Ia tidak merasakan sesuatu melingkar di jari manisnya yang menandakan bahwa cincin yang ia temukan saat melakukan pendakian gunung Jayawijaya ikut bersama dengan dirinya di dunia ini. Cincin itu tidak sengaja terkena darah Ariana saat terjatuh dalam jurang, dan Karena itulah cincin itu ikut bersamanya, karena jiwanya dengan cincin tersebut telah menyatu. tapi, anara tidak menyadari hal itu. Kemudian ia langsung beralih mengambil sayur hijau itu untuk dimasak. Ia membersihkan sayur hijau tersebut dan mengiris-irisnya.
Sementara kedua anak kembar itu, pelan-pelan mengintip kegiatan ibu kejam mereka. Karena sepertinya Ibu mereka akan memasak, si sulung yang sudah bersifat dewasa sebelum waktunya langsung mengambil inisiatif untuk menghidupkan api. walaupun masih merasa takut untuk melihat ibu mereka.
tapi, Karena selama ini, dirinya lah yang selalu disuruh untuk menghidupkan api tersebut. anak pertamanya itu yakin, kalau sang Ibu pasti tidak akan bisa menyalahkan api dengan teknik kuno itu.
Sekembalinya Aryani, ia melihat seorang bocah kecil yang sedang berusaha menghidupkan api di sebuah tungku dengan tangan mungilnya itu.
Aryani yang baru saja kembali dan melihat aksi anak tersebut, tiba-tiba ingatan asing kembali berputar di kepalanya. ia melihat bagaimana tubuh ini memaksa anak kecil untuk menghidupkan api sampai tangannya nyaris terbakar.
namun pemilik tubuh tersebut tak mempedulikan hal itu. Aryani yang lagi-lagi mendapatkan kenyataan pahit, bahwa anak sekecil ini sudah bekerja dengan begitu keras, ia hanya bisa merutuki sang pemilik tubuh yang benar-benar kejam terhadap darah dagingnya sendiri.
Anak itu, yang sadar atas kedatangan ibunya dibuat gelegakapan sendiri. Takut kalau sang Ibu tiba-tiba marah begitu saja. Bukankah sifat ibunya yang memarahi mereka secara tiba-tiba itu sering terjadi ?? Itulah yang ia takutkan. Aryani yang melihat anak itu ketakutan langsung tersenyum dan menghibur.
"Terima kasih nak. Tidak perlu takut seperti itu pada ibu. Ibu minta maaf karena sudah menyakitimu dan adikmu. Sekarang pergilah duduk, sampai Ibu menyelesaikan masakan ibu. Setelah itu kita makan bersama-sama." Ujar Aryani dengan lembut sambil mengelus pipi yang sudah jadi tengkorak itu akibat terlalu kurus kerempeng.
Anak itu pun terkejut lagi dengan sikap ibunya, namun ia langsung menurut. Ia langsung beranjak dari posisi itu dan mengambil tempat duduk dengan jarak yang tidak terlalu jauh dari ibunya. Ia dari sana mengamati gerak-gerik sang ibu yang menurutnya benar-benar bersikap ajaib hari ini. ia tidak pernah mendapati sikap lemah lembut sang Ibu selama ini.
dulu saja, kalau sang kakak memegang sesuatu tanpa perintah dari sang ibu, mereka pasti akan mendapatkan amukan dari ibu mereka. seolah sang Ibu merasa jijik kepada anak-anaknya. bahkan tanpa mereka melakukan sesuatu yang salah sudah bisa mendapatkan amarah yang sangat besar dari sang ibu.
"Kakak. Apakah ibu tidak apa-apa..?? Kenapa Ibu tiba-tiba menjadi baik..??" Tanya sang Adik yang tiba-tiba datang menyusul dan duduk di samping sang kakak.
Anak sulung yang bernama Nakula itu langsung melihat ke arah sang adik. Ia menggeleng-gelengkan kepalanya. kalau saja mereka tidak takut untuk lari dari rumah tersebut dan meninggalkan Ibu mereka, mereka pasti sudah melakukannya sejak dulu. namun karena kondisi tubuh yang tidak memadai akhirnya mereka tidak melakukan hal tersebut.
"Kakak juga tidak tahu. ingat, Jangan terpesona dan terbuai dulu dengan sifat ibu yang sekarang. Palingan beberapa saat lagi, pasti Ibu sudah kembali dengan sifatnya semula. Tapi kita berdoa saja mudah-mudahan ibu akan memiliki sifat seperti ini, hari ini sampai selama-lamanya." Bisik sang kakak lagi dengan ekspresi dingin. Ia tak ingin berharap terlalu jauh melihat sifat ibunya yang berubah. Takut nanti dirinya akan kecewa.
"Iya Kak, dewa mengerti..." Ujar Sadewa yang ternyata nama kedua anak itu diberi nama Nakula dan Sadewa.
