Absurd!
120
120. Pisah Kamar
121
121. Sayangnya, Iya.
122
122. Mengunjungi
123
123. Terlalu Memuji
124
124. Perasaan Sebenarnya
125
125. Bicara Dengan Siapa?
126
126. Yang Terakhir
127
127. Resep Dan Novel Baru

Download

Suka karya ini? Unduh App, riwayat baca tak akan hilang
Download

Bonus

Pengguna baru dapat mengunduh App untuk membuka 10 bab secara gratis

Ambil
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!