Mereka berdua duduk dan mengamati aktivitas yang dilakukan ibu mereka sampai akhirnya masakan sayur itu selesai dan dihidangkan sebagaimana mestinya.
Tak ada aroma wangi dari makanan itu, karena memang tak ada bumbu-bumbu yang bisa digunakan untuk membuat wangi masakan. Hanya ada garam air dan juga sayur hijau sebagai bahannya.
Setelah menata makanan yang benar-benar tidak layak itu, Aryani langsung memanggil kedua anak yang duduk tidak terlalu jauh darinya untuk segera bergabung.
"Ayo Nakula, Sadewa. Kemari bergabung bersama ibu untuk makan bersama." Panggil Aryani kepada keduanya.
Mereka lagi-lagi saling memandang satu sama lain. Karena tidak biasanya Ibu mereka ini memanggil mereka untuk makan bersama. Biasanya mereka berdua hanya akan memakan sisa makanan ibu mereka yang sudah tidak banyak itu. Dan mereka juga harus membagi nya berdua.
"Kenapa malah saling memandang seperti itu..?? Ayo sayang kemari ... makan bersama ibu.." panggil Ariani lagi kepada kedua anaknya.
dan Dengan perasaan bingung tak menentu keduanya langsung mendekat kearah sang ibu. keduanya langsung mengambil posisi duduk berdempetan dengan saudara lainnya. Namun menjaga jarak dari ibu mereka. Aryani tak lagi mempermasalahkan hal itu. yang penting mereka makan, Ia dengan telaten mengambil sayuran itu dan menyuguhkannya di Depan anak-anaknya.
"Ayo makan sayang. Untuk sekarang, kita makan ini dulu ya. Nanti, ibu akan keluar mencari makanan untuk kita." Ujar Aryani lagi.
Anak-anak itu pun mengangguk dan langsung menyantap makan itu dengan lahab. Bahkan Aryani memilih untuk mendahukan anak-anaknya makan terlebih dahulu.
Kalau ada sisa mereka, baru ia akan makan. Karena dalam bayangan ingatan yang ia dapatkan. Anak-anak itu selalu makan makanan sisa ibu mereka yang sudah tidak banyak.
Hal itu juga yang membuat Aryani begitu geram terhadap ibu mereka itu. Nakula dan Sadewa yang melihat ibu mereka yang lagi-lagi bersikap tidak seperti biasanya, membuat mereka menghentikan aksi makan mereka dan menatap sang ibu.
Mereka menjadi takut sendiri, jangan-jangan mereka terlalu rakus dan akhirnya mendapatkan pukulan lagi. Aryani yang melihat anak-anak itu berhenti makan, langsung bertanya.
"Loh..!! Kok berhenti..?? Apa kalian sudah kenyang. Makanan nya masih banyak nak..!!" Seru Aryani dengan penuh kasih sayang. Kedua anak itu menggeleng kan kepala ketika mendengar penuturan sang ibu.
"Lalu, kenapa berhenti. Ayo lanjutkan makannya. Habiskan saja sayang.." ujar Aryani lagi dengan lembut. Mereka berdua saling pandang. Nakula sebagai anak pertama Langsung memberanikan diri untuk bertanya.
"Maaf Bu. Apakah ibu tidak makan..??" Tanya Nya dengan ragu-ragu. Takut kalau ia salah lagi di Depan sang ibu.
Aryani pun tersenyum mendengar pertanyaan sang anak yang sepertinya memperhatikannya. Ia juga terkekeh lucu kala menyadari seorang bocil yang tiba-tiba menjadi anaknya itu ragu-ragu memberikan pertanyaan kepadanya.
"Kalian makanlah dulu nak. Nanti ibu akan makan Setelah kalian kenyang." Ujar Aryani lagi dengan lembut.
Kedua anak tersebut yang memang masih sangat lapar langsung kembali menyuapkan sayuran bening dan hijau itu ke dalam mulut mereka. Sampai akhirnya Nakula menyadari kalau sayuran itu tinggal sedikit lagi. Ia pun langsung menyenggol sang adik dan memberikan kode untuk berhenti makan.
***Download NovelToon untuk nikmati pengalaman membaca lebih baik!***
Updated 82 Episodes
Comments
Ray
Sedih bener yg dialami Nakula dan Sadewa. Semoga Aryani yg berada di tubuh Anarawati, menjadi ibu yg baik untuk Nakula dan Sadewa . Dan ke 2 anak kembar bisa menerima perubahan sikap ibu mereka.
Lanjut baca lagi😂👍.
2024-07-19
1
Dewi Ansyari
Astaga sedih thorr anak2nya makan karena takut bahkan selalu di beri makanan sisa astaga 🤦🏻
2024-07-14
0
🍃🦂 Nurliana 🦂🍃
Masih nyimak
2024-03-09
0